LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Senjata makan tuan?


__ADS_3

" Bella, beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun mu, kau ingin pesta seperti apa?" Tanya Anjas saat mereka sedang kencan, dan menikmati pemandangan senja di taman.


" Apa saja, asal jangan ada keramaian. Aku tidak suka."


" Tapi, hari itu adalah hari dimana kau harus memberikan ku jawaban atas lamaran ku"


" Lalu?"


" Ya, Aku ingin semua orang menjadi saksi atas jawaban apa yang akan kau berikan."


" Kau yakin ingin mengundang orang banyak dan menyaksikan jawaban dari pertanyaan mu?"


Anjas mengangguk dan tersenyum penuh semangat.


" Yakin?" Tanya Bella memastikan.


" Tentu saja, Aku ingin semua orang menjadi saksi saat aku menyematkan cincin di jari manismu."


" Itu kalau aku menerima lamaran, tapi bagaimana jika Aku menolaknya?. Apa kau siap menanggung malu di depan banyak orang yang telah kau undang?"


Anjas yang tadinya berdiri dan berkata dengan penuh semangat kini layu bagai bunga dimusim gugur.


" Bella, kau tidak serius dengan ucapanmu tadi kan?"


" Yang mana?" Ucap Bella pura-pura tidak tahu.


" Kau akan menerima lamaranku kan?." Tanya Anjas sambil menata Bella.


" Aku tidak tahu."


" Tapi, kita sudah melewati banyak hal bersama-sama. Beberapa hari ini kita selalu bersama bukan?, kita selalu berbagi canda tawa. Kita bahagia bersama, apakah ada alasan lain bagimu untuk tidak menerima lamaranku?"


" Anjas, aku bahagia dan aku tertawa bersamamu bukan berarti aku akan menerima lamaranmu bukan?"


JeZzzzz....


Dunia Anjas beserta impian yang sudah dia bangun sedemikian rupa hancur lebur. Dia tertunduk dan jatuh berlutut di hadapan Bella.


" Bella?"


" Dengar Anjas, aku tahu selama beberapa hari ini kita selalu berbagi canda dan tawa. Tapi, aku juga tidak yakin akan jawaban yang akan aku berikan kepadamu saat ulang tahunku nanti. Karena kita bukan lagi berbicara tentang beberapa hari kedepan. Tapi nantinya kita akan membicarakan hari tua bersama."


" Apa ada laki-laki lain yang kau cintai?" tanya Anjas.


" Apa maksudmu?"


" Aku pernah melihatmu dengan seorang pria di mall. Kau dan pria itu terlihat sangat. Apakah karena dia kau jadi meragukan diriku?"


Bella terdiam dan dia tampak berpikir lelaki mana lagi yang pernah bersamanya jalan-jalan di mall.


" Ah, Yoga?. Apa pria yang kau maksud itu adalah yoga?"


" Aku tidak tahu pasti namanya Tapi yang aku lihat saat itu kau terlihat sangat bahagia bersamanya."

__ADS_1


" Hahahah, pria itu adalah yoga dan aku tidak pernah keluar dengan pria lain selain dirinya. Dan yoga bukanlah kekasih ataupun priaku tapi dia adalah sepupuku. Sepupu dari keluarga ibu."


Anjas memandang Bella mencoba mencari kebohongan di matanya, namun sepertinya Bella mengatakan kebenarannya. Dan Anjas juga menyadari bahwa selama dia mengenal Bella dan selama Bella menjadi sekretaris, Anjas tidak pernah melihat Bella berbohong.


" Huft, baiklah. Aku tidak akan membuat acara atau pun mengundang orang lain." Ucap Anjas sambil duduk di sebelah Bella.


" Hari sudah semakin gelap, sebaiknya kita pulang." Ucap Anjas.


Sepanjang perjalanan pulang, Anjas dan Bella terdiam. Bella dapat melihat kekecewaan pada wajah Anjas.


" Anjas apa kau baik-baik saja?" Tanya Bella saat mereka sudah tiba di rumah Bella.


Anjas tersenyum dan mengusap lembut pipi Bella.


" Masuk lah, Mama pasti sudah menunggu. Sampai kan salam ku kepada Mama." Ucap Anjas.


" Tentu."


Anjas lalu membantu Bella membuka sabuk pengaman.


Cup


" Good night Anjas."


Setelah mengucapkan selamat malam, dan mencium pipi Anjas, Bella segera turun. Dan melambaikan tangan saat mobil Anjas mulai melaju perlahan meninggalkan rumah Bella.


" Hmm, apa tadi aku salah bicara ya.." Gumam Bella.


Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Anjas sudah tidak menentu. Hingga saat jadinya tiba di rumah dia langsung masuk ke dalam kamar.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Bella. Dia langsung masuk ke kamar begitu saja tanpa menyapa Yuni yang sedang menonton TV.


...


" Sayang..." Panggil Bagas.


" Ada apa?" Jawab Ayuna yang sedang asyik memperdengarkan musik kepada bayi bayi nya.


" Aku sudah menemukan nama untuk kedua bayi kita."


" Ohya, siapa?" Tanya Ayuna yang langsung merubah posisi menjadi duduk.


" Rahasia dong." Ucap Bagas.


" Lah, kalau rahasia Kenapa kamu memberitahuku sekarang?" Ketus Ayuna.


" Ya, biar kamu kepo."


" Ooh jadi gitu ya, awas lo. Tidur di luar setelah ini."


" Yah, jangan dong. Nanti kalau aku kedinginan gimana?"


" Tidur didepan kompor aja, biar hangat. Atau kau mau aku menyuruh pelayan membuatkanmu kamar di dalam oven?"

__ADS_1


" Kau mau menjadikanku sebagai kue jahe?"


" Hmm, kue jahe sepertinya enak, Ayo buatkan aku kue jahe." Ucap Ayuna yang langsung menarik Bagas berjalan keluar dari kamar.


Bagas akhirnya mengalah, niat membuat Ayuna kepo dengan nama yang baru saja dia temukan untuk calon kedua bayi kembarnya itu. Justru Bagas yang kena karena harus membuatkan kue jahe untuk Ayuna.


Sesampainya di dapur Ayuna langsung duduk manis di meja makan, matanya mengkode agarr Bagas segera membuat kue jahe.


" Lain kali aku harus berhati-hati dalam berbicara, kalau tidak aku akan kena getahnya lagi." Lirih Bagas.


" Ehem..., sayang apa kau berbicara sesuatu?" Ucap Ayuna.


" Tidak kok." Ucap Bagas sambil memberikan senyum termanis yang dia miliki.


Ya Tuhan, kirimkan seseorang agar seseorang itu membantuku membuatkan kue jahe jadi aku tidak perlu repot-repot untuk membuat nya. Batin Bagas.


Ayuna tersenyum saat melihat raut wajah Bagas yang sebenarnya sangat kesal.


Siapa suruh berencana ingin membuat ku kepo, kan aku sudah mengerjaimu lebih dulu. Batin Ayuna.


" Lo, Bagas. Ngapain ada di dapur?, dan apa yang sedang kamu coba buat?" Tanya Rini.


Bagas lalu mengkode dengan dagunya, menunjuk ke arah Ayuna yang sedang menikmati segelas susu hangat.


" Hai ma?, ayo sini bergabung denganku karena sebentar lagi Bagas akan membuat kue jahe." Ucap Ayuna sambil menyeret kursi yang ada di sebelahnya.


" Kue jahe, apa kau bercanda Mama sangat suka kue jahe, apalagi jika Bagas yang membuatnya."


" Mama. Bukannya bantu Bagas, malah mau ikutan duduk." Ketus Bagas.


" Aduh, kamu itu kenapa sensitif banget sih, lagi datang bulan ya?" Omel Rini.


" Lagi pula, jarang jarang lo Mama ngerasain kue buatan kamu." Imbuh Rini yang kemudian segera bergabung dengan Ayuna.


Hiks hiks hiks. Kenapa jadi mirip senjata makan tuan sih. Aku berniat mengerjai istriku, tapi kenapa justru aku yang dikerjai. Aku sudah ber ekspektasi nantinya Ayuna akan bersikap manja demi membuat ku mengatakan siapa nama untuk buah hati kami. Realitanya aku yang harus bekerja keras membuatkan kue jahe. Batin Bagas.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Tidak perlu dikasih tahu juga ya kenapa kemaren dan sekarang up nya telat.


Karena peminatnya udah berkurang, atau bahkan mungkin hilang, wkakakaka.


Tapi gak papa, semangat untuk diriku sendiri ❤️☺️☺️


Semangat untuk author.

__ADS_1


Eh, barusan kamu kasih aku doa untuk semangat loh, makasih ya pembaca ☺️☺️☺️❤️.


Peluk online dari author 🤗🤗🤗


__ADS_2