LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Kenyataan Menyakitkan


__ADS_3

" Karena aku baru menyadari bahwa istriku...."


Dion berkeringat dingin, jantung nya berdetak kencang, pikiran nya sudah tidak menentu, bagaimana jika anjas tahu tentang skandal perselingkuhan nya dengan selin, hingga membuat selin hamil.


Drttt drrrrtt drrrttt.


Ponsel dion berdering, anjas mengalihkan pandangan ke ponsel dion yang berada di meja sebelah kanan nya.


Anjas mengambil ponsel itu, dan memberikan nya kepada dion.


Sekilas anjas melihat siapa yang menelpon, dan saat dion melihat siapa yang memanggil nya, dion semakin gemetar.


' Sweetheart call '


Dion menekan tombol diam.


" Kenapa tidak diangkat?" Tanya anjas.


" Sudahlah, nanti saja. Paling juga dia minta diantar ke mall atau biskop." Jawap dion.


Anjas terdiam, dia terus saja memperhatikan gerak-gerik Dion. Walaupun Anjas hanya melihat sekilas kearah nomor yang menelpon dion, tapi anjas sudah tahu dan dapat memastikan bahwa yang menelpon itu adalah selin.


drrttt drrrtt drrrttt


Ponsel dion kembali berdering..


Satu panggilan...


Dua panggilan...


Tiga panggilan...


" Angkat saja, siapa tau penting."


" Tidak. Biar nanti aku langsung mendatangi nya saja. Ohya, kau mau makan apa?" Tanya dion mengalihkan perhatian Anjas.


" Tidak aku sudah kenyang."


" Ah jangan begitu. Aku sedang ingin makan Ayo kita makan bersama." Tawar dion.


" Baiklah, jika kau memaksa." Ujar anjas.


" Aku akan memesankan makanan untukmu." Ucap dion, lalu keluar dari kamar dengan membawa ponselnya.


Anjas diam-diam bangun dan melangkah kan kaki nya segera setelah dion menutup pintu.


Saat anjas hendak membuka pintu, samar samar dia mendengar dion berbicara dengan seseorang melalui panggilan telepon.


" Tenanglah, aku akan memikirkan cara untuk mencari tahu, apakah anjas curiga atau tidak."


"----"


" Iya, sebaiknya kau tenangkan diri. Dia ada disini."


" ----"


Ceklek..


Dion terkejut karena anjas tiba tiba muncul.


" Ya sudah nanti aku akan menghubungimu lagi." Ucap dion, sambil mematikan panggilannya, Dan meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.


" Anjas, kau membuatku terkejut saja." Omel dion.


" Kenapa harus terkejut bukankah kau sudah menelepon pacarmu."


" Iya sama saja, kau membuatku terkejut."


" Seharusnya kau tidak terkejut, Kalau kau memang menelpon pacarmu. Kecuali kau menelepon istri dari temanmu."


Anjas tersenyum tipis saat melihat perubahan ekspresi dion.


" Apa maksudmu?"


" Aku hanya bercanda, lagi pula kamu sih, menelepon kekasih saja sampai keluar kamar."


" Ya, aku takut kamu terganggu dengan obrolan kami."

__ADS_1


" Tidak. Ya sudah sepertinya mobilku sudah selesai. Aku akan mengambilnya sekarang."


" Tapi, kau kau bilang akan makan bersamaku kan?"


" Ah, tidak perlu repot-repot."


" Tapi aku sudah memesan makanan untuk 2 orang."


" Berikan saja pada pelayan yang mengantarkan makanan atau berikan saja pada kekasihmu. Dia pasti lapar, setelah bertarung." Ucap anjas, sambil memberikan anting anting yang dia temukan di kasur Dion.


Setelah mengatakan, Anjas lalu pergi. Sedangkan dion mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa sih ceroboh ini. Tidak merapikan kembali tempat tidur, karena memang selin selalu kehilangan anting anting saat pergulatan panas dengan dirinya.


" Sial."


Dion lalu masuk kembali ke dalam kamar, membuka laci dan mengambil sebuah kotak yang berisi anting anting yang juga hanya tinggal sebelah milik selin.


" Aku harus menemui selin."


Dion segera mengganti pakaiannya. Lalu bergegas untuk menemui selin.


Sementara itu, Anjas yang memang masih ada di sekitar apartemen Dion, tersenyum saat melihat mobil dion keluar meninggalkan apartemen.


" Dua mangsa masuk perangkap. Sekarang bagaimana enaknya ya? haruskah aku membongkar kedok perselingkuhan mereka sekarang?. Ah tidak tidak, itu terlalu mudah untukku. Hmmm, aku harus menyusun rencana, agar perselingkuhan mereka diketahui oleh keluarga selin dan juga Dion."


Sementara itu, selin terlihat panik saat dia mengatakan jika Anjas ada di apartemennya.


Ting tong...


Bunyi bel pintu,


" Itu pasti dion."


Selin bergegas membuka pintu.


" Dion?"


" Selin."


" Ayo cepat masuk." Ucap selin.


Lalu dion dan selin segera masuk, selin memastikan bahwa tidak ada rini atau Anjas sebelum akhirnya dia menutup pintu.


" Aku tau, aku juga merasa tidak nyaman saat anjas tiba-tiba datang ke apartemen ku, dan berbicara seolah-olah dia sudah mengetahui tentang kita."


" Lalu kita harus bagaimana?"


Hening...


Dion dan selin tampak berpikir keras, menemukan cara agar anjas tidak membongkar rahasia mereka.


" Begini saja."


Dion akhirnya bersuara Setelah sekian lama mereka terdiam.


" Apa?" Tanya selin yang sudah tidak sabar, ingin mendengar ide dari dion.


" Untuk sementara waktu, kita jangan berkomunikasi dulu."


" Terus?"


" Kau harus bisa baik baik pada anjas, buat dia melupakan niatnya untuk membongkar rahasia kita."


" Dan kau? apa yang akan kau lakukan?" Tanya dion.


" Aku akan mencari tahu apa rencana anjas. Jika memang benar Anjas sudah mengetahui tentang kita, dia pasti akan menyusun rencana untuk membongkar rahasia kita."


" Kau yakin?"


" Ya, aku sangat kenal anjas. Dia akan lembut pada sasaran nya sebelum akhirnya membidik target dengan tepat. Dan selama ini, usaha nya dalam menjatuhkan rival dalam bisnis tidak pernah kalah. Taktik anjas selalu bagus dan rapi. Jadi, kita harus berhati-hati."


" Sebaiknya kau pulang, sebentar lagi mama rini akan pulang."


" Baiklah. Jaga dirimu dan bayi kita."


Cup


Dion ******* sekilas bibir selin. Sebelum akhirnya dia meninggalkan rumah selin.

__ADS_1


Di dalam perjalanan kembali ke apartemen Dion.


" Aku tidak boleh membiarkan anjas tau sebelum anak dalam kandungan selin lahir. Aku harus mencari cara. Aku harus mengetahui apa rencana anjas."


...----------------...


Bagas melihat ayuna yang terlihat membuat salad buah di dapur.


" Mami..." Panggil bagas dengan nada mandja.


" Ada apa?" Ketus ayuna, ayuna hafal jika bagas sudah memanggil nya mami, itu artinya dia ingin...


" ***** boleh?" Tanya bagas dengan mata berkedip kedip.


" Sudah ku duga." Ucap ayuna.


" Boleh ya, boleh gibran kan sudah tidur." Ucap Bagas lagi. Kali ini dengan mata berbinar-binar.


Ayuna menepuk dahinya sendiri.


" Bisa gak sih, sehari gak begituan?"


" Enggak."


" Kalau sehari beberapa kali sih, bisa banget." Goda bagas.


" Idih, kesukaan kamu."


" Tapi mami juga suka kan?" Goda bagas, sambil memeluk ayuna.


" Iya sih."


" Ya udah ayo."


" Kemana?" Tanya ayuna.


" Main dokter dokteran."


" Gak ah, ntar malem aja."


" Sekarang aja."


Bagas membuka celemek yang digunakan ayuna.


" Bagas."


" Apa mau main disini?"


" Sembarangan aja. Kalau gibran tau gimana?"


" Ya udah mangkanya di kamar aja yuk."


" Tapi aku kan lagi buat salad?"


" Itu bisa ntar aja."


Tanpa basa-basi lagi, bagas mengendong tubuh ayuna, dan membawanya ke kamar.


Bagas mengunci pintu dan mengaktifkan mode kedap suara.


Setelah itu, mereka bermain dokter dokter hingga lelah.


Cup


Bagas mencium kening ayuna,


" Sayang, bagaimana cara ku untuk memberi tahukan keadaan gibran yang sebenarnya? Aku dilema. Aku sungguh tidak tega memberi tahu mu kenyataan menyakitkan ini. Tapi aku juga harus segera memberi tahukan mu."


Bagas memeluk erat tubuh ayuna. lalu dia teringat pesan dokter saat bagas mengambil berkas gibran.


" Saya tau ini kenyataan yang amat menyakitkan. Terutama untuk istri anda, tapi anda juga harus segera memberi tahu kebenarannya sebelum penyakit itu semakin menyebar luas."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2