LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Kemarahan Ayuna


__ADS_3

Malam hari, di hari berikutnya..


Seperti biasa, bagas datang ke mall, untuk menjemput ayuna. Sedangkan gibran tidak lagi menunggu ayuna di toko. Karena setiap pulang sekolah, bagas menjemput gibran, dan mengantarkan kerumah orang tua nya.


" Kita pulang?" Tanya bagas. Saat ayuna barusaja selesai menutup toko.


" Bagas. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


" Apa itu?"


Bagas lalu duduk, di ikuti ayuna yang juga duduk. Mereka duduk saling berhadapan.


" Ayuna, bagas aku duluan ya.." Ucap sisil.


" Oke. Hati hati." Ucap ayuna.


" Take care." Ucap bagas.


" Ingin bicara apa?" Tanya bagas.


" Kemarin anjas datang ke sekolah gibran. Dia mengikuti ku sampai kesini."


" Lalu?"


" Anjas tau jika gibran adalah putra nya. Hiks hiks hiks..." Ayuna mulai menangis.


" Hei, kenapa kau menangis. Apa yang membuatmu menangis?"


Bagas mendekati ayuna, dan berlutut di depan nya.


" Aku, aku takut anjas akan merebut gibran. Aku takut mereka mengambil gibran."


" Dengar. Selama ada aku, tidak ada seorang pun, yang berani mengambil gibran. Sekalipun itu adalah ayah kandung nya. Aku janji."


Ayuna menatap bagas. Airmata nya terus mengalir. Bagas meraih ayuna ke dalam pelukan nya.


" Hiks hiks hiks, aku takut bagas. Aku takut."


" Tidak perlu di takutkan. Gibran adalah milikmu. Selama nya dia milikmu." Bisik bagas.


Keesokan hari nya, seperti biasa, bagas mengantar gibran ke sekolah lalu mengantar ayuna.


" Nanti gibran langsung kerumah mama dan papa ya?" Ucap bagas.


" Bagas, sebaiknya hari ini gibran di toko saja."


" Kenapa?"


" Aku tidak enak dengan mama dan papa."


" Tidak usah sungkan. Justru mereka gembira dengan kedatangan gibran."


" Iya sih, hanya aku merasa tidak enak. Aku mohon, hari ini saja gibran berada di toko sampai waktu tutup toko." Ayuna memohon.


" Baiklah. Aku akan menjemputnya nanti. Dan mengantarkan nya kesini."


" Terima kasih bagas."


" Sama sama. Aku pergi ya.."


" Hati hati."


Seperti biasa, ayuna sibuk di toko. Hari ini pelanggan sangat banyak. Dia tidak sempat melihat ponsel. Dan saat jam istirahat, baru ayuna bisa melihat ponsel nya.


30 panggilan tidak terjawab dari bagas.


" Ada apa ini, tumben bagas menelpon hingga sebanyak ini." Gumam ayuna, lalu menelpon balik bagas.


Setelah tersambung...


" Ya bagas? maaf tadi aku sangat sibuk."


" -----"


" Apa? tidak mungkin.., bagaimana bisa?"


" -----"

__ADS_1


Ayuna syok mendengar kabar bahwa gibran tidak ada di sekolah saat bagas menjemput nya.


" Ayuna, kamu kenapa?" Tanya sisil.


" Gibran.." Ucap ayuna yang panik


" Kenapa gibran." Sisil ikut panik


" Dia..."


" Dia tidak ada di sekolah."


" Apa???? bagaimana bisa?"


" Aku juga tidak tau. Bagas sudah mencari nya kemana mana. Dan sekarang dia dalam perjalanan menuju kesini." Ucap ayuna.


" Ayuna. Kau harus tenang. Tarik nafas, keluarkan.."


Ayuna mengikuti instruksi sisil. Setelah mereka cukup tenang.


" Gibran pasti kembali. Dia akan baik baik saja. oke." Ucap sisil.


" Oke."


" Bagus. Sekarang, kita tenang. Tetap tenang. Gibran akan baik baik saja.,"


" Ya. Aku tenang. Aku tenang." Ucap ayuna terus mengulangi kata tenang.


Hingga...


" Hwa.....hwaa... hiks hiks hiks..."


Ayuna kembali menangis. Sisil menggelengkan kepala.


Lalu bagas datang...


" Bagas, kau sudah menemukan gibran?" Tanya sisil.


" Belum. Dimana ayuna.,"


" Dia menangis di dalam." Ucap sisil.


" Ayuna.." Panggil bagas.


" Bagas, dimana gibran.."


Bagas mendekati ayuna..


" Tenang. Aku pasti akan menemukan gibran. Kita tunggu sampai sore. Jika sampai sore gibran belum juga di temukan atau pulang. Aku akan mengerahkan orang orangku." Ucap bagas.


Sore hari...


Bagas, ayuna dan sisil. Mereka memutuskan untuk menunggu gibran bersama..


" Bagas, ini sudah sore. Tapi belum juga ada tanda tanda gibran kembali." Ucap ayuna mulai panik.


" Iya, bagaimana ini bagas?" Tanya sisil.


" Tenang, anak buah ku akan menemukan gibran dengan cepat. Aku hanya perlu mengirim foto gibran pada mereka."


Saat bagas akan menghubungi orang orang nya..


" Mami...."


" Gibran."


Ayuna menoleh lalu berlari menghampiri gibran.


" Gibran.."


" Mami.."


Ayuna memeluk gibran. Lalu menatap tajam orang yang datang bersama gibran.


" Sayang, gibran temui papi dan tante sisil, oke."


" Yes mom."

__ADS_1


Cup


Gibran mencium ayuna, dan berlari menuju sisil dan bagas.


Plak !!!


Ayuna menampar anjas, orang yang membawa gibran adalah anjas.


" Ayuna aku.."


Plak !!


" KAU PIKIR KAU SIAPA? SEENAK NYA SAJA MEMBAWA GIBRAN PERGI TANPA SEIJINKU." Teriak ayuna.


Sisil dan bagas terkejut, karena mereka tidak pernah melihat ayuna semarah ini.


" Ayuna, maafkan aku. Aku hanya mengajak gibran jalan jalan ke toko mainan. Aku hanya memenuhi janji ku pada nya dulu."


" Tak bisa kah kau meminta ijin pada ku. Aku adalah ibu nya. Yang mengandung dan membesarkan nya!!" Ketus ayuna.


" Ayuna aku juga ayah gibran. Aku juga berhak untuk bertemu dan membawa nya pergi."


" Kau tidak punya hak apapun atas diri gibran. Dia adalah gibranku. Miliku. Hanya miliku."


" Ayuna. Dia adalah anak kita. Buah hati kita. Dia adalah bentuk cinta kita


" Cih. Cinta. Baru sekarang kau mengatakan cinta?. kemana dulu dirimu saat aku di hina habis habisan oleh keluarga mu?. Kemana kau saat aku di usir dengan cara yang kasar oleh keluarga mu?. Dan dimana kau saat aku berjuang antara hidup dan mati melahirkan gibran??!!. Kau tidak ada saat aku di hina, di caci maki, di usir dan saat aku berjuang sendirian melahirkan dan membesarkan gibran. Jadi jangan pernah mengaku gibran adalah anak mu. GIBRAN ADALAH ANAKKU, BUKAN ANAK MU." Hardik ayuna dengan penuh amarah.


" Ayuna, aku memang bersalah, dulu tidak memperjuangkan cinta kita. Tapi, sekarang aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Selama lima tahun terakhir ini, aku sangat tersiksa tanpa dirimu."


" Tidak usah berbual di depan ku. Sebaiknya lekas kau pergi, dan jangan pernah temui gibran lagi."


" Tapi ay..."


" PERGI...." Teriak ayuna.


" Ayuna, aku mohon.."


" AKU BILANG PERGI..."


Ayuna kembali berteriak, dia tidak peduli, jika diri nya menjadi pusat perhatian oleh beberapa pengunjung mall yang lewat.


Bagas menghampiri ayuna, ayuna langsung memeluk bagas.


" Sebaiknya kau pergi, bung."


" Tapi, aku hanya menepati janji yang pernah ku buat pada putra ku."


" SUDAH KU BILANG DIA PUTRA KU. BUKAN PUTRA MU. Apa kau tuli? DIA PUTRAKU. Bukan Putra mu." Hardik ayuna.


" Sttt...."


Bagas meraih ayuna ke dalam pelukan nya dan menenangkan nya.


" Aku tau kau bermaksud baik. Tapi tindakan mu ini, sudah masuk kategori penculikan. Karena membawa anak tanpa ijin orang tua nya."


" Tapi aku adalah orangtua nya."


" Walau kau adalah ayah kandung gibran. Tapi tidak seharusnya kau membawa nya, tanpa ijin dari ayuna. Karena kalian sudah bercerai, jauh sebelum gibran di lahirkan."


Skakmat untuk anjas. Anjas menyadari kesalahan nya. Dia menundukkan kepala.


" Aku akan pergi, sekali lagi maafkan aku."


Setelah mengatakan itu, anjas tidak berani menatap ayuna lagi. Dia segera pergi dari hadapan ayuna.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2