LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Jangan lagi,


__ADS_3

Brug !!!


Gibran tiba tiba pingsan setelah dia selesai menaiki kereta mobil.


" Gibran.."


Bagas yang melihat langsung masuk kedalam arena bermain, dan mengendong Gibran.


" Bagas, gibran kenapa?"


" Aku rasa dia kelelahan. Ayo kita kembali ke hotel dan memanggil dokter." Ucap bagas.


" Baiklah."


Bagas memutuskan untuk pulang ke hotel dengan taxi. Karena jika menunggu supir, itu akan memakan waktu yang sangat lama.


Sesampainya di hotel, setelah meletakkan gibran di atas tempat tidur, bagas langsung menelpon dokter keluarga yang ada di Paris.


" Sayang, gibran kenapa?" Tanya ayuna saat gibran membuka mata.


" Maafkan gibran mami, seperti nya gibran terlalu lelah. Tapi gibran masih ingin bermain."


Ayuna memeluk gibran.


" Jangan lagi membuat mami khawatir sayang, mami takut terjadi sesuatu pada Gibran."


Tak lama kemudian, bagas masuk bersama seorang dokter.


" Ayuna, dokternya sudah datang."


Ayuna dan gibran menoleh.


" Permisi, saya akan memeriksa putra anda."


" Oh, silahkan dokter."


Ayuna sedikit menjauh dari tempat tidur, memberi ruang, agar dokter dapat memeriksa Gibran.


Setelah beberapa saat,


" Bagaimana keadaan putra saya dokter?" Tanya ayuna.


" Sepertinya putra Ibu tidak apa-apa, tidak ada masalah serius. Mungkin tubuh putra Ibu masih belum menyesuaikan cuaca di negara ini."


Ayuna terdiam, tapi kenapa firasat nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Gibran.


Bagas mendekati ayuna,


" Dengar kan, gibran kita baik baik saja, kau yang terlalu berlebihan khawatir padanya." Ucap bagas


Ayuna memandang gibran, yang tersenyum pada nya.


" Saya akan menuliskan obat dan vitamin. Agar dia bisa cepat sehat."


Dokter terlihat menulis kan sesuatu pada secarik kertas, lalu memberikan kertas itu kepada bagas.


" Terima kasih dokter." Ucap bagas saat menerima kertas yang berisi resep obat untuk gibran.


" Sama sama, kalau ada apa apa lagi, jangan sungkan untuk menghubungi ku."


" Tentu saja."


Bagas keluar mengantar dokter itu, sementara ayuna mendatangi gibran. Dielusnya rambut dan pipi gibran.


Cup


Ayuna mencium kening Gibran.


" Mami kenapa?" Tanya gibran, saat melihat air mata yang keluar dari mata ayuna.


" Mami menyayangi gibran."


" Gibran juga menyayangi mami."


Mereka berpelukan, entah kenapa ayuna merasa dirinya akan kehilangan gibran.

__ADS_1


Tuhan, semoga yang dikatakan Bagas benar, ini semua karena kekhawatiran ku yang berlebihan. Semoga saja gibran hanya sakit karena belum terbiasa dengan cuaca disini. batin ayuna.


Satu minggu sudah mereka berada di Paris, dan selama itu juga bagas memberikan hadiah terindah kepada ayuna.


" Semoga kita bisa segera memberikan adik kembar untuk gibran." Ucap bagas.


" Tidak kembar juga tidak apa apa."


" Kalau tidak kembar, kita harus produksi lagi. Bukankah gibran ingin adik kembar."


" Produksi itu kesukaan mu."


" Hehe, habisnya kamu enak. Aku jadi ketagihan. lagi yuk." Pinta bagas.


" Tidak tidak. kita sudah bermain 10 ronde lo, kamu gak capek?"


" Satu lagi please. Biar genap 11. Kan kayak kesebelasan sepak bola."


" Bodoh ah." Ucap ayuna, yang bangun dan hendak menuju kamar mandi.


" Please..." Pinta bagas.


" No."


Bagas cemberut, dia memandang ayuna yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, lalu muncul ide gila di kepala nya. Dia akan bermain di kamar mandi.


" Pasti akan sangat menyenangkan." Ucap bagas.


Bagas segera turun dan masuk ke dalam kamar mandi.


" Bagas." Omel ayuna.


" Hehe, one more."


" Dasar nakal."


...


Hari ini, mereka akan pulang kembali ke Jakarta.


" Mami, kenapa kita pulang?, bukankah gibran belum mendapatkan adik kembar seperti yang gibran mau?"


" Adiknya masih di proses kan. Mana bisa langsung jadi?" Ucap ayuna.


" kalau begitu, kenapa tidak kita tunggu saja, hingga adiknya jadi?" Tanya gibran.


Ayuna melihat ke arah bagas yang menggaruk-garuk kepalanya.


Ayuna terus melihat bagas sambil memainkan kedua bola mata, memberikan kode agar bagas membantunya menjawab pertanyaan dari Gibran.


" Boy, dengar. Adik itu, datang nya dari perut mami. Dan Papi sudah menanam benih adik dalam perut mami."


" Wow, apa didalam perut mami ada tanah atau semacamnya?"


" Emmm..." Kini giliran bagas yang menatap ayuna.


" Gibran tunggu saja, kalau perut mami membesar, tanda nya adik gibran berhasil dibuat." Ucap bagas.


" Kalau tidak membesar?"


" Nanti papi akan menanam benih adik yang sangat banyak di dalam perut mami."


" Apa gibran boleh membantu Papi menanam benih di perut mami, tapi bening seperti apa dan dimana kita memasukkannya? di dalam perut Mama tidak ada lubang ataupun jalan masuk." Ucap gibran seraya menyentuh perut ayuna.


" Tidak bisa sayang, hanya Papi yang tahu jalan masuknya, dan yang punya benihnya. Gibran cukup berdoa saja agar benih papi menghasilkan adik untuk Gibran." Ucap ayuna.


Lalu gibran berdoa,


" Tuhan, semoga benih yang papi taman dalam perut mami tumbuh. Sehingga gibran mendapatkan adik. Dan tolong adiknya kembar ya Tuhan. Kalau bisa sih kembar laki laki, agar sama dengan ku, oke Tuhan."


" Heh, mana ada berdoa kayak request es boba gitu?" Ucap ayuna.


" Lo, memang tidak boleh ya mami?"


" Bukan tidak boleh. Tapi, berdoa nya harus yang benar. Seperti ini, Tuhan semoga mami cepat memberikan gibran adik yang sehat. Tidak udah di embel-embel minta adik apa?"

__ADS_1


" Ya namanya juga dia usaha, apa salahnya." Pekik bagas.


" Tapi kan..."


" Sudah. Papi setuju kok sama doa gibran. Mantap jaya."


Bagas mengajak gibran untuk tos.


" Tau ah, bapak sama anak sama saja."


Ayuna sewot lalu meninggalkan mereka.


" Sudah siap?" Tanya ayuna kepada ketiga adik iparnya.


" Hiks hiks hiks.., rasanya aku tidak rela berpisah dengan kota ini." Ucap nisya.


" Lebai ah." Saut nasya.


" huuu.." Mesya melempar bantal pada nisya.


" Apaan sih orang lagi bersedih juga."


" Kek di putusin pacar aja, pakek acara nangis segala." Omel Mesya.


" Ih kakak sih, gak tau apa, paris itu ada negara romantis. Nisya mau bulan madu disini."


" Woy anak kecil. Lulus kuliah aja belom. Udah mikir bulan madu aja." Hardik Mesya.


" Biarin aja, namanya juga berkhayal." kekeh ayuna.


" Ya udah yuk, ntar kalau terlalu lama disini, dia jadi makin drama." Imbuh ayuna.


" Huuuu kakak ipar sama aja." Nisya cemberut.


Fuuussss.....


Mereka semua sudah naik jet pribadi Bagas, dan siap untuk kembali pulang.


Satu minggu setelah kedatangan mereka dari Paris, ayuna menemukan sesuatu yang aneh. Jika sebelumnya ayuna menemukan tisu dengan bercak darah. Kini dia menemukan darah ada di sprei kamar tidur gibran.


" Ini darah apa?, apa mungkin Gibran terluka?. Tapi tubuhnya baik baik saja. Atau jangan jangan...."


Belum selesai ayuna berspekulasi dengan pemikirannya sendiri, suara teriakan dari mesya mengejutkan nya,


" Kakak ipar, kakak ipar. Gibran... Gibran, dia...dia..."


Mesya mendatangi ayuna dengan nafas tersenggal-senggal.


" Mesya, ada apa?"


"Gibran.., kakak ipar. Gibran."


" Iya gibran kenapa?"


" Dia...dia..., gibran mimisan. Darah yang keluar banyak."


Deg !!!


Jantung ayuna terasa berhenti berdetak.


" Gibran, oh jangan lagi...,"


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2