
" Kakak ipar, kakak ipar. Gibran... Gibran, dia...dia..."
Mesya mendatangi ayuna dengan nafas tersenggal-senggal.
" Mesya, ada apa?"
"Gibran.., kakak ipar. Gibran."
" Iya gibran kenapa?"
" Dia...dia..., gibran mimisan. Darah yang keluar banyak."
Deg !!!
Jantung ayuna terasa berhenti berdetak.
" Gibran, tidak jangan lagi...,"
Ayuna segera berlari menuju taman, karena tadi dia melihat Gibran sedang menaiki motor listrik nya dengan ditemani mesya, nisya, dan nasya.
" Gibran..." Teriak ayuna saat mendapati Gibran sedang ada dipangkuan nasya.
" Kakak ipar.." Ucap nisya.
" Gibran kenapa sayang?" Tanya ayuna saat dirinya sudah ada di hadapan gibran.
Gibran tidak menjawab, pandangan mulai memudar..
" Mami.." Panggil gibran.
" Ya sayang?"
" Gibran.."
" Gibran kenapa sayang?"
" ...."
Belum selesai Gibran berbicara dia sudah pingsan, sontak saja hal itu membuat ayuna menjadi panik. Begitu juga dengan mesya dan kembar, mereka tak kalah panik saat mendapati gibran pingsan.
" Gibran... gibran..."
Ayuna mengguncang-guncangkan tubuh Gibran, dan menepuk-nepuk pipinya dengan lembut.
" Gibran?, Sayang, bangunlah. Gibran Kenapa sayang Gibran bangun Gibran."
Ayuna mulai terisak.
" Mesya ayo kita segera membawa gibran kerumah sakit, Nisha telepon papi Gibran. Nasya beritahu mama papa jika kakak dan mesya membawa gibran ke rumah sakit." Ucap ayuna yang langsung menggendong tubuh Gibran. Sedangkan mesya langsung berlari mengambil mobilnya.
Tin
Tin
Ayuna segera berlari sambil menggendong Gibran begitu melihat mobil mesya.
" Gibran bertahan lah sayang.,"
Mesya segera berkendara dengan kecepatan tinggi.
" Lebih cepat mesya, lebih cepat."
Ditempat lain, bagas yang sedang bersiap meeting mendapati ponsel berdering.
" Nisya?, ada apa? kakak sedang bersiap untuk meeting. Nanti saja telpon nya." Tanya Bagas.
"Kak Bagas tunggu ini penting tentang Gibran."
" Gibran. Ada apa dengan Gibran?"
" Gibran dibawa ke rumah sakit."
" Apa?, kenapa?"
__ADS_1
" Kami tidak tahu, awalnya gibran bermain biasa lalu dia memegang kepalanya dan dari hidungnya keluar darah. Setelah kakak ipar datang gibran pingsan. Jadi kakak ipar dan kak mesya membawa gibran ke rumah sakit."
" Rumah sakit mana?"
" Medical Center."
" Baik, kakak akan segera kesana."
Tut
Setelah mematikan panggilan, dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Bagas segera mengambil jas dan bersiap untuk pergi.
" Bagas kau sudah siap, kita akan meeting seka...., kau mau kemana?" Tanya sekertaris Bagas.
" Wakilkan diriku dalam meeting, atau batalkan saja, ada hal yang lebih penting yang harus aku urus sekarang. Putraku masuk rumah sakit." Ucap bagas sambil memakai jas nya.
" Oke."
Tanpa panjang lagi, Bagas segera keluar dari ruangannya. Dia berjalan tergesa-gesa hingga tidak sengaja menabrakan andi.
Brug !!
" Bagas, kau mau kemana?. Bukankah sebentar lagi kau akan meeting?" Tanya andi.
" Aku tidak bisa meeting. Aku harus pergi sekarang. Gibran masuk ke rumah sakit."
" Apa?, kenapa?"
" Aku juga tidak tahu, aku baru saja mendapat kabar dari nisya. Karena itu aku akan kesana sekarang. Ayuna dan adikku sudah membawa Gibran ke rumah sakit."
" Dirumah sakit mana?, aku akan datang nanti bersama sisil."
" Medical Center. Aku harus pergi sekarang." Ucap bagas.
Andi menepuk-nepuk bahu Bagas, lalu Bagas segera pergi menuju lift.
Di mobil, Bagas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
..
" Sayang kau mau kemana?" Tanya anjas saatn melihat selin berpakaian rapi dan membawa tas.
" Suamiku sayang. Apa kau lupa hari ini adalah jadwal kita untuk memeriksakan twins." Ucap selin sambil tersenyum ke arah anjas.
" Astaga, aku lupa. Baiklah Tunggu sebentar aku akan siap-siap."
Tak beberapa lama kemudian, anjas sudah siap pergi mengantar selin.
" Selin, bagaimana kalau kita priksa kandungan mu ke klinik temanku saja. Temanku baru saja meresmikan klinik pribadinya. Dia juga seorang dokter obgyn."
Selin gugup, jantung nya berdetak kencang. Selin harus mencari alasan agar mereka tetap memeriksa kan kandungan di dokter yang sudah bekerjasama dengan dion.
" Bagaimana? kau mau?" Tanya anjas lagi, saat mendapati selin tetap terdiam.
" Ah tidak tidak. Kita periksa di dokter yang biasa saja, lagipula tidak baik jika kita berganti-ganti dokter, biasanya prediksinya menjadi berbeda."
" Benarkah?"
" Ya, sebaiknya kita tetap periksa di rumah sakit medical Center."
" Baiklah."
Akhirnya anjas mengalah, anjas melajukan kendaraannya menuju rumah sakit medical Center.
Sementara itu, ayuna dan mesya yang barusaja tiba di rumah sakit langsung meminta pertolongan dari dokter dan suster.
" Gibran bertahan lah sayang." Ucap ayuna yang ikut mendorong brankar dorong yang ada di rumah sakit.
" Maaf bu, anda tidak boleh masuk." Ucap salah seorang perawat yang kemudian menutup pintu IGD.
" Gibran.."
" Kakak, tenang lah."
__ADS_1
Mesya memeluk ayuna, ayuna menangis dalam pelukan mesya.
" Kakak ipar tenanglah. Gibran pasti akan baik-baik saja. Dan semoga saja gibran tidak menderita sakit yang parah."
Tak lama kemudian, Bagas datang.
" Ayuna?"
Ayuna menoleh,
" Bagas..."
Ayuna beralih memeluk bagas.
" Apa yang terjadi?" Tanya Bagas.
" Aku juga tidak tahu aku sedang membersihkan kamar Gibran, lalu tiba-tiba Mesya datang dan mengatakan jika hidung gibran mengeluarkan darah. Aku, aku takut Bagas, aku takut terjadi sesuatu pada Gibran."
" Stttt, tenanglah. Gibran pasti baik baik saja."
Ayuna memeluk bagas, lalu dirinya seperti pernah ada dalam posisi Sekarang.
" Dejavu..." Ucap ayuna
" Apa?" Tanya bagas.
" Bagas, aku seperti pernah mengalami kejadian ini. Kejadian di mana kita menunggu di rumah sakit, karena sakit yang sebelumnya diderita Gibran kembali lagi."
" Ah sayang, kau terlalu mengkhawatirkan gibran. Berdoa saja agar gibran baik baik saja."
" Hiks hiks...hiks hiks..."
Ayuna kembali menangis, dia takut
jika penyakit yang pernah di derita gibran.
" Ayo kita duduk, dan menunggu dokter memeriksa Gibran, semoga tidak ada sakit yang serius." Ucap bagas.
" Ya semoga saja."
Mereka bertiga pun menunggu di depan ruang IGD dengan harap-harap cemas.
Sementara itu, anjas yang barusaja selesai menemani selin periksa kehamilan, mulai menemukan keganjalan. Dimana setiap kali Anjas ingin diperlihatkan jenis kelamin dari kedua bayinya, dokter selalu beralasan, terkadang Selin juga yang mengatakan jika dia tidak ingin tau jenis kelamin anak nya, biarlah menjadi sebuah kejutan saja.
" Selin, kamu merasa aneh tidak sih dengan dokter itu?" Tanya anjas, sesaat setelah mereka keluar dari ruangan dokter obgyn.
" Aneh bagaimana maksud kamu?" Tanya selin pura pura tidak tahu.
" Ya, Kenapa setiap Aku ingin melihat kedua bagi kita dokter itu selalu mengatakan jika yang di layar adalah 2 orang baik. Padahal aku jelas-jelas tahu di layar hanya ada satu."
" Emmm, emm itu. itu,"
Selin berusaha mencari alasan, lalu matanya tidak sengaja menangkap sosok ayuna.
" Eh itu bukannya ayuna ya?" Ucap selin sambil menunjuk ke arah ayuna.
" Iya kau benar, ada Bagas juga. Sedang apa mereka di sini ya?"
" Ayo kita datangi mereka dan mencari tahu." Ajak selin. Anjas mengangguk, selin tersenyum lega, akhirnya dia terbebas dari kecurigaan Anjas.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa ...
...like...
...komen...
__ADS_1