
" Tara, apa yang akan kau lakukan?" Ucap Mesya yang tiba-tiba datang dan mengejutkan Tara yang sudah bersiap membuka pintu ruangan di mana Bagas sedang membahas pekerjaan bersama dengan rekan bisnisnya yang lain.
" Tentu saja aku akan mengantarkan minuman karena Kak Bagas sedang mengadakan rapat bersama rekan bisnisnya malam ini. Dan Aku tidak yakin jika kau tidak mengetahui tentang hal ini." Ucap Tara.
" Aku tahu, karena itu aku datang dan hendak mencegahmu untuk masuk ke dalam."
" Kenapa? aku kan hanya akan mengantarkan minuman " Tanya Tara.
" Kak Bagas tadi sudah memberitahu ku bahwa tidak perlu mengantarkan minuman, karena Kak Bagas dan rekan kerjanya akan makan malam setelah ini."
" Iya kan setelah meeting nanti. Mereka harus tetap mendapatkan minuman selama meeting kan." Ucap Tara.
" Tidak tidak, jangan."
" Kenapa sih, kalau aku tidak memberikan minuman ini kepada Kak bagadang rekan bisnisnya lalu apakah minuman ini harus aku buang?, kan sayang sekali kalau minuman ini harus dibuang." Ucap Tara.
" Bagaimana kalau minuman ini kita saja yang menghabiskan. Jadi minuman ini tidak akan terbuang dengan sia-sia kan, ayo."
Dengan cepat Mesya menarik tangan Tara untuk menjauh dari pintu ruangan di mana Bagas sedang melakukan meeting.
...Flashback on...
" Kak Ayuna sedang apa Kakak di sini?, dan apa yang sedang kakak lihat?"
" Mesya, kamu mengagetkan kakak saja."
" Kakak tumben ada di kantor, tidak lebih tepatnya Kenapa Kak ada di kantin kantor apa Kakak juga ingin membuat kopi?"
" Stttt, kemarilah dan lihatlah itu."
" Tara?"
" Iya."
" Memangnya kenapa dengan Tara, bukan kamu pekerjaannya memang seperti itu membuat kopi dan minuman untuk pegawai kantor yang lain?" Ucap Mesya.
" T9da6, kau tidak mengerti. Tara sudah di tidak diperbolehkan lagi bekerja di kantor Kak Bagas."
" Kenapa?"
Ayuna lalu menceritakan dengan singkat padat dan jelas apa yang terjadi tadi siang. Lalu alasan kenapa Ayuna ada di sini, dan mengikuti Tara hingga ke kantin kantor.
" Hmm, sepertinya aku tahu kenapa Tara ada di sini."
" Kenapa?"
" Dia pasti ingin menjebak Kak Bagas dengan obat perangsang itu."
" Astaga, kita harus mencegah nya."
" Kakak ipar tenangkan saja biarkan aku yang mengurusnya." Ucap Mesya.
" Kau yakin?"
" Ya, sebaiknya sekarang kakak ipar kembali dan menjaga anak-anak biarkan aku yang mengurus Tara."
" Kau memang bisa diandalkan." Ucap Ayuna.
...Flashback off...
Mesya lalu mengajak Tara untuk duduk di kursi ada di dekat balkon kantor.
" Nah, kita duduk di sini sambil menikmati 2 kopi yang hangat ini. Dan ya, Kenapa kau hanya membawakan dua kopi bukankah Kakak Bagas sedang bicarakan bisnis dengan 4 orang." Ucap Mesya.
" Benarkah, Aku kira Kak Bagas hanya meeting dengan satu rekan bisnis saja." Ucap Tara sambil meletakkan gelas kopi yang sudah berisi obat perangsang di depan Mesya.
" Tidak, Pak Bagas meeting dengan obat orang dan masing-masing dari mereka membawa serta keluarganya."
" Apa itu artinya Kak Ayuna dan anak-anak juga ada disini?"
" Ya. Dan setelah ini mereka akan makan malam bersama." Ucap Mesya sambil menukar gelas miliknya dengan milik Tara saat Tara melihat ke arah lain. Mesya tahu jika Tara memberi nya gelas yang berisi obat perangsang. Dan sepertinya Tara sengaja meletakkan gelas itu di hadapannya.
" Seperti itu, hmm ya ngomong-ngomong Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Mesya.
" Ya, Aku baru saja akan pulang lalu tidak sengaja melihatmu akan memasuki ruangan dimanakah pagi sedang melakukan pertemuan dengan beberapa rekan kerjanya untuk membahas kerjasama mereka yang baru." Ucap Mesya sambil menyeruput minuman yang ada di hadapannya, cara terlihat tersenyum saat Mesya meminum-minuman itu.
Tara berpikir sebentar lagi Mesya akan tersiksa dengan efek samping dari obat perangsang yang sudah tercampur dalam minuman yang baru saja diminum oleh Mesya, Tara tidak tahu jika dirinya lah yang akan tersiksa nanti.
" Hmm, aku pikir Kak Bagas meeting."
" Tidak, ini bisa dikatakan bukan meeting hanya sebuah pertemuan yang membahas kerjasama. Dan pertemuan ini ditutup dengan makan malam bersama dengan keluarga. Dan ya, Kenapa kamu ada di sini bukankah selama ini kau tidak pernah bekerja sampai malam?"
" Ah itu.."
Tara menyeruput kopinya sambil mencoba mencari alasan yang tepat.
" Karena aku merasa bosan di rumah jadi aku pikir untuk bekerja sampai malam."
" Begitu. Ya sudah kalau begitu aku akan langsung pulang apa kamu ikut pulang bersamaku?" Tawar Mesya.
" Tidak terima kasih aku bawa mobil tadi ke sini."
" Mobil?, Tara apa kau serius?. Kau datang kesini membawa mobil dan pekerjaanmu hanya staf kantin apa kau tidak malu dengan mobilmu?"
Tara terdiam, sejujurnya dia juga malu. Tapi rasa malunya itu kalah dengan obsesinya terhadap Bagas.
" Tara, apa kau pernah mengerti dengan istilah senjata makan tuan?" Ucap Mesya.
" Tentu saja aku tahu."
" Dan apakah pernah merasakan hal yang seperti itu?"
" Tidak."
__ADS_1
" Hmm, aku akan merasakannya sebentar lagi."
" Apa maksudmu?"
" Maksudku aku harus pulang sekarang karena aku sangat rindu dengan rumah dan tempat tidur yang nyaman, bye."
Setelah mengatakan itu Mesya segera mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Tara yang masih bingung dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh Mesya.
Tanpa pikir panjang lagi, Tara segera menghabiskan kopinya lalu membawanya kembali ke kantin kantor.
" Hmm, sepertinya malam ini bukanlah kesempatan ku untuk mendapatkan Kak Bagas. Hah kenapa aku sangat sial hari ini." Ucap Tara.
Tara melepas pakaian kantornya dan berganti dengan pakaian yang dia kenakan saat berangkat. Lalu Tara merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.
Sedangkan Mesya mengirim pesan kepada Ayuna, bahwa dia telah berhasil menggagalkan rencana Tara untuk menjebak Bagas dengan obat perangsang. Dan Mesya juga memberitahu Ayuna bahwa gelas yang berisi obat perangsang sudah diminum sendiri oleh Tara.
" Wow, Aku tidak menyangka jika Mesya akan melakukan hal itu. Membiarkan Tara meminum kopi yang berisi obat perangsang. Aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan para setelah dia merasakan reaksi dari obat itu ya?" Ucap Ayuna setelah dia selesai membaca pesan dari Mesya.
Tak lama kemudian, Bagas dan Lukman datang menemui Ayuna di ruang bermain.
" Hai sayang, apa anak anak merepotkan mu?" Ucap Bagas yang langsung menggendong Lio.
" Tidak, mereka sangat pintar jadi mereka tidak rewel dan tidak merepotkan ku sama sekali. Bahkan saat aku menggendong Putri mas Lukman mereka tidak marah."
" Uh anak Papi pintar. Kalau begitu ayo kita segera ke restoran untuk makan malam, aku sudah memesan meja serta makanan untuk kita semua." Ucap Bagas.
" Baiklah ayo, dan rekan bisnis mu yang lain apa dia tidak ikut?" Tanya Lukman, Jadi sekarang Lukman menggantikan posisi Diana. Karena Lukman meminta dia untuk diam di rumah dan merawat buah hati mereka.
" Tidak, karena mereka masih belum keluarga, Jadi mereka memutuskan untuk membuat pesta sendiri."
Lukman hanya ber O ria, dan langsung menggandeng tangan Gilang dan berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Bagas dan Ayuna.
Cup
Bagas yang sedari tadi menahan untuk tidak mencium Ayuna, kini langsung menyambar bibir mungil itu setelah memastikan Lukman dan istrinya benar-benar keluar dari ruang bermain.
" Sayang, kau nakal sekali ya.."
" Hehe, Aku tidak tahan dengan godaan bibirmu ini. Kenapa Kak harus mempunyai bibir yang seksi membuatku menjadi candu ingin selalu memakan bibirmu." Bisik Bagas.
" Sudah Ayo sebaiknya kita bergegas, kita tidak boleh membuat tamu dan rekan bisnis mu yang baru menunggu kan, itu akan memberikan kesan buruk di hari pertama kali yang melakukan perjanjian kerja."
" Ck, istriku ini memang sangat pintar, Ya sudah ayo." Ucap Bagas sambil mendorong kereta kembar.
Diperjalanan pulang setelah makan malam. Bagas tiba-tiba berhenti saat melihat mobil Tara berada di pinggir jalan.
" Kenapa sayang?, apa ada sesuatu yang lupa kita beli?" Tanya Ayuna yang heran karena bagus tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.
" Tidak, aku seperti melihat mobil Tara berada di pinggir jalan."
" Benarkah?"
" Ya."
Bagas lalu memundurkan mobilnya dengan perlahan hingga berada tepat di depan mobil Tara.
" Baiklah, dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati."
" Tentu."
Bagas lalu turun, menutup pintu mobil dengan hati-hati karena takut si kembar akan terbangun.
Bagas berjalan mendekati mobil yang diduga milik Tara, dan benar saja saat Bagas membuka pintu mobilnya terlihat Tara sedang berada di sana.
" Tara??"
" Kak Bagas."
Bagas langsung membopong tubuh Tara keluar dari mobil, bukannya menurut dan mengikuti Bagas keluar dari mobil. Tara justru menarik Bagas hingga Bagas terjatuh di atas tubuhnya.
" Kak Bagas tolong aku badanku rasanya sangat panas aku menginginkan sesuatu yang hangat." Lirih Tara.
" Tara apa yang sudah terjadi padamu Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?, apa kamu sakit atau kamu salah makan?"
" Tidak Kak, Aku menginginkan sentuhan. Aku sangat menginginkannya, rasa ini sudah tidak dapat tertahankan lagi." Ucap Tara yang langsung mencoba untuk mencium Bagas.
" Tara, sadarlah." Ucap Bagas yang terus saja menghindar dari keagresifan Tara.
" Tara." Bentak Bagas. Tara terdiam. Lalu dirinya memilih untuk pura-pura pingsan.
Bagas lalu membopong tubuh Tara dan membawa nya keluar menuju mobilnya. Ayuna yang melihat Bagas kembali dengan menggendong tubuh Tara langsung turun dari mobil dan membukakan pintu belakang mobil.
Dengan hati hati Bagas meletakkan Tara di kursi belakang mobil. Lalu Bagas kembali untuk memarkirkan mobil Tara dengan benar lalu menelpon orang suruhannya untuk membawa pulang mobil Tara.
Drtt drrrttt drrrttt
Ponsel Tara berdering.
" Hai sayang." Suara diseberang sana.
" Emm, maaf. Aku adalah sepupu Tara."
" Oh maaf, aku pikir Tara. Aku menghubungi nya untuk menanyakan Kenapa Tara sangat lama, karena aku sudah menunggunya cukup lama di rumah Tara."
" Ya, aku menemukan Tara berada di pinggir jalan dalam keadaan lemas."
" Oh baiklah, kalau begitu aku akan menjemputnya. Di jalan mana?"
" Ah, lebih baik kamu ke jemput Tara di rumahku, Aku akan memberimu alamat rumahku. Dan katakan juga kepada paman dan bibi untuk tidak perlu khawatir, sepertinya Tara hanya sedikit mabuk."
" Baiklah."
Panggil berakhir.
__ADS_1
Bagas membawa serta tas milik Tara, kemudian segera kembali ke mobilnya dan berjalan pulang.
" Sayang, apa kau sudah memberitahu paman dan bibi tentang Tara?"
" Tadi aku berniat memberitahunya, tapi ponsel Tara berdering. Seperti nya kekasih Tara yang menelepon."
" Lalu, apa dia mengatakan sesuatu?"
" Ya, Dia menanyakan kenapa Tara sangat lama, Karena dia sudah berada di rumah Tara."
" Lalu, apa yang kau katakan?"
" Ya Aku mengatakan mungkin Tara sedikit mabuk jadi aku menyuruhnya untuk menjemput Tara di rumah kita."
" Sayang, Kenapa kau mempercayakan orang lain untuk menjemput Tara, Jika ternyata pria itu berniat jahat kepada Tara dalam perjalanan pulang bagaimana?" Ucap Ayuna yang sedikit khawatir mengingat yang terjadi pada Tara akibat dari obat perangsang.
" Oh, Yudi tidak akan berani macam-macam."
" Yudi?"
" Ya, Yudi adalah kekasih Tara, bukan kekasih sih lebih tepatnya mereka dijodohkan, dan aku tidak tahu apakah Tara sudah menerimanya atau tidak."
" Hmm, begitu."
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah Bagas. Dengan hati-hati Bagas menurunkan kembar dan membantu Ayuna membawa kembar hingga menidurkannya di atas tempat tidur mereka, sebelum akhirnya Bagas kembali turun untuk mengangkat tubuh Tara.
Tara yang setengah sadar dan mengetahui dirinya sedang digendong seseorang. Dalam bayang Tara dirinya sedang berada dalam dekapan Bagas. Jadi dia semakin mendekap kepada Bagas. Bagas merasa buah dada Tara terlalu menekan tubuhnya. Kaos mini yang dipakai Tara, membuat Bagas dapat melihat dengan jelas belahan dada Tara saat dada nya menekan tubuhnya.
Bagas menghela nafas panjang mencoba untuk tidak tergoda dengan apa yang Tara lakukan.
Setiba nya di kamar, Bagas terletak Tara dengan hati-hati. Namun Tara justru megang tangan Bagas, saat Bagas akan keluar dari kamar.
" Tolong jangan pergi."
Bagas yang berpikir mungkin Tara sedang mengigau, memutuskan untuk tetap berada di sana hingga beberapa saat.
" Apa yang terjadi pada mu Tara, Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Samar samar Tara mendengar suara Bagas, dia membuka mata dan mendapati dirinya dan Bagas sedang berada di sebuah kamar.
" Apa ini hotel?" Tanya Tara yang langsung bangun dan mengalungkan tangannya ke leher Bagas.
Ayuna yang saat itu tengah memberi ASI pada bayi kembarnya, jadi tidak dapat melihat atau mungkin mencegah apa yang akan Tara lakukan kepada Bagas.
" Tara, apa yang terjadi padamu?" Ucap Bagas sambil melepas tangan Tara yang melingkar di lehernya.
" Aku tidak apa apa, hanya saja Aku ingin menjadi milikmu, Aku ingin bersatu denganmu. Aku merasakan sesuatu dalam tubuhku yang tidak dapat kutahan, Dan aku harap kamu dapat memuaskannya." Ucap Tara yang membuka kancing kemeja Bagas.
" Aku mohon kak Bagas, izinkan Aku."
" Tara."
Ting
Tong.
Suara bel pintu, dengan segera Bagas melepas dan sedikit mendorong para hingga terjatuh di atas kasur. Bagas langsung membuka pintu dan memerintahkan Yudi untuk segera membawa pulang Tara.
" Sebaiknya kamu cepat membawa pulang Tara sebelum gadis itu jadi menggila."
" Memangnya apa yang kita lakukan?"
" Aku rasa mungkin dia telah meminum obat perangsang."
" Benarkah?" Tanya Yudi..
" Ya, dia hampir saja memperkosaku."
" Pffft..."
" Jangan tertawa sudah sana bawa pulang dia. Dan Jangan lupa untuk mengurus dia dengan benar. Ingat dia adalah sepupuku jangan sampai kamu menyakitinya." Ketus Bagas.
" Iya iya."
Yudi lalu segera masuk dan membopong tubuh Tara. Yudi adalah teman di masa kuliah Bagas, mereka lalu berpisah karena Yudi memilih melanjutkan studi ke Inggris. Dan Bagas juga sedikit terkejut saat tahu Yudi teman lamanya yang akan dijodohkan oleh Tara.
" Terima kasih karena sudah menjaga dan memastikan calon istriku baik-baik saja." Ucap Yudi setelah Dia memasukkan Tara ke dalam mobil.
" Sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi semua anggota keluargaku."
" Kalau begitu aku aku langsung pulang saja, orang tua Tara sepertinya sangat khawatir."
" Ya."
Bagas memandang kepergian mobil Yudi, Bagas menghela nafas membayangkan apa yang baru saja akan Tara lakukan.
" Ayuna pasti akan sangat terkejut jika akan menceritakan kelakuan Tara yang hampir saja memperkosaku kepadanya. Hmm, tapi sepertinya hal ini akan menarik jika dibahas sekarang. Terutama malam yang sangat dingin ini." Ucap Bagas yang langsung masuk dan mengunci pintu.
Lalu Bagas segera naik ke atas dan membuka pintu dengan perlahan-lahan.
Bagas mendapati Ayuna baru saja selesai menyusui kedua buah hatinya.
Bagas menarik Tirai yang ada di tengah-tengah antara ranjang tidur miliknya dengan milik kembar. Lalu Bagas segera menggendong tubuh Ayuna dan meletakkannya di atas kasur.
" Bagas, apa yang akan kau lakukan?"
" Sttt, diam dan nikmatilah saja." Ucap Bagas sambil mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
" Sayang., aku bahkan belum siap-siap." Pekik Ayuna.
" Tidak apa-apa, terkadang sesuatu yang mendadak jujur lebih nikmat." Ucap Bagas.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...