LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Inikah yang dinamakan jodoh?


__ADS_3

Anjas berbalik arah, memastikan yang dia dengar benar suara wanita yang tak lain adalah Bela.


Dan betapa terkejutnya Anjas saat dia mengetahui bahwa suara itu adalah Bela.


" Ka..kau. E.. ehem. Silahkan duduk." Ucap Anjas mencoba menetralkan suasana hatinya yang gembira karena melihat Bella.


Bela dan Danu kemudian duduk di kursi depan meja Anjas.


" Perkenalkan dirimu didepan presiden DreamLabs."


" Nama saya Bela Kristiani. Saya bla bla bla bla...."


" Kau diterima." Ucap Anjas seketika.


" Ha?, apa?" Ucap Bela dan Danu di waktu yang hampir bersamaan.


" Kau diterima menjadi sekretaris ku. Apa kurang jelas?"


Bela dan Danu saling berpandangan.


" Anda yakin menerima saya?, kan saya belum menyampaikan visi dan misi saya menjadi sekretaris anda?" Ucap Bela.


" Visi dan misi mu tidak penting, yang paling penting sekarang kok diterima jadi sekretaris ku dan kau bekerja untuk perusahaan ini mulai sekarang detik ini juga."


" O...oke !" Ucap Bela sedikit gugup karena baru pertama kali dirinya langsung diterima saat baru bertemu dengan pemilik sebuah perusahaan.


" Danu jelaskan kepadanya apa saja yang harus dilakukan dan jelaskan juga tentang perusahaan kita."


" Ehem, hem.." Danu mencoba mengetes suaranya sebelum dia menjelaskan panjang lebar tentang perusahaan.


" Kau batuk?" Tanya Anjas.


" Tidak."


" Lalu kenapa kau bedah begitu seolah-olah kau sedang batuk?, apa tenggorokan mau tersumbat biji kedondong?"


" Pffft." Bela menahan tawanya.


Danu hanya melirik ke arah Bella dan juga Anjas.


" Kenapa melihatmu begitu kau mau matamu kecongkel dan kupajang di lukisan itu?"


" Enak aja aku masih sayang nyawaku." Ketus Danu.


" Ya sudah kalau begitu cepat jelaskan kepada wanita ini, tidak usah banyak bermain-main."


" Yang bermain-main itu siapa. Orang aku sedang mengetes suaraku, kau saja yang sedang bermain-main." Lirih Danu.


" Ehem..."


" Eh monyet. Ah maksud ku Bela jadi, DreamLabs memiliki dana US$ 50 Juta untuk diinvestasikan. DreamLabs akan memberikan bantuan terutama kepada perusahaan yang memiliki ide-ide yang dapat memberikan dampak positif kepada hidup orang banyak. Karena, tujuan dari DreamLabs adalah bekerja sama dengan startup yang memiliki keinginan untuk menciptakan kategori pasar baru tanpa menganggu pasar yang sudah ada. Dan bla.bla bla.bla.bla......"


Bela dengan seksama mendengarkan penjelasan dari Danu, sedangkan Anjas malah bertumpu tangan sambil memandang wajah Bella yang terlihat serius.


" Sampai disini ada yang perlu ditanyakan?" Tanya Danu.


" Tidak. Saya sudah mengerti dengan sangat jelas."


" Bagus. Aku memang tidak salah memilihmu, selamat datang dan selamat bergabung di DreamLabs. Ohya, jangan lupa untuk selalu mengatur jadwal pertemuan ataupun meeting dari presiden kita."


" Siap."


" Baik. Karena kalau sudah resmi diterima menjadi sekretaris, ayo aku akan menunjukkan ruangan untukmu."


" Ruangan?, kenapa tidak disini?" Ucap Anja saat melihat Bella dan Danu akan berdiri dari posisi duduknya.

__ADS_1


" Ha?" Bela dan Danu saling berpandangan, lalu mata mereka memandang ke arah Anjas.


" Emm, maksudku ruangan mana yang akan ditempati oleh Bella."


" Tentu saja ruangan yang letaknya tepat di depan ruangan mu, memangnya di mana lagi ruangan untuk sekretaris kalau bukan di sana."


" Hmm, aku pikir dia akan ditempatkan di sini bersama aku." Lirih Anjas.


" Apa?, kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Danu.


" Ah tidak tidak.."


" Kalau begitu ayo Bela, aku akan menunjukkan ruangan mu sekarang karena hari ini kau sudah bisa langsung bekerja."


" Saya permisi pak presiden." Ucap Bela sambil membungkuk kepada Anjas.


Anjas melepas kepergian Bella dan Danu dengan perasaan tidak rela.


Sepeninggal mereka..


" Yes... Yuhu..."


Anjas riang gembira seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah dari orang tuanya.


" Hhhh...." Anjas menjatuhkan dirinya di kursi.


" Apa ini yang di namakan jodoh?" Lirih Anjas.


" Oh Tuhan, kenapa jantungku berdebar-debar saat melihatnya. Dan senyumannya itu sungguh membuatku terhipnotis. Tuhan, kenapa tubuhku bergetar, ada apa dengan tubuhku? apa aku juga menderita penyakit yang ganas?" Ucap Anjas sambil memegangi dadanya.


..


" Sisil aku pamit dulu ya..." Ucap Ayuna.


" Kenapa buru-buru sekali kau kan sudah lama tidak datang kemari tinggallah lebih lama lagi."


" Maaf Sisil, tapi aku akan membawa ayunan untuk pemeriksaan kehamilan. Aku baru saja membuat temu janji dengan dokter obgyn di rumah sakit Wijaya Kusuma."


" Hmm, baiklah. Sering sering lah berkunjung kemari oke." Ucap Sisil sambil memeluk Ayuna.


" Tentu. Aku pasti akan datang lagi, lagi pula aku juga merindukan toko kecil kita." Ucap Ayuna.


" Ya kau benar. Aku juga sudah lama tidak ke sana sejak memiliki Angel."


" Ya sudah aku pamit ya bye..." Ucap Ayuna.


" Bye.."


Bagas lalu membantu memasakan sabuk pengaman Ayuna.


" Sudah siap?"


" Ya.."


Bagas lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit Wijaya Kusuma.


Sesampainya di sana Bagas dan Ayuna langsung menuju ruangan dokter obgyn.


" Selamat ya, bayi nya kembar." Ucap dokter.


" Benarkah?"


" Ya, sepertinya bapak dan ibu akan mendapatkan sepasang bayi kembar, jika dilihat dari kantong rahim yang ada 2."


" Kantong rahim ada dua bagaimana maksudnya?" Tanya Bagas.

__ADS_1


" Jadi, bayi Anda ada 2 dengan plasenta yang berbeda. Ini lihat.."


Dokter lalu menunjukkan kepada Bagas, serta menjelaskannya panjang lebar.


" Untuk memastikan apakah benar Anda memiliki sepasang bayi kembar kita akan mengetahuinya bulan depan. Karena saat kandungan menginjak usia di atas 4 bulan jenis kelamin dari bayi akan jelas terlihat dan terbentuk."


Bagas dan Ayuna menatap layar monitor itu dengan mata berkaca-kaca.


" Sayang kita akan memiliki sepasang bayi kembar." Bisik Bagas sambil mengelus lembut rambut Ayuna.


" Iya, sepasang bayi kembar seperti keinginan Gibran." Ucap Ayuna.


Deg.


" Gibran." Gumam Ayuna.


Setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan dan mengambil obat serta vitamin. Mereka pun langsung menuju mobil.


" Bagas, bolehkah kita pulang ke apartemen?" Pinta Ayuna saat mereka dalam perjalanan pulang.


" Kenapa?"


" Tidak ada, aku hanya akan kesana, kau belum menjual apartemen mau kan?" Tanya Bagas.


" Emmm, sebenarnya sudah hanya saja aku belum memindahkan semua barang-barang kita."


" Bagus, ayo kita kesana dan mengemasi barang-barang kita."


" Tidak perlu, biarkan orang-orang ku yang melakukannya."


" Tapi boleh kan aku kesana."


Bagas menatap Ayuna.


" Aku mohon..."


" Baiklah.."


Bagas tersenyum dan mengusap lembut pipi Ayuna.


Bagas lalu mencari jalan berputar dan menuju apartemen nya.


Sesampainya di sana, Ayuna merasa kan sesuatu yang sesak di dalam dadanya. Hingga saat dirinya memasuki ruangan dan kamar Gibran. Sesak di dada Ayuna semakin terasa menekan batin nya.


Bagas memegang bahu Ayuna, seakan bertanya apakah kau baik baik saja. Ayuna tersenyum kepada Bagas. Lalu membiarkan Ayuna sendiri.


Ayuna melangkah mendekati tempat tidur Gibran, dielus nya bantal yang biasa di pakai Gibran. Lalu tangan Ayuna mengambil foto Gibran dengan dirinya dan juga Bagas.


" Gibran..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan Lupa...


...like...


...komen...


...vote...

__ADS_1


...Hadiah...


__ADS_2