
" Ayuna, bagas." Panggil Anjas saat dirinya dan Celine sudah tiba di hadapan Bagas dan ayuna.
" Anjas, kau disini?" Tanya bagas.
" Ya, Aku baru saja menemani Celine memeriksakan kandungan."
" Ohya, apa hasilnya." Tanya bagas lagi
" Anak kami kembar, hanya saja aku tidak tahu jenis kelaminnya, karena Celine menginginkan sebuah kejutan. Kalian sedang apa disini? siapa yang sakit?" Tanya anjas.
" Gibran." Jawap bagas.
Ayuna sedari tadi hanya diam. dia merasa tidak berselera untuk berbicara ataupun menjawab pertanyaan dari Anjas. Dalam pikiran ayuna hanyalah tentang Gibran.
" Gibran?, kenapa dia?"
" Aku juga tidak tahu, saat itu aku sedang bersiap meeting. Lalu, adik bungsuku menelepon dan memberitahu bahwa Gibran dilarikan ke rumah sakit." Terang bagas.
" Lalu, sekarang di mana Gibran?"
" Masih diperiksa oleh dokter."
" Bagas, ini sudah hampir 1 jam tapi belum ada tanda-tanda dokter itu keluar ataupun mereka selesai memeriksa Gibran." Akhirnya ayuna bersuara Setelah dia melihat kearah jam tangannya.
" Sayang, tenanglah, semoga Gibran baik-baik saja."
Ceklek...
Tak lama kemudian, dokter yang dulunya pernah menangani Gibran saat Gibran pertama kali dibawa ke rumah sakit itu pun keluar.
" Lihat, dokternya sudah keluar itu artinya Gibran sudah selesai diperiksa." Ucap bagas.
Ayuna melihat dokter itu berjalan kearah mereka.
" Siapa orangtua pasien?" Tanya seorang perawat.
" Saya." Ucap anjas dan bagas.
Ayuna dan Selin saling berpandangan.
" Aa..." Perawat itu menjadi binggung.
" Saya ibu dari gibran."
" Silakan ikut ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan." Ucap dokter lalu dia berlalu.
Ayuna mengajak Bagas untuk mengikuti doktek.
" Bolehkah aku ikut?. Aku juga ingin tahu keadaan putraku." Tanya Anjas.
Ayuna menatap Bagas, Bagas mengangguk.
" Baiklah." Ucap ayuna, kemudian segera berjalan.
" Tunggulah disini. Sampau gibran keluar, agar kita tau dimana Gibran akan dirawat. dan pastikan kau meminta ruangan VIP pada perawat yang akan membawa Gibran." Ucap bagas pada Mesya.
" Baiklah."
" Selin, bolehkah aku ikut sebentar bersama mereka. Aku harus tau apa yang terjadi pada Gibran." Ucap anjas pada selin.
" Pergilah. Aku akan pulang sendiri."
" Jangan pulang sendiri, Aku tidak akan lama." Pinta anjas.
" Baiklah. Aku akan menunggumu di kantin rumah sakit, sepertinya anak kita sedang lapar." Ucap selin sambil tersenyum.
" Baiklah, tetap di sana dan jangan kemana-mana sampai aku datang." Ucap anjas.
" Baiklah."
Cup
Anjas mencium kening selin. Lalu segera berlari menyusul Ayuna dan Bagas.
Sesampainya diruangan dokter, perawat tadi membukakan pintu.
" Silahkan duduk " Ucap dokter.
__ADS_1
Setelah mereka bertiga duduk.
" Bagaimana keadaan putra saya dok, apa ada sesuatu yang serius?" Tanya ayuna.
" Itulah yang akan kita bicarakan sekarang, Tapi sebelumnya saya ingin bertanya. saat dulu saya menyarankan anda untuk membawa Gibran ke luar negeri, apakah anda melakukannya?"
Ayuna dan bagas saling berpandangan.
" Ya, kami membawanya. Kami di sana sekitar 3 bulan, dan kami pulang setelah Gibran dinyatakan sembuh walau tidak akurat 100%." Terang Bagas.
Dokter terlihat menghela nafas berat. Ayuna, anjas dan bagas saling bertukar pandangan.
" Begini, tapi ini hanya prediksi saya. Semoga saja prediksi saya salah." Ucap dokter.
" Apa maksud anda dokter?, bisakah anda mengatakannya lebih jelas?" Ucap ayuna.
" Maafkan saya sebelumnya nyonya, tapi saya rasa penyakit Gibran itu kembali."
" Apa?" Kata anjas.
" Tidak mungkin." Ucap ayuna.
" Apa anda yakin Dokter?." Imbuh bagas.
" Jika anda setuju saya akan melakukan rontgen pada gibran, untuk mengetahui apakah prediksi saya benar atau salah."
" Baiklah, lakukan segera agar kita tahu."
" Baiklah." Ucap dokter.
Saat mereka keluar dari ruangan dokter, Ayuna mereka syok. Dia nyaris pingsan dan terjatuh kalau saja Bagas tidak cepat menangkap tubuhnya.
" Ayuna, kau baik-baik saja?" Tanya Bagas.
Anjas menoleh, dia hendak membantu ayuna namun ia mengurungkan niatnya. Karena dia bukan siapa-siapa lagi bagi ayuna.
" Bagas, Bagaimana jika penyakit itu datang lagi?" tanya ayuna.
" Sayang, semoga saja prediksi dokter itu salah. Dan gibran akan baik baik saja." Ucap bagas.
" Kita akan kembali ke Inggris, untuk memperjuangkan kesembuhan gibran lagi. Kau harus kuat."
" Yang dikatakan bagas benar ayuna, kau harus kuat, dan bersama kita akan memperjuangkan kesembuhan Gibran." Imbuh anjas.
Ayuna memandang anjas kemudian beralih pada bagas, bagas tersenyum. Lalu Bagas membantu Ayuna untuk berdiri.
Mereka kemudian bersama-sama menemui Gibran yang sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP.
" Bolehkah aku menemui Gibran sebelum aku pulang?" Tanya anjas.
" Tentu saja, kau adalah ayahnya." Ucap bagas.
Ceklek...
Mesya menoleh.
" Syukurlah kalian kembali, Gibran tadi tak sadar dan mencari-cari kalian." Ucap mesya.
Ayuna segera berjalan menuju ranjang gibran.
" Sayang..."
Ayuna tidak dapat lagi menahan kesedihannya, Dia segera memeluk Gibran dan menangis.
" Mami kenapa menangis?"
Gibran mengusap airmata ayuna. Hal itu membuat tangis ayuna semakin menjadi-jadi.
Cup
Ayuna mencium kedua pipi dan kening gibran. Lalu kembali memeluk nya.
Ya Tuhan, Kenapa kau memberikanku ujian seberat ini. Kenapa Kau memberikan kebahagiaan jika akhirnya kau juga melukiskan luka di dalam kebahagiaan itu. Batin ayuna.
Bagas memegang bahu ayuna, ayuna melepas pelukannya.
" Papi, kenapa mami menangis?"Tabya gibran.
__ADS_1
" Tidak apa apa sayang, mami hanya khawatir karena tadi Gibran tiba-tiba pingsan dan hidung Gibran kembali mengeluarkan darah."
Gibran menatap ayuna,
" Mami, gibran baik saja mami tidak perlu menangis."
Ayuna tersenyum dan kembali memeluk gibran.
" Ya, semoga Gibran akan selalu sehat."
" Ayah juga disini?" Tanya Gibran saat melihat ada Anjas di sana.
Ayuna melepas pelukannya dan sedikit menjauh dari tempat tidur Gibran, memberi ruang agar anjas dapat pada Gibran.
" Ya, kebetulan ayah sedang mengantar Mama Celine periksa. Dan tidak sengaja melihat mami, jadi ayah memutuskan untuk mengunjungi gibran." Ucap anjas sambil mengelus lembut kepala gibran.
Tok
tok
tok
Ceklek...
" Permisi, dokter mengatakan agar pasien segera dibawa untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut." Ucap perawat.
Bagas menoleh pada ayuna, lalu ayuna mengangguk.
" Gibran sayang, gibran harus diperiksa lagi, apa Gibran keberatan?" Tanya anjas.
" Tidak ayah."
" Anak pintar. Sekarang ikutlah dengan para perawat dan dokter, dan jadilah anak yang baik." Bagas mencium kepala gibran.
Dan sekali lagi ayuna memeluk Gibran sebelum akhirnya Gibran dibawa oleh perawat.
" Mesya, pulanglah. Kami akan berada disini untuk menemani Gibran." Ucap bagas.
" Baiklah. Aku akan datang lagi nanti bersama mama dan papa." Ucap mesya, lalu memeluk ayuna sebelum akhirnya pergi.
" Aku juga ingin pamit, aku harus mengatasi selin pulang. Nanti aku akan datang lagi, jika hasil rontgen Gibran keluar." Ucap anjas
" Tentu "
Anjas menepuk nepuk bahu Bagas, lalu anjas segera menuju kantin rumah sakit untuk menjemput selin.
" Sayang Bagaimana keadaan Gibran?" Tanya selin.
" Sebaiknya kita bicara dalam perjalanan pulang."
Sementara itu, bagas ayuna yang masih menangis.
" Aku takut.." Ucap ayuna.
" Tidak ada yang perlu ditakutkan. Semua akan baik-baik saja."
" Kenapa Tuhan begitu jahat padaku. Dia memberikanku kebahagiaan dengan mempertemukan ku dengan lelaki sepertimu, tapi dia juga melukiskan luka dalam kebahagiaan ku lewat sakit yang di derita gibran."
Bagas semakin mempererat pelukannya.
" Kita tunggu hasil rontgen Gibran, semoga saja hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa like...
...komen...
...vote...
...hadiah...
__ADS_1