LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Part untuk Anjas-Bella


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Bella. Jika sebelumnya Anjas sangat bersemangat menantikan hari ini, kali ini Anjas tidak lagi bersemangat karena dalam hati dan pikirannya hanya ada kata penolakan yang akan diucapkan oleh Bella.


" Anjas bangun kenapa kamu masih tidur apakah kamu tidak akan pergi ke kantor hari ini?"


" Tidak ma, Anjas merasa tidak enak badan." Ucap Anjas.


" Benarkah?, coba Mama periksa."


Rini lalu meletakkan telapak tangannya di atas dahi Anjas.


" Tidak panas kok."


" Panas ma."


" Yang mana?"


Anjas membuka selimut yang menutupi dirinya, dan menunjuk ke arah dadanya.


" Oh panas dalam."


Rini dengan sigap langsung mengambil gelas berisi air dan memberikan nya kepada Anjas.


" Minumlah."


" Apa?"


" Ayo minum, kamu bilang panas dalam kan?"


" Hufft "


Walaupun kesal, tapi Anjas tetap melakukan apa yang Rini perintahkan. dan meminum habis air di dalam gelas.


" Kau yakin hanya karena panas dalam kau tidak ingin pergi ke kantor?"


" Anajs hanya merasa harus istirahat sebentar mungkin nanti siang Anjas ke kantor." Ucap Anjas mencoba mencari alasan agar namanya berhenti menyuruhnya untuk pergi ke kantor, karena sebenarnya Anjas hanya ingin menghindari Bella untuk satu hari ini saja.


" Hmm, baiklah apa kau mau Mama buatkan sup hangat?"


" Tentu, terima kasih."


" Hmm, lekaslah menikah Anjas jadi saat kau sakit ada yang merawat."


" Anjas juga maunya begitu tapi mau bagaimana lagi jika calonnya saja tidak ada." Lirih Anjas


Rini yang hendak melangkah tiba-tiba berbalik lagi dan menatap Anjas.


" Apa kau tadi mengatakan sesuatu?"


" Tidak, Anjas tidak mengatakan apapun."


" Hmm, telinga Mama seperti mendengarkan mengatakan sesuatu. Ah, sudahlah mungkin karena mama semakin tua jadi kadang pendengaran Mama sedikit error."


" Pfft.."


" Kau menertawakan Mama?"


" Tidak, emm uhuk uhuk. Sudah cepat katanya mama mau membuatkan Anjas sup."


" Iya iya."


Sementara itu, yang baru saja tiba di kantor mencoba mencari mobil Anjas, namun mobil aja belum ada di parkiran kantor.


" Apa dia belum datang ya?"


Lalu Bella memberanikan diri kepada petugas yang berjaga diarea parkir.


" Permisi pak, apa mobil presiden kita sudah ada di sini?"


" Belum, saya belum melihat mobil Anjas memasuki halaman parkir."


" Hmm, terima kasih."


" Kenapa anda menanyakan tentang mobil presiden?"


" Ah tidak, saya hanya takut jika bapak presiden datang lebih dulu daripada saya karena saya lupa jika saya belum menyiapkan dokumen yang beliau minta."


Bella berdoa agar petugas parkir itu tidak curiga kepadanya.


" Hmm, ya sudah."


Bella tersenyum dan dapat bernafas lega, lalu dia segera masuk ke dalam lift dan menuju ruangannya.


Bella menunggu Anjas dengan hati berdebar-debar, namun pria yang ditunggunya itu tidak kunjung datang hingga waktu makan siang.


"Pak Danu, pak Anjas dimana?" Tanya Bella saat melihat danau ndak keluar untuk makan siang.

__ADS_1


" Bella, apa kau tidak tahu jika Anjas sedang istirahat di rumah dia izin tidak ke kantor."


" Pak Anjas sakit?, sungguh?"


Danu mengangkat kedua bahunya.


" Aku tidak tahu pasti, aku hanya menerima kabar itu setelah aku menelpon Anjas pagi tadi."


" Hmmm."


Danu menata Bella yang terlihat cemas.


" Apa kau tahu sesuatu?"


" Apa maksud mu?"


" Apa kau tahu penyebab Anjas menjadi sakit, apakah yang sudah ber ehem ehem?"


" Sembarangan. Udah ah, aku mau pergi." Ucap Bella yang kemudian berlalu meninggalkan Danu.


" Hei, dasar wanita. Tidak mengerti pria." Gerutu Danu.


Bella kembali ke ruangannya, dan mulai gelisah karena Anjas tidak mengangkat teleponnya ataupun membalas pesan yang dia kirim.


" Ya Tuhan, apakah Anjas benar-benar sakit?, apakah dia sakit karena perkataanku?"


Bella terus saja berpikir tentang Anjas, dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena memikirkan Anjas.


" Ya Tuhan, Kenapa jam ini sangat lambat." Ucap Bella saat dirinya sedang berada di ruang meeting.


" Huftt..."


Bella bernafas lega saat akhirnya meeting selesai.


" Bella, apa kau akan lembur malam ini?" Tanya Danu saat mereka bersama keluar dari ruang meeting.


" Ah tidak, Aku tidak akan lembur karena aku akan pulang sekarang."


" Eh kenapa?"


" Ada urusan penting." Ucap Bella setengah berteriak karena dirinya sudah berlari, bergegas meninggalkan kantor.


Bella segera menstop taksi.


Tok


tok


tok


" Haduh, menyusahkan saja. Sebenernya kamu itu sakit apa sih?, demam enggak." Ucap Rini, sambil meletakkan sebuah pancake durian di hadapan Anjas.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


" Ada apa?"


" Gimana nih, jadi gak kejutan nya?" Tanya suara diseberang sana yang tak lain adalah Danu.


Ya, Anjas telah memerintahkan Danu untuk membuat sebuah kejutan kecil namun romantis untuk melamar Bella.


"Batalkan saja." Ucap Anjas yang langsung menutup teleponnya dan meletakkan nya kembali di atas meja.


" Anjas, kamu itu sakit apa sih sebenarnya?, sakit gigi?"


" Sttt, bisakah Mama tidak berisik, Anjas semakin merasa sakit nih. Lihat saja kek siapa yang datang sore hari begini."


" Kenapa harus Mama, biarkan pelayan yang melihat nya." Ucap Mama.


Tap


Tap


Tap


Seorang pelayan mendekati meja dimana Rini dan Anjas berada.


" Siapa bik?" Tanya Rini saat pelayan itu sudah mendekat.


" Non Bella Nyonya."


" Uhuk uhuk."


Anjas terkejut saat mendengar bahwa yang datang adalah Bella.


" Hai Tante."

__ADS_1


Glek...


Anjas menoleh ke arah Bella.


Ya Tuhan kenapa jantungku berdebar-debar. Tidak, aku tidak boleh lagi terlalu terbawa suasana agar aku tidak kecewa jika jawaban yany yang akan aku dapat tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Batin Anjas.


" Bella, tumben sekali kamu datang kemari Ayo duduk." Ucap Rini setelah mereka melakukan cipika-cipiki.


" Ah iya terima kasih Tante."


" Jadi, Anjas beneran sakit?" Tanya Bella setelah dia duduk.


" Kata nya sih iya, tapi Tante tidak tahu Anjas itu sakit apa karena dia tidak demam badannya juga tidak panas."


Bella hanya tersenyum, karena Bella tahu sebenarnya Anjas menderita sakit apa.


" Ya sudah kalian ngobrol berdua ya akan Tante tinggal. Ohya Bella bisakah mulai sekarang kamu berhenti memanggilku tante. Panggil aku mama bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi istri Anjas?"


" Uhuk Uhuk.."


Anjas yang baru saja hendak meminum kopinya menjadi tersedak karena ucapan dari sang mama.


" Mama." Hardik Anjas.


" Tentu saja ma." Ucap Bella sambil melihat ke arah Anjas.


Tenang Anjas, tenang. Bella mengatakan itu pastilah untuk membuat mama senang. Bukan berarti dia sudah menerima lamaran mu. Batin Anjas.


" Jadi, katakan Kenapa kau tidak datang ke kantor hari ini?" Tanya Bella sesaat setelah Rini meninggalkan mereka berdua.


" Aku sedang sakit kan."


" Yakin?"


" Ya."


" Kau tidak berbohong?"


" Tentu saja tidak."


" kau tidak sedang menghindariku kan?"


" Apa maksudmu dengan menghindarimu?, apa alasannya jika aku harus melakukan itu."


" Ya siapa tahu, karena ini adalah hari ulang tahunku. Jadi kamu sengaja tidak datang ke kantor tidak mengangkat telepon foto pun membalas pesanku."


Glek.


Anjas menelan ludahnya kasar namun dia tetap berusaha untuk tenang.


" Anjas."


" Ya?"


" Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku akan menolak lamaran mu? hanya karena percakapan kita tadi malam itu?"


Anjas terdiam.


" Ayolah Anjas, serius?, apakah nama percakapan semalam kau jadi berusaha menghindariku?"


" Huft, memangnya apalagi yang bisa kuharapkan darimu. Kamu masih muda cantik, pastilah banyak pria yang mengidam-idamkan wanita sepertimu. Sedangkan aku, aku hanyalah seorang yang duda yang haus akan cinta."


" Tapi aku tetap mencintaimu walau kau duda, dan aku bersedia mengisi hari-harimu dengan cinta ku."


Anjas mendongak, dia menatap Bella.


" Apa artinya kau..."


Belum selesai Anjas meneruskan kata-katanya Bela sudah tersenyum dan mengangguk.


" Yuhu...., Yipi...."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2