LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Part Panjang 2


__ADS_3

" Tara.."


Glek.


Tara menelan ludah nya dengan kasar, karena mendapat tatapan tajam dari kedua orang tua nya.


" Tunggu, kenapa kalian terkejut. Apa kalian tidak tahu soal Tara bekerja di kantor Bagas?" Tanya Ayuna.


" Tentu saja tidak. Sebenarnya Tara sudah lulus kuliah beberapa bulan lalu. Tapi dia mengatakan ingin meneruskan pendidikan nya, karena sangat terobsesi menjadi model yang bisa go internasional." Terang Bibi.


" Ya, dan kami hanya mengetahui bahwa Tara menjadi model fashion show." Imbuh Paman.


" Maafkan Tara Ma, Pa. Sebenarnya Tara tidak lagi menjadi model. Karena Tara tidak ingin merepotkan Mama dan Papa. Jadi Tara mendatangi kantor Kak Bagas untuk meminta pekerjaan. Dan Tara senang walaupun Tara hanya sebagai staf kantin."


" Tapi sayang, kamu itu calon direktur perusahaan Papa dan Mama. Apa jadinya jika rekan kerja Papa dan Mama mengetahui bahwa kamu bekerja sebagai staf kantin di perusahaan keponakan Papa dan Mama. Itu sangat memalukan sayang. Mama dan Papa tidak bisa menerima nya. Mulai besok kamu tidak perlu lagi bekerja. Karena mulai besok kamu akan mulai belajar menjalankan perusahaan Mama dan Papa." Terang Bibi


" Tapi..."


" Tidak ada tapi, pembahasan ini cukup sampai disini. Sekarang Papa ingin bermain bersama kembar " Tegas Papa yang kemudian mengambil Lio dari pangkuan Bagas.


Tara tersenyum kecut. Sedangkan Ayuna menikmati pemandangan raut wajah Tara yang terlihat sangat kesal.


Satu jam kemudian, Paman dan Bibi serta Tara pamit untuk pulang.


" Bagas ingat, jika Tara besok masih bekerja di kantor mu pecat saja dia. Karena setelah ini aku akan mengajak antara untuk memimpin sebuah perusahaan."


" Tentu Paman."


" Nak, maaf ya Jika selama ini telah merepotkan kalian." Ucap Bibi kepada Ayuna.


" Tidak apa apa bi. Kami sangat senang jika Tara datang ke sini karena Tara sangat membantuku menyelesaikan rumah."


" Benarkah?, apakah yakin cara melakukan pekerjaan rumah selama bekerja di rumahmu?" Tanya Bibi yang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ayuna.


" Iya, Aku tidak pernah menyuruh Tara untuk melakukannya. Tapi Tara sendiri yang bersedia melakukan pekerjaan rumah."


" Wow, aku sedikit terkejut karena jika di dalam rumah Tara tidak mau sama sekali menyentuh pekerjaan rumah walaupun itu hanya menuang air ke dalam gelas."


" Benarkah?"


" Ya, Tara adalah pribadi yang manja sejak dulu. Tapi kami tidak pernah mempermasalahkan itu karena kami sangat menyayangi Tara. Kami percaya suatu saat nanti kau akan mengerti dengan sendirinya kodrat sebagai wanita. Walaupun sibuk dengan dunia karir tapi tetap harus merawat keluarga."


" Iya Bibi benar, semoga setelah ini Tara mendapatkan jodoh yang dapat membimbing Tara menjadi wanita yang menyayangi keluarga, yang bisa merawat keluarga dan melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Dan menjadikan Tara wanita paling bahagia di dalam keluarga yang dibangun bersama dengan suaminya."


Bibi tersenyum, dan mengusap lembut bahu Ayuna.


" Ya, Bibi juga sangat berharap hal itu akan didapatkan oleh Tara. Tapi, untuk sekarang Bibi akan mengajarkan Tara untuk menjadi direktur yang baik sebelum dia bisa mencari pasangan dan fokus pada keluarga. Karena tidak ada kebahagiaan yang lebih bahagia daripada memiliki keluarga dan merawat."


" Bibi benar, tidak ada hal yang paling membahagiakan selain memiliki keluarga merawat keluarga itu agar tetap utuh." Ucap Ayuna sambil melihat Bagas yang terlihat menggendong Lio dan berdiri di samping mobil Paman.


" Kalau begitu Bibi pamit dulu ya kapan-kapan paman dan bibi akan main lagi untuk bertemu dengan si kembar."


" Tentu Bibi, pintu rumah kami selalu terbuka untuk siapapun yang akan datang berkunjung dan bermain bersama si kembar."


" Kau manis sekali, seandainya dulu putriku masih hidup mungkin dia akan sebesarnya semanis dirimu."


" Ah bibi.."


Ayuna lalu memeluk Bibi, sebelum Akhirnya Bibi masuk ke dalam mobil menyusul Tara dan juga Papanya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.


" Bye.."


Ayuna dan Bagas melambaikan tangan ke arah mobil paman yang mulai berjalan meninggalkan halaman rumah. Ayuna lalu mengambil Lia yang berada dalam kereta bayi, menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


" Hmm, Aku tidak menyangka jika Tara tidak memberitahu paman dan bibi soal pekerjaannya." Ucap Bagas saat dirinya tengah bersantai bersama Ayuna, setelah Ayuna selesai menidurkan si kembar.


" Mungkin Tara memiliki alasan sendiri kenapa dia tidak memberitahu orang tuanya." Ucap Ayuna sambil meletakkan gelas kopi di hadapan Bagas.


" Tapi cukup aneh memang jika diingat-ingat. Tara termasuk anak dari keluarga kaya. Anak cabang dari perusahaan paman dan bibi sangat banyak. Tapi Kenapa dia justru mau saja saat aku menjadikan dia staf kantin."


" Mungkin Tara memiliki niat tersembunyi Kenapa dia mau mau bekerja di kantor.,"


" Entahlah, daripada kita pusing-pusing memikirkan cara bagaimana kalau kita memikirkan teman kita sendiri." Ucap Bagas.


" Boleh, apa yang mau kita bicarakan. Masa depan anak-anak atau hari tua kita?" Tanya Ayuna.


" Bagaimana kalau rencana bulan madu kedua kita."


" Astaga, kau masih saja menginginkan kita untuk bulan madu?. Bukankah kita hampir setiap hari berbulan madu, walaupun tidak senikmat dulu karena kembar selalu saja menangis di sela-sela permainan kita." Ucap Ayuna yang tersipu malu jika mengingat momen di mana disaat permainan mereka hampir sampai di puncaknya atau permainan mereka sedang dalam mode panas kembar selalu saja menangis karena merasa haus dan lapar.


" Karena itulah aku menginginkan bulan madu kedua kita, selain untuk meningkatkan keharmonisan di antara kita berdua. Bulan madu kedua merupakan momenn kita untuk mengingat masa-masa saat kita baru saja menikah."


" Tapi, aku masih merasa kasihan kepada kembar jika kita harus meninggalkannya mereka. Mereka kan masih kecil, mereka masih butuh asupan ASI yang banyak. Dan kita sudah membahas ini berulang kali bahwa aku akan berusaha semampuku untuk tetap memberi ASI kepada bayi kita."

__ADS_1


" Ayuna sayang, kau selalu saja begitu di setiap kita membahas rencana bulan madu kedua. Kau tidak menangkap poin yang aku maksud. Aku memang menginginkan kita untuk melakukan bulan madu kedua, tapi bukan berarti aku memaksamu untuk memberikan susu formula kepada kembar. Tapi, aku hanya menginginkan sebuah rencana. Tidak ada salahnya kan kita merencanakan dulu dari sekarang. Kita akan berbulan madu ke mana nantinya, dan konsep seperti apa yang kita inginkan."


" Ah..jadi begitu?"


" Iya begitu."


" Ya sudah kalau begitu ayo kita mulai merencanakan."


" Aku sudah tidak berselera karena aku sekarang sedang menginginkan bulan madu tanpa rencana."


Bagas langsung berdiri dan mendatangi Ayuna, di sana pegas langsung mencium Ayuna. Jadilah mereka melakukan permainan itu di ruang santai.


..


Sementara itu, Tara langsung masuk kamar begitu dia sampai di rumah. Dia sangat kesal karena orang tuanya tahu tentang statusnya yang bekerja sebagai staf kantin di perusahaan Bagas, jauh sebelum Tara berhasil menaklukkan hati Bagas.


" Aku harus bisa mendapatkan hati kak Bagas, Aku harus bisa tidur dengannya. Tidak ada yang bisa menolak tubuh ku yang sangat seksi ini." Ucap Tara sambil berdiri di depan cermin, mengagumi keindahan lekuk tubuhnya.


Malam harinya, Tara berpamitan akan menginap di rumah temannya untuk terakhir kali sebelum dia fokus menjalani pekerjaan sebagai calon direktur.


" Baiklah, asal kau berjanji tidak akan membuat ulah lagi." Ucap Papa.


" Tidak Papa, Aku berjanji aku hanya akan bermain dengan teman-teman ku."


" Baiklah."


Tara mencium pipi kedua orang tuanya lalu segera melajukan kendaraannya pergi meninggalkan rumah, bukan ke rumah temannya tapi menuju kantor Bagas. Tara tau bahwa malam ini Bagas akan melakukan pertemuan dengan rekan kerjanya. Sayang nya Tara tidak tahu jika Bagas dan rekan kerjanya sama-sama membawa keluarga mereka masing-masing.


Dikantor, Ayuna sungguh terkejut saat mengetahui rekan bisnis dari Bagas adalah Lukman, anak Bu Sinta.


" Loh Ayuna?"


" Mas Lukman?"


Bagas memandang Ayuna dengan tatapan terkejut, begitu juga istri Lukman. Diana. Pasalnya Diana belum pernah sekalipun bertemu dengan Ayuna secara langsung, dia hanya mendengar cerita dari Lukman dan juga Bu Sinta.


" Wah, aku tidak menyangka bahwa kamu lah istri dari Pak Bagas." Ucap Lukman.


" Tunggu, sayang apa kau sudah mengenal pak Lukman?" Tanya Bagas kepada Ayuna


" Sayang, dia adalah Lukman yang sama yang pernah aku dan Gibran ceritakan."


Bagas terdiam, mencoba mengingat kembali kejadian dulu.


" Wah tidak menyangka, kita akan dipertemukan dengan cara seperti ini." Ucap Lukman.


" Iya Bener. Kalau begitu, Ayo kita bicarakan soal kelanjutan kerja sama kita. Biarkan para istri dan anak-anak menunggu di ruang yang sudah saya sediakan." Ucap Bagas.


" Tentu, mari.."


Mereka kemudian langsung memasuki ruangan khusus yang di sulap Bagas sebagai ruang bermain untuk anak-anak.


" Wow, Aku tidak menyangka bahwa di kantor anda ada ruangan seperti ini ruang khusus bermain untuk anak-anak." Ucap Diana yang kagum.


" Ah Anda terlalu berlebihan, ini dulunya adalah gudang. lalu aku menyuruh beberapa petugas untuk membersihkan dan mengisi ruangan itu dengan mainan agar saat aku mengajak istri dan juga anakku ke kantor mereka tidak merasa bosan."


" Manis sekali." Puji Ayuna.


Bagas tersipu malu, bibirnya sudah terasa gatal ingin mencium Ayuna, kalau saja saat itu tidak ada Lukman dan istrinya Bagas mungkin sudah melahap bibir Ayuna.


" Ayo Kak Diana kita masuk dan sementara mereka meeting." Ucap Ayuna.


" Iya."


Ayuna lalu menurunkan Lia dan Lio yang sedari tadi berada di dalam kereta bayi dan meletakkan mereka di matras empuk agar mereka bisa dengan leluasa berguling-guling sesuka hati.


" Wah sudah pintar berguling-guling ya?" Ucap Diana.


" Sudah kak, ohya siapa nama gadis kecil yang cantik ini?"


" Aulia.."


" Nama yang bagus."


Diana tersenyum.


" Mama, di mana Gibran?" Tanya Gilang.


Diana dan Ayuna saling menatap.


" Maaf, aku belum memberitahu Gilang soal Gibran, karena setiap kali aku akan memberitahu Gilang tentang Gibran, dia selalu saja sangat bersemangat dan menceritakan kegembiraan yang pernah mereka lalui dan juga rencana yang akan dilakukan jika mereka bertemu lagi. Belum lagi Gilang yang kini sekolah asrama. Membuat aku dan mas Lukman sangat sulit untuk memberitahu kebenaran tentang Gibran."


" Tidak apa apa, biarkan aku yang berbicara kepada Gilang, apakah boleh?" Ucap Ayuna.

__ADS_1


" Tentu, silahkan."


" Gilang sayang, kemari.."


Gilang menurut dan langsung duduk disebelah Ayuna.


" Tante, kenapa Tante tidak mengajak Gibran?, apakah Gibran nakal sehingga dia dikurung di rumah?"


Ayuna menatap Diana yang terlihat menahan tawa.


" Maaf, kami mengajarkan kepada Gilang bahwa jika dia nakal maka dia akan dikurung dan ditinggalkan di rumah sendirian." Bisik Diana.


" Oh begitu." Ucap Ayuna dengan senyuman.


" Gibran tidak nakal, tapi Gibran adalah anak yang baik. Karena Gibran terlalu baik jadi Tuhan memutuskan untuk mengambil Gibran dan menempatkannya di salah satu rumah megah milik Tuhan yang ada di atas sana."


" Apa Gibran akan kembali?"


" Tidak, Gibran tidak akan kembali lagi karena dia sudah bahagia di atas sana. Dan siapapun yang sudah tinggal di rumah megah milik Tuhan tidak akan pernah kembali ke dunia kita lagi."


" Hmm, padahal Gilang sudah merencanakan banyak sekali permainan untuk Gilang lakukan bersama dengan Gibran."


Gilang terlihat menunduk, Ayuna merasakan kesedihan Gilang.


" Sayang, tante tahu jika Gilang juga merasa kehilangan. Tante juga merasakan hal yang sama, tapi apakah Gilang tahu jika Gibran tidak suka dan Gibran akan sangat bersedih jika kita bersedih karena kepergiannya."


" Dari mana tante tahu?"


" Gibran pernah mendatangi tante dalam dunia mimpi, dan dia mengatakan bahwa Gibran sangat bersedih dan tidak bisa hidup dengan tenang kita melihat tante ataupun orang lain yang menyayanginya menangis di dunia ini. Jadi apakah kamu akan membuat Gibran sedih?"


Gilang menggeleng.


" Kalau begitu Jangan bersedih, bilang kan masih bisa bermain dengan adik Gibran Lia dan Lio. Dan jika Gilang mau memperhatikan Lio sangat mirip dengan Gibran."


Gilang terlihat memperhatikan Lio. Leo yang seakan tahu jika dia sedang diawasi oleh Gilang, justru menatap balik Gilang dan tersenyum kepadanya.


" Mama lihat, Lio tersenyum padaku."


" Mungkin dia tahu jika kau ingin bermain dengannya."


Gilang tersenyum lalu kemudian menggeser tempat duduknya hingga berada di dekat Lio.


Ayuna dan Diana lalu bercerita banyak hal, sambil terus mengawasi anak-anak. Lalu, mata Ayuna menangkap seseorang mirip Tara.


" Emm Kak Diana bolehkah aku menitip lihat dan Lio sebentar?"


" Kau mau kemana?"


Ayuna terlihat mencari-cari alasan, karena tidak mungkin dia mengatakan akan pergi ke toilet karena di ruangan itu sudah ada toilet.


" Tadi aku melihat seseorang yang masuk dan terlihat kebingungan. Mungkin seseorang itu baru di kantor ini dan tidak tahu jalan. Dan aku seperti mengenal seseorang itu."


" Baiklah, aku akan menjaga anak-anak untuk mu."


" Terima kasih Kak, aku akan segera kembali."


Diana tersenyum, lalu Ayuna segera berjalan cepat mengikuti langkah kaki Tara hingga berhenti di sebuah ruangan yang bisa disebut ruang kantin kantor.


Di ruangan itu, ada beberapa pegawai kantin dan juga pegawai kantor yang tengah menikmati secangkir kopi.


Dengan langkah santai, Ayuna mengikuti Tara hingga ke belakang.


Ayuna melihat Tara sedang membuatkan minuman dan mencampurkan sesuatu ke dalam minuman itu.


" Apa yang dicampur kan Tara ke dalam minuman itu?, dan akan dia berikan kepada siapa minuman itu?" Lirih Ayuna.


Lalu Ayuna langsung bersembunyi begitu melihat Tara akan keluar dari ruang tempat membuat kopi.


" Tara?, Kenapa dia memakai pakaian staf kantin?. Bukankah dia sudah tidak diperbolehkan lagi bekerja disini? Dan ke mana dia akan pergi dengan membawa 2 gelas kopi itu?"


Karena penasaran Ayuna mengikuti Tara dari belakang. lalu Ayuna mengingat jika Bagas dan Lukman sedang meeting untuk membahas kerjasama mereka.


" Ya Tuhan, apa mungkin Tara sudah mencampur obat itu dengan obat perangsang dan akan memberikan minuman itu kepada Bagas?"


Ayuna lalu melihat Tara yang tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan di mana Bagas dan Lukman berada.


" Oh tidak.."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2