
Seperti rencana sebelumnya, bagas akan membawa gibran ke Singapura malam hari.
" Sudah siap?" Tanya bagas, saat melihat ayuna barusaja selesai memasukan pakaian terakhir kedalam koper.
Ayuna hanya menoleh ke arah Bagas dan tersenyum. Bagas menghampiri ayuna, dan duduk disampingnya.
" Kemarilah." Bagas menarik tangan ayuna, agar ikut duduk disebelah dirinya.
Setelah ayuna duduk, bagas menghadap ayuna sambil memegang pipi nya.
" Katakan, ada apa?"
Ayuna menatap bagas, bagas melihat airmata ayuna sudah bersiap membasahi pipinya.
" Hei, kenapa kau menangis?"
Bukan nya menjawab, ayuna langsung memeluk bagas.
" Hiks hiks, aku.. aku takut jika mimpi buruk ku menjadi kenyataan."
" Memangnya kau pernah bermimpi apa?"
" Aku pernah bermimpi bahwa Gibran akan meninggalkanku untuk selamanya."
Bagas mengurai pelukannya, menatap ayuna sambil memegang kedua pipi nya.
" Dengar, mimpi hanya bunga tidur dan bukan suatu pertanda."
" Tapi setelah mimpi itu aku selalu mendapat firasat, firasat itu menjadi kenyataan bukan?. Dan yang aku mimpikan juga benar terjadi."
" Sttt, Jangan berpikir negatif begitu, kita bahkan belum tahu seberapa parah penyakit itu. Dan mungkin saja penyakit itu itu masih bisa disembuhkan. Kita harus optimis dan selalu berpikir positif."
" Tapi..."
" Ayuna, tidak boleh terlalu takut jika mimpi yang pernah kita alami benar-benar menjadi kenyataan. Kita optimis bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Walau terkadang sebuah firasat bisa menjadi kenyataan, tapi bukan berarti mimpi juga bisa menjadi nyata kan?"
" Aku..."
" Kita akan berjuang bersama untuk kesembuhan gibran, Dan aku berjanji tidak akan berhenti sebelum Gibran benar-benar terbebas dari kanker itu."
" Mami..."
Ayuna dan Bagas langsung menoleh ke arah asal suara, mereka sedikit terkejut dan saling bertanya-tanya sejak kapan Gibran berada di sana.
" Apa dia mendengar apa yang kita bicarakan?" Tanya ayuna.
" Aku tidak tahu "
Untuk sesaat mereka saling berpandangan sebelum akhirnya ayunan menyuruh Gibran untuk masuk.
" Kemari lah sayang."
" Mami..." Panggil gibran begitu dia sudah duduk di tengah-tengah antara Bagas dan ayuna.
" Iya sayang."
" Apa aku akan terjadi padaku,?" Tanya gibran sambil menatap ayuna.
" Apa maksud gibran?"
" Aku tau, Jika sakit yang pernah aku derita kembali lagi. Jadi Aku ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kepadaku."
" Tidak akan terjadi apa-apa, papi berjanji." Ucap bagas.
" Jika tidak akan terjadi apa-apa padaku, Kenapa kita akan kembali ke rumah sakit yang ada di Singapura?"
Ayuna dan bagas saling berpandangan.
" Karena pengobatan di sana jauh lebih baik daripada pengobatan yang ada di sini." Ucap Bagas.
Gibran menunduk.
" Maafkan gibran, mami, papi. sejak Gibran sakit Gibran selalu merepotkan kalian."
__ADS_1
" Hei, Gibran tidak pernah merepotkan siapapun. Gibran adalah tanggung jawab Kami. Jadi sudah seharusnya kami menjaga Gibran dan memastikan Gibran selalu baik-baik saja."
" Benar apa yang dikatakan mami. Gibran adalah harta mami dan Papi yang paling berharga. Jadi Papi dan mami akan selalu menjaga Gibran, membahagiakan Gibran dan memastikan selalu kesehatan Gibran."
" Jangan pernah lagi berkata seperti itu, kata-kata itu sungguh membuat mami dan Papi bersedih." Ucap ayuna.
Mereka lalu memeluk gibran bersama sama.
" Gibran menyayangi mami dan papi."
" Kami lebih menyayangi mu sayang." Ucap ayuna.
Adegan berpelukan itu tidak bertahan lama, karena ponsel Bagas berdering.
Drttt drrtr drrttt
Bagas melepas pelukannya dan mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya.
" Halo?"
"---"
"Ya, kami sudah siap untuk berangkat."
" ---"
" Oke."
Tut, Bagas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
" Siapa?" Tanya ayuna.
" Anjas."
" Apa katanya?"
" Dia bertanya apakah kita sudah siap atau belum karena dia juga akan berangkat."
" Kalau begitu ayo kita berangkat." Ucap ayuna.
" Ada apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari ayuna, Bagas mendekatkan diri ke ayuna. Bukan. Bukan mendekatkan diri tapi mendekatkan wajahnya ke wajah ayuna.
Cup.
Bibir bagas mencium bibir ayuna, sedangkan tangan kanan bagas menutup mata gibran.
" Papi.." Omel gibran, Gibran merasa kesal karena dia tidak tahu apa yang
terjadi.
Setelah Bagas membuka tangan yang menutup mata Gibran, gibran memasang wajah jutek.
" Dih, sejak kapan kamu bisa memasang jelek begitu?" Kekeh bagas
" Tau ah."
Gibran menghentakkan kakinya, lalu dia berjalan lebih dulu keluar dari kamar.
" Wah, lihatlah, gibran sudah pandai marah seperti mu " Ucap Bagas sambil melihat ke arah ayuna.
" Siapa suruh menciumku didepan Gibran. Ya sudah ayo. Kita harus segera berangkat." Ucap ayuna.
Ayuna berjalan lebih dulu, lalu Bagas berjalan di belakangnya dengan membawa dua buah koper.
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, Bagas segera melajukan kendaraannya menuju bandara. Sesampainya di bandara Bagas menyuruh orang-orangnya untuk membawa pulang mobilnya.
" Dimana anjas?" Tanya ayuna saat dirinya hendak masuk ke dalam jet pribadi milik Bagas.
" Aku tidak tau, tadi dia mengatakan Jika dia sudah siap untuk berangkat. Mungkin terjebak macet atau ada keperluan lain."
" Jadi?"
__ADS_1
" Kita akan menunggunya beberapa saat lagi. Masuklah lebih dulu bersama Gibran, Aku akan mencoba menelponnya."
" Baiklah."
Ayuna kemudian menyusul gibran yang sudah lebih dulu masuk ke dalam pesawat.
...
Dirumah anjas,
" Anjas, Aku akan pergi selama berapa hari?" Tanya selin.
" Mungkin sekitar 1 atau 2 pekan."
" Oh."
" Kenapa?, apakah mengharapkan aku lebih lama berada di luar negeri?"
" Tidak, bukan begitu. Maksud ku Apa kau akan berada di sana sampai Gibran sembuh, atau akan pulang pergi seperti sebelumnya."
" Entahlah aku juga tidak tahu, Yang jelas mungkin aku akan sedikit lebih lama di sana. Jadi..."
Anjas mendekati Selin dan berbisik,
" Kau bisa bersenang-senang dengan nya selama aku tidak ada di sini."
Setelah mengatakan itu anjas segera keluar dari kamarnya. Berpamitan kepada mama nya, lalu segera berjalan menuju taksi yang sudah menunggunya di depan rumah.
" Langsung ke bandara pak." Ucap anjas kepada supir .
" Baik."
Drrttt drrrtt drrrttt
Ponsel Anjas berdering.
" Ya bagas "
" kKau ada di mana? Kami sudah ada di dalam pesawat."
" Ya, aku akan tiba dalam 10 menit."
" Oke."
Setelah itu Bagas langsung masuk dan memutuskan untuk menunggu Anjas di dalam pesawat.
Sepuluh menit kemudian Anjas datang, dan pesawat pun segera lepas landas.
" Singapura..." Lirih ayuna sambil melihat gibran yang masih tertidur.
" Hai kita sudah hampir mendarat, kita langsung ke rumah sakit atau ke villa ku dulu untuk beristirahat?" Tanya anjas.
Bagas menatap ayuna, seolah menyuruh agar ayuna yang mengambil keputusan.
" Ke villa saja. Besok baru kita ke rumah sakit." Ucap ayuna.
Mendengar penuturan ayuna, Anjas segera menelpon orang-orangnya untuk menjemput mereka di bandara.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...