LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Sebuah kenyataan pahit


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Ceklek


Perawat membuka pintu dan mempersilahkan Bagas serta Andi untuk masuk menemui dokter yang memang sudah menunggu mereka.


" Dokter.." Panggil bagas.


" Tuan bagas, silahkan duduk. Saya sudah menunggu anda."


Bagas dan andi lalu duduk, mereka kini berhadapan dengan dokter.


" Ada apa dokter?," Tanya bagas.


" Begini, hasil pemeriksaan dari putra anda, gibran. Sudah keluar." Ucap dokter.


" Bagaimana hasilnya apakah sesuai dengan yang kita harapkan?, putra saya baik-baik saja kan dok." Ucap Bagas.


Dokter menghela nafas panjang..


" Maafkan saya, tapi hasil pemeriksaan mengatakan hal yang berbanding terbalik dengan apa yang kita harapkan."


" Ma.. maksud dokter?"


Dokter menyalahkan sebuah layar monitor, dan memperlihatkan gambar hasil rontgen Gibran.


" Apa itu?" Tanya andi.


" Ini adalah hasil rontgen Gibran, dan disini terlihat jelas bahwa penyakit yang pernah diderita Gibran kembali lagi."


Duar !!!


Dunia bagas serasa runtuh, bagaimana dia bisa memberi tahu ayuna akan hal ini.


Bagas menatap andi, andi memegang bahu Bagas.


" Apa dokter yakin jika itu adalah hasil milik Gibran?" Tanya andi.


" Yakin, karena saya sendiri yang melakukan pemeriksaan dan uji laboratorium." Terang dokter.


" Apa penyebab kanker itu datang lagi?" Tanya bagas.


" Banyak penyebab nya. Salah satu nya, saat operasi pengangkatan sel kanker, masih menyisakan akar dari sel kanker tersebut."


Bagas menundukkan kepala. Dia begitu terpukul dengan kenyataan yang ada di hadapan nya saat ini.


" Lalu apa ada cara untuk menyembuhkan putra saja dok." Ucap bagas.


" Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter yang dulunya menangani Gibran."


Tok


Tok


Tok


Ceklek...


" Permisi dokter, pasien di kamar 187 perlu diperiksa dokter sekarang." Ucap seorang perawat.


" Apa ada yang akan ditanyakan lagi?" Tanya dokter.


Bagas menggeleng.


" Kalau begitu saya permisi, ada pasien yang harus saya periksa. Jika anda memiliki pertanyaan lain, silakan temui saya lagi nanti."


" Terima kasih dok." Ucap andi.


Andi dan bagas bersama keluar dari ruangan dokter. Mereka berjalan dibelakang dokter, sebelum akhirnya mereka berjalan kembali menuju ruangan gibran.

__ADS_1


Brug !!


Bagas menjatuhkan diri di atas kursi yang ada di lorong rumah sakit.


" Bagas, kau baik baik saja?" Tanya andi.


" Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya tidak tahu, Bagaimana cara memberitahu ayuna tentang semua ini."


Andi ikut duduk disamping Bagas. Lalu andi melihat anjas berjalan ke arah mereka.


" Andi.." Panggil anjas.


" Anjas?"


" Ayuna mencari kalian, jadi aku keluar untuk mencari kalian." Terang anjas.


lalu anjas melihat bagas termenung, membuat nya tertarik ingin mengetahui apa yang terjadi. Anjas lalu duduk di sebelah andi.


" Apa yang terjadi? apa ada kaitannya dengan hasil pemeriksaan gibran." Tanya anjas menatap andi.


Andi mengangguk. Bagas masih termenung diam.


" Apa hasil nya?" Tanya anjas lagi.


" Tidak bagus." Jawap bagas.


" Tidak bagus bagaimana maksud mu?, katakan dengan jelas." Ucap anjas.


" Penyakit gibran kembali lagi." Ucap bagas lemah.


" Apa?, jangan bercanda bagas."


Sangking kagetnya, Anjas langsung berdiri dan menatap Bagas.


" Buat apa aku bercanda?, tanya saja pada andi. Dia juga ikut masuk, dan mendengarkan penjelasan dari dokter." Terang bagas.


Anjas segera mengalihkan pandangan kepada andi, lalu dia duduk kembali di samping andi


" Andi, beritahu aku bahwa apa yang dikatakan bagas tidak benar."


Anjas menutup mukanya dengan kedua tangan.


Ya TUHAN, apa lagi ini. Aku belum membuka kedok perselingkuhan istri dan temanku, sekarang kau biarkan penyakit gibran datang lagi. Batin anjas.


" Apa ayuna sudah tahu hal ini?" Tanya anjas.


Andi menggeleng.


" Sebaiknya kita jangan dulu memberi tahu ayuna." Kata anjas.


" Tapi ayuna berhak tau. Lambat laun dia juga akan tahu. Dan bayangkan, bagaimana perasaan ayuna saat dia tau belakangan." Timpal andi.


" Yang dikatakan andi benar anjas, kita harus memberi tahu ayuna. Hanya saja, aku tidak tahu harus dengan cara apa untuk memberi tahu ayuna. Aku tidak tega jika harus memberi tahu ayuna sekarang." Terang bagas.


" Kenapa?" Tanya andi.


" Ayuna pernah memiliki firasat tentang hal ini. Namun, aku mengatakan bahwa dia terlalu khawatir." Ucap Bagas.


" Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Anjas.


" Yang harus kita lakukan adalah membawa gibran kembali ke Concord International Hospital."


" Tunggu, dulu kalian membawa Gibran berobat ke Singapura?" Tanya andi.


" Ya. Kau kira dimana?" Tanya bagas.


" Aku kira di Inggris."


" Inggris tidak ada rumah sakit yang terbaik dalam menangani kanker." Ucap anjas.


" Tapi sebelum kita membawa Gibran ke rumah sakit itu, kita harus memberitahu ayuna. Dan hal itu yang tidak sanggup aku lakukan. Aku tidak tega jika harus melihat ayuna sedih lagi. Dia pernah mengeluh padaku. Kenapa Tuhan begitu jahat kepadanya. Dia diberikan kebahagiaan oleh Tuhan, namun Tuhan juga memberikan luka dalam kebahagiaan itu." Ucap Bagas.


Andi dan anjas terdiam. Mereka dalam pemikiran nya sendiri sendiri.

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


Mereka mendengar suara langkah kaki. Semua nya menoleh, suara langkah kaki itu berasal dari ayuna.


" Kalian ada disini?" Tanya ayuna.


" Ayuna.." Ucap bagas.


" Gibran menanyakan keberadaan papi dan ayah nya. Dan kenapa kalian semua ada disini?" Tanya ayuna.


" Kita.., kita..." Ucap bagas terbata.


" Kita sedang membahas masalah pria." Ucap anjas.


Ayuna mengkerutkan dahi nya.


" Ya benar, kami sedang bertukar pikiran antar sesama pria." Andi menyenggol bagas.


" Ya benar. Tidak etis jika kita membicarakan urusan pria didalam ruangan gibran." Ucap Bagas.


" Ohya?. Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya ayuna pada bagas.


"Kenapa kau berbicara begitu?" Ucap bagas.


" Ya, karena tadi sisil melihat kalian keluar setelah perawat datang."


" Oh itu. Perawat hanya mengatakan bahwa kita harus menunggu lagi untuk hasil lap gibran. Ya sudah ayo kita kembali ke ruangan gibran."


Bagas berdiri, dan langsung memegang bahu ayuna, dan mengajak nya berjalan.


Andi dan anjas mengikuti mereka dari belakang.


" Bagas, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu bukan?" Tanya ayuna saat mereka dalam perjalanan menuju ruang rawat gibran.


" Tidak sayang. Kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu pada mu?"


" Hmm,"


Sesampainya mereka diruangan gibran, sisil mengajak andi untuk pulang, karena dia merasa lelah.


" Aku akan datang lagi besok." Ucap sisil sambil memeluk ayuna.


" Ah, tidak perlu, istirahat lah dirumah, jaga keponakan ku dengan baik." Ucap ayuna.


" Aku pulang dulu." Ucap andi.


" Ya. Terima kasih karena sudah datang berkunjung." Ucap Bagas.


Sementara itu, anjas menghampiri gibran terlebih dahulu, sebelum anjas memutuskan untuk pulang.


Malam hari nya, seperti biasa ayuna tertidur sambil memegang tangan gibran.


Dengan hati hati, bagas mengangkat tubuh ayuna dan meletakkannya di ranjang yang tersedia khusus untuk istirahat bagi keluarga pasien yang ikut menemani.


Dipandangnya wajah ayuna.


" Semoga besok perasaan mu lebih baik, agar aku dapat memberi tahu keadaan putra kita."


Cup


Bagas mencium kening ayuna. Lalu memutuskan untuk tidur didekat ranjang gibran.


Sebelumnya, Bagas juga mencium kening gibran dan berkata,


" Papi akan berusaha keras untuk kesembuhan gibran."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2