
" Oke, aku akan melihatnya sekarang." Ucap Ayuna.
Lalu dengan perlahan, Ayuna membalikkan Tespek yang menunjukkan dua garis berwarna merah.
" Astaga.."
Ayuna tersenyum, hatinya merasa senang. Tapi juga sedih, mengingat usia kembar yang masih satu tahun.
Aku harus bagaimana, si kembar baru berumur satu tahun, dan aku hamil?. Batin Ayuna
Ayuna yang hendak keluar, dia melihat Bagas kembali masuk.
" Haruskah aku memberi tahu Bagas tentang ini." Ucap Ayuna.
Ayuna mengurungkan niatnya untuk keluar dan memberi tahu Bagas, setelah dia melihat Tara yang juga ikut masuk kedalam kamar mereka dengan menggunakan jas Bagas.
" Apa yang serangga itu lakukan, kenapa dia masuk kedalam kamar dan memakai jas Bagas?" Lirih Ayuna.
Ayuna lalu memilih menutup kembali pintu kamar mandi, dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Tara, apa yang kamu lakukan."
" Kak Bagas, aku tahu kita adalah sepupu, tapi aku mencintaimu. Sungguh aku ingin menjadi milikmu." Ucap Tara yang semakin mendekati Bagas.
" Tara, jangan gila. Cepat pakai pakaian ini." Ucap Bagas yang menunduk saat mengetahui Tara sudah bertelanjang dada.
Tara mengambil pakaian yang di berikan oleh Bagas, dan bukan nya memakai, Tara justru membuang pakaian itu ke sembarang arah.
" Apa yang kau lakukan. Kenapa kau malah membuang pakaian itu?" Ucap Bagas.
" Kak Bagas, lihat lah aku sekali saja. Tidak kah Kak Bagas ingin menjamah ku?" Ucap Tara yang semakin mendekati Bagas.
Bagas tidak bergeming, dirinya justru berbalik arah dan berdiri membelakangi Tara.
" Astaga, serangga itu apakah sudah gila. Dia bertelanjang dada dan mendekati Bagas. Hmm, jadi ini cara untuk mendekati Bagas. Mari kita lihat, sejauh apa kau berusaha." Ucap Ayuna.
Tara menyentuh bahu Bagas. Bagas dengan cepat menghindar dan mengambil kembali pakaian untuk Tara dan juga jas nya.
" Kak Bagas."
" Hentikan Tara." Teriak Bagas.
Dengan gerakan cepat, Bagas menutupi tubuh Tara dengan jas nya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Tara.
Tara mendorong tubuh Bagas, hingga mereka terjatuh ditempat tidur dengan posisi Tara berada di atas tubuh Bagas.
" Kak Bagas, aku akan membuatmu merasa bahagia, tidak kah kau tertarik dengan apa yang aku miliki?" Ucap Tara, sambil membelai wajah Bagas.
Bagas lalu segera membalikkan tubuhnya. Kini Tara yang berada di bawah Tara.
" Dengar kau jauh lebih rendah daripada wanita kupu-kupu malam. Aku sungguh malu menjadi kakak sepupu mu. Tidak kah kau tahu, tindakan mu ini sangat memalukan."
" Aku begini karena mu, aku sungguh menginginkan mu. Ijinkan aku memiliki mu walau untuk sesaat."
Tara mengambil tangan Bagas, dan berusaha mengarahkan kepada dada Tara.
" Nikmati apa yang aku miliki." Ucap Tara dengan nada sensual.
" Cukup Tara. Dengar sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mu melakukan hal gila. Ini pakai pakaian mu, dan segera pergi dari sini." Bentak Bagas.
Setelah mengatakan itu, Bagas segera berlalu keluar kamar, meninggalkan Tara.
" Argh... Seharusnya ini menjadi kesempatan yang baik. Seharusnya sekarang aku dan bapak sedang berbagi kehangatan. Tapi Kenapa dia justru menghindariku, Kenapa dia tidak tertarik dengan tubuh seksi ku." Ucap Tara dengan kesal.
" Itu karena Bagas menghormatimu sebagai adik sepupunya." Ucap Ayuna yang keluar dari kamar mandi setelah mengetahui bahwa Bagas meninggalkan kamar.
" Kak Ayuna."
Melihat Ayuna yang tiba-tiba berdiri di dekatnya, membuat Tara segera mengambil baju untuk menutupi dadanya.
" Ckckck, kenapa sekarang kau menutupinya, bukankah tadi kau membukanya dengan penuh rasa percaya diri. Di hadapan Bagas, di hadapan lelaki yang sudah berstatus menjadi suami orang. Dan juga yang berstatus sebagai kakak sepupumu sendiri."
Tara terdiam.
" Kenapa diam?, apa sekarang kau malu dengan yang baru saja kau perbuat?"
" Tidak, aku tidak malu sama sekali. Karena aku mencintai kak Bagas. Jadi Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa mendapatkan Kak Bagas."
" Ckckck, besar juga ya nyalimu. Tara anak dari seorang pengusaha kaya, jadi bintang model majalah dewasa terkenal. Tapi Kenapa justru mengejar-ngejar lelaki yang tidak seharusnya menjadi ambisinya."
" Bukan urusanmu." Ketus Tara.
" Tara dengar, tentu saja ini menjadi urusanku. Bagas adalah suamiku, Aku tidak akan membiarkan siapapun untuk mendekatinya apa lagi mencoba merayu nya seperti yang kau lakukan tadi. Seharusnya kau malu dengan apa yang kau lakukan?. Apa kau tidak memikirkan perasaan orang tuamu saat kau akan melakukan hal menjijikkan seperti itu?"
Tara menatap tajam Ayuna.
" Ck, jangan menatapku seperti itu. Aku tidak akan takut sekalipun kau memberikan ku tatapan mematikan. Tara dengar, berhentilah untuk menyia-nyiakan waktumu demi mengejar obsesimu yang yang terbilang gila itu. Belajar menerima kenyataan bahwa takdir kalian memang hanya sebatas sebagai saudara sepupu. Cobalah untuk menjalani kehidupan mu yang baru." Ucap Ayuna.
Tara tidak berkomentar, Dia terlihat memakai pakaian yang tadi diberikan oleh Bagas. Dan mengambil baju yang tadi dia lempar ke sembarang arah yang basah karena terkena air.
" Tara." Panggil Ayuna, saat Tara akan pergi meninggalkan kamar. Tara menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ayuna.
" Kau adalah bagian dari keluarga, Aku harap kau akan dapat mengerti dan memahami arti sebuah keluarga dan kasih sayang yang ada di dalamnya. Sadar lah Tara, Jangan biarkan obsesi menguasai dirimu dan membuatmu menjadi gelap mata. Tinggalkan hal-hal yang akan membuatmu menyesal di kemudian hari." Ucap Ayuna.
__ADS_1
Tara tidak menanggapi perkataan Ayuna, Dia segera keluar dari kamar begitu Ayuna selesai berbicara.
" Huft.."
Ayuna menghela nafas lega, dia juga merasa senang karena Bagas tidak mudah tergoda oleh Tara. Ayuna sendiri mengakui bahwa Tara memiliki tubuh yang sangat seksi dan ideal yang tentunya menjadi impian bagi setiap pria.
Tara langsung menghampiri Yudi, dan mengajaknya pulang.
" Tara, apa yang terjadi denganmu?. Kenapa kau berganti pakaian?. kau tidak sedang melakukan hal lain kan?" Tanya Yudi
" Tidak, saat aku mencoba mencari kamar mandi, aku tidak sengaja bertabrakan dengan pelayan yang membawa air minum. Baju ku jadi basah dibuatnya. Untung saat itu kal Ayuna datang dan langsung memberikan pakaiannya untukku. Jadilah aku yang memakai pakaian kak Ayuna."
" Ckck, seharusnya kau berjalan dengan hati-hati." Ucap Yudi.
" Entahlah, mungkin karena aku sudah tidak tahan ke kamar mandi jadi aku tidak berjalan dengan hati-hati."
" Ya sudah, kau yakin ingin pulang sekarang?" Tanya Yudi memastikan.
" Ya, aku juga sudah berbicara kepada mama dan papa bawa aku akan pulang terlebih dahulu"
" Baiklah."
Mereka lalu masuk ke dalam mobil, tak beberapa lama kemudian ponsel Yudi berdering.
" Ya?"
"---"
" Baiklah."
Yudi terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku kemeja yang ia kenakan.
" Ada apa?"
" Ada pasien yang harus dioperasi malam ini." Ucap Yudi.
" Kalau begitu ayo, aku akan mengantarkan Kak Yudi ke rumah sakit." Ucap Tara.
" Kau yakin?"
Tara tersenyum dan mengangguk.
" Bukankah menolong seseorang adalah tanggung jawab dari seorang dokter." Ucap Tara.
" Iya, kau benar."
Yudi tersenyum sambil menatap Tara, lalu segera berpindah jalur dan menuju rumah sakit.
" Ya."
"Baiklah kalau begitu hati-hati dan jaga dirimu."
" Tentu, Aku pulang dulu ya."
Yudi tersenyum dan mengangguk, lalu melambaikan tangan kearah mobil Tara yang mulai berjalan menjauh dari Yudi.
Yudi segera masuk ke rumah sakit, karena dia harus segera menuju ruang operasi. Sedangkan Tara, sepanjang perjalanan perkataan dari Bagas dan juga Ayuna terus aja terus yang di pikirannya.
" Arghhh...."
Tara berteriak frustasi. Lalu cara menghentikan mobilnya di sebuah bar. Tara turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam bar serta memesan satu botol minuman beralkohol.
Tara terus meminum minuman yang tidak seharusnya dia konsumsi terutama saat malam hari. Namun, rasa kecewa karena tidak berhasil memanfaatkan kesempatan ditambah dengan ucapan dari Bagas dan juga Ayuna membuat Tara seakan tidak bisa berhenti untuk tidak lagi meminum minuman beralkohol itu.
Tanpa Tara sadari, Doni yang tak lain adalah pemilik dari Bar itu tersenyum sekaligus tidak menyangka melihat arah berada di sana. Lalu Doni berjalan ke arah Tara dan duduk di sebelahnya.
" Hei, tumben sekali aku melihatmu di sini?" Sapa Doni.
Tara hanya menoleh dan tersenyum, sepertinya Tara sudah mulai mabuk akibat terlalu banyak meminum minuman beralkohol itu.
" Kau.., Kenapa kau jahat sekali padaku." Lirih Tara.
" Aku?, apa yang sudah aku perbuat kepadamu kenapa kau berkata aku begitu jahat?" Ucap Doni.
" Hiks hiks, Kenapa kau tidak menyukaiku." Ucap Tara lagi sambil meminum minumannya.
Doni yang sadar jika Tara sudah mabuk, lalu mencoba memeluk Tara.
" Jangan bersedih, aku ada disini jika kau butuh teman untuk bercerita ataupun bahu untuk bersandar." Ucap Doni
Tara melihat sekilas kearah Doni sebelum akhirnya dia memeluknya.
" Hiks hiks, dia.. dia tidak menyukaiku. Aku bahkan sudah membuka pakaianku hanya untuknya, tapi dia justru mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatiku. Memangnya kenapa jika kami adalah saudara sepupu. Bla.bla bla..."
Semakin lama, Tara semakin berbicara hal yang ngawur. Karena tidak ingin terjadi perebutan di bar milik nya. Doni membawa Tara ke lantai atas bak tersebut, dimana di sana terdapat ranjang yang biasa digunakan untuk tidur saat dia malas untuk pulang ke apartemen.
Brug !!
Doni menjatuhkan Tara ke atas ranjang. Saat Doni hendak keluar, Tara tiba-tiba terbangun dan memeluknya dari belakang.
" Kak Bagas, Jangan tinggalkan Aku. Aku mencintaimu, berbagilah kehangatan denganku walaupun aku tahu kita tidak akan mungkin bisa bersama. Tapi lihatlah, walaupun aku adalah seorang model pria. Walaupun tubuhku pernah dijamah oleh banyak pria, tapi aku tetap menjaga kehormatanku untukmu. Aku ingin memberikannya kepadamu, hanya kepadamu Kak Bagas."
" Jadi pria yang bernama Bagas yang menjadi obsesi dari Tara sehingga membuat Tara jadi seperti ini. Dan sepertinya Bagas tidak menerima cinta Tara, itulah yang menjadi alasan kenapa Tara ada disini, minum minuman beralkohol sehingga membuatnya menjadi mabuk." Lirih Doni
__ADS_1
" Aku mohon cintailah aku sebentar saja. Aku akan memberikan segalanya kepadamu." Ucap Tara lagi
Doni tersenyum smirk. Lalu membalikan tubuhnya dan menatap Tara.
" Aku mencintaimu Kak Bagas." Ucap Tara sambil memeluk Doni.
Doni melepaskan pelukan Tara, diangkatnya dagu Tara, dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Tara. Hingga bibir keduanya menyatu sempurna.
Tara yang merasa dirinya tengah bercumbu dengan Bagas, menikmati itu, sambil mengalungkan tangannya di leher pria yang tak lain adalah Doni.
Doni berjalan maju, terus maju hingga membuat keduanya terjatuh di atas tempat tidur. Tara kini berada di bawah tubuh Doni, dan mereka masih tetap berciuman.
Doni mengakhiri ciumannya, dan menatap Tara yang terlihat memejamkan mata, sepertinya Tara sudah mabuk berat.
Doni mengelus wajah Tara, alus hanya turun hingga dada Tara, dilewatinya dada itu hingga sampai pada cela yang berada diantara kedua kaki Tara.
" Ergh.."
Sepertinya Tara terbuai oleh sentuhan dari Doni.
" Aku milikmu Kak Bagas." Lirih Tara yang tengah menikmati sentuhan dari Doni
" Aku bukan Bagas, tapi aku akan memberikan kehangatan yang kau inginkan. Hingga kau akan melupakan Bagas dan akan selalu mengingat namaku." Bisik Doni ditelinga Tara.
Lalu Doni kembali menciwm bibir Tara. Tangan Doni dengan lembut melucuti semua pakaiannya Tara.
Tara begitu terbuai hingga sesekali dia mengeluarkan suara khas dari orang yang merasakan kenikmatan luar biasa. Doni yang pandai membuat Tara terlena karena sudah mengetahui titik lemah dari Tara, merasa mungkin inilah kesempatan dirinya untuk memiliki Tara seutuhnya.
" Aku akan membuatmu merasakan surga dunia, walaupun beberapa hari ini kau selalu menyiksaku. Kali ini aku akan menyentuhmu lebih dari yang kumau." Bisik Doni.
" Lakukanlah Kak Bagas, Aku milikmu malam ini." Lirih Tara.
Malam itu, Doni menembus mahkota yang dijaga oleh Tara untuk Bagas.
Rintihan Tara, membuat Doni sungguh merasa puas, Tara memang benar menjaga mahkotanya. Terbukti dengan bercak darah yang keluar saat Doni menembus mahkota Tara.
" Sayang, Aku tidak menyangka jika ada model yang masih bersegel bekerja dengan ku. Karena selama ini semua model yang pernah aku tiduri sudah tidak bersegel. Tapi dirimu, ah kau sungguh membuatku menjadi candu sekarang." Ucap Doni di sela-sela permainannya.
" Kak Bagas, aku ingin sampai." Lirih Tara.
" Ya sayang, aku bersama mu."
Doni membiarkan cairannya mengalir deras ke tubuh Tara. Nikmatnya bercinta dengan cara membuat Doni tidak rela jika cairannya terbuang dan menodai tubuh Tara. Jadi dia membuang cairan itu di dalam tubuh Tara.
Sementara itu, orang tua Tara mulai khawatir, karena saat mereka sampai di rumah mereka tidak menemukan Tara.
" Apa mungkin Tara berada dirumah temannya?" Ucap Yudi saat dirinya tengah ditelepon oleh orangtua Tara.
" Mungkin saja."
" Kalian jangan khawatir, aku akan mencari Tara." Ucap Yudi.
" Terima kasih Yudi."
" Sama saama."
Yudi segera melajukan kendaraannya dan mencoba mencari Tara.
" Kira kira kemana aku harus mencari Tara?" Lirih Yudi di tengah-tengah perjalanannya mencari Tara.
Tiba-tiba, Yudi teringat tentang pertemuannya dengan Mia.
" Mungkinkah..?"
Yudi segera menepikan mobilnya dan langsung mengambil ponsel untuk menghubungi Mia.
" Halo Mia?"
" Kak Yudi, ada apa?"
" Apa Tara ada dirumah mu?"
" Ya, Tara sedang tidur di rumahku. Dia bilang sedang tidak enak badan jadi Dia memutuskan untuk tidak pulang karena takut orang tuanya khawatir." Ucap Mia.
" Syukurlah, karena orang tua Tara tadi menelpon dan mengkhawatirkan dirinya."
" Ya aku tahu, bisakah Kak Yudi mengatasi orang tua Tara?. Karena tadi Tara berpesan agar jangan sampai orang tuanya tahu jika Tara sedang tidak enak badan."
" Hmm, terkadang aku tidak habis pikir. Kenapa Tara justru tidak ingin orang tuanya tahu jika dirinya sedang sakit. Tapi ngomong-ngomong dia sakit apa?, saat pergi denganku tadi dia baik-baik saja?"
" Dia hanya bilang sedang pusing dan butuh istirahat." Ucap Mia.
" Baiklah kalau begitu, aku akan berbicara kepada orang tua Tara." Ucap Yudi kemudian mematikan ponselnya dan menelepon orang tua Tara untuk memberitahu bahwa Tara baik-baik saja.
Yudi tidak tahu jika sebenarnya Mia hanya berbohong. Ya. Didalam perjalanan setelah mengantarkan Yudi ke rumah sakit. Tara sudah menceritakan semuanya kepada Mia melalui panggilan suara. Dan Tara meminta Mia untuk berpura-pura bahwa Tara ada di rumahnya saat siapapun menelponnya untuk menanyakan keberadaan Tara.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1