
Sesampainya ditaman, Ayuna memejamkan mata, membiarkan angin menerpa wajahnya. Bagas duduk di kursi yang ada di sebelah Ayuna. Memberi sedikit ruang kepada ayuna untuk memenangkan hatinya.
Cup
Ayuna merasa ada seseorang yang memeluk dan mencium pipinya, dan Ayuna merasa seakan dirinya mendengar bisikan gibran.
" Gibran bahagia jika mami tidak lagi bersedih."
Dengan gerakan kilat, Ayuna membuka mata. Ayuna menoleh ke arah Bagas. Bagas yang khawatir langsung menghampiri Ayuna.
" Ada apa sayang ?" tanya Bagas.
" Apa kau mendengarnya?"
" Mendengar apa?"
" Suara gibran."
" Tidak."
" Gibran ada di sini, dia berada diantara kita." Ucap Ayuna.
" Ayuna, kau.."
" Kemarilah"
Ayuna menarik tangan Bagas sebelum melanjutkan kata-katanya. Bagas menurut dia mendekat kepada Ayuna dan berlutut.
" Sekarang tutup matamu, biarkan angin masuk ke dalam pori-pori kulit." Ucap Ayuna.
Bagas menutup mata, melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh Ayuna.
" Papi tolong jaga dan bahagiakan mami."
" Ha?"
Bagas membuka matanya, dia akan mendengar suara Gibran.
Ayuna membuka mata dan tersenyum.
" Sudah aku bilang kan Gibran ada di sini dia bersama kita." Ucap Ayuna.
" Gibran dimanapun kamu berada, mami dan papi akan selalu menyayangimu. Kau adalah anugerah terindah yang pernah dimiliki oleh Mami, kau adalah pelita kehidupan mami." Ucap ayuna sambil menutup mata.
Lalu ayuna merasa seseorang memeluk nya.
" I love you son." Ucap ayuna.
Lalu perasaan nyaman saat dipeluk itu pun hilang. Ayuna membuka mata dan menyeka air matanya.
Di saat bersamaan, mama Bayu yang baru saja menebus obat melihat Ayuna dan Bagas yang berada di taman. Dia lalu berinisiatif untuk menghampirinya, dan mengabarkan berita gembira bahwa Bayu telah mendapatkan donor jantung.
" Mami gibran."
Bagas dan Ayuna menoleh.
" Hai." Ucap Ayuna dengan senyum.
__ADS_1
" Aku akan meninggalkan kalian sebentar, jadi kalian bisa ngobrol."
" Oh terima kasih papi gibran."
Lalu Bagas memilih duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat dimana Ayuna dan mama Bayu.
" Sudah lama ya kita tidak bertemu, bagaimana kabar Gibran?" Tanya mama Bayu.
" Gibran baik-baik saja, dia sudah tidak lagi merasakan sakit."
" Apa itu artinya Gibran sudah sehat?"
" Ya, Gibran sudah sehat. Bahkan sangat sehat."
" Lalu di mana Gibran?, aku tidak melihatnya bersama kalian?. bukankah kalian bertiga selalu pergi bersama-sama?"
" Gibran memang bersama kami, tapi raganya sudah berada di surga bersama Tuhan."
" Ah..."
Mama bayu menutup mulutnya.
" Maaf.. maafkan aku, aku tidak tahu jika....."
" Tidak apa apa, aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang." Ucap Ayuna memegang tangan mama Bayu.
" Aku turut berduka cita atas Gibran."
Ayuna tersenyum.
Mama Bayu mengkerutkan dahi nya.
Bagaimana mami Gibran bisa tahu jika Bayu melakukan operasi?, padahal aku belum memberitahunya. Batin mama Bayu.
" Tidak perlu terkejut karena aku sudah tahu jika Bayu mendapatkan donor jantung." Ucap Ayuna yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Mama Bayu.
" Emm ya, bagaimana kau bisa tahu jika Bayu sudah mendapatkan donor jantung?"
" Karena, Gibran yang mendonorkan jantungnya kepada Bayu." Ucap Ayuna tersenyum sambil menatap mama Bayu.
" Ap..apa?"
" Permintaan terakhir Gibran, beberapa hari sebelum gibran kritis. Aku menemukan kartu donor jantung pada buku Gibran. Dan pagi hari sebelum Gibran dinyatakan kritis, aku sempat menanyakan kenapa dia memiliki kartu donor jantung. Dan kau tahu, jawab jika dia akan mencarikan donor jantung untuk Bayu, agar mereka bisa melakukan banyak permainan bersama-sama."
Mata ayuna mulai berkaca-kaca, mengingat percakapannya dengan gibran sebelum gibran kritis. Mama Bayu seakan ikut masuk kedalam perasaan yang dirasakan Ayuna. Dia memegang bahu Ayuna. Ayuna menyeka ujung matanya.
" Dan kau tau, saat itu Gibran menyatakan sekaligus bertanya padaku, bolehkah jika dia yang mendonorkan jantungnya kepada Bayu. Mendengar hal itu tentu saja aku menjadi sedikit marah, mungkin kecewa dan kesal. Bagaimana bisa Gibran berpikir mendonorkan jantungnya, sedangkan dirinya sendiri masih berjuang melawan kanker ganas itu."
" Hiks.." Mama Bayu menangis, dia begitu bangga pada Gibran. Gibran masih saja memikirkan kesungguhan orang lain, padahal dirinya sendiri sedang menderita kanker ganas.
" Kau tau, bahkan saat terakhirnya saja, Gibran masih meminta izin padaku untuk mendonorkan jantungnya pada Bayu. Sebagai seorang ibu tentu saja aku menolak, bukankah itu sama saja aku membunuh putra ku sendiri dengan membiarkan dia memberikan jantungnya kepada orang lain. Aku menginginkan putraku, aku menginginkannya sembuh. Tapi sepertinya Tuhan tidak mengabulkan permohonanku. Dan saat aku sudah memberikan izin kepada Gibran. Dia tersenyum dan pergi untuk selamanya..."
Mama Bayu tidak dapat lagi menahan rasa sedihnya, dia menangis dan memeluk Ayuna.
" Maafkan aku Ayuna, jika saja Gibran tidak bertemu dengan Bayu. Mungkin Gibran tidak akan mendonorkan jantungnya kepada Bayu." Lirih Mama Bayu.
" Tidak perlu minta maaf, bertemu Bayu atau tidak. Jika takdir Gibran sudah seperti ini, maka Gibran akan tetap pergi." Ucap Ayuna dengan senyuman.
__ADS_1
Mama Bayu melepas pelukannya dan menatap Ayuna.
" Kau tahu, luka ini seperti berdiri di tengah lautan kebahagiaan. Aku terluka karena putraku tiada, tapi aku juga bahagia karena putraku, temannya bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Aku sedih, tapi aku bangga dengan apa yang dilakukan putraku."
Ayuna tersenyum walaupun air mata nya tidak berhenti membasahi pipi.
" Terima kasih Ayuna, terima kasih karena kau sudah mengizinkan putramu mendonorkan jantungnya kepada putraku. Sehingga putraku dapat sembuh dan hidup dengan normal." Ucap Mama Bayu yang kembali memeluk Ayuna.
" Jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada Gibran dengan mendoakannya, agar dia selalu tenang di alam yang sudah berbeda dengan kita."
" Pasti, aku pasti akan selalu mendoakannya, aku juga berdoa agar kau mendapatkan kebahagiaan."
" Kebahagiaanku sudah hilang bersama dengan perginya Gibran, tapi aku akan berusaha bangkit dan bahagia untuknya." Ucap Ayuna.
" Setelah ini, bolehkah aku mengunjungi makam Gibran?"
" Tentu saja. Gibran dimakamkan di sini, di sebelah makam kakeknya yang dulu juga menderita kanker mematikan ini."
" Terima kasih Ayuna, kami tidak tahu lagi harus membalas kebaikan Gibran dengan cara apa?"
" Kau bisa membalas kebaikan Gibran dengan cara membesarkan Bayu dengan penuh kasih sayang."
" Itu pasti akan aku lakukan."
Mereka kembali berpelukan sebelum akhirnya berpisah, karena Bayu harus meminum obat yang sedang dibawa oleh Mama Bayu.
Bagas yang seakan mengerti jika mereka akan berpisah, langsung berjalan menuju Ayuna. Mama Bayu terlihat melempar senyum saat berpapasan dengan Bagas.
" Hei, apa kau baik-baik saja?" Tanya Bagas.
" Ya.." Ucap Ayuna sambil membersihkan sisa air mata yang ada di pipinya.
Bagas memegang pipi Ayuna. Ayuna tersenyum.
" Terima kasih karena selalu ada disampingku."
" Dan aku akan tetap berada disampingmu selamanya."
Bagas mencium kening ayuna dan memeluk nya.
Sementara itu, Rini memegang bahu Anjas, saat Anjas melihat Ayuna dan Bagas berpelukan.
" Nak, kau menangis?" Tanya Rini.
" Tidak ma." Ucap Anjas sambil mengusap matanya.
" Aku mungkin sedih karena kehilangan putraku, tapi aku juga bahagia saat melihat Ayuna bersama dengan orang yang tepat. Aku yakin Bagas dapat membawa Ayuna keluar dari keterpurukan ini."
Rini mengusap usap punggung Anjas.
Tuhan, berikan lah juga kebahagiaan kepada putraku. Aku ingin putraku menemukan wanita seperti Ayuna, yang benar-benar tulus mencintai putraku apa adanya. Batin Rini.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1