LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Rencana Bulan madu


__ADS_3

"Oek oek oek..."


" Bagas, sepertinya salah satu bayi kita terbangun dan menangis." Ucap Ayuna di sela sela permainan mereka.


" Tapi kau bilang mereka tidak akan bangun dalam waktu 1 sampai 2 jam kan?"


" Iya, tapi apa kau sadar bahwa kita sudah bermain di sini selama hampir 2 jam?" Ucap Ayuna menatap Bagas.


" Oh benarkah?, tapi kenapa aku merasa bahwa kita baru bermain beberapa menit yang lalu?"


" Huft..., pergilah mandi dan lihat sendiri jamnya, sudah pukul berapa sekarang." Ucap Ayuna yang langsung menyingkir dari Bagas, dan segera membersihkan dirinya.


Bagas hanya melihat Ayuna yang keluar dengan memakai handuk kimono nya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Apa benar jika aku dan Ayuna sudah bermain hampir?, rasanya tidak mungkin." Lirih Bagas, lalu Bagas segera melakukan apa yang Ayuna katakan tadi.


" Oh astaga, ternyata benar kita sudah bermain selama hampir 2 jam. Wow, tapi aku sungguh merasa bahwa kita baru bermain selama beberapa menit. Mungkin ini karena aku yang sudah berpuasa selama 3 bulan." Ucap Bagas saat dirinya keluar dari kamar mandi dan melihat jam yang ada di dapur.


Lalu, Bagas segera masuk ke dalam kamar dan melihat apakah kedua bayi mereka menangis secara bersamaan.


Disana, Bagas melihat bahwa yang menangis adalah Lia. Sedangkan Lio masih tertidur pulas.


" Kemari, berikan Lia kepadaku." Ucap Bagas, saat mengetahui bahwa Lia sudah selesai menyusu.


Ayuna memberikan Lia dengan hati-hati kepada Bagas. Lalu dengan perlahan mengangkat Lio dan membangunkannya untuk diberi ASI.


" Hmm, aku rasa anak-anak kita sangat pandai." Ucap Bagas.


" Benarkah?"


" Iya, sepertinya mereka tahu jika mereka tidak lagi diasuh oleh baby sister. Dan sepertinya mereka juga tahu bahwa mereka hanya mendapatkan nutrisi dari satu mami. Itulah yang membuat mereka tidak menangis secara bersamaan."


" Jadi, maksudmu kita harus mendatangkan satu Mami lagi untuk menyusui kembar begitu?"


" Tidak, bukan itu maksudku. Maksud ku adalah, si kembar tahu kapan giliran mereka untuk menyusu kepadamu." Ucap Bagas dengan wajah tegang.


" Haha, aku hanya bercanda. Kenapa mukamu terlihat begitu tegang?"


" Habisnya kamu bicaranya seperti serius begitu."


" Aku hanya menggoda mu saja." kekeh Ayuna.


" Emmm, sayang bisakah kita merencanakan bulan madu kedua kita?"


" Harus kah?, tapi kembar masih berumur 3 bulan loh. Dan bulan madu kedua?, apakah itu harus?" Tanya Ayuna.


" Tentu saja, bulan madu adalah bentuk memori agar kita selalu mengingat momen itu sepanjang masa."


" Ck seperti sejarah saja, yang dikenang sepanjang masa." Kekeh Ayuna.


" Bukan begitu, hanya saja bulan madu membuat pasangan suami istri menjadi lebih dekat dan lebih saling mencintai satu sama lain."


" Jadi apa sekarang kau sudah tidak lagi mencintaiku?"


" Oh Tuhan, bukan. Aku hanya.."


" Aku bercanda Bagas." Kekeh Ayuna, sambil berjalan dan meletakkan Lio dengan hati-hati. Tidak lupa Ayuna juga mengganti popok Lio.


Bagas dengan cekatan juga membantu Ayuna mengganti popok Lia.


" Terima kasih karena sudah membantuku mengganti popok Lia."


" Sama sama, dan tidak perlu berterima kasih. Karena aku akan selalu membantu mengurusi kembar. Bukankah kita membuat si kembar bersama-sama, jadi aku tidak akan membiarkanmu merawat mereka seorang diri."


" Uhh, manis sekali."


Cup


Ayuna mengecup lembut bibir Bagas, sebagai hadiah terima kasih karena Bagas telah membantunya hari ini.


" Apa tadi itu adalah ciuman tanda terima kasih?"

__ADS_1


" Tentu saja, apakah kau mau aku menciummu lagi,?"


" Ayuna, Jika setiap aku membantumu kau menciumku. Maka jangan salahkan aku untuk memakanmu setiap kali kamu menciumku."


" O'o.. Seperti nya aku sudah salah memberi hadiah." Ucap Ayuna sambil menutup mulutnya dan berjalan mundur, karena Bagas sudah bersiap untuk melepas pakaiannya dan berjalan ke arah Ayuna.


" Bagas..."


" Jangan salahkan aku karena kamu yang memulainya." Ucap Bagas sambil tersenyum jahil.


" Oh tidak."


Mereka kemudian melakukannya lagi, dan kali ini mereka melakukannya dengan perlahan karena takut si kembar akan terbangun dan mengganggu peraduan mereka.


Sementara itu, Mama dan Papa baru saja tiba dirumah Bagas.


Ting


Tong


Ting


Tong


Karena Bagas mengaktifkan mode kedap suara di dalam kamar itu, jadi mereka tidak mendengar bunyi bel.


" Pa, apakah Bagas mengajak Ayuna dan kembar jalan-jalan?"


" Tidak mungkin, lagi pula ini sudah hampir pukul 9 malam." Ucap Papa.


" Tapi, Kenapa mereka lama sekali untuk sekedar membuka pintu saja?, apa mereka sudah tidur?"


" Lebih baik Mama menelpon Bagas atau Ayuna saja." Usul Papa.


" Ah iya, Mama tadi juga lupa mengabari Ayuna bahwa Mama akan datang kemari, Karena Mama akan mengantarkan susu dan makanan untuk Ayuna yang tertinggal. Sayang kan kalau tidak Ayuna makan, ini adalah susu dan makanan yang paling penting untuk meningkatkan kualitas ASI."


" Iya, tidak usah dijelaskan panjang-lebar Papa juga sudah tahu. Sekarang cepat telepon Bagas."


Setengah jam kemudian, Bagas yang menyadari bahwa ponselnya berdering langsung mengangkatnya dan kaget bahwa sang Mama yang menelepon.


" Halo ma?"


" Bagas, kamu kemana aja sih dari tadi?. Mama telepon tidak diangkat."


" Maaf ma."


" Maaf maaf, udah cepat buka pintunya Mama dan Papa sudah jamuran ini gara-gara menunggu kamu lama banget bukain pintu."


" Mama dan Papa ada disini?" Ucap Bagas setengah berteriak saking terkejutnya.


" Sttt bisakah kau mengecilkan volume suara mu?" Ucap Ayuna.


" Ah maaf. Mama dan Papa ada disini." Ucap Bagas dengan suara berbisik.


Ayuna menganga, dia tidak kalah terkejutnya dengan Bagas. Lalu dengan segera bangun dan memakai baju kimono nya.


" Cepat pakai pakaian mu, biarkan aku yang membuka kan pintu." Ucap Ayuna.


Ayuna segera berjalan cepat, menuruni tangga dan langsung membuka pintu.


" Hai ma, pa. Maaf ya, kami tidak mendengar suara bel pintu karena kami sedang mandi."


" Kamu yakin jam segini masih mandi?" Hardik Mama


" Aaa, maksud Ayuna, tadi sedang mandi dan langsung menyusui si kembar."


" Iya iya, Mama tahu, kamu sedang mandi keringat kan?" Ucap Mama sambil menunjuk tanda merah yang Bagas tinggalkan di leher Ayuna.


Ayuna menutup leher nya dan tersipu malu.


" Haha, muka kamu lucu sekali sih kalau begitu, kayak udang rebus yang ke gosongan." Kekeh Mama.

__ADS_1


Ayuna kembali tersipu, lalu mengajak mereka untuk masuk.


" Boleh kah Papa melihat cucu Papa?"


" Tentu saja pa, naik saja ke atas, mereka ada di kamar tidur kami."


" Kenapa kau tidak menempatkan mereka di kamar sendiri?, bukankah kamu di atas ada dua atau tiga ya?" Tanya Papa yang mulai berjalan menaiki anak tangga.


" Emm, kami kan hanya tinggal berdua di rumah ini, juga tidak ada baby sister. Jadi Ayuna kurang setuju jika kembar ditempatkan diruangan lain." Terang Ayuna.


Papa hanya ber O ria, sambil meneruskan langkah kakinya menuju kamar di mana kembar berada.


" Ini, mama dan papa ke sini cuma mau mengatakan makanan dan juga susu yang kamu lupa bawa dari rumah."


" Ah Mama, Kenapa repot-repot sekali mengantarkan. Bukankah mama bisa menyuruh sopir untuk mengantarkannya."


" Ya hitung hitung Mama main kesini sekalian bertemu dengan si kembar."


" Ya sudah ayo kita naik keatas, Ayuna juga akan berganti pakaian." Ucap Ayuna.


Lalu mereka bersama-sama berjalan menaiki tangga menuju kamar.


" Apa mama akan menginap?"


" Seperti nya tidak. Kasihan Mesya dan kembar, mereka pasti mencari cari."


Sementara itu,


" Ooh, jadi karena ini kalian memutuskan untuk segera kembali ke sini?" Ucap Papa yang mengagetkan Bagas saat Bagas hendak memakai pakaiannya.


" Papa, mengagetkan saja." Ketus Bagas.


" Katakanz sudah berada ronde?"


" Huft, ronde apa. Boro boro banyak ronde. Satu ronde belum habis saja papa dan mama sudah datang."


" Heh bocah gemblung, jadi kamu menyalakan mama dan papa?"


" Ah tidak tidak. Bukan itu..."


" Hmm, tidak apa. Sebagai laki laki, Papa paham. Karena Papa juga pernah ada di posisi kamu. Dan bulan madu kedua. Dengan itu kalian pasti bisa menikmati kenikmatan yang hakiki."


" Bagas sudah mencoba membahas itu dengan Ayuna, tapi sepertinya Ayuna menolak mengingat kembar masih kecil."


" Tidak apa, pelan-pelan saja. Dan usaha kan kau selalu membantu istrimu dalam merawat bayi kalian dan juga membersihkan rumah, atau memasak. Percayalah istrimu pasti akan mau jika kau mengajaknya bertarung kapanpun dan dimanapun."


" Sungguh?"


" Ya, coba saja karena Papa dulu selalu menerapkan metode ini." Bisik Papa, karena papa melihat Mama dan Ayuna masuk.


" Ingat apa yang baru saja Papa katakan tadi." Ucap Papa sambil menepuk-nepuk bahu Bagas sebelum akhirnya menghampiri tempat tidur kembar.


Bagas tersenyum, dalam hatinya akan bertekad untuk lebih giat dalam membantu Ayuna mengurus rumah dan kedua bayi kembar mereka.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...


...hadiah...

__ADS_1


__ADS_2