LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Saran


__ADS_3

" Andi, kau disini?" Tanya bagas sesaat dia masuk ke dalam ruangan setelah mengajak Gibran jalan-jalan.


" Ya."


" Sudah lama?"


" Tidak, mungkin sekitar 20 menit."


Ayuna mengambil alih mendorong gibran, lalu dengan hati hati membantu gibran untuk naik ke tempat tidur.


" Sayang harus makan oke, setelah itu minum obat." Ucap ayuna.


" Baiklah."


Dengan telaten ayuna menyuapi gibran, hingga makanan itu habis, lalu ayuna memberikan obat untuk diminum gibran.


" Hay boy, bagaimana keadaan mu?" Tanya sisil.


" Baik tante. Wah perut Tante Sisil sudah besar, gibran tidak sabar ingin segera bertemu dengan adik bayi."


" Masih kurang 3 bulan lagi sayang." Ucap ayuna.


" Perut mami kapan ya besar seperti Tante Sisil?"


Ayuna dan sisil saling berpandangan. Ayuna menggaruk-garuk kepalanya.


Tok


Tok


Tok


Ceklek...


" Anjas.."


" Hai."


Anjas kemudian bergabung bersama anjas dan bagas.


" Ini, tadi aku membeli sedikit makanan saat perjalanan kemari." Ucap anjas, sambil meletakan plastik berisi makanan.


" Wah, kau sangat baik. Kebetulan aku juga sedang lapar." Ucap bagas sambil membuka plastik berisi makanan.


Mereka bertiga kemudian bersama menikmati makanan yang di bawa Anjas.


Setelah mereka selesai makan


" Bagaimana apa sudah ada kabar dari dokter, mengenai kelanjutan dari sakit yang dirasakan Gibran." Tanya anjas.


" Belum, mungkin siang ini. Atau malam nanti. Jadi, untuk sementara gibran akan di rawat disini, sampai hasil nya keluar." Ucap bagas.


" Kabari aku jika hasilnya sudah keluar namun aku tidak ada disini." Ucap anjas.


" Tentu."


Anjas terlihat menyandarkan kepalanya pada sofa, dan memejamkan mata. Bagas dan andi saling berpandangan.


" Hei, ada apa denganmu?" Tanya Andi.


" Iya, kau seperti sedang ada masalah." Imbuh bagas.


" Tidak ada. Aku hanya memikirkan sesuatu yang sulit untuk di artikan."


" Katakan." Ucap andi

__ADS_1


" Mengatakan apa?" Tanya anjas.


" Tentu saja mengatakan apa yang kau pikirkan." Jawap andi


" Hmmm," Anjas menarik nafas panjang.


" Sudah katakan saja, siapa tau kita para lelaki bisa memberi solusi." Imbuh Bagas.


" Kebayang gak jika istri kalian akan selingkuh dengan orang yang paling dekat dengan kalian. Orang yang bahkan sudah kalian anggap sebagai saudara sendiri."Ucap anjas.


" Hmm, gak kebayang sih, jika itu terjadi. Aku pasti akan sangat terasa terluka. Apalagi aku sangat mencintai istriku" Ucap andi.


" Lalu, apa yang akan kau lakukan jika itu benar terjadi?" Tanya anjas lagi.


" Ya, aku akan melihat seberapa jauh hubungan mereka, sebelum memutuskan hal apa yang harus aku lakukan."


" Betul itu." Ucap bagas sambil meminum minuman nya.


" Kalau hubungan mereka sampai membuat istri kalian hamil?"


" Puuufff...."


Bagas menyembuhkan air yang ada di mulutnya. Anjas mengelap wajah nya menggunakan dasi milik nya.


" Tidak mungkin." Ucap bagas.


" Kalau mungkin bagaimana?" tanya Anjas.


Bagas dan andi saling menatap, seperti nya Anjas sedang mengalami hal yang rumit.


" Tunggu dulu, Apa kau mencurigai selin selingkuh dengan sekretaris mu yang bernama Dion itu?" Tanya Bagas.


Anjas mengangguk.


" Dan kau mencurigai jika selin hamil dengan pria itu?" Imbuh Andi.


" Anjas anjas, mungkin itu hanya perasaanmu saja."


" Tapi, aku menemukan sesuatu yang janggal." Ucap anjas.


" Sesuatu yang janggal seperti apa?" Tanya Andi.


" Misalnya semalam, saat aku dan istriku tengah bersantai. Tiba tiba ponselnya berdering, nama yang muncul adalah asisten dokter obgyn. Namun, saat aku melihat nomor yang tertera di nama itu sepertinya tidak asing. Jadi, saat selin menyuruhku untuk membuatkan jus. Dan saat aku kembali dengan membawa jus. Aku mendengar Selin menelpon seseorang dengan sangat mesra. Lalu aku coba mengingat nomor yang diberi nama asisten dokter obgyn oleh Selin." Terang anjas.


" Lalu, apa yang kau temukan?"


" Aku menemukan nomor itu dalam ponselku juga, namun aku memberinya nama Dion."


" Mungkin kau salah lihat." Ucap andi.


" Iya benar, mungkin saja nomornya salah Dan mungkin hanya beda satu atau dua angka." Imbuh Bagas.


" Awalnya aku juga berpikir demikian, lalu malam harinya aku tidak dapat tidur karena memikirkannya. Jadi, saat aku memastikan Selin benar benar tidur, aku mengambil ponselnya yang lupa iya kunci. Lalu menyamakan nomor yang aku curigai sebagai nomor Dion dengan ponselku. Dan hasilnya sama, memang dion."


" Mungkin suatu kebetulan."


" Dan tadi pagi, Aku mengatakan pada Dion bahwa aku tidak bisa ke kantor karena aku harus ke rumah sakit. Aku memarkirkan mobilku di basement rumah sakit ini, dan aku pergi ke kantor dengan menaiki taksi. Lalu aku mendengar dion menelpon seseorang, mungkin menelpon selin."


" Apa kau mendengar pembicaraan nya dengan jelas?" Tanya andi.


" Ya. Setelah itu aku mengikuti mobil Dion, dan ternyata sebelum Dion datang menjemput selin. Dian lebih dulu datang ke area parkir rumah sakit."


" Untuk apa?" Tanya Bagas yang mulai tertarik dengan cerita Anjas.


" Tentu saja, untuk memastikan apa aku benar-benar ada di rumah sakit. Karena sepertinya selin takut, jika aku mulai curiga pada hubungan mereka."

__ADS_1


" Apa kamu lihat sendiri dion menjemput selin?"


" Ya, aku hafal betul plat mobil dion, karena sebelumnya mobil itu adalah milikku. Dan banyak lagi kejanggalan yang sebenarnya sudah lama aku rasakan, mulai dari tidak masuk akalnya usia kandungan Selin. Hingga sikap dokter yang selalu beralasan jika aku ingin melihat calon kedua anakku." Hati anjas terasa sakit saat mengingat momen itu.


" Apa kau sudah memastikan jika selin dan dion benar selingkuh?, hingga membuat selin hamil"


" Belum, karena aku tidak tahu dari mana aku harus memulai membongkar perselingkuhan mereka." Ucap anjas lemah.


Mereka semua diam, Anjas terlihat memejamkan matanya. Seperti berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Sedangkan bagas menatap iba mantan rivalnya itu.


" Begini saja, tunggulah hingga selin melahirkan. Lalu kau bisa melakukan tes DNA pada bayi itu, Sementara menunggu kamu bisa mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan mereka." Ucap andi.


" Ya, aku setuju dengan ide Andi. Aku juga akan membantumu siapa dokter yang mungkin sudah ikut bersekongkol bersama mereka."


" Tidak tidak perlu, urusan dokter aku bisa mengatasinya sendiri. Karena dokter itu juga praktek di rumah sakit ini."


" Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Bagas.


" Hmmm, sepertiya aku akan mengikuti saran Andi. Aku akan menunggu hingga bayi itu lahir, dan mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan mereka." Ucap Anjas.


" Kau yakin tidak memerlukan bantuan ku?" Tanya bagas.


" Tidak. Kau cukup mengurus Gibran dan menjaganya selama aku tidak dapat menjaga Gibran."


" Itu sudah pasti aku lakukan."


Mereka kembali terdiam, hingga suara panggilan Gibran membuyarkan lamunan mereka.


" Ayah, kau kah itu?"


" Ya sayang. Ini ayah."


Anjas menoleh dan langsung berjalan menuju ranjang gibran.


Bersamaan dengan langkah kaki Anjas menuju gibran, bagas mendengar suara ketukan pintu.


Tok


Tok


Tok


Ceklek..


" Permisi tuan, dokter mengatakan jika ingin bertemu anda di ruangan nya." Ucap perawat.


" Baik lah."


Bagas melihat kearah Gibran dan ayuna.


" Sebaiknya aku pergi sendiri saja." Lirih bagas.


" Aku akan ikut dengan mu." Ucap andi.


Mereka kemudian bersama-sama menuju ruangan dokter.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Hmmm, kira kira, dokter ingin memberitahu apa ya kepada Bagas?

__ADS_1


Ikuti terus ceritanya ya kak, jangan lupa klik favorit agar tidak ketinggalan ceritanya.


Cerita ini akan rajin update tiga kali sehari, kalau si bungsu nggak rewel tentunya ☺️☺️.


__ADS_2