
Pagi harinya mata ayuna terlihat sembab karena dia menangis semalaman..
" Hai sayang kau Kenapa?" tanya Bagas.
" Aku tidak apa-apa aku hanya kelilipan."
Bagas tahu jika ayuna menyembunyikan sesuatu, dia harus mencari tahu apa yang menyebabkan ayuna sedih.
Setelah mengantarkan Gibran ke sekolah Bagas segera melajukan mobilnya menuju mall. Setelah sampai di basement, ayuna turun dari mobil dan tersenyum serta melambaikan tangan kepada Bagas.
" Apa yang terjadi sebenarnya pada dirimu ayuna? aku harus segera mencari tahu."
" ayuna kok kenapa?" tanya sisil saat melihat mata ayuna yang sembab.
" Aku tidak apa-apa."
Sisil menarik tangan ayuna.
" Tapi matamu tidak mengatakan kalau kau sedang tidak apa-apa atau sedang baik-baik saja."
Ayuna menatap Sisil, haruskah ia memberitahu Sisil tentang apa yang terjadi?
" Katakan padaku. apa Bagas menyakitimu?" Ucap sisil
Ayuna menggeleng.
" Bagas tidak menyakitiku dia justru melamar ku." Ucap ayuna sambil memperlihatkan cincin di jari.
" Wow selamat ya. Lalu kenapa kau justru bersedih?"
Ayuna kemudian menceritakan kejadian semalam. kejadian di mana aja datang dan mengatakan Jika dia masih mencintai dirinya. dan akan memperjuangkan dirinya kembali.
Sisil syok. dia tahu bahwa ayuna juga masih mencintai. Ini benar-benar di luar kendali mereka berdua.
" Maafkan aku ayuna, Jika saja aku tidak mengajakmu kesini mungkin hal ini tidak akan terjadi."
" ini bukan salahmu Sisil jadi jangan salahkan dirimu."
" Jadi apa yang akan kau lakukan?"
" Aku tidak tahu Sisil, di satu sisi ada Anjas jujur aku memang juga masih sangat mencintainya. Tapi di sisi lain, ada Bagas dan juga keluarganya yang begitu baik kepadaku dan Gibran. Aku merasa seperti memiliki keluarga saat bersama dengan Bagas dan keluarganya."
" Apakah kau mencintai Bagas?"
Ayuna terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ataukah memang benar yang dikatakan Anjas, jika ayuna menerima pinangan dari Bagas karena Bagas selalu banyak membantu dirinya dan Gibran.
Ayuna tidak bisa mengartikan perasaannya saat ini pada Bagas.
" Ayuna? kau mencintai badan atau tidak?"
" Aku tidak tahu sisil. Aku memiliki perasaan pada Bagas tapi aku tidak bisa mengartikannya. Perasaan seperti apa yang ku miliki padanya."
Sisil memeluk ayuna.
" Tenangkan hatimu dan pikirkanlah perasaan seperti apa yang kau miliki pada Bagas." Bisik sisil.
__ADS_1
" Permisi..."
Sisil bangun, dan keluar. Melihat siapa yang datang. Sisil melihat seseorang dengan membawa buket bunga.
" Iya mas ada yang bisa saya bantu?"
" Saya mengantarkan bunga ini untuk nona ayuna."
Pria itu memberikan buket bunga kepada sisil lalu pergi. Sisil membolak-balikkan bunga itu dan jatuhlah sebuah kartu ucapan, Sisil membawanya masuk dan menyerahkan kepada ayuna.
" Siapa sil?" tanya ayuna.
" Tidak tahu seseorang membawa buket bunga dia bilang ini untukmu."
Sisil memberikan buket bunga kepada ayuna, ayuna menerimanya dan membuka kartu ucapan yang ada di dalamnya.
Ayuna membuka dan mulai membacanya..
...'selamat pagi permata hatiku...
...selamat bekerja...
...semoga harimu menyenangkan...
...penuh cinta Anjas'...
"Dari siapa ?." Tanya Sisil
Ayuna lalu memberikan kertas itu kepada Sisil dan Sisil membacanya.
" Oh my God. dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan."
" Dengar bersikaplah biasa pada Anjas. sebelum kau mengetahui perasaan apa sebenarnya yang kau miliki pada Bagas. dengar aku bukan mengompori mu untuk bersama Bagas, Tidak. aku hanya tidak ingin dirimu jatuh ke dalam lubang yang sama. walau aku tahu kau itu sangat mencintai Anjas tapi ingatlah Anjas juga yang yang membuatmu terluka."
" Bukan Anjas, tapi keluarganya terutama ibunya." Ucap ayuna.
" Sama saja ayuna sama. sekarang begini. aku tahu, kau juga tahu. Anjas tidak bisa berbuat apa-apa saat keluarganya caci maki dirimu. Dan sekarang anjas datang setelah tahu bahwa Gibran adalah anaknya dan memohon lalu berjanji akan memperjuangkan cinta kalian lagi. dan kau akan percaya begitu saja?"
Ayuna terdiam.
" Apa kau tahu istri Anjas. Selin namanya. Dia adalah anak dari keluarga kaya dan juga terkesan licik menurutku. Karena keluarga selin akan melakukan segala cara untuk bisa mencapai tujuannya. termasuk menghasut keluarga Anjas agar mau meninggalkanmu dan menikahi Putri semata wayangnya selin."
" Dari mana kau tahu?" Tanya ayuna penasaran.
" Andi yang memberi tahu ku. Andi juga bilang dia hampir saja rugi besar karena kecurangan yang dilakukan keluarga Selin."
" Tapi aku rasa bukan keluarga selin, tapi memang mama anjas yang mengatakan sendiri jika dia tidak mau punya penerus dari wanita sepertiku miskin dan tidak punya orang tua."
"Aku tahu tapi, api kecil tidak akan membesar jika tidak ada hembusan angin bukan?"
" Iya Kau benar." Ucap ayuna.
"Pikirkan lah lagi jika kau ingin kembali pada anjas. Jadikan kejadian dulu pelajaran berharga untukmu."
Sisil menepuk-nepuk bahu ayuna.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, bagas mendengar semua percakapan mereka.
" Jadi karena itu ayuna menangis semalaman. Ternyata memang benar ayuna masih mencintai anjas." Gumam bagas.
Bagas yang tadinya hendak mengantarkan ponsel ayuna yang tertinggal, pemilih untuk mengembalikan nanti saja, setelah Bagas mendengar percakapan antara Sisil dan ayuna.
Saat Bagas masuk ke dalam lift, dan berjalan menuju basement. Seorang wanita memanggil Bagas dan lari menghampirinya..
" Bagas..."
Bagas yang melamun dengan pikirannya sendiri menjadi tidak mendengar panggilan dari seorang wanita yang terus saja memanggil-manggil namanya..
" Bagas..."
Wanita tadi menepuk bahu Bagas membuat Bagas terkejut dan menoleh..
" Nina.." Ucap bagas.
" Hai aku memanggilmu dari tadi, tapi kau tidak mendengarku. Kau bahkan tidak menoleh padaku." ucap wanita yang bernama Nina.
" Emmm Ya, maafkan aku.. aku sedang melamun."
" hahaha memangnya Apa yang kau lamunkan di siang hari begini?" Kekeh nina.
" Ya biasalah ada sedikit masalah di kantor. kau apa kabar?, kau ada disini? di kota ini sungguh?" Ucap Bagas, mengalihkan perhatian Nina.
" Ya Aku baru saja tiba di kota ini tadi malam. Kebetulan aku sedang jalan-jalan di mall, dan tidak sengaja melihatmu. Jadi aku berpikir untuk menyapamu. Senang bertemu denganmu lagi Bagas."
Nina mengulurkan tangannya dan Bagas menyambut uluran tangan itu. Mereka saling berjabat tangan.
" Maaf Nina aku harus pergi." Ucap Bagas.
" Oke, tapi boleh kan kapan-kapan kita ngobrol lagi? kita sudah lama tidak bertemu loh berapa mungkin 2 atau 3 tahun?"
" Tujuh. Kita sudah tidak bertemu selama 7 tahun."
" Bagas ingatanmu sangat kuat."
" Baiklah aku harus pergi sekarang. bye."
Nina melambai ke arah mobil Bagas yang mulai berjalan meninggalkan area basement.
Bagas aku kembali untukmu dan hanya karenamu Aku kembali ke kota ini. Aku harap kau akan menyatakan cintamu lagi. Batin Nina.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...jangan lupa...
...like...
...comment...
__ADS_1
...vote...
...dan hadiah...