
Pagi hari, dikediaman sisil dan juga andi.
" Sayang, kemarin kau belum menceritakan padaku. kau bilang akan menceritakannya pagi saat kita sarapan. " Ucap sisil saat meletakkan roti isi di atas piring Andi.
" Soal apa?". Andi pura-pura tidak ingat, walaupun sebenarnya dia tahu kemana arah pembicaraan Sisil.
" Jangan pura-pura tidak tahu, kemarin kau mengatakan akan menceritakannya padaku saat kita sampai di rumah. Soal gibran."
Andi terdiam, dia bingung. Haruskah dia memberitahu Sisil? tapi bagaimana jika sisil memberitahu ayuna.
" Sayang, kok kamu malah diam sih?. Ayo beritahu aku apa yang terjadi pada Gibran." Tanya sisil.
Andi menghela nafas,
" Duduklah, tapi kau harus berjanji padaku. Untuk tidak memberitahu ayuna."
" Memangnya kenapa?"
" Berjanjilah dulu."
" Baiklah aku janji."
" Kanker yang sebelumnya diderita Gibran, saat ini kembali menyerang tubuh Gibran."
" Apa?" Mata sisil membulat sempurna.
" Kau tidak sedang bercanda kan sayang?" Tanya sisil.
" Tidak, saat itu aku ikut Bagas menemui dokter. Dan aku masih ingat betul dengan apa yang dokter itu katakan."
" Ya tuhan, lalu kenapa kau melarangku untuk memberitahu ayuna?, bukankah ayuna berhak tahu?"
" Ya. Hanya saja Bagas masih belum bisa untuk memberitahu ayuna. Bagas bilang masih tidak siap untuk melihat ayuna bersedih lagi."
" Ya Tuhan, Bagas benar. Aku saja yang tidak hidup serumah dengannya, merasa tidak tega jika harus melihat ayuna bersedih lagi. Lalu apa rencana Bagas untuk gibran?"
" Bagas dan anjas akan membawa Gibran kembali ke rumah sakit di Singapura."
" Semoga kepergian mereka yang kedua kalinya ini benar-benar membawa kesembuhan bagi Gibran." Ucap sisil.
" Ya, aku juga menginginkan hal yang sama. Kita berdoa untuk kesembuhan Gibran."
..
Sementara itu, anjas mulai mencari segala sesuatu yang bisa dijadikan bukti penguat perselingkuhan istrinya dengan dion.
Lalu muncul ide untuk menyadap ponsel selin.
" Selin, bisakah aku meminjam ponsel mu? Aku ingin menghubungi Bagas untuk menanyakan apakah Gibran sudah siap dipindahkan atau belum?" Teriak anjas, karena saat itu selin sedang berada di dalam kamar mandi.
" Baiklah." Suara selin dari kamar mandi.
" Tapi aku tidak bisa membuka password ponsel mu." Teriak anjas.
" Kemari, biar kebuka kan untukmu."
Tangan selin keluar dari pintu kamar mandi, setelah memberikan ponsel selin.
Sebelum memberikan ponselnya pada anjas, selin memastikan bahwa tidak ada ada riwayat panggilan atau pesannya dengan dion.
" Ini."
Selin menjulurkan tangan nya, memberikan kembali ponselnya kepada Anjas.
" Terima kasih."
Anjas segera melancarkan aksinya, menyadap ponsel selin. Lalu, saat Anjas melihat selin keluar dari kamar mandi. Dia segera berpura pura menelpon seseorang.
" Ya, emm. Baiklah kalau begitu, aku akan kesana siang nanti. Oke, bye."
Anjas melempar senyum pada selin. Lalu memberikan kembali ponselnya kepada selin.
" Sudah?" tanya selin.
__ADS_1
" Ya."
" Apa kata bagas?"
" Ya, Bagas sedang mengurus dokumen yang akan dibawa ke rumah sakit yang ada Singapura."
" Kau ikut?" Tanya selin.
" Entahlah. Akan aku pikirkan nanti, harus kembali ke kantor. Pekerjaan sudah menunggu ku."
Cup
Seperti biasa sebelum berangkat ke kantor, anjas selalu mencium perut selin kemudian mencium keningnya. Walau sebenarnya anjas sudah enggan melakukan hal itu. Namun, dia harus tetap melakukannya agar Selin tidak menaruh curiga.
" Aku berangkat ya."
" Hati hati."
Dalam perjalanan ke kantor, ponsel anjas berbunyi tanda pesan masuk. Saat Anjas membukanya, pesan masuk dari Dion namun bukan ditujukan kepadanya. Melainkan kepada selin.
Karena anjas sudah menyadap ponsel selin, Jadi pesan atau panggilan yang masuk pada ponsel selin, anjas juga akan menerima nya.
Anjas menunggu, hingga warna pesan itu menjadi centang biru. Itu artinya selin sudah membaca nya.
( Sayang, permainan mu sungguh luar biasa, kehamilanmu justru membuatku semakin bergairah. Kapan kita akan melakukannya lagi?. Aku ingin sering sering mengunjungi anak kita)
Criittt.....
Anjas menepikan mobilnya, dan menginjak rem mendadak.
Anjas membaca kembali pesan yang dikirimkan dion. Memastikan bahwa apa yang dilihatnya benar.
" Kurang ajar, jadi kau membohongi ku dan juga mama?. Kau menjebakku agar kau bisa mengatakan bahwa bayi yang ada di dalam kandunganmu adalah milikku. Namun nyatanya bayi itu milik dion. Hah, Sudah berapa lama sebenarnya kau dan dion bermain dibelakang ku?"
...****************...
Pagi harinya, Ayuna berniat menanyakan kepada dokter hasil tes gibran, dan kapan kiranya Gibran bisa pulang.
" Aku ingin menemui dokter dan menanyakan bagaimana hasil Lab Gibran."
Bagas terlihat panik.
" Sayang, tidak usah, kita akan menanyakan itu nanti. Sebaiknya kita duduk dan sarapan terlebih dahulu. Aku sudah membelikan Gibran sup daging, dan aku juga sudah menanyakannya pada dokter. Dan Gibran diperbolehkan makan sup daging. Jadi Gibran tidak harus makan makanan dari rumah sakit ini."Ucap bagas sambil memberikan kantung berisi makanan pada ayuna.
Ayuna membuka nya.
" Hmm, aromanya sangat enak, Ayo kita coba Apa rasanya juga seenak aromanya."
Bagas tersenyum lega, setidaknya untuk hari ini dia bisa membuat ayuna tidak bertemu dokter.
" Mami.." Panggil gibran, sesaat setelah ayuna selesai menyuapi Gibran.
" Ya sayang?"
" Kapan kita akan mengunjungi nenek sinta. Bukankah mami dulu kau berjanji kita akan mengunjunginya setelah Gibran sembuh."
" Tapi, sekarang gibran kan sedang sakit lagi?"
" Tidak mami, Gibran sudah sehat. Gibran tidak lagi merasa pusing, dan hidung Gibran juga tidak lagi mengeluarkan darah."
Ayuna menatap bagas.
" Gibran ingin kemana?" Tanya Bagas.
" Maaf, aku lupa memberitahumu, dulu aku pernah berjanji pada Gibran. Akan membawa gibran mengunjungi Bu Sinta, seseorang yang selalu menolong kami."
" Ya sudah kita akan kesana, segera setelah gibran boleh pulang."
" Papi serius?"
" Kapan tapi pernah bercanda jika menyangkut soal keinginanmu boy?" Bagas memegang kepala gibran.
" Hore.... Jadi kapan kita akan menemui nenek Sinta?" Tanya gibran.
__ADS_1
" Nanti, Setelah Papi berkonsultasi pada dokter."
" Ye, Terima kasih Papi."
" Sama-sama sayang."
Gibran memeluk Bagas.
" Tunggu lah disini, tapi akan menemui dokter dan menanyakan kapan kiranya Gibran bisa pulang."
" Aku ikut." Ucap ayuna.
" Sayang, jika kau ikut siapa yang menjaga Gibran?" Bagas mengelus lembut pipi ayuna.
" Hmm, kau benar. Ya sudah pergilah seorang diri, dan jangan lupa untuk menanyakan hasil lab Gibran."
" Tentu."
Bagas mencium kening Ayuna sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
" Apa dokter yuda ada?" Tanya bagas ada salah seorang perawat.
" Kebetulan beliau baru saja masuk ke dalam ruangannya."
" Oh terima kasih."
Tok
Tok
Tok
Ceklek..
" Dokter, boleh saya masuk?" Tanya bagas.
" Tentu, silahkan."
Bagas masuk, lalu dia segera duduk di hadapan dokter.
" Ada apa?"
" Begini dok, bisakah saya membawa Gibran keluar kota?"
" Keluar kota bagaimana maksud anda?" Tanya dokter.
" Begini, saya berjanji pada Gibran akan membawanya mengunjungi sang nenek yang ada di Surabaya. Jadi, bolehkah saya membawa Gibran ke sana sebelum saya membawa Gibran berobat ke Singapura?"
" Boleh saja, dengan syarat kondisi Gibran benar-benar dalam keadaan fit. Saya akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan hal itu."
" Terimakasih dokter, dan bolehkah saya meminta tolong sesuatu?"
" Apa itu?" tanya dokter.
" Tolong, jangan beritahu istri saya tentang hasil Gibran. Katakan saja bahwa hasil lab gibran belum keluar atau apalah terserah dokter. Karena, saya masih belum sanggup untuk memberitahukan istri saya."
" Tapi, istri anda juga berhak tahu kan?"
" Saya paham, hanya saja saya masih memikirkan waktu yang tepat untuk memberitahu nya."
" Baiklah kalau begitu, saya sarankan anda segera membawa Gibran ke Singapura untuk dapat berkonsultasi langsung dengan dokter yang dulu merawat gibran. Saya akan memberi waktu dua pekan."
" Baik dokter, terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
" Tentu, silahkan."
Bagas keluar dari ruangan dokter itu dengan senyum menghiasi bibirnya. Dua pekan. Cukup untuk bagas memikirkan cara memberitahu ayuna tentang kondisi gibran.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1