LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Kesempatan untuk Tara


__ADS_3

" Kemarilah."


Doni menarik tangan Tara, cara berjalan mengikuti langkah kaki Doni.


" Lihat ini."


Doni menunjukkan sebuah berkas yang berisi biodata Tara.


" Apa ini?" Tanya Tara.


" Ini adalah berkas yang sudah disetujui, kau akan segera menjadi model go internasional." Ucap Doni.


Mata Tara membulat sempurna, dia tidak percaya bahwa Doni akan benar-benar melakukan apa yang dia katakan.


" Bapak pasti bercanda."


" Tara, kita tidak sedang dalam sesi pemotretan jadi kamu bisa memanggilku Doni. Ayolah, jangan terlalu formal denganku saat kita tidak sedang bekerja."


Tara tersenyum, dia tahu jika Doni sudah tergila-gila dengan dirinya.


" Ah iya, maksudku kamu pasti bercanda kan Doni."


" Tidak, untuk apa aku bercanda. Wanita seksi dan berbakat sepertimu sudah seharusnya menjadi model internasional. Aku yakin kau akan dapat jauh lebih sukses di sana."


" Kau membuatku tersipu."


Doni memegang pipi Tara. Dan tanpa Tara duga, Doni mulai menyambar bibirnya. Tangannya mulai berjalan turun dan menyelinap di antara pakaian yang dikenakan oleh Tara.


" Aku menginginkan mu." Ucap Doni.


Tara tersenyum smirk.


" Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang."


" Kenapa?"


" Karena aku harus menghadiri pesta ulang tahun keponakanku."


" Hanya keponakan, bersenang-senanglah denganku. Dan Aku berjanji akan segera mempertemukanmu dengan pemilik majalah pria terbesar di Inggris." Bisik Doni sambil membelai rambut Tara.


" Aku tidak bisa, semua keluarga akan hadir. Dan mereka pasti akan bertanya-tanya kenapa aku tidak hadir. Aku juga tidak ingin mereka tahu tentang profesi guru sebagai model majalah pria dewasa."


" Hmm, baiklah aku mengerti. Tapi izinkan aku untuk bermain-main sebentar dengan ini." Ucap Doni yang menurunkan pakai antara hingga memperlihatkan lekuk indah Tara.


" Oke, hanya ini tidak boleh lebih." Ucap Tara sambil mengalungkan tangannya ke leher Doni.


Doni yang bersemangat langsung menggendong tubuh Tara ala koala dan mendudukkannya di atas sofa.


Doni langsung membuka bungkus yang menutupi buah kenyal Tara. Dibelainya buah itu, sentuhan Doni membuat Tara terlena.


Kenapa sentuhan nya sangat nikmat, dibanding dengan beberapa hari yang lalu saat Doni menyentuhnya di ruang ganti, apa karena saat itu sedang banyak orang? jadi aku tidak bisa merasakan kenikmatan dari sentuhan Doni. Batin Tara.


Doni yang mulai meremas buah kenyal Tara, tersenyum saat melihat Tara mulai menikmati sentuhannya.


Hmm, sepertinya aku tahu cara yang paling tepat untuk membuatmu menyerahkan semuanya kepadaku tanpa harus aku menggunakan obat perangsang. Batin Doni.


" Argh..."


Tara benar-benar terbuai dengan sentuhan dan juga cara Doni memakan buah kenyal miliknya. Doni juga meninggalkan tanda merah di sana.


Tara merasakan kepuasan yang sangat luar biasa. Entah Kenapa sejak dulu Tara menyukai jika seseorang memainkan buah kenyalnya, karena itu sejak masih duduk di bangku kuliah Tara sering menghabiskan waktu berdua dengan lawan jenisnya didalam toilet. Membiarkan pria itu bermain-main dengan buah kenyal nya, sampai Tara merasa puas. Mungkin itu yang membuat buah kenyal Tara menjadi lebih besar dan berisi, karena terlalu sering dimainkan oleh banyak pria.


" Doni..." Panggil Tara.


" Hmm, apa kau menyukainya?" Bisik Doni sambil terus memainkan buah kenyal Tara.


" Ya."


" Sangat indah, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dan juga tanganku dari sini." Ucap Doni.


" Mainkan, teruslah bermain di sana hingga kau puas." Ucap Tara yang mulai terbuai.


Melihat Tara yang sudah terhipnotis oleh belaian Doni. Tangan Doni mulai turun. Membelai lembut kaki Tara, dengan posisi mulutnya yang masih memakan buah kenyal Tara.


Melihat ekspresi kenikmatan yang dirasakan oleh Tara, Doni memberanikan diri untuk menjelajah apa yang ada di tengah-tengah kaki Tara. Doni menyentuh sesuatu yang terasa basah di bawah sana.


Hmm, sepertinya Tara benar-benar terpukau dengan sentuhan ku. Dia bahkan tidak sadar jika aku sudah memegang bagian bawahnya. Batin Doni.


Saat Doni akan masuk menembus penutup yang sudah mulai sangat basah itu, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara ponsel Tara.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Sontak saja hal itu membuat Tara tersadar, dan langsung bangun dari posisi tidurnya.


" Ya halo?"


" ---"


" Ah iya, aku hampir saja lupa. Kalau begitu Aku akan segera kesana."


Tut.


Tara mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas.

__ADS_1


" Maaf Doni, tapi aku harus pergi." Ucap Tara


" Tapi kamu sudah sangat basah, bagaimana kalau kita melakukannya sebentar saja." Bisik Doni sambil menekan dada Tara.


Tara kembali terbuai, lalu dia segera bangkit agar tidak kembali terlena. Tara tidak ingin Doni yang melakukannya pertama kali, karena Tara sudah bertekad akan membuat Bagas yang melakukannya. Ya, walaupun Tara sangat suka bermain dengan para lelaki, tapi Tara tidak pernah membiarkan mereka sampai meniduri nya. Dulu para sudah berjanji akan berusaha mati-matian menjaga mahkotanya untuk sang suami kelak. Tapi setelah dia bertemu dan mulai menyukai Bagas, obsesinya semakin besar diantara ingin memberikan kehormatannya kepada Bagas. Walaupun mereka tidak akan pernah bisa bersama.


" Maaf tapi aku harus pergi sekarang." Ucap Tara sambil merapikan kembali pakaiannya yang sudah berantakan.


Doni terbangun dan memeluk Tara, diciumnya leher wanita yang sudah membuatnya menjadi candu itu.


" Aku akan menunggumu, jika kau ingin kenikmatan datanglah padaku." Bisik Doni.


Tara sedikit merinding mendengar kata kenikmatan yang diucapkan oleh Doni. Tara sudah tahu apa yang akan terjadi jika Tara lebih lama berdua dengan Doni.


Tara hanya tersenyum kemudian melambaikan tangan kearah Doni. Tara segera masuk ke dalam mobilnya dan meluncur ke rumah Yudi. Ya, yang tadi menelpon adalah Yudi. Yudi mengingatkan para agar tidak terlambat untuk datang ke acara ulang tahun kembar.


Sesampainya di rumah Yudi Tara membenarkan rambutnya dan juga pakaiannya, para sedikit terkejut saat melihat beberapa tanda yang di ciptakan oleh Doni.


" Astaga, pria itu sungguh keterlaluan. Apa dia sengaja meninggalkan tanda ini?, kalau ada yang melihat bagaimana. Tapi, tadi itu itu benar-benar membuatku merasakan kenikmatan yang tidak pernah kurasakan. Sentuhan nya sangat berbeda dengan sentuhan banyak pria yang sudah memegangnya. Ah Tara apa yang kamu pikirkan, jangan sampai kamu terlena oleh Doni. Kamu harus bisa menjerat Bagas apapun caranya." Lirih Tara.


Setelah memastikan rambut dan pakaiannya rapi, Tara segera turun dari mobil dan masuk ke rumah Yudi.


" Mau berangkat sekarang?" Tanya Yudi yang ternyata sudah duduk di luar rumah.


" Boleh, dimana orang tua Kak Yudi Kenapa rumah ini terlihat sangat sepi?"


" Ah iya, mereka sedang ada acara keluarga."


" Kenapa Kak Yudi tidak ikut?"


" Kalau aku ikut mereka, itu artinya aku tidak dapat menemanimu ke pesta si kembar. Lalu hadiah yang sudah aku belikan untuk mereka dibuat apa dong?" Kekeh Yudi.


" Ah iya, Kakak benar. Ya sudah ayo berangkat." Ucap Tara sambil memberikan kunci mobilnya kepada Yudi.


Yudi tersenyum, mengambil kunci mobil itu dan segera masuk ke mobil Tara. Hingga kemudian melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju mansion keluarga Bagas.


Sesampainya disana, Tara dan Yudi langsung menemui si kembar untuk memberikan hadiah yang mereka bawa.


" Terima kasih ya, kalian sudah datang." Ucap Ayuna.


Hanya Yudi yang tersenyum, sedangkan Tara terlihat tengah mencari seseorang. Ayuna tahu jika Tara sudah mencari Bagas.


" Ohya, silakan dimakan hidangan. Jangan sungkan." Ucap Ayuna.


" Tentu, terimakasih." Ucap Yudi.


Yudi langsung menggandeng tangan Tara, Tara tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Ayuna.


Ayuna menoleh, lalu mengkode agar Mesya mendekatinya.


" Kenapa serangga itu ada disini?, Iya terlihat bersama dengan seorang pria siapa dia?"


" Pertama, tentu saja serangga itu ada disini, dia kan juga bagian dari keluarga. Dan yang kedua, apakah itu adalah Yudi. Orang yang dijodohkan oleh Tara."


" Baguslah, mungkin jika serangga itu sudah menikah dia akan berhenti untuk mengejar Kak Bagas."


" Aku rasa belum."


" Kenapa?"


" Karena Tara belum mengatakan apapun soal berjodohan itu."


" Maksud nya?"


" Ya, Tara belum mengatakan ya atau tidak tentang perjodohan itu. Jadi mereka seperti hanya berjalan-jalan tanpa tahu kemana mereka akan berhenti."


" Ckckck, sungguh serangga yang sangat rumit, tapi apakah pria itu tahu jika Tara adalah seorang model majalah pria?"


Ayuna mengangguk.


" Wow, lalu?"


" Entahlah, aku rasa Yudi tetap mau menerimanya. Buktinya dia sekarang datang ke pesta kembar bersama dengan Tara."


" Iyuuh, apa pria itu tidak tahu jika menjadi model majalah pria sama saja dengan menjadi seorang wanita kupu-kupu malam?"


" Belum tentu, siapa tahu para masih menjaga kesuciannya itu, Ya walaupun dia mengekspos hampir seluruh tubuhnya sih." Ucap Ayuna.


" Ish Kakak ipar ini, tidak ada ceritanya model majalah pria masih tetap perawan."


" Haha, emangnya kamu tahu?"


" Tahu lah, Aku kan punya detektif super."


" Haha, Ya sudahlah ini tolong jagakan kembar sebentar karena aku harus ke kamar mandi."


" Oke."


Ayuna segera jalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya, bukan untuk buang air besar ataupun buang air kecil. Tapi untuk mengambil tespek yang dia sembunyikan saat sudah mencelupkan ke dalam air seninya.


Ayuna melakukan tespek pagi hari, Namun karena suara Bagas dan tangisan si kembar, membuat Ayuna memilih untuk menyembunyikan hasil tes tersebut. Ayuna merasa akhir-akhir ini ada yang aneh dengan dirinya, dia yang memang tidak sengaja lupa ber KB membuat Ayuna was-was akan perubahan yang ada pada dirinya. Jadi dia menyempatkan diri untuk melakukan tes.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Ayuna menutup pintu dengan perlahandan menguncinya. Lalu mulai mencari-cari dimana dia meletakkan alat itu.

__ADS_1


" Ini dia." Ucap Ayuna saat dirinya telah berhasil menemukan tespek.


Dengan jantung berdebar-debar, Ayuna membuka bungkus dari tespek tersebut.


Tespek sudah ada di tangan, tapi Ayuna memilih menutup kedua matanya karena takut tespek akan menunjukkan garis merah.


" Apakah Aku berani untuk membuka mata?" Lirih Ayuna.


Saat Ayuna membuka mata sedikit untuk mengintip hasilnya, Ayuna kembali memejamkan mata.


" Oh, Kenapa aku tidak berani melihatnya.."


Ceklek..


Ayuna tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka, reflek dia menjatuhkan tespek itu ke lantai.


" Ya Tuhan, siapa yang masuk ke dalam kamar?" Lirih Ayuna.


Ayuna lalu mencoba mengintip di balik celah yang ada di pintu kamar mandi.


" Bagas, sedang apa dia di dalam sini?. Oh tidak jangan sampai dia ke kamar mandi, dia pasti akan curiga kenapa aku ada disini." Ucap Ayuna.


Ayuna terus mengawasi gerak-gerik Bagas, ternyata dia masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Dan ayeuna tersenyum lega saat Bagas terlihat kembali keluar kamar.


Setelah memastikan Bagas benar-benar keluar, Ayuna mulai mencari tespek yang dijatuhkan. Dengan jantung berdebar-debar, Ayuna melihat apa hasil dari tes yang dilakukan tadi pagi.


Sementara itu, Tara mencoba segala cara agar terlepas dari Yudi. Karena sedari tadi Yudi selalu memegang tangan Tara. Hal itu membuat orang tua Tara senang, Dia merasa bahwa Tara mungkin sudah membuka hati untuk Yudi.


" Aku akan ke toilet sebentar." Ucap Tara, saat mereka sudah mengambil makanan dan memakan sebagian dari makanan itu


" Baiklah. jangan lama-lama dan lekas kembali, karena aku tidak ingin kau berbuat sesuatu yang akan membuatmu dan keluargamu malu." Ucap Yudi.


" Iya, aku tahu, Aku tidak akan melakukan apapun." Ucap Tara.


Jadi ini alasan kenapa Kak Yudi terus saja memegangi tanganku. Dia tidak ingin aku mencari Kak Bagas, tapi sayangnya aku akan tetap menemuimu. Malam ini mungkin adalah kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku. Kak Ayuna pasti sibuk dengan kembar, karena ini adalah pesta untuk kembar. Jadi, aku akan punya kesempatan untuk mendekati Kak Bagas. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menemukan di mana keberadaan Kak Bagas. Batin Tara.


Tara segera naik ke lantai atas, mencoba bertanya kepada beberapa pelayan apakah Mereka melihat Bagas atau tidak.


Lalu mata Tara menangkap sosok Bagas yang baru saja keluar dari kamar, dengan berlari Tara segera menghampiri Bagas.


Brug !!


Tara menabrak pelayanan yang sedang membawa minuman.


" Maaf." Ucap Tara.


" Tidak nona, Maafkan saya mungkin saya yang tidak berhati-hati sehingga menabrak nona." Ucap Pelayan tadi


" Ah tidak, saya yang salah karena saya telah berlari." Ucap Tara.


" Ada apa?" Tanya Bagas


" Tuan." Pelayan itu menunduk.


" Tidak, jangan salahkan dia, aku yang berlari hingga menabraknya." Ucap Tara.


" Astaga Tara."


Bagas segera membuka jasnya dan menutupi tubuh Tara.


" Kenapa?" Ucap Tara yang terkejut karena tiba-tiba Bagas memakaikan jas ke tubuh nya.


" Baju mu transparan karena terkena air."


Tara yang sadar akan tanda merah yang ada di dadanya langsung menutupi tubuhnya dengan jas Bagas.


" Ayo ikut aku, baju Ayuna pasti ada yang cocok dengan mu." Ucap Bagas.


Tara mengikuti langkah kaki Bagas yang berjalan menuju kamar.


" Oh astaga, aku akan berada sekamar berdua dengan Kak Bagas. Apakah ini adalah kesempatan untuk ku?" Ucap Tara.


Dengan senyuman, Tara segera berjalan hingga dirinya dan Bagas sudah masuk ke dalam kamar.


Bagas terlihat membuka lemari pakaian Ayuna, dan mencoba mencari pakaian Ayuna yang baru dan masih belum dipakai. Bagas ingat bahwa dia pernah membelikan banyak sekali baju untuk Ayuna, namun Ayuna enggan untuk memakainya karena bajunya masih banyak dan saya jika harus dipakai semua.


Tara melihat ke sekeliling, dia dengan pelan menuju pintu kamar. Dibukanya jas Bagas, serta baju yang terkena tumpahan air minum yang dibawa pelayan tadi. Kini Tara sudah bertelanjang dada.


" Ini dia." Ucap Bagas saat merasa dia sudah menemukan pakaian yang pas untuk Tara.


Dan betapa terkejutnya Bagas saat dirinya berbalik dan mendapati Tara sudah bertelanjang dada. Menunjukkan buah kenyal yang sangat besar dan berisi.


" Tara, apa yang kau lakukan?" Tanya Bagas.


" Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu." Ucap Tara sambil terus berjalan mendekati Bagas.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2