
" Gibran..."
Ayuna terkejut dan refleks membuka mata. Lalu melihat kesamping dimana Bagas sudah ada menunggu Ayuna bangun.
" Bagas..."
Bagas langsung memeluk Ayuna begitu Ayuna terbangun.
" Sayang, kau membuatku khawatir." Ucap Bagas.
" Aku..., tadi aku..."
" Sttt.... Tenang lah aku ada di sini." Ucap Bagas.
Setelah cukup lama memeluk Ayuna. Bagas melonggarkan pelukannya.
" Katakan apa yang terjadi sehingga kau menangis dalam tidur?" Tanya Bagas
" Ap..pa? Aku menangis dalam tidur?"
" Ya."
Ayuna dia mencoba mengingat yang baru saja terjadi padanya.
" Bagas."
" Ya?"
" Kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Ayuna membuat Bagas mengkerutkan dahinya.
" Apa maksudmu ada disini?, kau sudah ada di sini sejak tadi sore. Aku pikir kau kelelahan karena saat aku memanggil-manggil namamu kau tidak keluar. Dan kataku membangunkanmu kau juga tidak bangun, kau nyari saja membuatku jantungan karena kau yang tak kunjung bangun."
" Apa..., tapi tadi aku bersama Gibran." Ucap Ayuna.
" Tidak sayang, sedari tadi kau ada di sini. Saat Mama memintamu untuk istirahat di kamarnya, kamu minta untuk istirahat di kamar Gibran. Lalu aku datang berniat mengajakmu turun karena na keluarga yang lain sudah datang dan berkumpul." Ucap Bagas.
Ayuna terdiam, dia lalu bangun dari posisi tidurnya dan berdiri.
" Iya, tadi aku merasa aku sedang berada ditaman mendatangi anak kecil yang menangis. Lalu aku bertemu dengan Gibran. Dan aku memeluknya, seperti ini."
Ayuna memeluk Bagas, memperagakan bagaimana tadi dia berpelukan dengan Gibran.
" Lalu Gibran bersedih karena..."
Ayuna terdiam.
" Karena apa?" Tanya Bagas
" Gibran mengatakan jika dia bersedih karena melihat ku menangisi kepergian nya. Gibran sedih karena aku masih belum merelakan kepergian nya. Dia juga bilang..."
Ayuna kembali terdiam. Membuat Bagas semakin penasaran.
" Ayuna, apa yang Gibran katakan?"
" Gibran mengatakan Aku tidak perlu sedih karena dia akan terlahir kembali menjadi anakku. Dia akan menjadi anak kita lagi." Ucap Ayuna sambil memegangi perutnya.
" Benarkah?"
" Ya, dan apa kau masih ingat saat dokter obgyn mengatakan bahwa di dalam perut ku ada dua kantung rahim?. Apakah itu artinya salah satu dari mereka akan berjenis kelamin laki-laki?" Ucap Ayuna sambil menatap Bagas.
" Kita tidak bisa memastikan nya sebelum bulan depan. Tapi ya, semoga saja apa yang kau katakan benar terjadi." Ucap Bagas.
" Ya, aku yakin, jika salah satu dari baik kita berjenis kelamin laki-laki. Dan itu adalah Gibran yang terlahir kembali menjadi anak kita berdua."
" Ya, semoga saja." Ucap Bagas yang kemudian memeluk Ayuna, walau dalam hatinya sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ayuna.
Setelah beberapa saat,
"Pergilah bersiap setelah itu kita turun ke bawah." Ucap Bagas. Ayuna tersenyum dan mengangguk.
Cup
__ADS_1
Ayuba mencium bibir Bagas dab dan berbisik,
" I love You."
Bagas terlihat bersemangat, tubuh nya mendadak seperti tersengat listrik. Jika saya Mesya tidak datang menganggu, mungkin Bagas akan memakan Ayuna dikamar itu.
Tok
Tok
Tok
Ceklek.
" Aduh, kak Bagas dan Kakak ipar sedang bermain apa sih?, kenapa sangat lama berada di dalam kamar. Mama, Papa dan semua keluarga yang lain sudah heboh mencari kalian." Ketus Mesya.
" Iya iya, ini juga mau keluar kok." Ucap Bagas.
" Pergilah bersiap. Aku akan menunggu mu di luar." Bisik Bagas. Dan saat Bagas akan mencium Ayuna.
" Ehem Ehem. Woy ada manusia jomblo. Jangan main nyosor aja." Ketus Mesya.
Bagas memejamkan mata mencoba meredam rasa geregetan nyaa kepada adiknya yang satu itu. Adik yang bawel nya nomer satu se jagat raya.
" Syirik aja lu, nggak bisa lihat abangmu senangnya."
" Idih. Bosen aku liat kak Bagas seneng. Sekali kali menderita kek gitu." Omel Mesya.
" Oh, jadi kamu mau kalau hidup kakakmu yang paling ganteng ini sengsara kamu mau kalau kakak mu yang super cool ini menderita?"
" Kalau iya kenapa?"
" Ya gak cocok lah. Masak cowok se tampan dan se keren aku menderita. Ck, ora level." Ucap Bagas sambil menaikkan kerah kemejanya lalu berjalan melewati Mesya.
Click.
Bagas menjentikkan jarinya di wajah Mesya.
Ayuna hanya tersenyum melihat tingkah laku kakak beradik itu.
Hmmm, begitu kental kasih sayang yang ada di keluarga ini. Walau Bagas bukan anak kandung dari mama dan papanya, tapi tidak akan ada yang menyadari itu jika melihat kedekatan serta kasih sayang mereka. Dan Aku adalah wanita paling beruntung yang dapat melihat serta merasakan kehangatan dari kasih sayang keluarga ini. Batin Ayuna.
" Woy, kakak ipar. Malah melamun. Tak doain Kesamben loh."
" Yah, jangan dong. Nanti kalau kakak Kesambet, terus keponakan kamu yang ada diperut kakak jadi ikutan Kesambet dan goyang patah-patah gimana?, kamu mau tanggung jawab?"
" Ya enggak sih."
" Ya udah jangan doain Kesambet."
" Terus doain apa dong, kadung mau berdoa nih."
" Hmmmm."
Ayuna terlihat berpikir.
" Doain, semoga jangan ada Valakor diantara kami." Ucap Ayuna.
" Kok kami. Itu artinya jangan ada ada pala kau diantara kakak ipar, dan juga aku dong?" Ucap Mesya.
" Duh, kamu itu kalau oon jangan kebanyakan napa. Maksud kakak, semoga tidak ada Valakor diantara kakak dan kakakmu."
" Ooh itu?, Emang Valakor itu hantu yang ada di film The Nun ya.."
" Itu VALAK biji kedondong." Ucap Ayuna dengan gemas.
" Oh Valak itu nama dari biji kedondong ya?, Mesya baru tahu."
Ayuna menepuk dahinya sendiri.
" Valak itu. Buah bergerombol dalam bentuk tandan. Berwarna cokelat tua, mengkilap dan bersirip teratur. Berbentuk segitiga dengan pangkal meruncing dan ujungnya yang berbentuk bulat." Ucap Ayuna panjang kali lebar.
__ADS_1
" Ya elah, itu sih Salak perkedel tahu."
" Pffftt, kamu bilang aku apa tadi?"
" Perkedel tahu."
" Dasar dadar gulung."
" Hahaha.."
" Jadi di doain enggak nih?, kalau gak didoain aku marah nih." Tanya Ayuna.
" Dih, minta didoain kok maksa?. Ntar doa nya gak khusyuk lo." Ancam Mesya.
" Ya kalau gak khusyuk tinggal di tekan terus, didorong biar tembus."
" Itu Tyusuk serbet bolong."
" Hahaha, lu kata aku serbet bolong. Dasar karnipan."
" Kanibal?"
" Karnipan, yang bisa buat donat mengembang." Ucap Ayuna.
" Fermipan gukguk."
" Udah tahu embek."
" Udah ah, kesel ngomong sama kakak, kayak rel kereta api. Kakak tau rek kereta." Omel Mesya.
" Tahu lah."
" Kenapa coba?"
" Panjang kan?". Ucap Ayuna.
" Terus?"
" Kamu tahu?" Tanya Ayuna.
" Ya tau lah." Jawab Mesya bangga.
" Kalau tau ngapain tanya cacing sawah." Ucap Ayuna sambil berlalu meninggalkan Mesya.
Mesya masih loading.
" Iya ya, kan aku udah tahu ngapain aku tanya sama kakak ipar. Hmm, sudah lah kayaknya otakku lagi error nih" Ucap Mesya, sambil menutup pintu kamar Gibran.
Setelah selesai menutup pintu dan hendak berjalan,
" Eh, kan aku mau ngerjain kakak ipar Kenapa jadi aku yang kena kerjain sih?!!!." Ketus Mesya saat dirinya baru sadar jika sudah terjadi fenomena senjata makan tuan.
" Kakak ipar." Teriak Mesya.
" Dasar Mesya, loading nya lama kayak siput, haha.." Ucap Ayuna yang mendengar teriakan dari Mesya. Lalu melanjutkan memilih gaun yang akan ia kenakan malam ini
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...Komen...
...vote...
...hadiah ...
__ADS_1