LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Belum saatnya


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki rini, mama Anjas.


" Lo jeng. Ada disini?" Tanya rini saat besan nya berada di rumah, padahal beberapa saat lalu dia dan besan nya bercerita begitu banyak di butik.


" Iya, tadi anjas menelpon dan mengatakan ingin memberitahu sesuatu yang penting. Anjas meminta kami datang, Karena itulah kami sekarang ada di sini." Terang mama selin.


" Dan kenapa dion juga ada disini?" Pandangan rini berbalik menatap dion, yang sudah berkeringat dingin.


" Kebetulan saya lewat, jadi saya mampir, Karena ingin mengunjungi tante?" Ucap dion.


" Yakin?, bukan karena ingin mengambil kunci apartemen yang tertinggal?" Ucap anjas spontan.


" Ti..tidak. Ak..aku memang sengaja mampir ingin menemui mama mu." Ucap dion.


" Yakin?"


" Sudah sudah, Anjas hal penting apa yang ingin kukatakan?" Tanya rini sambil menatap anjas.


" Ini perihal selin dan dion." Ucap anjas.


Selin dan Dion semakin gemetar, mereka tidak menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini, dan mereka tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa melewati situasi seperti ini.


" Sayang, Apa maksud dari perkataan mu yang ingin membicarakan perihal aku dan dion?" Tanya selin.


" Sayang, Kenapa kau bertanya padaku, bukankah seharusnya kau yang memberitahu mereka tentang apa yang terjadi diantara kalian?" Ucap anjas.


" Ap..apa..."


Selin gugup. Dion semakin merasa bahwa dia sudah dekat dengan akhir hayatnya.


" Kau ingin memberitahu mereka sendiri, atau aku yang harus memberitahukan kepada mereka?" Tanya anjas.


" Memberitahukan apa sih maksud kamu sayang?"


" Jangan pura-pura tidak tahu." Ucap anjas.


Selin menjadi kehabisan kata-kata, dia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya dan dion adalah pasangan kekasih. Dan bayi yang ada di dalam kandungannya adalah bayi Dion bukan bayi Anjas. Itu sama saja dia melakukan percobaan bunuh diri.


" Ak..aku.."


" Sayang tidak perlu gugup katakan saja kepada mereka, atau kau yang ingin mengatakannya kepada mereka, Dion?." Ucap anjas, yang mengalihkan pandangannya kepada Dion.


Wajah dion memancarkan aura ketakutan yang sangat dalam.


Apa yang sebenarnya kau rencanakan anjas. Batin dion.


" Anjas, sebenarnya ada apa ini?" Tanya mama anjas.


" Iya, sebenarnya ada apa antara selin dan dion?" Imbuh mama selin.


" Iya, katakan saja anjas, papa juga pusing ini." Timpal papa selin.


" Baiklah, jika dion dan selin tidak mau berbicara. Aku akan mengambil sesuatu, sebuah bukti. Mungkin itu akan membuat selin dan dion berbicara." Ucap anjas yang kemudian berdiri dah berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kamar.


Selin dan dion saling berpandangan, mereka seakan saling berbicara melalui telepati.


Beberapa saat kemudian,

__ADS_1


Anjas datang dengan membawa sebuah amplop coklat.


Selin dan dion menatap amplop yang di lemparkan anjas je atas meja.


Selin hendak mengambil amplop tersebut, namun kalah cepat dengan rini. Kini amplop itu sudah berada di tangan rini.


" Apa ini?" Tanya rini.


" Kenapa mama tidak membuka nya, agar tau apa isi dari amplop tersebut." Ucap Anjas.


Perlahan tapi pasti, rini mulai membuka amplop tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi dion dan selin yang mengira amplop itu berisi bukti perselingkuhan mereka.


Rini mengeluarkan isi amplop, dia terlihat fokus menatap lembar demi lembar foto yang ada didalam amplop.


" Apa ini?, mama tidak mengerti."


Selin berdiri dan memberanikan diri mendekat ke arah rini.


" Biar selin lihat ma."


Saat selin akan mengambil foto dari tangan rini, anjas dengan cepat meraih foto itu. Dan memberikannya kepada mama dan papa selin.


" Sayang, duduk lah dulu, Santai, rileks, biarkan mama dan papa yang melihatnya lebih dulu." Ucap Anjas.


Tidak ada pilihan lain bagi selin selain kembali duduk.


Mama dan papa nya tampak serius menatap foto yang ada di tangannya.


" Ini.." Ucap mama, sambil memandang ke arah anjas, dion dan selin.


" Ak.. aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku urus." Ucap dion.


" Dion kenapa terburu-buru, Padahal aku belum mengatakan apa kejutannya." Ucap anjas saat Dion hendak bangun dari posisi duduknya.


Tidak ada pilihan lain bagi Dion selain kembali dalam posisi duduknya.


" Anjas, sekarang jelaskan kepada Mama apa artinya ini?" Ucap mama selin yang melemparkan foto ke atas meja.


Dengan cekatan, selin segera mengambil foto yang ada di atas meja.


" Itu adalah foto dari calon anak yang dikandung selin, selin hamil anak kembar." Ucap Anjas.


Mendengar penuturan dari Anjas, dion dan selin merasa lebih tenang. Ternyata anjas tidak berniat membongkar hubungan rahasia mereka.


" Benarkah,?" Ucap mama anjas, dan mama selin secara bersama sama.


" Selin, kau bahkan tidak memberitahu mama dan papa mengenai hal ini." Ucap papa selin.


" Iya, lalu apa hubungannya dengan Dion?" Tanya mama anjas


" Iya, apa hubungannya kehamilan selin dengan Dion?"


" Jadi, Dulu aku pernah menyuruh dia untuk menyelidiki tentang selin, karena aku curiga dengan perut selin yang besar melebihi usia yang sebenarnya. Namun ternyata perut selin besar, karena dia tengah hamil anak kembar. Awalnya Aku tidak percaya, terlebih lagi dokter itu juga selalu beralasan saat aku ingin meminta diperlihatkan kedua bayi yang ada didalam kandungan selin. Dan berkat dion juga aku jadi tidak lagi mencurigai selin selingkuh dibelakang ku." Ucap anjas dengan menekan kata 'selingkuh'


" Jadi begitu?"


" Ya, Dan harusnya aku juga berterima kasih kepada Dion, Karena dia sudah merekomendasikan dokter yang terbaik, sehingga dokter itu melakukan apa yang seharusnya dia lakukan demi sebuah klinik impian sang dokter." Ucapan anjas membuat bulu kuduk dion berdiri.


Darimana anjas tau, jika aku menjanjikan surat izin membangun klinik kepada dokter itu, Jika dia mau mengikuti semua perkataanku. Batin dion.


Apa yang sebenarnya anjas lakukan?, dia tidak membongkar rahasia kami, kami kenapa setiap perkataan nya seolah olah menjerumus ke dalam kebenaran yang sesungguhnya. Batin selin.


" Selamat ya sayang, aku hanya meminta satu cucu darimu, tapi kau justru memberiku dua." Ucap mama anjas.

__ADS_1


" Ya bagus dong jeng, jadi kita tidak perlu berebut dalam menggendongnya kelak." Kekeh mama selin


" Haha, iya kau benar sekali jeng."


" Ayo kita rayakan kabar gembira ini. Ayo dion kau juga ikut kami." Ucap papa selin.


" Ke..kemana?"


" Tentu saja merayakan berita yang menggembirakan ini. Kita di restoran, makalah sepuasnya aku yang akan menerapkan kalian semua." Ucap papa selin.


" Ayo jeng." Ajak mama selin.


" Tapi Aku belum ganti baju?"


" Ah tidak usah, kita tidak boleh menunda dalam merayakan berita yang membahagiakan ini."


" Baiklah baik. Ayo selin, anjas." Ajak mama anjas.


" Ba..."


Belum selesai Selin berbicara, Anjas sudah mendahului selin dan berkata,


" Biar selin berangkat bersama denganku." Ucap anjas, sambil memeluk selin.


" Baiklah."


Mama anjas dan selin keluar diikuti papa dan juga dion.


" Sayang, kau sungguh membuat ku merasa takut, aku pikir apa yang akan kau katakan kepada mereka."


" Memangnya kau mau aku mengatakan apa?"


Selin terdiam. Kenapa dia bisa mengatakan hal itu kepada anjas.


" Kau tenang saja, belum saatnya mereka tau." Bisik anjas.


Deg !!!


Belum saatnya mereka tahu?, itu artinya..., ah tidak mungkin. Tidak mungkin anjas sudah mengetahui tentang ku dan juga Dion. Batin selin.


" Ayo, bukankah kita harus merayakan berita gembira ini."


Anjas merangkul pinggang selin, dan mengajaknya berjalan keluar rumah, menyusul keluarga mereka yang sudah menunggu di dalam mobil.


Selin berjalan sambil memandang wajah anjas.


" Sudah tidak perlu memandang ku dengan tatapan seperti itu. Sebaiknya kau nikmati saja alurnya.." Ucap anjas tersenyum smirk.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Hoammm !!!...


...Lanjut besok ya, udah ngantuk hehe.....


...Jangan lupa ...


...jempol nya ya kak,...

__ADS_1


__ADS_2