LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Pesta Untuk Gibran dan Kembar


__ADS_3

Drrrttt drrrttt drrrttt


Anjas yang tengah mengendong Salsa, bayi nya dengan Bella yang kini berusia 3 bulan, terkejut karena ponsel nya berbunyi.


Dengan perlahan dia mengendong Salsa dengan satu tangan, tangan yang lain meraba dan mengambil ponsel yang berada di saku celana.


" Halo?"


" ----"


" Kau yakin?"


" ----"


" Hmm, baiklah."


Raut muka Anjas berubah setelah dia mendapat telepon dari orang suruhannya dulu saat masih di Indonesia. Hal itu tentu saja memicu keingintahuan dari Bella yang datang dengan membawa segelas segelas minuman hangat untuk Anjas.


" Sayang, aku mendengarmu tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon."


" Ya, orang suruhan ku dulu menelpon dan memberiku kabar, ya.. bisa dibilang sedikit buruk."


" Soal apa?"


Anjas duduk, diikuti Bella. Kemudian Bella mengambil alih Salsa dari pangkuan Anjas. Anjas meminum minuman yang dibawa oleh Bella.


" Apa kau masih ingat cerita tentang istri dan sahabat ku sendiri yang berkhianat di belakang ku."


" Iya." Ucap Bella sambil menganggukkan kepala.


" Barusaja aku mendengar kabar tentang mereka."


" Kabar apa?"


" Sebagaian perusahaan yang dulu aku berikan kepada Dion, kini mengalami kebangkrutan. Dion dan Selin yang tidak diterima di keluarganya masing-masing membuat mereka terluntang Lantung. Ku dengar juga mereka baru saja diusir dari apartemen."


" Astaga, kasihan sekali mereka. Mungkin ini adalah karma yang mereka dapat karena menyakiti orang sebaik dirimu."


Anjas menatap Bella.


" Aku baik?, Kenapa kau berpikir begitu?. Bukankah disini aku yang menjadi orang jahatnya."


" Kenapa?" Tanya Bella penasaran.


" Ya, dulu saat aku meminta penjelasan dari mereka, Bella mengatakan jika saja aku membuka hati untuknya, hal itu, perselingkuhan itu, penghianatan itu tidak akan terjadi."


" Tidak juga, bukankah kau juga bilang bahwa mereka adalah sepasang kekasih sebelum akhirnya terpisah karena Restu orang tua dari Selin kan?" Ucap Bella.


Ya, sebelum mereka resmi menikah aja sudah menceritakan semua kisah hidupnya kepada Bella. Termasuk tentang Ayuna dan juga Gibran. Dia tidak ingin ada lagi yang ditutup-tutupi karena Anjas sudah bertekad akan memulai hidup yang baru dengan Bella.


" Ya memang. Tapi aku merasa bersalah karena terlambat membuka hati untuk Selin."


" Sayang, menyesal tidak ada gunanya. Sekarang anggap saja mereka sudah mendapatkan karma karena telah menyakitimu. Mereka mengkhianati mu, bahkan sampai membuat Selin hamil. Aku tahu, mungkin di sini kau juga salah karena membiarkan Selin menunggu terlalu lama untuk hatimu. Tapi bukan berarti dia punya hak untuk menghianatimu kan."


" Lalu, apa yang harus aku lakukan?. Jujur aku tidak tega mendengar mereka mengalami nasib yang sangat buruk seperti itu. Haruskah aku menolong mereka."


Bella tersenyum dan memandang Anjas. Dia sangat bersyukur memiliki Anjas.


" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Anjas yang merasa heran dengan tatapan yang tidak biasa dari Bella.


" Tidak, Aku hanya tidak menyangka bawa hatimu jauh lebih baik dari dugaanku. Kau tahu bapak mereka telah menghianatimu, menusukmu dari belakang tapi lihatlah dirimu, begitu mendengar kabar buruk tentang mereka hatimu menjadi gusar. Seakan kau tidak rela jika mereka mendapat takdir yang buruk atau nasib yang berbanding terbalik dengan kehidupan yang biasa mereka jalani."


Anjas berdiri berjalan menuju balkon rumah.


" Entahlah, aku hanya merasa sangat kasihan kepada mereka. Bagaimana pun juga Dion adalah sahabat dekatku, kami dulu sangat dekat ikatan yang terjadi diantara kami melebihi ikatan saudara. Aku bahkan tidak bisa membencinya walaupun dia menusuk dari belakang." Ucap Anjas.


Bella menoleh ke belakang dan meminta pelayan untuk mengurus Salsa. Setelah memberikan Salsa kepada pelayan Bela berjalan mendekati Anjas. Bella mengusap lembut bahu Anjas.


" Bantu mereka jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." Ucap Bella.


Anjas menata Bella seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan nya.


" Aku serius, Aku menginginkanmu membantu mereka. Ya, walaupun kau tidak meminta izinku sih." Kekeh Bella.


Anjas berbalik dan memeluk Bella.


" Tentu saja aku meminta izin mu, karena kau tahu aku sudah tidak ingin lagi hidup dalam kesendirian. Kita sudah bersama, maka apapun masalah yang menimpaku atau menimpamu kita akan menyelesaikannya bersama."


Bella membalas pelukan Anjas dengan erat, Dia sangat bersyukur memiliki suami seperti Anjas.


Tuhan, semoga kau selalu menjaga hubungan kami seperti ini. Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam rumah tangga kamu. Dan izinkan aku untuk dapat selalu membuatnya bahagia. Batin Anjas.


Setelah itu, Anjas langsung menelpon orang suruhannya yang masih dia percaya untuk mengurus separuh perusahaan yang memang sengaja Anjas tinggalkan di Indonesia untuk membantu perusahaan Dion, mengembalikan kejayaan perusahaan Dion dan juga memastikan agar hidup Dion dan istrinya tidak lagi ter lontang-lantung.


" Terima kasih, karena selalu mendukungku dalam hal apapun." Ucap Anjas setelah dia menelpon orang suruhannya itu.


" Selalu, aku akan selalu memberikan support dan dukungan ku kepadamu." Ucap Bella.


Cup


Anjas langsung menyambar bibir Bella, dan Mereka kemudian melakukan pagelaran budaya di siang hari. Di atas sofa kamar tidur Salsa. Karena saat itu Bella baru saja menidurkan Salsa.


...----------------...


Di kediaman Bagas.


" Ma, coba lihat apakah mereka sudah selesai. Kita sudah menunggu lebih dari 2 jam."


" Males ah, lebih baik Papa saja sana yang melihat mereka." Ucap Mama sambil terus menyuapi kembar dengan puding.


" Ah, kalau Papa yang melihatnya nanti Papa jadi kepengen bagaimana."

__ADS_1


" Hu, anak sama bapak kok sama aja."


" Ma, hal itu sangat lumrah. Tidak lumrah jika Papa tidak mau begitu lagi dengan Mama."


" Hust, Papa ini ngomong apa sih. Lihat mereka sampai menatap papa." Ucap Mama.


Papa Bagas langsung tersenyum manis saat menatap kedua cucu kembarnya.


Tap


Tap


Tap


Ceklek.


" Ternyata kalian di sini kami mencari kalian di mana mana." Ucap Bagas.


" Udah selesai senam siangnya?" Goda Papa.


Bagas hanya tersenyum sambil mengelus tengkuknya.


" Apa Ayuna sudah siap?" tanya Mama.


" Sudah, kami baru saja selesai memasukkan pakaian ke dalam mobil."


" Baguslah, karena sepertinya twin sudah mulai lelah dan mengantuk." Ucap Mama.


" Kemari, biar aku yang menggendong Lio." Ucap Bagas.


" Ini, ohya, lain kali kalau mau senam siang itu beri tahu Mama dan Papa dulu. Agar kami bisa siap-siap." Ucap Mama sambil berlalu melewati Bagas, dan keluar dari ruang bermain.


" Mama kenapa sih?" tanya Bagas.


" Biasa, Mama tadi tidak sengaja mendengar suara eksotis sekalian. Ya, mungkin Mama juga lagi pengen. Maklum lah, senjata Papa akhir-akhir ini membuat Mama selalu ketagihan."


" Astaga.." Bagas menepuk dahinya sendiri.


Lalu mereka bersama-sama keluar rumah, dan bersiap untuk berangkat ke mansion.


Sesampainya disana, Ayuna cukup terkejut karena halaman Mansion berubah menjadi ruang pesta dengan dekorasi mewah.


" Sayang, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Ucap Ayuna.


" Tentu saja tidak. Besok siang adalah acara bersama dengan anak yatim. Sore hari ulang tahun untuk si kembar. Dan malam hari adalah acara untuk semua keluarga kita."


" Seharian penuh?" Ayuna sedikit terkejut, karena dia pikir semua acara akan di jadikan satu.


" Hanya satu hari." Ucap Bagas.


Ayuna menghela nafas, beginilah nasib jika memiliki suami yang kaya. Ayuna tersenyum karena mengingat percakapannya dulu dengan Gibran yang bermimpi mempunyai ayah kaya raya, sehingga Gibran bisa meminta acara ulang tahun yang mewah.


" Sayang, kami akan membuatkan acara mewah untuk mu." Lirih Ayuna sambil memejamkan mata dan membayangkan wajah Gibran.


Cup


Ayuna tersenyum dan tetap menutup mata, hingga mobil Bagas terparkir sempurna.


" Sayang, ayo kita turun." Ucap Bagas lembut.


Ayuna membuka mata dan tersenyum. Lalu dia turun bersama Bagas, sedang anak anak sudah lebih dulu dibawa masuk oleh Oma dan Opa mereka.


Keesokan harinya, acara bersama anak yatim berjalan hikmat. Ayuna merasa senang karena banyak yang mendoakan Gibran. Terutama kehadiran Bu Sinta membuat kebahagiaan Ayuna terasa lengkap. Bu Sinta ada di sana sampai acara ulang tahun kembar selesai.


" Terima kasih karena sudah mau datang bu. Ayuna merasa lengkap saat ada ibu ditengah tengah kebahagiaan Ayuna." Ucap Ayuna sambil memeluk Bu Sinta.


" Ibu juga merasa sangat bahagia jika melihat mu bahagia nak, ingatlah untuk selalu tersenyum dan berbahagia. Ibu yakin Gibran pasti juga sangat bahagia melihat kau selalu tersenyum dan bahagia."


" Iya, itu sudah pasti. Bu, aku sangat merindukan Gibran." Ucap Ayuna dengan mata berkaca-kaca.


Bu Sinta melepas pelukannya, dan menatap Ayuna.


" Nak, kerinduan itu pasti akan tetap ada di hati kita. Tapi jangan sampai kerinduan itu membuat mu menjadi sangat sedih. Gunakan kerinduan itu untuk mendoakan nya agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan."


Ayuna tersenyum dan mengangguk. Lalu mengajak Bu Sinta untuk bertemu dan bermain dengan kembar yang juga tengah asik berkumpul dan bermain berasal Gilang dan juga adiknya.


" Nak, kami pamit pulang dulu ya.." Ucap Bu Sinta.


" Lo, apa Ibu tidak ingin menginap di sini saja?" Tawar Bagas.


" Tidak nak, ibu akan tinggal bersama dengan Lukman."


" Baiklah kalau begitu hati-hati dan terima kasih karena Ibu dan keluarga sudah berkenan untuk datang ke acara yang kami selenggarakan."


" Tidak ucapan terima kasih karena Ibu juga senang jika nak Bagas dan Ayuna mengundang ibu dan keluarga. Itu artinya kalian masih menganggap kami sebagai bagian dari keluarga."


" Bu, sampai kapanpun Ibu adalah keluarga dari kami." Ucap Ayuna.


Bu Sinta tersenyum dan langsung memeluk Ayuna.


" Ibu pamit ya, Jangan lupa untuk selalu berbahagia." Ucap Bu Sinta


"Pasti."


Setelah memelukku Bu Sinta, Ayuna memeluk Diana dan mencium kening Gilang.


Melihat Gilang sungguh membuat ayunan mengingat segalanya tentang Gibran.


Sedangkan Bagas berjabat tangan dengan Lukman dan suami Bu Sinta.


" Sayang ayo sebaiknya kita istirahat." Ucap Bagas setelah mengantar kepulangan Bu Sinta dan keluarga.

__ADS_1


" Yakin jika kita hanya akan beristirahat?" Tanya Ayuna.


" Yakin lah, memangnya kau ingin kita melakukan apa?"


" Tidur."


" Ya sudah kita akan tidur. Si kembar pasti juga sangat lelah."


" Iya, kau benar."


Mereka lalu bersama-sama membawa si kembar menuju kamar untuk beristirahat.


Sementara itu, Dion yang bahagia karena perusahaannya tidak jadi bangkrut. Dia juga membawa kabar bahagia ini kepada Selin


" Ya Tuhan sayang, aku sangat bersyukur karena akhirnya pertolongan datang kepada kita." Ucap Selin yang memeluk Dion.


" Iya sayang, dan kita akan menemui orang yang sudah mamang investasikan uang untuk perusahaan, segera setelah kita mendapatkan apartemen yang baru."


" Kita tidak akan kembali ke apartemen yang lama?"


" Tidak, kita akan mencari rumah."


" Apa?, rumah?"


" Ya, aku juga menerima sebuah cek yang bertuliskan bahwaaku bisa menggunakannya untuk membeli rumah. Ya walaupun nominalnya tidak banyak tapi aku rasa kita bisa membeli rumah sederhana. Tidak apa apa kan?" Ucap Dion dengan nada lembut karena takut Selin menolaknya, Karena bagaimanapun Selin terbiasa hidup dengan bergelimang harta dan dikelilingi oleh perabotan yang mewah.


" Sayang, bangunkan aku sudah meninggalkan semua kemewahan yang pernah aku nikmati. Sekarang aku akan hidup dengan apa adanya bersama denganmu dan buah hati kita." Ucap Selin sambil menatap kearah Bianca yang sedang tertidur. Usianya kini sudah hampir 2 tahun.


" Terima kasih karena kau sudah menerima segala kekuranganku. Dan maafkan aku karena takut tidak mampu memberikan apa yang kau inginkan."


" Sttt, Aku tidak menginginkan apa-apa selain keutuhan rumah tangga kita. Berjanjilah aku akan tetap disini bersamaku dan juga Bianca."


" Aku berjanji."


Dan, episode Dion dan Selin ditutup dengan mereka berdua yang saling berpelukan. Dan mulai mencari rumah untuk mereka tinggali bersama. Mereka juga akan segera menemui orang yang sudah berbaik hati menolong perusahaan dan juga hidup mereka setelah perusahaan stabil.


" Sayang kau mau ke mana?" Tanya Mama yang melihat Tara bersiap hendak keluar.


" Emm, aku harus menemui temanku sebentar Ma."


" Jangan lupa, kita harus berangkat jam 7 untuk menghadiri acara ulang tahun kembar."


" Mama dan Papa bisa berangkat duluan, kita bertemu di mansion Paman dan Bibi." Ucap Tara.


" Baiklah, Mama dan Papa harap kamu akan datang bersama dengan Yudi." Ucap Mama.


" Tentu, Tara akan pergi bersama dengan Kak Yudi." Ucap Tara.


Setelah itu, Tara segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Bukan untuk menemui temannya tapi untuk melakukan sesi foto dengan tema kolam renang.


Drrrttt drrrttt drrrttt


" Halo Kak Yudi?"


" ----"


" Aku sedang dalam perjalanan untuk ke rumah temanku, ohya apakah Kak Yudi keberatan jika aku mengajak Kak Yudi untuk pergi bersama?"


" ----"


" Baiklah."


" ---"


" Ah, tidak tidak. Aku yang akan menjemput Kak Yudi nanti."


" ---"


" Baiklah. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, karena aku sedang dalam perjalanan."


" ---"


" Terimakasih."


Tara meletakkan kembali ponselnya. Sepanjang perjalanan antara terus saja memikirkan tentang Yudi dan juga perkataan Mia.


" Haruskah aku membuka hati untuk Kak Yudi dan mengakhiri karir guru sebagai model majalah pria?. Tapi bagaimana dengan obsesi ku. Aku tidak akan bisa menjalani hidup dengan tenang jika aku belum bisa berbagi kehangatan dengan Kak Bagas." Lirih Tara.


" Arghhh.... Kak Bagas, Kenapa sangat sulit untuk menaklukan dirimu. Apa aku harus menyerah?, Tidak. Aku tidak mau menyerah sebelum aku melihatmu bertekuk lutut di hadapanku." Teriak Tara.


Tara kembali fokus pada jalanan, hingga akhirnya dia sampai di studio foto. Namun Tara merasa ada yang aneh, jika biasanya studio foto akan ramai, sore ini justru terlihat sepi. Hanya ada Doni, pemilik dari majalah pria dewasa dimana Tara adalah model nya.


" Pak, Kenapa sangat sepi di sini?. Aku tidak sedang salah jadwalkan?"


" Aku membatalkan nya." Ucap Doni santai.


" Kenapa?"


" Karena.."


Doni berjalan mendekati Tara, dimainkan nya rambut Tara dan berjalan memutari Tara.


" Karena apa?" Ucap Tara sambil menyunggingkan senyuman. Tara sebenarnya tahu maksud dari ucapan Dino, tapi Tara hanya berpura-pura untuk memancing Dino.


" Karena aku ingin bersenang-senang hanya dengan mu." Bisik Dino.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2