
Hari ke hari, hubungan ayuna dengan mantan ibu mertua nya itu kian membaik, tapi tidak dengan kondisi gibran yang semakin hari semakin menurun. Tubuh Gibran semakin kurus, ayuna semakin khawatir.
" Bagas, bagaimana ini. Kenapa kondisi gibran semakin hari semakin memprihatinkan."
" Kita akan menemui dokter nanti dan menanyakan bagaimana kelanjutan kondisi dan pengobatan dari Gibran."
Ayuna mengangguk.
" Mami.."
" Iya sayang?"
" Gibran ingin jalan-jalan ke taman, bolehkah?"
" Tentu."
Bagas yang tahu keinginan Gibran langsung mengambil kursi roda, setelah mengangkat gibran dan meletakkannya di atas kursi roda. Bagas segera mendorong Gibran keluar dari ruangan dan berjalan menuju taman rumah sakit.
" Gibran senang disini ya?" Tanya ayuna, saat melihat Gibran menutup matanya dan meresapi angin yang yang menerpa dirinya. Gibran tersenyum dan mengangguk.
" Sayang, bolehkah mami bertanya sesuatu?" Tanya ayuna.
" Tentu, mami ingin bertanya apa?"
" Mami tidak sengaja menemukan kartu donor jantung pada buku-buku Gibran, Kenapa Gibran bisa memilikinya sayang."
Gibran membuka mata dan menatap ayuna.
" Itu karena Gibran ingin mencarikan donor jantung untuk bayu, seandainya saja di perang dunia 2 jantung mungkin Gibran akan memberikannya 1 kepada Bayu."
" Kenapa Gibran ingin menolong baju?" Tanya bagas.
" Agar bayu bisa cepat sembuh sehingga kita bisa bermain bola bersama, kita bisa berlari-larian bersama." Ucap gibran.
Ayuna mengelus lembut pipi gibran.
" Tapi, sebelum Gibran membantu Bayu untuk sembuh. Gibran harus lebih dulu sehat, jadi saat Gibran sehat Gibran dapat mencarikan donor jantung untuk bayu."
" Kalau Gibran tidak sehat Bagaimana?"
" Jangan bicara seperti itu nak. Gibran pasti sehat."
Gibran hanya tersenyum.
" Mami.." Panggil gibran dengan mata tertutup.
" Ya sayang?"
" Bolehkah jika gibran yang mendonorkan jantung Gibran untuk bayu?"
Deg !!
Ayuna dan Bagas saling berpandangan. Mereka tidak mengerti kenapa gibran bicara seperti itu. Mereka kemudian bersama-sama mendekati bayu.
" Sayang, Kenapa Gibran bicara seperti itu?"
" Gibran kasihan melihat bayu, dia pasti tidak pernah merasakan bagaimana gembiranya dapat berlari lari mengejar bola. Dan berlari di area bermain, serta menaiki berbagai wahana seperti yang pernah Gibran naiki."
Ayuna memeluk gibran.
" Mami yakin, suatu saat nanti bayu pasti akan mendapatkan donor jantung. Dan pendonor itu bukan harus Gibran, karena Gibran harus sehat agar bisa bersama-sama bermain dengan Bayu."
" Jika ternyata Gibran tidak sehat bolehkah Gibran yang mendonorkan jantung gibran pada Bayu?"
" Sayang jangan bicara seperti itu, bicaramu seakan-akan kau akan meninggalkan mami dan papi." Ucap bagas.
" Gibran menyayangi mami dan Papi. Gibran beruntung karena Gibran memiliki orang tua seperti mami dan papi, yang selalu ada bersama Gibran dan dan yang selalu menyayangi Gibran."
Airmata ayuna menetes tanpa sebab, dia merasa perkataan Gibran seolah-olah gibran akan pergi menjauh darinya.
__ADS_1
Saat mereka bertiga saling berpelukan, tiba tiba bagas dan ayuna merasa jika gibran tidak lagi memeluk mereka dengan erat.
Dan betapa terkejutnya Ayuna serta Bagas, saat melihat gibran menutup mata.
" Gibran,? Hei, sayang??"
" Gibran?"
Ayuna menepuk nepuk pipi gibran, dan bagas mengoyang-goyang tubuh nya.
" Gibran?" Ayuna sekali lagi menepuk-nepuk pipi Gibran sambil meletakkan tangan di bawah hidungnya. Terasa hembusan nafasnya berirama pelan .
" Bagas, apa yang terjadi pada Gibran?"
" Sebaiknya kita membawa gibran masuk ke dalam."
" Ayo."
Belum selesai sampai disitu, Ayuna panik saat melihat darah keluar dari hidung gibran.
" Bagas.." Panggil ayuna.
" Oh tidak. Suster dokter..."
Bagas berteriak dengan lantang, hingga beberapa perawat yang kebetulan melintas langsung menghampiri mereka.
" Iya pak, ada yang bisa kami bantu?"
" Tolong anak saya." Ucap ayuna sambil menangis.
Dengan sigap perawat pria langsung menggendong Gibran, dan berlari kemudian meletakkan gibran di brankar dorong. Sedangkan ayuna masih terdiam lemas.
" Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya bagas.
" Apa yang terjadi?, aku hanya menanyakan tentang kartu. kenapa gibran tiba tiba tiba sadarkan diri?"
Dengan langkah gontai ayuna berjalan beriringan dengan Bagas.
Sesampainya diruangan, ternyata gibran tidak ada di sana.
" Bagas Kenapa gibran tidak ada disini?, kemana perawat itu membawa Gibran."
" Mungkin diruang pemeriksaan yang lain."
Bagas dan ayuna lalu keluar, dan bersamaan dengan itu, Bagas melihat dokter yang biasa menangani gibran, berjalan dengan tergesa-gesa.
" Bukankah itu dokter yang biasa menangani gibran." Ucap bagas.
" Iya."
" Ayo, sebaiknya kita ikuti, mungkin saja dokter itu tahu dimana gibran."
" Ayo."
Mereka lalu segera berjalan mengikuti dokter.
Dokter berhenti disebuah ruang operasi.
" Bagas, kenapa dokter itu masuk kedalam ruang operasi, apa jangan jangan gibran?"
" Sttt, ayo kita tanya kepada perawat itu." Ucap bagas saat melihat seorang perawat barusaja keluar dari ruang operasi.
" Permisi suster, saya ingin bertanya dimana perawat tadi membawa pasien..."
" Apa anda orang tua gibran?"
" Ya benar sekali."
" Syukurlah, tadi kami mencari cari anda. Untuk meminta persetujuan operasi putra anda, karena saat ini kondisi nya sangat kritis."
__ADS_1
Duar !!
Hati ayuna hancur begitu mendengar kabar bahwa gibran sedang kritis.
" Lakukan, lakukan apapun demi kesembuhan gibran." Pinta ayuna, dengan airmata yang mengalir.
" Baik, silahkan anda tanda tangan disini."
Perawat itu memberikan sebuah map kepada Bagas, dan Bagas langsung menandatangani nya.
Sudah hampir 2 jam mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda bahwa operasi nya selesai.
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki.
" Bagas." Panggil Anjas
Ayuna dan bagas menoleh, anjas segera datang begitu mendengar kabar dari Bagas, bahwa gibran masuk ruang operasi.
" Bagaimana keadaan gibran?"
" Gibran masih diruang operasi."
" Ayuna, ayo sebaiknya kau istrahat dulu. Kita sudah hampir 2 jam menunggu disini."
" Tidak. Aku ingin tetap ada disini."
" Tapi ayuna.."
" Bagas. Aku mohon." Ucap ayuna dengan mata memerah karena terlalu banyak menangis.
Akhirnya Bagas mengalah, dan membiarkan ayuna tetap ada disana. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat Dokter keluar dari ruangan operasi.
Dengan cepat, ayuna bagas serta anjas menghampiri dokter.
" Dokter, bagaimana operasi anak saya, Gibran?" Tanya Bagas.
" Operasi nya berjalan dengan lancar kan dokter?" Imbuh anjas.
" Dokter, anak saya baik baik saja kan?" Tanya ayuna, saat dokter itu tidak menjawab pertanyaan dari Bagas atau pun Anjas.
Hening.
" Maafkan saya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kanker itu telah menggerogoti tubuh Gibran lebih dalam dari perkiraan kami para dokter."
" Tidak mungkin." Ucap Ayuna.
" Lalu bagaimana keadaan anak saya sekarang?" Tanya bagas.
" Kondisi putra anda..., maaf saya tidak dapat menjelaskan, saya tidak sanggup untuk mengatakan bahwa putra anda kondisi nya sudah sangat kritis. Hanya keajaiban yang dapat membuatnya terbangun."
" Tidak, tidak mungkin."
Ayuna mundur beberapa langkah, hingga...
Brug !!!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1