
" Ayuna.."
Bagas segera menangkap tubuh ayuna, yang nyaris terjatuh ke lantai.
" Cepat bawa ayuna." Ucap Anjas.
" Ya, kau urus saja Gibran, dan pastikan permintaan terakhir Gibran terpenuhi. Aku akan mengurus ayuna." Ucap Bagas.
" Ya, jaga dia dengan baik. Dia pasti sangat terpuruk dengan kenyataan menyakitkan ini."
Bagas mengangguk. Lalu segera membopong tubuh ayuna.
Anjas memandang kepergian Bagas, lalu dia mulai memberi tahu dokter tentang pesan terakhir gibran.
Bagas mendekati ayuna, mencium kening nya dan menggenggam tangan nya.
Bagas sangat terpuruk dengan keadaan yang terjadi. Lalu dia teringat akan keluarga nya. Jadi Bagas segera mengambil ponsel dan menghubungi keluarga nya yang ada Indonesia.
Dan bisa di tebak, bagaimana terkejut nya mama dan papa bagas saat mendengar berita tentang Gibran .
" Bagaimana keadaan ayuna sekarang?" Tanya mama.
" Ayuna pingsan ma, dia terlalu syok dengan kepergian Gibran."
" Kami akan segera kesana."
" Tidak perlu, kami mungkin akan pulang beberapa hari lagi."
" Tidak. kami akan tetap kesana untuk menghibur ayuna."
" Baiklah, segera bersiap. Bagas akan menyuruh orang untuk menjemput kalian. Dan tolong beritahu juga andi perihal gibran."
" Baiklah."
Bagas mematikan telpon nya, lalu dia menelepon orang kepercayaan nya untuk menyiapkan keberangkatan keluarga nya menuju Singapura.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Ponsel ayuna. Panggilan dari bu sinta.
" Halo?" Ucap Bagas
" Halo, nak bagas begini kami sekeluarga sedang ada di Jakarta, tepatnya di rumah anak ibu, lukman. Jadi kami berencana mengunjungi ayuna dan gibran. Apakah boleh?"
Hati Bagas terasa teriris. Untuk sesaat dia terdiam. Tidak bisa membayangkan saat dia memberi tahu bu Sinta perihal gibran.
" Halo?, nak bagas?"
" Ah iya Bu.."
" Bagaimana?, apa boleh ibu berkunjung?"
" Boleh saja bu, tapi sebelum itu, Bagas akan memberi tahu sesuatu, ini tentang gibran."
" Katakan nak, ada apa dengan gibran?"
" Gibran..., gibran sudah tiada."
Prang...
Ponsel yang di genggaman bu Sinta terjatuh. Membuat suami dan menantu nya menghampiri bu sinta.
" Ibu kenapa?" Bagas mendengar dengan jelas suara wanita yang tak lain adalah menantu Bu Sinta.
Suami bu sinta mengambil ponsel.
__ADS_1
" Halo ayuna?"
" Ini Bagas pak?"
" Ah iya nak bagas, apa yang terjadi?. Ibu menjatuhkan ponsel nya dan dia terlihat syok."
" Bagas baru saja memberitahu bu sinta bahwa gibran sudah tiada."
" Apa? Tidak mungkin."
" Hiks hiks.. gibran..." Bagas mendengar suara bu sinta menangis.
" Pak, bagas tutup dulu telponnya, karena Bagas hendak mengurus ayuna yang masih pingsan."
" Ah iya nak."
Bagas mengusap wajah nya, lalu mendekati ayuna. Duduk disampingnya, menundukkan kepala menunggu ayuna tersadar sambil menggenggam tangan ayuna.
Sementara itu diruangan bayu. Sang papa dengan senyum mengembang memasuki ruangan dan memberi tahu sebuah kabar gembira.
" Sayang, akhirnya kita mendapatkan donor jantung untuk bayu."
" Benarkah?" Tanya mama bayu dengan mata berbinar-binar.
" Ya, dokter baru saja memberitahu papa, dan mengatakan ada seorang anak yang mendorongkan jantungnya untuk bayu. Dan setelah diperiksa jantung itu cocok dengan jantung bayu."
" Pa, ini adalah berita paling menggembirakan. Anak kita akan sehat."
" Iya sayang, anak kita akan sembuh dan akan tumbuh seperti anak normal lainnya."
" Iya pa.."
Kedua pasangan suami istri itu saling berpelukan. Dan mereka pun memberi tahu kabar gembira ini kepada bayu.
" Mama, ayo kita temui gibran, Bayu juga ingin memberi tahu gibran juga tentang berita baik ini." Ucap bayu.
Bayu mengangguk, lalu tak beberapa lama kemudian datanglah seorang dokter dan perawat yang memeriksa bayu, dan memastikan kondisi Bayu siap untuk melakukan transplantasi jantung.
Mama dan papa bayu, memeluk bayu sebelum bayu di bawa keruang operasi.
Lalu mereka segera memberi tahu kabar membahagiakan ini kepada keluarga. Mereka tidak tahu jika bayu mendapatkan donor jantung dari gibran.
Satu Minggu berlalu, Bagas dan ayuna masih ada dirumah sakit itu, karena kondisi ayuna yang tidak memungkinkan bagi bagas untuk membawa ayuna pulang ke Indonesia.
Ayuna tetap murung, dan sesekali histeris saat mengingat tentang gibran.
" Bagas..." Panggil ayuna, saat melihat bagas tidur di sofa.
" Ya sayang?, kau butuh sesuatu?" Tanya bagas.
Ayuna mengangguk. Bagas berjalan mendekati ayuna.
" Kau butuh apa?, makan?, minum?" Ucap Bagas sambil membawa gelas dan sebuah roti isi.
" Aku butuh gibran."
Bagas menatap ayuna, lalu menunduk. Ayuna tersenyum.
" Aku hanya bercanda, kemari aku sangat lapar." Ucap ayuna.
Bagas bahagia melihat senyuman ayuna. Lalu dengan semangat memberikan roti isi kepada ayuna.
Ayuna memakannya sampai habis, Bagas membersihkan sisa saus di ujung bibir ayuna.
" Kau ingin makan lagi?" Tanya bagas saat ayuna menghabiskan segelas susu.
__ADS_1
Ayuna menggeleng.
" Kau ingin jalan jalan ke taman?"
Ayuna menatap Bagas.
" Taman. Seperti yang selalu gibran minta." Ucap ayuna dengan air mata yang sudah siap terjatuh. Ayuna memejamkan mata.
Cup
Bagas mencium mata ayuna. Ayuna membuka mata, dan memeluk gibran.
" Hiks hiks hiks..., kenapa Tuhan menganugerahkan seorang putra yang sangat luar biasa kepada ku, jika dia berniat mengambil nya kembali."
Bagas tidak dapat berkata, dia hanya bisa mempererat pelukannya.
" Gibran adalah anak penurut, dia tidak pernah menyusahkan aku, bahkan sejak dulu dia tidak pernah meminta apapun. Dia adalah separuh nyawa ku. Tanpa nya, aku serasa ingin mati saja. Hiks hiks hiks."
Bagas melepaskan pelukannya, memegang kedua pipi ayuna.
" Hei, jika kau meninggalkanku, apalah artinya diriku?. Bagiku kau dan gibran adalah hidup ku. Karena kalian aku mempunyai tujuan hidup. Gibran sudah pergi, dan jika kau juga pergi. Hidup ku tidak akan ada artinya lagi.
Ayuna menatap Bagas.
" Dengar, raga Gibran memang sudah tidak ada lagi bersama kita. Tapi gibran akan selalu ada dalam hati dan ingatan kita. Gibran ada di setiap memori dan kenangan kita."
" Hiks hiks hiks.."
Ayuna kembali menangis dan memeluk Bagas.
" Mami..., gibran selalu ada bersama mami, jangan menangis lagi, gibran juga sedih jika melihat mami bersedih."
" Gibran?"
Ayuna melepas pelukannya, dan menatap sekitar.
" Ada apa?"
" Aku, aku merasa gibran ada disini. Dia..dia tidak ingin aku sedih."
Bagas tersenyum
" Lihat, bahkan gibran saja tidak ingin melihat mu bersedih. Jadi, apa kau masih mau terus terpuruk seperti ini?"
Ayuna terdiam.
" Ayo, sebaiknya kita jalan jalan, agar perasaan mu menjadi lebih tenang."
Ayuna terdiam, sebelum akhirnya mengangguk.
" Kalian mau kemana?" Tanya mama yang baru saja masuk.
" Aku akan membawa ayuna jalan jalan ke taman."
Mama bagas menatap ayuna, dan mencium pipinya.
" Kami selalu ada bersama mu, jadi jangan pernah merasa sendirian setelah kepergian Gibran."
Ayuna hanya membalas perkataan mama bagas dengan senyuman.
Lalu Bagas mendorong kursi roda keluar dari ruangan dan berjalan menuju taman.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...