
Dion mengenakan kembali celana boxer nya, sedangkan selin memilih untuk tetap tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Kenapa terburu-buru begitu bukankah kalian baru saja selesai bertarung?, santai saja sejenak rileks kan diri kalian." Ucap anjas santai.
" Anjas, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap dion.
" Benar, kami hanya...."
Selin menggantung ucapannya karena dia sedang mencari kata apa yang cocok untuk mewakili keadaan yang genting.
" Hanya apa?, hanya berbulan madu begitu?"
" Bukan, kami.. kami.." Ucap selin masih terbata bata.
" Sudahlah selin, kau sudah tertangkap basah kau mau alasan apalagi?. Dan kau Dion, dosa apa yang sudah aku lakukan padamu sehingga kau tega melakukan ini. Kau tau kan jika selin adalah istriku, tapi kenapa kau justru mendekatinya bahkan kau...., kau melakukannya hingga membuat selin hamil."
" Tidak anjas, bayi ini bukan milik Dion bayi ini adalah milikmu."
" Sudah cukup selin. Kau pikir aku tidak tahu?, kau menjebakku karena saat itu kau sudah hamil 3 bulan. Aku benar kan?"
Wajah selin pucat. Anjas sudah tahu.
" Dan sekarang katakan alasannya padaku Kenapa kalian berdua menusukku secara bersama-sama dari belakang." Ucap anjas lagi
Hening
" Katakan." Anjas sedikit berteriak.
" Ini semua karena kau." Ketus selin
" Ohya, kau yakin?" Tanya anjas menatap selin.
" Ya. kalau saja dari awal kau mencintaiku dan memperlakukanku seperti istri, Aku tidak akan pernah mendua dengan dion."
" Benarkah?, tapi sejauh yang aku tahu kau dan Dion adalah pasangan kekasih dari kalian kuliah."
Selin menatap dion. Dion masih termenung diam.
" Aku benar kan dion?, karena orang tua selin ingin memiliki menantu yang sama tinggi derajatnya, Kau hanya bisa pasrah saat selin menikah denganku bukan?"
" Tidak bukan karena itu " Tegas dion.
" Lalu karena apa?"
Suasana kembali mencekam, terutama bagi Dion dan Selin.
" Karena..,"
" Katakan saja, bukankah aku sudah memint kepada kalian untuk mengatakan alasan kenapa kalian berdua menusukku dari belakang."
" Itu karena aku merasa kasihan kepada selin, kok tahu dia sudah menunggumu membuka hati selama 5 tahun. Tapi selama itu kok tidak pernah sedikitpun mencoba untuk membuka hatimu baginya."
" Uh benarkah?,"
" Ya. ini semua murni dari kesalahanmu sendiri Anjas, jadi jangan salahkan selin. Jika dia memilih untuk bersama dengan diriku." Ucap dion.
Anjas tersenyum miring.
" Kau yakin ini semua karena kesalahanku?" Tanya anjas menatap dion dan selin bergantian.
" Anjas, seandainya dulu kau bisa mencintaiku dan memperlakukanku layaknya seorang istri, mungkin aku tidak akan berpaling darimu. Aku mencintaimu Anjas, tapi kau tak pernah sedikitpun membalas cintaku." Ucap selin.
" Selin dengar, haruskah aku mencintai seseorang yang sudah menebar kebencian kepada keluargaku? haruskah Aku mengasihi seseorang yang membuat keluargaku membuang istri yang sedang hamil?"
__ADS_1
" Aku tidak menebar kebencian kepada keluargamu, namamu sendiri yang mengatakan Jika dia tidak ingin mendapatkan penerus keluarga dari orang miskin seperti ayuna. Jadi.."
" Jadi kau menggunakan kesempatan itu untuk menyingkirkan Ayuna dan menggantikan posisinya sebagai istriku bukan?" Ucap anjas yang memotong perkataan selin.
" Aku..aku..." Selin terlihat mencari cari alasan.
" Anjas sudahlah jangan terlalu memojokan dia, dia tidak bersalah dia hanya korban di sini." Ucap dion.
" Oh korban ya?"
" Ya. harusnya kau yang malu pada dirimu sendiri, kenapa dulu kau tidak memperjuangkan ayuna, dan kenapa dulu kau hanya diam saat ayeuna dicaci maki oleh keluargamu?"
" Dion, bukankah kau yang selalu ada disampingku?. Apa kau melupakan ancaman dari keluarga selin? yang mengatakan mereka akan menghabisi ayunan jika sampai aku aku tetap mempertahankan dirimu?. Harusnya kau tau perasaan ku, bayangkan jika dirimu yang ada di posisiku. Sanggup kah dirimu kehilangan orang yang yang sangat kau cintai?"
Dion terdiam, dia ingat betul saat papa selin mengatakan bahwa beliau tidak segan-segan membunuh ayuna jika Anjas masih tetap mempertahankan pernikahannya atau melindungi ayuna.
Anjas menyeka air matanya yang hampir menetes. Lalu dia beranjak pergi.
" Anjas kau mau kemana?" Tanya selin.
" Tentu saja aku mau pulang, Kau pikir aku akan di sini melihat perbuatan kalian?"
" Anjas dengarkan penjelasanku dulu." Ucap selin.
" Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, dan jangan khawatir orang tuamu tidak akan tahu hal ini sampai saatnya tiba."
Anjas keluar dari kamar itu, yang terhenti dan berbalik.
" Ohya aku lupa mengatakan, sampai jumpa di pengadilan. Aku sudah mengurus surat perceraian kita. Kita akan resmi bercerai begitu anak itu lahir, dan terbukti bahwa anak itu bukan darah daging ku."
Setelah mengatakan itu, anjas pergi.
" Dion..."
" Tapi Bagaimana jika dia benar menuntut cerai dariku?, apa yang harus aku lakukan, dan bagaimana jika orang tuaku tahu bahwa bayi ini bukanlah milik anjas?"
" Aku akan menikahimu."
" Tidak semudah itu."
" Selin, bagaimana pun juga bayi ini adalah milikku. Bertanggung jawab sepenuhnya kepadanya dan juga kepada dirimu."
Selin menangis, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia mencintai Anjas, tapi dirinya seakan terikat oleh Dion. Dan tidak bisa melepaskan diri.
Sementara itu dalam perjalanan pulang ke rumah, anjas tampak merenung memikirkan nasib buruk yang menimpanya.
" Apa anda baik baik saja tuan?" Tanya asisten anjas.
" Ya."
" Apa tuan ingin mampir ke bar dulu sebelum pulang?"
" Tidak, kita langsung pulang saja."
" Baik tuan."
...
Sementara itu dirumah sakit...
" Sayang, kau sudah bangun?" Tanya ayuna saat melihat gibran membuka mata.
" Mami.."
__ADS_1
" Ya sayang, kau membutuhkan sesuatu? makan? minum? "
Gibran menggeleng.
" Dimana papi dan ayah?"
" Papi sedang di luar untuk membeli makanan. Sudah pulang karena ayah akan menemani mama selin hingga mama selin melahirkan."
" Itu artinya Gibran akan segera mempunyai adik dari ayah anjas dan mama selin?"
" Iya sayang."
" Mami, Gibran bermimpi jika Gibran akan mempunyai adik kembar dari mami dan Papi."
Ayuna tersenyum.
" Gibran memang akan mempunyai adik sayang, tapi mami tidak tahu apakah adik itu kembar atau tidak." Ucap ayuna.
" Benarkah?, lalu dimana adik Gibran?"
" Ah itu, adik Gibran masih ada di perut mami."
Gibran melihat kearah perut ayuna.
" Tapi perut mami tidak besar seperti perut mama selin?"
Ayuna mengangguk leher nya.
" Mami, kenapa perut mami tidak membesar?"
" Itu..."
Ceklek...
Ayuna dan gibran menoleh, Bagas datang. Ayuna tersenyum lega.
" Anak papi sudah bangun."
" Papi, mami bilang jika gibran akan mempunyai adik. Tapi kenapa perut mami tidak besar?"
Bagas melihat ke arah ayuna. Ayuna tersenyum. Entah kenapa bagas merasa bahagia akan senyuman ayuna.
" Gibran ingin tahu kenapa perut mami belum membesar?"
Gibran mengangguk.
" Kalau Gibran ingin melihat perut mami membesar, maka gibran harus semangat untuk sehat kembali."
" Apa jika Gibran sembuh perut mami akan langsung membesar?"
" Tentu saja."
" kalau begitu, Gibran sudah sangat bersemangat untuk sembuh."
Bagas dan ayuna tersenyum. Mereka bertiga saling berpelukan.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1