LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Kesempatan Anjas


__ADS_3

" Anjas..." Pekik ayuna.


" Ayna Gibran sedang apa kalian di sini?"


" Aku ... aku.. aku sedang menunggu taksi." Ucap ayuna terbata.


" masuklah taksi tidak akan berhenti di sini."


" tapi...."


Belum selesai ayuna mencari alasan agar tidak semua mobil dengan Anjas, ayuna melihat Bagas telah keluar dari apartemen dan mencoba mencari dirinya dan Gibran.


" Ayo masuk tunggu apalagi perintah Anjas."


Tanpa pikir panjang ayuna dan Gibran pun langsung masuk ke dalam mobil Anjas.


Mobil pun melaju..


" Kalian mau kemana?"


" Kami akan pergi ke taman untuk sarapan." celoteh Gibran


" Kalau begitu ayo aku antar kalian ke taman. dan apa itu yang kau bawa."


" itu adalah sarapan kami. mami yang membuatnya, awalnya kita akan sarapan bersama...."


Belum selesai Gibran berbicara ayuna sudah menutup mulut Gibran dengan tangannya. Dan mengisyaratkan agar Gibran tidak meneruskan kata-katanya.


" ada apa?" tanya Anjas.


" tidak ada apa-apa. antarkan saja kami ke taman kami akan sangat berterima kasih atas tumpangan mu" jawab ayuna.


" baiklah."


Sesampainya di taman..


" Terima kasih atas kebaikan hatimu mengantarkan kami ke taman." ucap ayuna lalu turun bersama Gibran dari mobil Anjas.


" Apa kau tidak akan menawariku untuk sarapan juga?" tanya Anjas.


" Mami, bukankah makanan kita cukup untuk 3 orang. Bagaimana jika ayah ikut sarapan."


Ayuna terkejut, mendengar Gibran memanggil ayah dengan sebutan ayah. sepertinya Anjas sudah memberitahu Gibran bahwa Anjas adalah ayah kandung Gibran.


" boleh ya mami boleh ya, kapan lagi Gibran bisa makan bersama ayah."


Ayuna menatap Gibran, Gibran menatap balik dengan muka memohon.


Ayuna tidak bisa menolak tatapan Gibran, dengan berat hati dia menganggukkan kepala mengizinkan Anjas untuk ikut sarapan bersama mereka.


" Hore..., ayo ayah kita cari tempat untuk makan."


Gibran menarik tangan Anjas.


mereka lalu berjalan mendahului ayuna, mencari tempat untuk mereka makan bekal yang di bawa ayuna.


" Disini saja." Ucap anjas.


" Mami cepatlah kemari kita sudah menemukan tempat." Teriak gibran.


Ayuna pun segera bergabung bersama Anjas dan Gibran. Lalu membuka kotak makan yang dia bawa, kemudian menatanya di depan Gibran dan Anjas. lalu mereka mulai memakan makanan yang sudah mulai dingin itu.


Ayuna memilih diam, sedangkan Gibran terus saja bercanda tawa bersama Anjas.


" Aku akan cuci tangan sebentar di sana." Ucap ayuna


" Baiklah."

__ADS_1


" Jangan kau macam-macam pada Gibran."


" Tidak aku berjanji. kau sudah berbaik hati mengajakku makan bersama. jadi sebagai gantinya aku akan bersikap baik."


Ayuna kemudian meninggalkan Gibran dan Anjas.


Sepeninggalan ayuna...


" boy, sebenarnya kalian itu tadi dari mana ?" tanya Anjas


" kami dari apartemen papi."


" papi maksud kamu Bagas?"


" iya papi Bagas. aku dan mami berencana membuat kejutan untuk papi. tapi sampai di rumah papi mami malah mengajak Gibran untuk pergi."


" memangnya apa yang terjadi di sana?"


" Gibran tidak tahu. Gibran hanya melihat seorang wanita memeluk papi. mami juga sempat menjatuhkan kotak makanannya lalu mami mengajak Gibran untuk pergi."


Jadi, ayuna melihat seorang wanita ada di dalam apartemen Bagas. aku tahu apa yang harus aku lakukan. Batin Anjas.


Ayuna kembali setelah mencuci tangan, dia terlihat membawa beberapa cemilan yang dia beli di tempat yang tidak jauh dari dia cuci tangan..


" Gibran makanlah ini.."


Ayuna meletakkan cemilan itu di atas meja.


" terima kasih mami." ucap Gibran


" Ayuna, aku aku sudah tahu kenapa kau tadi ada di sana. Gibran sudah menceritakan semuanya padaku."


Ayuna terkejut dan langsung menatap sinis kearah Gibran. Gibran fokus dengan makanannya jadi dia tidak tahu jika dia mendapat tatapan sinis dari maminya.


" Jangan menyalahkan dia. dia masih kecil."


Ayuna terdiam.


" Jika dia memang menghargaimu sebagai pasangannya, sebagai calon istrinya. Dia tidak mungkin memasukkan wanita lain ke dalam apartemennya bukan?"


Ayuna menatap anjas.


" jangan mencoba menghasutku. Dengan mengatakan hal buruk tentang tunanganku." Hardik ayuna.


" Aku tidak mengatakan hal buruk aku hanya mengatakan fakta. Fakta yang sedang terjadi sekarang."


" kau tidak tahu apa-apa soal Bagas jadi jangan coba membicarakan hal buruk tentang dirinya."


Ayuna tidak terima jika anjas bicar hal buruk tentang bagas. Walau sebenarnya hatinya juga sakit melihat pemandangan itu.


Apa karena itu Bagas tidak datang ke rumahnya?. Ah tidak, mungkin saja wanita tadi adalah saudara nya. Tapi mereka tadi berpelukan. Apakah karena wanita itu. Bagas jadi tidak menghubunginya?.


Ayuna berperang dengan batinnya sendiri.


" Kau dan Bagas. kalian kenal belum lama kan. kalian belum mengenal pribadi masing-masing. Tidak seperti aku Dan dirimu. kita sudah mengenal pribadi masing-masing bahkan jauh sebelum aku menikahimu."


" Cukup Anjas. Jangan lagi bicara tentang kita hubungan kita sudah berakhir 5 tahun yang lalu."


" Oke maaf. aku hanya mencoba menyadarkanmu bahwa Bagas bukanlah lelaki yang pantas untukmu."


" Lalu siapa lelaki yang pantas untukku? KAU?"


Ayuna menekan kata kau pada Anjas.


" Ya memang aku yang terbaik untukmu dan hanya aku yang pantas bersanding dengan."


Ayuna tersenyum smirk.

__ADS_1


" Berkacalah dulu sebelum kau mengatakan itu. kau tidak ingat lima tahun yang lalu saat keluargamu mencaci-maki ku. Di mana dirimu?. saat mereka mengusir ku dimana dirimu?. saat aku berjuang sendirian membesarkan Gibran di mana dirimu?. saat aku melawan jahatnya fitnah para tetangga di mana dirimu?"


Anjas terdiam.


" Aku tahu dulu aku tidak melindungimu tapi aku janji sekarang aku akan melindungimu."


" Jangan membual di depanku Anjas. Aku sudah muak dengan segala janji-janjimu."


" Ayo kita pulang."


Ayuna menarik tangan girban.


" Ayuna tunggu biarkan aku mengantar mu dan gibran pulang."


" Tidak perlu kami bisa pulang sendiri."


Ayuna segera berjalan bersama gibran menjauh dari Anjas.


" Ini kesempatanku untuk mendapatkan hati ayuna kembali. aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini."


Anjas mengejar ayuna.


Hingga saat ayuna sudah berada di depan taman, ayuna segera taksi yang lewat.


Ayuna dan gibran segera masuk kedalam.


" Ayuna tunggu."


Anjas mencoba menghentikan ayuna.


" jalan pak."


Tok


Tok


Tok


" Ayuna tunggu.."


Anjas mengetuk-ngetuk kaca mobil. sopir menoleh ke belakang melihat ayuna.


" tidak perlu dihiraukan jalan saja."


" baik nyonya."


Sopir pun segera melajukan kendaraannya meninggalkan Anjas yang terus saja berteriak memanggil nama ayuna.


Setelah mobil berjalan. Dia memeluk gibran dan menangis.


Apa yang sebenarnya terjadi. Dulu anjas sekarang bagas. Apa memang aku tidak berhak bahagia?. aku tidak diizinkan untuk memiliki pasangan hidup?. Batin ayuna.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...


...hadiah...

__ADS_1


__ADS_2