
Drrrttt drrrttt drrrttt
Ponsel Bagas berdering.
Dengan mata tertutup dia meraba raba meja dan mencari ponsel nya.
" Hmm, ada apa?, ganggu orang tidur aja." Ketus Bagas dengan mata terpejam.
" Oh jadi mama menganggu kamu nih?"
Jreng !!
Mata Bagas yang tadinya hanya 5watt kini langsung terisi menjadi 100watt. Bagas melihat ke arah ponsel nya. Dan terpampang jelas bahwa yang menelponnya adalah Mama.
" Mama, maaf ma, Bagas tidak tahu jika mama yang menelepon karena Bagas langsung mengangkatnya tanpa melihat."
" Dasar kamu anak luknut. Untuk Mama sayang, coba kalau enggak. Udah aku masukin ke dalam perut lagi kamu." Ketus Mama dengan nada kesal.
" Memangnya bisa?" Tanya Bagas sambil melihat ke arah Ayuna yang masih tertidur karena permainan panas yang baru saja mereka lakukan.
" Ya bisa lah."
" Caranya?"
" Dalam mimpi, Wakakaka."
" Ya Tuhan Mama, bisa enggak kalau ketawa itu di kondisi kan. Telinga Bagas bisa budek."
" Apa?! Berani kamu mengatakan jika Mama budek."
Bagas menepuk Dahinya.
" Bukan mama yang budek, tapi telinga Bagas yang budek karena dengar Mama ketawa."
" Ooh, jadi kamu budek gara-gara dengar Mama ketawa. Ya udah, Mama akan ketawa terus. Hahaha, wakakak... hihihihi, hohohoho.. hahaha, hwahahaha...hek hek hek uhuk uhuk hukk hukk huk.."
" Nah kan, Kualat dah tuh."
" Uh, dasar memang anak luknut."
" Udah sih, Mama ada apa telepon Bagas."
" Heh bocah. Mama telepon itu berarti ada sesuatu yang penting. Main sewot aja mau Mama lempar piring mumpung Mama lagi pegang piring nih."
" Yah jangan dong, Ayuna masih tidur. Nanti kalau dia terbangun karena suara pecahan piring mama, gimana dong?. memang mama mau tanggung jawab?"
" Aduu, kalian itu ngapain sih sampai sore sore malah tidur."
" Bagas, habis ehem ehem."
" Ehem ehem apa?" Tanya mama.
" Ah Mama, pakek acara pura pura tidak tahu."
" Memang tidak tahu."
" Ya sudah lupakan. sekarang katakan ada apa Mama menelponku?"
" Aduh bocah. Sebenarnya dulu pas mama hamil kamu mama itu ngidam apa sih kok kamu jadi bocah gemblung kayak gini."
Bagas menggaruk-garuk kepalanya.
" Hari ini hari apa?" Tanya Mama Bagas
" Hari selasa."
" Tanggal?"
" 24."
" Jadi?" Tanya Mama Bagas.
" Ya Tuhan, Bagas lupa, jika hari ini adalah hari gsjian pegawai."
" Heh bocah gemblung. Malam ini malam natal. Karena itu Mama menelepon untuk menyuruhmu dan Ayuna datang kemari. Tadi Mama sudah menyuruh Mesya ke rumahmu, tapi kata satpam jaga kau sudah tidak ada di rumah itu selama satu minggu penuh. Kau membawa Ayuna minggat kemana lagi sih?"
" Ya Elah Mama, mana ada istilah minggat. Wong Bagas ini suami Ayuna. Ya suka-suka Bagas dong mau mengajaknya ke mana."
" Ya ya, terserah kamu. Intinya kamu harus datang malam ini. Dan merayakan natal disini."
" Hmm, baiklah. Aku akan segera kesana begitu Ayuna sudah bangun."
" Heh bocah." Panggil Bagas saat dirinya akan menutup telepon.
__ADS_1
" Ada apa lagi Ma?"
" Kamu dan Ayuna habis ehem ehem yaa, kok jam segini Ayuna tidur?" Tanya Mama dengan nada sedikit berbisik.
" Tau ah, dasar Mama gemblung."
" Heh.. Kamu bilang apa?, Bla bla bla bla.."
Bagas menjauhkan ponsel dari telinganya ada langsung ke matikan telepon.
" Dasar anak luknut. Belum pernah diomeli orang hutan kayaknya, main tutup tutup teleponnya." Ketus Mama Bagas.
Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, Bagas Ayuna.
Cup
Diciumnya pipi Ayuna.
" Ergh..., Sayang. Pukul berapa ini? apa sudah pagi?" Tanya Ayuna dengan mata tertutup.
" Ini bukan pagi sayang ini masih sore."
" Hemm, sore?*
Ayuna bangun dan langsung melihat kearah jam. Pukul 18.00
" Astaga, aku pikir ini sudah pagi hari, karena aku merasa seperti sudah tidur terlalu lama."
" Itu karena kau tidur dengan perasaan tenang dan bahagia. Jadi tidur beberapa jam saja membuatmu seakan-akan tidur selama semalam penuh."
" Hmm, kau benar. Akhir akhir ini aku memang sulit sekali untuk tidur. Mungkin karena aku masih memikirkan tentang Gibran."
" Apa kau mau aku melakukannya lagi di setiap jam tidur?, agar kau bisa tidur dengan lelap?"
" Itu sih mau nya kamu, huu."
Ayuna menutup muka Bagas dengan bantal.
" Udah ah, aku mau mandi." Ucap Ayuna sambil turun dari ranjang sambil membawa selimut guna menutupi tubuhnya.
" Ikut." Rengek Bagas.
" Enggah ah, yang akan bakalan 2 jam di kamar mandi."
" Ohya sayang.." Panggil Bagas saat Ayuna hampir menutup pintu kamar mandi.
" Ada apa?"
" Mama meminta kita untuk datang dan merayakan malam natal di rumah."
" Hmm, baiklah." Teriak Ayuna dari dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Ayuna keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono.
" Hmm, sangat wangi." Ucap Bagas.
" Eh, hem hem hem.."
Ayuna menggerakkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri di hadapan Bagas.
" Cuma peluk doang masak gak boleh." Ketus Bagas.
" No no no." Ucap Ayuna, yang kembali menggerakkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri.
" Sana mandi, setelah itu kita pergi ke rumah mama dan papa."
" Hmm..." Ucap Bagas dengan nada tidak bersemangat.
Ayuna hanya terkekeh melihat tingkah laku Bagas. Sebenarnya Ayuna ingin mencium pipinya, tapi jika Ayuna melakukan itu maka Bagas tidak akan pergi mandi. Akhirnya Ayuna membiarkan Bagas masuk ke kamar mandi dengan wajah cemberut.
Setelah berganti pakaian, ayunan mulai membereskan barang-barang miliknya dan juga memiliki Gibran.
" Sudah selesai, sisanya biar orang suruhan Bagas yang membereskannya." Ucap Ayuna saat dia meletakkan barang terakhir milik Gibran ke dalam kardus besar.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Ayuna terkekeh karena wajah Bagas masih cemberut.
" Ciiee ciiee, big baby nya bisa ngambek juga ternyata." Kekeh Ayuna.
" Hem."
Bagas hanya melirik sekilas ke arah Ayuna sambil memakai pakaiannya.
__ADS_1
Ayuna mendekati Bagas.
" Em em."
Bagas menggerakkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri, persis seperti apa yang Ayuna lakukan tadi.
" Uh uh uh, jadi aku gak boleh mendekat?" Ucap Ayuna yang terus saja melangkah mendekati Bagas.
" Iya."
" Yakin?"
Ayuna terus mendekati Bagas yang hendak memakai kemeja nya.
" Iya." Jawab Bagas masih dengan nada ketus.
" Ya udah, kalau begitu aku tidak jadi mencium. Tadi nya sih, mau kasih ciuman istimewa." Ucap Ayuna sambil melihat ke arah Bagas yang mulai tertarik dengan apa yang baru saja Ayuna katakan.
" Tapi karena.., aw.."
Ayuna terkejut karena Bagas tiba-tiba menarik tangan nya dan membuat nya jadi memeluk Bagas
" Berikan aku ciuman istimewa itu sekarang." Ucap Bagas.
" Idih, tadi katanya nggak mau deket-deket aku."
" Kasih, atau aku akan memperkosa dirimu."
" Ya aku teriak dong, biar kamu di gebukin satpam."
" Oh jadi suka liat suami digebukin satpam. Terus babak belur dan jadi jelek. Mau?"
" Ya enggak sih "
" Ya udah cium "
" Iya iya "
Ayuna mendekatkan wajahnya ke wajah Bagas. Bagas menutup mata, Ayuna yang melihat itu lalu tersenyum dan berbisik.
" Tapi boong.."
Ayuna langsung berjalan cepat keluar dari kamar. Bagas hanya tersenyum melihatnya, dalam hati, Bagas bergembira karena setidaknya ayunan mulai bisa kita lepas dari lembah keterpurukan.
Lalu dia segera mengambil jas serta ponselnya dan menyusul Ayuna.
Didalam perjalanan menuju rumah Mama dan Papa. Ayuna hanya terdiam sambil memandangi ramainya jalanan ibukota.
" Sayang, kenapa kau diam?" Tanya Bagas.
" Tidak. Aku hanya sedikit bersedih, karena ini adalah Natal pertamaku tanpa Gibran. Biasanya kita selalu merayakan Natal berdua. Bahkan dalam 3 tahun terakhir, setiap Natal kita selalu meminta hal yang sama. Yaitu berharap suatu saat nanti kita akan merayakan Natal bertiga. Gibran sangat berharap bisa merayakan natal dengan kedua orang tua nya. Dan saat keinginan itu terkabul justru Gibran yang tidak bisa merayakan Natal bersama kita."
Bagas memegang tangan Ayuna.
" Terima kasih karena sudah membawa ku menjadi bagian dari keluarga, walau kini Gibran tidak lagi ada ditengah tengah kita." Ucap Ayuna.
Bagas menarik tangan Ayuna dan mencium nya.
" Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu." Ucap Bagas.
" Aku juga mencintaimu. Ya, Walau tidak sebesar dirimu." Kekeh Ayuna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...Komen...
...vote...
...hadiah ...
Sekali lagi,
...Selamat hari raya Nyepi ...
...dan...
__ADS_1
...Tahun baru saka....