
Tuk
Tuk
Tuk
Tuk
" Argh."
Anjas mengerang kesakitan saat Rini menghujani nya.
" Dasar kamu itu ya masih saja nakal."
" Mama, hentikan Anjas tidak nakal."
" Mama tidak percaya, sudah mama beritahu berulang kali jangan sampai jajan diluar." Pekik mama yang terus memukuli Anjas dengan spatula.
"Mama, Anjas tidak jajan di luar."
" Iya, tapi kamu membawa wanita dari luar, dan meniduri nya kan?"
" Tidak ma, Anjas bersumpah."
" Ehem..., permisi."
Rini menghentikan aktivitasnya memukuli Anjas, saat mendengar suara wanita.
" Maaf, bukan bermaksud mengganggu aksi anda yang..." Wanita itu memperagakan saat Rini memukuli Anjas.
" Saya hanya ingin tahu, dimana pakaian dalam yang saya minta. Hehe," Lirihnya.
Rini menghampiri wanita itu.
" Nak, katakan dengan jujur?, berapa kali kau di naikin oleh dia!." Ucap Rini sambil menunjuk ke arah Anjas dengan spatula nya.
" Naik?, di naiki kemana?, memang Villa ini ada tangga lagi ya?"
" Pffft..." Anjas ingin tertawa.
" Diam kamu." Hardik Rini yang menatap tajam Anjas. Lalu pandangan Rini kembali menatap wanita itu.
" Maksud saya, kamu sudah berapa kali di goyang sama Anak saya?"
" Di goyang?, memang nya anak nyonya inspektur senam?"
" Pffft...."
Anjas langsung menutup mulutnya, dan menunduk begitu mendapat tatapan mematikan dari Rini.
" Haduh, kamu itu memang tidak tahu, atau pura pura tidak tahu sih, dinaiki. Digoyang goyang. Di....di...di... ehem ehem."
Wanita itu semakin tidak mengerti apa yang dimaksud Rini. Dia hanya menatap Rini.
" Astaga...!!" Rini menepuk dahinya sendiri. Lalu menggandeng tangan wanita itu dan membawanya ke kamar. Anjas yang kepo mengikuti mereka.
" Jangan ikut." Ketus Rini.
" Oke."
Sesampainya dikamar, Anjas diam diam menempelkan telinganya ke pintu.
" Siapa nama mu tadi?, saya lupa."
" Bukan lupa nyonya, tapi saya belum memberi tahu nama saya. hehe."
" Oh benar kah?"
" Ya."
" Ya sudah, cepat beri tahukan siapa nama mu?"
" Nama saya, be.....la..."
Wanita itu mengucapkan kata bela hanya dengan mulut, tidak ada suara. Rini jadi mengikuti gerakan mulut wanita itu yang menyebut be..la.."
" Bela?" Tanya Rini.
Wanita itu mengangguk. Rini memandangi wanita itu dari atas ke bawah. Dan dari bawah ke atas.
Wanita tadi menutupi dada serta menyilangkan kakinya.
" Nyo...nya lihat apa?, jangan macam-macam nyonya, saya masih perawan."
" Ish, kamu ini cara seolah-olah aku ingin memperkosa mu saja."
" Ya habis, nyonya memandangi saya seperti nafsu begitu."
" Pffft.." Anjas menahan tawanya.
" Bukan nafsu, saya hanya memastikan bahwa tidak ada jejak anak saya ditubuh kamu."
" Ha?, memangnya anak nyonya drakula ya, yang bisa meninggalkan jejak?"
" Iya, dia drakula kelas menengah atas. Haomm.." Ucap Rini sambil menirukan gaya vampir yang siap memakan mangsanya.
" Ya Tuhan, itu artinya setelah ini aku harus mendapatkan suntikan vaksin anti drakula."
" Sttt, sudah diam. Jangan berisik. Cepat buka bajumu."
" He, tapi kenapa?"
__ADS_1
" Memastikan bahwa kamu tidak dinodai oleh anak ku."
" Astaga tadi drakula, sekarang noda. Sebenarnya anak nyonya ini manusia atau bukan?"
" YA TUHAN. Aku ingin memeriksa mu apakah kau diperkosa anak ku atau tidak."
" AHH..."
" Kenapa berteriak?"
" Tadi..., tadi.."
" Tadi kenapa?, apakah anak ku menodai mu?"
" Bukan."
" Lalu apa?"
" Dia sudah melihat.."
" Melihat apa?"
" Dia sudah melihat tubuh ku tanpa sehelai benang pun."
" Appa?"
" Lalu, apa yang terjadi?"
" Aku menyiram nya dengan air kran."
Wajah Rini yang sedari tadi panik, menjadi berubah heran. Rini mengkerutkan dahi nya.
" Anjas melihat mu telanjang?, lalu kau menyiram nya dengan air?"
" Jadi, nama nya Anjas. Hmm, tampan juga." Gumam wanita yang bernama Bela.
" Heh, aku bertanya pada mu."
" Ah iya maaf, hehe. Jadi, tadi aku sedang mandi saat tiba-tiba si kajas itu membuka tirai mandi. Karena aku sedang menyiram badan dengan air kran. Ya ku siram saja muka nya, kan aku terkejut."
" Tunggu, kau menyebut nama anakku apa tadi?"
" Kajas kan?"
Rini menepuk Dahinya lagi.
" An....jas...."
" Kan...jas?"
" A..." Ucap Rini.
" A..."
" Iya iya bela paham. Kajas kan?"
" Anjas !!"
" Kanjas?"
" Tidak pakai K." Ucap Rini.
" Anjas atau Kajas, sama saja. Yang penting ada jas nya kan?"
" Ya ya, terserah padamu saja. Ayo ikut aku."
" Kemana?"
" Hongkong!!." Ketus Rini sambil menarik tangan Bela.
" Ha?, Bela mau disini, Bela tidak mau jadi TKW, hiks hiks hiks."
" Heh bocah. Jangan menangis."
" Aku bukan bocah. Umur ku sudah 27 tahun."
Rini menghentikan langkahnya dan menatap Bela.
" Kok berhenti?, gak jadi mau bawa Bela ke Hongkong ya?" Tanya nya dengan mata berbinar-binar.
" Tidak. Tapi aku akan membawa mu ke Italia."
" Hwaa...."
" Sudah diam. Sana cepat masuk."
Bela mengintip dari balik pintu, ruangan yang penuh dengan pakaian.
" Waw, jadi ini Italia ya?"
" Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam. Kenapa aku bisa bertemu dengan makhluk seperti dia." Lirih Rini.
" Bibi, aku Bela bukan makhluk." Ketus nya tidak terima saat dirinya disebut makhluk oleh Rini.
" Sudah sana masuk dan ganti pakaian mu. Kau tidak sadar jika pakaian mu itu tembus pandang."
" Benarkah?"
Bela kembali menutupi dada dan menyilangkan kakinya.
" Haha, aku hanya bercanda. Sudah sana, setelah itu kita akan sarapan."
__ADS_1
" Terimakasih Bibi."
Setelah mengatakan itu, Bela langsung masuk ke kamar ganti dan menutup pintu.
" Tadi nyonya, sekarang bibi. Besok besok mama mertua. Hehe." Kekeh Rini.
Ceklek...
Brug !!
Anjas terjatuh saat Rini membuka pintu secara tiba-tiba.
" Kamu nguping ya?"
" Enggak."
" Terus ngapain disini?" Tanya Rini.
" Lagi... Lagi..., emm..."
" Lagi apa?"
" Bersihin pintu, ha.., ya. Bersihin pintu."
" Alasan. Sudah ayo bantu mama menyiapkan makanan."
" Tapi... Wanita tadi bagaimana??"
" Sudah ayo."
" Argh .."
Rini menjewer telinga Anjas, sehingga mau tidak mau, dia mengikuti langkah mama nya menuju dapur.
Disana ternyata beberapa pelayan sudah menyiapkan makanan untuk sarapan.
" Selamat pagi tuan, nyonya besar." Pelayan itu menunduk.
" EMM, mulai sekarang jangan lagi menunduk kepada kami, kami bukan Sultan." Ucap Anjas.
" Ya benar, bersikaplah seperti pelayan pada umumnya."
" Baik tuan, nyonya besar."
" Bagus. sekarang pergilah ke kamarku dan lihat apakah wanita yang ada di dalam kamarku sudah siap. Jika sudah bawa wanita itu kemari untuk makan bersama." Perintah Rini.
" Baik nyonya besar."
salah seorang pelayan perempuan kemudian berjalan menuju kamar Rini.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Bela keluar dengan menggunakan drees brukat putih, sederhana namun terlihat indah dan cocok jika dipadukan dengan warna kulit Bela yang putih.
" Maaf nona, diperintahkan nyonya besar untuk melihat anda dan membawa anda ke meja makan."
" Oh, baiklah, lagipula saya sudah selesai."
" Mari ikuti saya nona." Ucap pelayan tadi.
Bela mengikuti pelayan, hingga mereka tiba di meja makan.
" Uhuk..huk."
Anjas tersedak minumannya sendiri, saat melihat Bela datang ke meja makan.
" Anjas kamu ini kenapa?." Tanya Rini.
Anjas mengkode dengan matanya kepada Rini agar melihat ke belakang. Rini menoleh ke belakang.
" Wow. Cantik juga, tadi kok kayak gembel." Ucap Rini.
Wajah Bela cemberut lalu dia memilih duduk di kursi sebelah Rini.
Pelayan lalu menyajikan makanan diatas piring yang ada dihadapan Bela.
" Jadi Bela, katakan apa yang membuatmu bisa tidur di jalanan?" Tanya Rini.
Jadi namanya Bela?, Oh astaga kenapa dadaku berdebar debar. Jangan sampai aku terkena serangan jantung hanya karena melihat dan mengetahui nama nya. Batin Anjas.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komen...
...vote...
__ADS_1
...hadiah ...