
" Selamat pagi kesayanganku."
cup
Bagas mencium kening gibran, begitu tahu gibran mulai membuka mata.
" Selamat pagi papi.."
" Bagaimana tidurmu?"
" Hmm, aku tidur dengan nyenyak." Ucap gibran seraya tersenyum dan bangun dari tempat tidur.
" Pergilah cuci muka, dan jangan lupa gosok Gigi. Setelah itu, kita akan membangunkan mami."
Gibran hanya mengacungkan jempol, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Tak beberapa lama kemudian, gibran keluar dengan wajah yang lebih bersemangat.
" Ayo kita bangun kan mami."
" Ayo."
Bagas langsung menggendong gibran, walau usia nya sudah 6 tahun. Tapi bagas masih memperlakukan gibran seperti anak dibawah usia 5 tahun.
" Papi, kenapa kita tidak tidur bertiga saja?. Pasti akan seru, jika gibran tidur di tengah tengah mami dan papi."
" Ya, itu akan terjadi, jika kita sudah tinggal di apartemen papi."
" Kalau begitu, ayo kita pulang ke apartemen papi." Celoteh gibran.
" Tidak bisa, kita harus tinggal di sini, selama satu bulan penuh."
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Bagas membuka pintu kamar ayuna, dengan hati-hati.
" Mami sedang tidur." Bisik bagas pada gibran.
" Iya. Ayo kita kejutan kan mami." Ajak gibran.
Bagas dan gibran, berjalan mengendap-endap, menuju tempat tidur ayuna.
Gibran memilih naik ke atas tempat tidur dan berjalan dibelakang ayuna, sedangkan bagas, berdiri tepat di depan ayuna, saat bagas akan mengejutkan ayuna, dia terpukau melihat wajah cantik alami ayuna saat sedang tidur.
Bagas mendekati wajah ayuna, mengusap lembut pipi nya, dan berkata,
" Cantik, sangat cantik. Mami bahkan terlihat sangat cantik saat sedang tidur." Ucap bagas.
" Jangan membual. Aku mendengar nya." Ucap ayuna dengan mata yang masih tertutup.
" Waaaaa...."
Sangking kagetnya, Bagas terjatuh ke lantai.
" Hahahaha, papi jatuh." Ucap gibran mentertawakan bagas.
" His, papi jatuh bukannya ditolong, malah di tertawa in."
Bagas menatap gibran dengan tatapan cemberut.
" Uh tayang, sini. Mami yang membantu papi."
Ayuna memberikan tangan nya, bagas tersenyum jahat. Dia lalu menarik tangan ayuna, hingga ayuna terjatuh bersama selimut nya, tepat di atas tubuh bagas.
Mata bagas dan ayuna saling berpandangan. Untuk sesaat mereka melupakan jika masih ada satu makhluk didalam kamar itu, yaitu gibran.
Saat bagas akan mendekatkan bibirnya ke bibir ayuna, gibran berteriak dan siap ikut melompat ke arah mami dan papi nya.
" Hore main...."
Saat gibran sudah bersiap menjatuhkan diri, di atas tubuh ayuna. Ayuna menoleh dan segera bergulir ke samping bagas. Dan..
Brug...
__ADS_1
" Argh..."
Gibran jatuh tepat di tubuh bagas.
" argh.."
Bagas merintih kesakitan, karena dia tidak siap menerima tubuh gibran.
" Eeeekkkk...."
Bagas berpura pura pingsan.
" Mami, papi kenapa?" Tanya gibran.
" Tidak tau, seperti nya papi pingsan." Ucap ayuna.
Ayuna lalu berdiri, mengikat rambutnya, dan meletakkan kembali selimut.
" Jadi, papi pingsan?, ayo kita lihat. Apakah papi benar benar pingsan, atau hanya berpura pura." Ucap gibran, dengan kedua tangan yang siap menggelitik bagas.
Hap
Hap
Hap
" Pfff, hahaha, haha..."
Bagas tidak dapat lagi menahan rasa geli nya, dia pun tertawa.
" Yahh,, papi pura pura pingsan." Kekeh gibran.
" Kau, berani menggelitik papi, SEKARANG rasakan pembalasan papi. Hwaa....,"
Bagas bertingkah layaknya seorang monster, dia mengendong gibran, dan menjatuhkan gibran di atas kasur. Lalu mulai mengelitik gibran.
" Hahah, hahaha..."
" Hahah, sudah papi, cukup. Ampun, gibran menyerah."
" Haha.."
Bagas berhenti, lalu menarik gibran agar bangun, san dan langsung memeluk nya.
" Ayo kita sarapan boy." Ajak bagas
" Ayo. Mami mandilah dulu sebelum mami turu, mami bau asem." Ledek gibran.
" Dasar kau ya..." Ucap ayuna.
Bagas memilih segera membawa gibran keluar dari kamar, sebe6 ayuna melempar nya dengan bantal.
Setelah sarapan.
" Ayuna, aku harus pergi ke kantor sebentar." Ucap bagas.
" Aku ingin ke toko." Pinta ayuna.
" Besok saja." Ucap bagas.
" Tapi..."
" Bagas benar nak, sebaiknya hari ini kau gunakan untuk istirahat." Kata mama bagas.
" Iya, kau kan baru pulang dari luar negeri dan langsung mengadakan pesta pertunangan ke pasti lelah. Jadi istirahatlah dulu besok baru kau boleh pergi ke toko." Ucap papa bagas.
"Hmm, baiklah."
Ayuna mengantar kepergian Bagas hingga Bagas masuk ke dalam mobilnya.
" Jangan cemberut begitu nanti cantiknya hilang." Goda bagas.
Bukan nya tersenyum, ayuna justru semakin cemberut.
" Haha, jadi mirip badut kalau badut seperti itu. Sudah jangan cemberut nanti aku akan mengajak kalian jalan-jalan."
" Janji?"
" Iya janji, Ya sudah aku pergi ke kantor dulu ya."
__ADS_1
" Iya, hati hati."
" Sun pipi dong." Pinta bagas.
Ayuna menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang.
Cup
Ayuna mencium sekilas pipi Bagas.
" Terimakasih, aku berangkat ya.."
" Bye.."
...
Sesampainya di kantor, Bagas dikejutkan dengan seorang wanita cantik yang sudah ada di dalam ruangan Bagas.
" Nina, Kenapa kau ada disini siapa yang mengijinkanmu masuk ke dalam ruangan ini?"
Bukan nya menjawab, nina justru mendekati bagas, dan memeluknya.
" Bagas, aku kembali hanya untukmu, dan aku ingin menikah dengan mu."
Bagas melepaskan pelukan nina.
" Maaf nina, tapi aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai." Ucap Bagas.
" Bukankah yang kau cintai adalah aku?"
" Bukan. Aku tidak lagi mencintaimu. Cintaku sudah hilang bersama dengan kepergian mu dari kota ini."
Mata Nina mulai berkaca-kaca..
" Tidak mungkin, kau bilang akan selamanya nya mencintai ku. Dan akan menunggu ku pulang kapanpun itu." Pekik Nina.
" Ya, janji itu sudah lama tidak berlaku, sejak kau tidak pernah lagi menghubungiku. Sekarang pergilah nina, jangan lagi mengganggu hidup ku."
Nina masih terdiam. Hingga bagas duduk di kursi kebesaran nya, nina masih berdiri disana.
" Kau mau keluar sendiri, atau kau ingin di jemput satpam?" Ucap bagas sambil menekan tombol teleponnya.
Nina menghentakkan kakinya, lalu pergi keluar dari ruangan bagas.
Bagas menelpon sekertaris nya, dan meminta agar nina tidak lagi diperbolehkan masuk tanpa ijin dari bagas.
...
Sementara itu, lagi lagi anjas percaya saat dokter mengatakan jika bayi yang ada dalam kandungan selin adalah kembar. Anjas langsung melupakan rencana nya untuk mencari tahu tentang kebenaran.
" Sayang, aku Sangat bahagia, kau tidak hanya memberi ku satu, tapi dua."
Cup
Cup
Cup
Anjas menciumi seluruh wajah selin, dan tiba tiba selin merasa bersalah pada anjas.
Selin menatap anjas, ingin rasa nya dia memberi tahu kebenarannya pada anjas, bahwa bayi dalam kandungan nya hanya satu, dan bukan milik anjas.
Namun selin mengurungkan niat nya, dan hanya tersenyum sembari mencium tangan anjas, yang memegang pipi nya.
" Ayo kita pulang, aku sudah tidak sabar ingin memberi tahu mama. Mama pasti senang."
Anjas merangkul tubuh selin, selin merasa nyaman. Perlakuan anjas membuat selin benar benar terlena. Seperti nya dia jatuh cinta pada anjas, dan setiap bersama anjas, selin melupakan dion.
Anjas juga mulai penuhnya mencintai istrinya itu.
Sementara itu, nina mengemudi dengan air mata yang terus mengalir.
" Tidak bagas, Kau adalah milikku dan selamanya milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu kecuali aku."
Nina mengemudi menuju apartemen bagas, rupanya dia sudah menyiapkan sesuatu agar bagas jatuh ke dalam pelukan nya lagi, dan membuat Bagas mengecat meja dirinya seperti dulu lagi.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...