LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Kamu adalah Jodohku


__ADS_3

Setelah selesai membuatkan kue jahe, dan memastikan rasanya enak. Bagas segera membawa nya kepada Ayuna dan Mama, yang seperti nya sudah tidak sabar menunggu untuk bisa mencicipi kue jahe buatan Bagas.


" Ini untuk istriku dan Mama ku tercinta." Ucap Bagas seramah mungkin.


Ayuna tersenyum melihat tingkah laku Bagas yang masih terus saja menyembunyikan rasa kesalnya.


" Hmm, sangat enak. Mama tidak menyangka bahwa kamu pandai juga membuat kue" Puji Mama.


" Ck, aku tuh jadi anak Mama udah berapa tahun sih. Masak hal sepele gini aja gak tahu. Nih Bagas kasih tahu, Bagas itu sangat jago masak, sampai pernah jadi juri MasterChef Indonesia."


" Ohya, kapan?, kok Mama gak pernah tahu." Ucap Mama sambil terus menikmati kue jahe.


" Dulu."


" Dulu kapan?" Ucap Ayuna sambil memandangi Bagas


" Ya dulu lah, sebelum aku menjadi Bagas."


" Lah, memangnya dulu kamu jadi siapa?. Angling darma?" Kekeh Mama.


" Pfftf, Mama kok tahu Angling darma sih?" Ucap Ayuna.


" Aduh, kamu ini gimana. Film itu kan film paling populer dimasa keperawanan Mama."


" Pffft, masa keperawanan. Memangnya ada?!" Kekeh Bagas.


" Ada lah." Ucap Mama.


" Terus, kalau Angling darma adalah film masa kejayaan keperawanan Mama. Lalu, film yang populer di masa ketuaan Mama sekarang apa?" Tanya Bagas.


" Heh bocah gemblung. Mama belum tua tauk." Ucap Mama.


" Dih, orang Mama udah punya cucu kok menolak tua."


" Bagas."


" Iya Mama?"


" Pokoknya Mama gak tua."


" Ya ampun, ngaku aja apa susah nya sih. Orang rambutnya udah beruban juga."


" Ha?, yang bener."


Bagas mengangguk. Mama menoleh ke arah Ayuna, seperti mencoba bertanya kepada Ayuna apa benar yang dikatakan oleh Bagas.


Ayuna hanya menggeleng sambil terus memakan kue jahe yang hampir habis.


" Bagas, jangan coba coba mengerjai Mama."


" Ma, Bagas mana berani mengerjai Mama?"


Mama terlihat memegang rambut nya, mencoba mencari rambut putih di kepalanya.


" Ini tidak bisa dibiarkan." Ucap Mama sambil beranjak dari tempat duduknya.


" Pelayan, cepat siapkan ruang salon sekarang." Teriak Mama.


" Awas jika kamu mengerjai Mama." Tegas Mama pada Bagas sebelum akhirnya dia melangkah meninggalkan meja.


" Satu lagi." Ucap Mama yang mengambil kue jahe terakhir di atas piring nya.


Ayuna hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah lucu dari Mertua nya itu.


" Bagas, kamu gak takut ya."


" Takut apa?"


" Ya kamu."


" Aku kenapa?"


" Kamu sadar gak sih, kalau kamu sering banget ngerjain keluarga kamu."

__ADS_1


" Haha, karena itu sudah menjadi ciri khas ku sejak dulu. Dan sebesar apapun aku mengerjai mereka mereka tidak akan marah kepadaku. Ya mungkin jengkel, karena dulu aku sering dikunci di dalam gudang oleh papaku"


" Benarkah?"


" Ya."


" lalu apa yang kau lakukan di dalam gudang?. kau pasti sangat ketakutan."


" Tidak, Aku justru bersenang-senang di dalam gudang Karena disana banyak barang-barang unik yang bisa aku temukan. Sampai aku tidak sengaja memecahkan guci kesayangan Mama. Dan sejak saat itu, mereka tidak lagi mengunci ku didalam gudang, haha."


" Haha, kamu sangat nakal Bagas."


" Tapi ada satu hal yang membuatku takut."


" Apa itu?" Tanya Ayuna.


" Aku takut suatu saat kamu akan berhenti mencintai ku."


Ayuna menatap Bagas dan memegang tangan nya.


" Aku tidak akan berhenti mencintai mu, mungkin kau yang akan begitu saat kau melihat diriku yang sudah tidak muda dan menarik lagi." Ucap Ayuna.


" Sayang, aku akan mencintaimu, sampai rambut kita sama-sama memutih. Dan selamanya kita akan bersama. Membesarkan anak anak kita dan kita juga akan bersama melihat cucu cucu kita kelak. Kita akan menua bersama. Janji yang pernah aku ucapkan dulu kepadamu akan tetap terjaga sampai kita tutup usia."


" Bagas aku..."


" Ayuna, apa kau merasa jika kita dipertemukan diwaktu yang tepat."


" Apa maksud mu?"


" Aku di pertemukan denganmu saat aku mulai tidak percaya pada cinta lagi."


" Dan aku di pertemukan oleh lelaki sepertimu saat aku mengharapkan seseorang yang dapat melindungiku memberiku kebahagiaan dan juga kedamaian." Imbuh Ayuna yang langsung memotong pembicaraan dari Bagas.


Bagas tersenyum.


" Kamu adalah Jodohku Ayuna. Kita sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa cintaku akan memudar seiring dengan berjalannya waktu. Karena aku akan memastikan bahwa hal itu tidak akan terjadi. Jika suatu saat nanti cinta di antara kita berdua, maka aku akan membuatmu mengenang kembali kisah cinta kita. Kita katakan bersama-sama mengenang kembali kisah kasih kita."


"


" Aw aw aw.." Bagas meringis kesakitan karena telinganya tiba-tiba ditarik dengan keras oleh sang mama.


" Kamu ya, masih aja ngerjain mama. Kamu bilang tidak berani untuk mengerjai Mama tapi buktinya apa?" Ketus Mama.


" Yah ampun ma."


" Gak ada ampun bagi mu. Ayo ikut mama." Ucap Mama yang langsung menarik Bagas.


" Eh eh Bagas mau dibawa kemana?"


" Udah ikut aja."


" Sayang tolong aku." Rengek Bagas sambil menatap Ayuna, berharap Ayuna akan menolongnya dari hukuman yang akan segera didapat oleh Bagas.


" Bye, nikmati hukuman nya.." Kekeh Ayuna sambil lambaikan tangan ke arah Bagas yang terus ditarik paksa oleh Mama.


Mama lalu membawa Bagas ke hadapan papa, dan Papa mulai menyuruh Bagas untuk menjawab kedua telinganya dapat diisi dengan satu kaki.


Ayuna yang diam-diam mengikuti Bagas menjadi tertawa melihat hukuman yang baru saja diberikan oleh Mama dan Papa kepada Bagas.


" Pffft..."


" Hai sayang, Kenapa kamu berdiri di situ. Ayo sini bergabung bersama kami, jarang-jarang kangen kamu melihat sagas berdiri dengan satu kaki setelah menjabat kedua telinganya."


" Hemm, iya ini sangat langka. Dulu Ayuna juga melakukan hal seperti ini jika Gibran mengerjai ku."


Bagas langsung menatap kedua orang tuanya, Bagas takut jika Ayuna kembali bersedih karena mengingat Gibran.


" Sayang..." panggil Mama. Ayuna menoleh dan tersenyum, seakan tahu kekhawatiran yang dirasakan oleh Bagas dan juga Mama mertua nya itu.


" Mama jangan khawatir, Ayunaa sudah mengikhlaskan kepergian Gibran. Lagipula Gibran juga pernah datang ke dalam mimpi Ayuna dan mengatakan jika dia akan terlahir kembali menjadi anak Ayuna dan juga Bagas."


" Oh sayang. Mama sangat senang mendengarnya. Apa kau sudah memiliki nama untuk kedua bayi kembar mu."

__ADS_1


" Aku memiliki nya." Ketus Bagas.


" Mama tidak bertanya kepadamu, Mama bertanya kepada Ayuna."


Ayuna menjulurkan lidahnya ke arah Bagas. Sontak saja Bagas terkejut dan langsung memasang wajah sedih. Lalu Ayuna terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Mama.


" Hmmm, bagus juga." Ucap Mama yang tersenyum setelah mendengar bisikan dari Ayuna.


Bagas kepo dengan apa yang dibisikkan Ayuna.


" Ehem." Papa berdehem saat melihat Bagas menurunkan satu kakinya.


" Pegel pa."


Lalu Mama terlihat mendekati papa dan membisikkan sesuatu, Bagas menatap Ayuna seolah bertanya 'apa yang sedang kalian rencanakan?' Ayuna justru mengarahkan kedua bahunya.


Tak lama kemudian Mama dan Papa pergi, sebelum pergi mereka juga mengatakan,


" Hukuman dari mama dan papa akan diambil alih oleh Ayuna. Ingat, kak harus mendengarkan dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh Ayuna."


" Huftt .."


Bagas tersenyum lega.


Hukuman dari Ayuna pastilah mudah dan dapat ditawar. Dia kan istri ku, cukup dengan mengeluarkan rayuan mautku saja, Ayuna pasti akan terlena dan segera membebaskan ku dari hukuman. Batin Bagas.


" Ehem.."


" Eh, Iya tuan putri. Hamba siap melayani tuan putri." Ucap Bagas sambil bertingkah layaknya pelayan kerajaan.


" Bagus, sekarang gendong Aku menuju ke kamar."


" Siap."


Dengan penuh semangat dan percaya diri Bagas langsung menggendong Ayuna. Dengan hati-hati Bagas mulai berjalan menuju lift untuk mempercepat langkahnya menuju kamar.


" Ah tidak tidak. Jangan pakai lift, naik tangga saja."


Glek. Bagas menatap Ayuna seolah berkata ' Kau bercanda kan?'


Ayuna tersenyum dan mengalungkan tangannya ke leher Bagas. Tanda jika dirinya sudah siap untuk menapaki setiap anak tangga yang mungkin berjumlah sekitar 21 anak tangga, atau mungkin lebih.


Sekali lagi Bagas menelan ludah nya, dan menatap Ayuna.


" Ayolah kau kan pria hebat." Ucap Ayuna sambil menepuk bahu Bagas.


Matilah aku. Batin Bagas


..


.


Kira kira seperti inilah penampakan tangga yang harus dilalui Bagas.



...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Sayonara...


Jumpa lagi besok....


...jangan lupa...


...like...


...Komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2