
Dua pekan sudah Ayuna dan Bagas menempati rumah baru mereka. Dan selama itu juga Ayuna berpura-pura baik-baik saja di depan Bagas, hingga dirinya lupa bahwa dia sedang pura-pura.
" Bagas aku ingin mengunjungi Sisil apakah boleh?" Tanya Ayuna sesaat setelah mereka selesai sarapan.
" Tentu saja boleh. Kapan kau akan kesana?" Tanya Bagas.
" Bagaimana kalau siang nanti?" Usul Ayuna.
" Baiklah kalau begitu aku akan mengosongkan jadwalku hari ini."
" Terima kasih sayang, kau selalu ada untukku."
" Sudah menjadi tugas ku bukan?" Ucap Bagas sambil memegang pipi Ayuna.
Lalu setelah mereka selesai sarapan Bagas mengajak Ayuna untuk jalan-jalan ke mall.
" Bagas kenapa kita ke mall bukankah aku memintamu untuk mengantarkanku ke rumah Sisil?" Ucap Ayuna.
" Iya aku tahu, tapi aku mengajakmu ke sini untuk membelikan sesuatu bagi bayi Sisil."
" Astaga iya aku sampai lupa hal itu. Sangking rindunya aku pada Sisil aku jadi tidak menyiapkan sesuatu untuk bayi Sisil."
" Tidak apa-apa kita akan membeli sesuatu di mall itu." Ucap Bagas saat mobilnya memasuki area parkir di salah satu mall yang ada di Jakarta.
" Ayo." Ajak Bagas kepada Ayuna, sesaat setelah Bagas selesai memarkirkan kendaraannya.
Ayuna tersenyum, dia lalu berjalan sambil menggandeng tangan Bagas.
" Kau ingin langsung berbelanja atau ingin melihat-lihat dulu?" Tawar Bagas.
" Langsung berbelanja saja, karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayi Sisil."
" Oke. Kalau begitu ayo kita ke toko itu." Ucap Bagas sambil menunjuk sebuah toko perlengkapan bayi.
Setelah mereka masuk ke dalam toko, Ayuna berkeliling dan mulai mencari beberapa barang yang akan dia berikan kepada bayi Sisil. Sedangkan Bagas memilih untuk menunggu Ayuna di kursi yang telah disediakan di dalam toko.
Setelah cukup lama memilih dan memilah, akhirnya Ayuna selesai mendapatkan beberapa barang dan langsung membawanya ke meja kasir.
" Bisa langsung dibungkusin juga?" Tanya Ayuna.
" Bisa. Mau langsung dibungkusin?"
" Ya."
" Totalnya 3 juta 450ribu rupiah."
Bagas lalu menyerahkan sebuah kartu debit kepada kasir toko.
Sementara pelayan lain langsung membungkus beberapa barang yang sudah dibeli oleh Ayuna.
" kita mau langsung ke rumah Sisil atau berhenti untuk memakan sesuatu?" Tanya Bagas kepada Ayuna, karena Bagas tahu akhir-akhir ini nafsu makan Ayuna menjadi naik berkali-kali lipat dari biasanya.
" Emm, bagaimana kalau kita makan pizza dan jus?"
" Ide bagus. Kemari biar aku yang membawa paper bag itu."
" Ini."
Ayuna menyerahkan beberapa paper bag ukuran besar kepada Bagas.
Setelah Ayuna selesai menghabiskan 2 porsi pizza ukuran jumbo, dan 2 gelas jus. Bagas mengajak ayunan untuk segera menuju rumah Sisil.
" Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Bagas saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Sisil.
" Tentu, memangnya aku kenapa?"
" Ah tidak, hanya saja kok tadi sudah menghabiskan 2 porsi pizza ukuran jumbo loh."
" Lalu?"
" Ya...., aku hanya takut jika kau merasa kekenyangan dan mengantuk."
" Aku bisa beristirahat di rumah Sisil nanti jika memang aku lelah."
" Baiklah, oh ya kapan kita akan memeriksakan kandungan?" Tanya Bagas.
" Minggu depan,." Ucap Ayuna sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat buncit.
__ADS_1
" Hmm, aku sudah tidak sabar ingin melihat mereka. Seperti apa ya kira-kira lupa mereka sekarang. terakhir saat kita melakukan USG adalah saat kandunganmu berusia 2 bulan."
" Iya ya, berarti bulan lalu kita tidak sempat memeriksakannya." Ucap Ayuna.
" Hmm, maafkan Mami ya nak karena mami lupa akan kehadiranmu, sekarang tidak perlu khawatir karena Mami akan selalu memperhatikanmu."Ucap Ayuna sambil memegangi perutnya.
Tak lama kemudian, mobil Bagas memasuki rumah Sisil.
" Seperti nya itu Bagas dan Ayuna." Ucap Andi, saat dirinya tengah berada di balkon rumah mereka bersama dengan si kecil dan juga sisil.
" Iya bener, ayo kita temui mereka." Ucap Sisil.
" Hai.."
Sisil langsung memeluk Ayuna.
" Aku sangat merindukanmu." Bisik Sisil.
" Aku juga."
Agar selalu menyerahkan beberapa paper bag ukuran besar itu kepada para pelayan yang ada di rumah Sisil.
" Wow, perutmu sudah terlihat buncit sudah berapa bulan?" Tanya Sisil.
" Jalan 4 bulan mungkin, entah lah aku tidak tahu karena bulan kemarin aku melewatkan pemeriksaan rutin kehamilanku."
" Ya Tuhan, jangan pernah lupa lagi, kasihan bayimu nanti dia kekurangan vitamin."
" Iya iya, aku tau. Coba sini aku gendong." Ucap Ayuna kepada Andi.
" Hai cantik, siapa namanya?" Tanya Ayuna saat dirinya sudah menggendong Putri kecil Sisil.
" Angelica."
" Nama yang bagus." Ucap Ayuna.
" Jika aku memiliki seorang putri aku akan menamainya princess. Atau Queensha" Ucap Bagas.
" Uh, namanya sangat jelek." Ucap Sisil.
" Heh, Nama berkelas begitu kau bilang jelek." Ucap Bagas yang tidak terima jika usul nama untuk bayinya dikatakan jelek oleh Sisil.
" Apa iya?" Tanya Bagas.
" Iya, jelek seperti orangnya." Kekeh Andi.
" Hahaha."
Mereka kemudian tertawa bersama sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk bersantai di ruang tamu.
..
Sementara itu, Anjas tidak pernah absen mengunjungi makam Gibran setiap akhir pekan. Namun kali ini Anjas datang hari berikutnya, karena akhir pekan kemarin dia sibuk mengurus proyek barunya.
" Hai boy, maafkan ayah karena kemarin ayah tidak datang. Sebagai permohonan maaf ayah ayah membelikan 2 buah bunga untukmu. Berikan kepada kakek jika kau tidak menginginkannya." Ucap Anjas sambil meletakkan bunga yang dia beli di atas makam Gibran.
" Tidak terasa ya boy, kau meninggalkan kami sudah hampir 1 bulan. Ayah selalu berdoa agar papi muda pa membuat Mami kembali tersenyum dan mengikhlaskan kepergian mu." Ucap Anjas sambil memegang makam Gibran.
" Baiklah boy, ayah harus pergi karena ayah ada meeting hari ini. ayah janji akan datang minggu depan."
Anjas lalu keluar dari area pemakaman.
" Hmm, kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan tentang wanita itu ya." Ucap Anjas dalam perjalanan nya pulang setelah dari makam Gibran.
Anjas lalu memutar kendaraannya kembali ke jalanan di mana saat itu dia tidak sengaja menemukan Bela yang tergeletak di bahu jalan.
" Ya Tuhan kenapa aku sangat berharap bertemu dengannya lagi di jalan ini." Ucap Anjas saat dirinya melewati jalanan tempat dia menemukan Bela.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Anjas melihat ponsel nya .
Panggilan dari asisten pribadi nya, Danu. Yang kini menjadi wakil dari perusahaan yang sedang Anjas pimpin.
" Ya Danu ada apa?"
" Kau ada dimana?, aku sudah menemukan sekretaris yang cocok yang akan menjadi sekretaris."
__ADS_1
" Kau yakin?"
" Ya. aku sudah menginterview nya kemarin dan dia akan datang hari ini untuk bertemu langsung denganmu. Jadi kau bisa menentukan apakah dia cocok menjadi sekretaris MU atau tidak."
" Hmm, baiklah. semoga kali ini sekretaris pilihanmu benar-benar cocok denganku."
" Jika kali ini kau masih tidak cocok dengan sekretaris pilihanku, maka terpaksa aku akan menempatkan sekretaris laki-laki."
" Tidak tidak, kau tahu kan aku masih trauma dengan sekretaris laki-laki."
" Karena itu, kau harus cocok dengan wanita ini untuk kau jadikan sebagai sekretaris." Ucap Danu
" Danu dengar, aku mencari kata Aris yang memang benar-benar bisa menghandle semuanya. Bukan seperti wanita yang pernah kebawa kepadaku, mereka itu terlalu santai mereka itu cocoknya menjadi model bukan menjadi sekretaris ku."
" Hmm ya ya, dan aku rasa kau akan suka dengan sekretaris pilihanku kali ini. Karena dia termasuk wanita yang pekerja keras dan mandiri."
" Ya, semoga saja perkataanmu benar. Baiklah, tutup teleponnya karena sebentar lagi aku sudah akan tiba di kantor."
" Baiklah."
Tut, Anjas kemudian mematikan bluetooth panggilan yang ada di telinganya.
Sesampainya di kantor Anjas langsung menemui Danu dan menanyakan dimana wanita yang akan menjadi sekretaris nya itu.
" Santai bung, pergilah ke ruangan mu aku akan mengabarimu jika wanita itu sudah datang."
" Oke."
Anjas lalu berjalan masuk kedalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.
Anjas duduk dengan satu kaki bertumpu pada kaki lainnya, matanya menatap pemandangan negara Singapura. Menatap ratusan gedung yang menjulang tinggi. Tiba-tiba wajah Bella tadi yang di di pikiran Anjas.
" Ya Tuhan, kenapa aku terus saja memikirkan tentang dia?"
Tok
Tok
Tok
" Masuk." Suara Anjas.
Ceklek...
" Anjas, wanita yang akan menjadi calon sekretaris mu sudah datang."
" Hmmm," Ucap Anjas, dengan posisi masih menatap keluar kantornya.
Dia sungguh malas melihat wajah calon sekretaris yang selalu dibawa oleh Danu karena semuanya tidak ada yang masuk kategori cocok untuk menjadi sekretaris Anjas.
" Ck, berbalik dan lihat lah. Agar kau bisa tahu apakah dia cocok menjadi sekretaris mu atau tidak."
" Hmmm,"
" Selamat siang pak Kajas, eh maksud saya pak Anjas."
Danu menepuk dahinya, belum juga resmi menjadi sekretaris Anjas wanita itu sudah berbuat ulah.
" Matilah aku. Anjas pasti akan memaki maki ku lagi, karena tidak becus mencari seorang sekretaris." Lirih Danu.
" Suara itu???" Ucap Anjas.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...