
Beberapa Bulan berlalu, Orang tua Tara benar benar membuat nya sibuk dengan kantor. Namun, itu tidak membuat Tara berhenti menjadi model majalah pria dewasa.
Sesekali dia keluar untuk tetap melakukan sesi foto.
Dan hari ini, bertepatan dengan hari ulang tahun kembar yang ke satu tahun. Tara akan kembali mencoba untuk menjerat Bagas.
" Tara, kau sangat seksi. Bisakah aku memiliki mu?" Ucap Doni, pemilik dari majalah pria dewasa dimana Tara lah yang menjadi bintang model terfavorit.
" Anda pasti bercanda." Ucap Tara.
" Tidak, aku bersungguh-sungguh. Kau sangat mahir dalam model. Kau mampu membuat semua orang yang melihat mu jadi ingin merasakan kehangatan bersama mu." Bisik Doni saat Tara macam melakukan sesi foto dan masih menggunakan kain yang hanya menutupi kedua bagian sensitifnya.
Tara tersenyum tak kalah tangan Doni bermain di area punggungnya. Entah kenapa, Tara merasa begitu puasa dia mampu membuat laki-laki terpikat.
" Bolehkah?" Tanya Doni saat tangannya hendak menyentuh buah kenyal milik Tara.
" Tentu..."
Dengan wajah berbinar-binar seperti baru saja mendapatkan sebuah hadiah besar. Doni segera menyentuh buah kenyal yang padat dan juga sangat berisi itu.
" Aku akan mempromosi kamu sebagai iklan majalah dewasa internasional." Bisik Doni sambil terus bermain di buah kenyal Tara.
" Oh really?"
Tara berbalik badan. Doni mengangguk dan melepas sisa kain yang menutupi buah kenyal Tara. Bukan nya menolak Tara justru membiarkan Doni melakukan itu, mata Doni terus terpukau melihat keindahan yang ada di hadapannya.
" Aku sudah banyak melihat buah kenyal milik wanita, tapi milikmu sungguh sangat menggoda dan membuatku bergairah., bolehkah?" Tanya Doni.
" Silahkan, bermainlah sampai kau puas." Ucap Tara dengan nada sensual.
Mendapatkan lampu hijau, Doni langsung menutup tirai tempat biasa para model berganti baju dan mengangkat tubuh Tara dan mendudukkannya di meja rias yang ada di sana. Tanpa basa-basi lagi, Doni segera melahap buah kenyal itu dengan rakus. Tara tersenyum penuh kemenangan, karena sekali lagi dia telah berhasil menaklukkan laki-laki dengan tubuhnya. Ya, selama masih di bangku kuliah Tara juga sering melakukan hal itu. Membiarkan tubuhnya dijamak oleh banyak pria. Dan Tara tidak menyesali hal itu, justru dia merasa senang dan bangga karena dirinya mampu membuat siapapun bertekuk lutut dan tidak akan tahan terhadap godaan tubuhnya yang memang seksi dan sangat bohay.
Lihatlah Kak Bagas, Aku bahkan bisa menjerat orang Bos besar dari majalah pria dewasa. Aku yakin kau juga tidak akan menolak kau saat kau tahu keindahan yang kumiliki. Batin Tara.
Tara segera mendorong Doni menjauh, saat Tara tahu bahwa nafsu Doni sudah berada di puncaknya. Lalu, dengan santai Tara memakai kembali pakaiannya.
" Aku harus pergi." bisik Tara, lagi-lagi dengan nada sensual mungkin.
" Tapi, kita bahkan belum mengakhirinya." Ucap Doni.
Tara tidak berkata apa-apa, Tara hanya tersenyum dan mengedipkan satu matanya lalu bergegas pergi dari ruang sesi foto.
" Kau memang wanita yang unik, kau begitu mudah memberikan apa yang kau miliki, tapi kau ketika seseorang sudah di puncak nafsu. Aku harus bisa melakukan pagelaran budaya bersamamu." Ucap Doni sambil mengusap bibirnya, membersihkan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia makan.
Tara segera masuk mobil dan meninggalkan gedung itu menuju sebuah mal. Karena dia akan membeli hadiah untuk anak-anak Bagas.
Drrrttt drrrttt drrrttt
" Halo Kak Yudi?"
"----"
" Ya, Aku sedang dalam perjalanan gombal untuk membeli hadiah."
" ----"
" Mall Kelapa Gading."
" ---"
" Baiklah."
Tara mematikan panggilan, setelah Yudi mengatakan bahwa dirinya akan menyusul Tara ke mall.
Hmmm, Kak Yudi. Haruskah aku membukakan hati untukmu?. Batin Tara
Ya, sejak beberapa bulan ini, Yudi memang tidak pernah lagi menanyakan apakah Tara mau menerima perjodohan ini atau bersedia membukakan hati agar Yudi dapat mengenal dan mengisi ruang kosong di hati Tara.
Sesampainya di mall, Tara segera membeli beberapa pasang pakaian dan juga mainan. Setelah dirasa sudah cukup untuk kado ulang tahun si kembar. Tara memilih untuk menunggu Yudi di sebuah cafe yang ada di dalam mall itu.
" Tolong milk shake milo satu, dan spaghetti." Ucap Tara pada pelayan yang menghampirinya ketika Tara baru saja duduk.
" Baik, silakan ditunggu."
Tak beberapa lama kemudian, Tara melihat Mia.
" Hai.." Tara membalas lambaian tangan Mia.
" Apa kabar, sudah lama sekali kita tidak bertemu?." Ucap Mia ketika dirinya berjalan dengan cepat untuk menghampiri Tara dan ber cipika-cipiki
" Kabarku baik, bagaimana denganmu?" tanya Tara.
" Aku juga baik." Ucap Mia.
" Ayo duduk dan mengobrol. Bukankah kita sudah tidak lama bertemu pasti akan sangat senang jika kita dapat menghabiskan waktu untuk mengobrol." Ucap Tara
" Tentu."
Mia duduk di kursi yang berhadapan dengan Tara. Tara lalu memanggil pelayan agar Mia dapat memesan makanan atau minuman yang dia suka.
" Jadi, kau sibuk apa sekarang?. Apa kau masih menjadi primadona para laki-laki?" Goda Mia.
" Kau ini." Kekeh Tara
Mia dan Tara adalah sahabat dekat saat masih kuliah, jadi Mia tahu semua tentang Tara, termasuk kegemaran Tara yang mengoda para laki-laki. Membiarkan tubuhnya di jelajahi banyak pria, namun tidak pernah membiarkan mereka meniduri nya.
" Aku menjadi model majalah pria." Ucap Tara.
" Kau bercanda kan?" Tanya Mia.
" Aku serius."
" Ya Tuhan Tara, Aku tidak menyangka bahwa kau akan benar-benar mewujudkan impianmu menjadi model majalah pria. Mau sampai kapan kau mengekspos seluruh tubuhmu?, mau sampai kapan kau membiarkan laki-laki menjamah tubuh mu?"
" Sampai aku bisa pendapat apa yang menjadi obsesi ku selama ini."
" Apa itu?"
" Aku ingin tidur dengan Kak Bagas." Ucap Tara dengan nada berbisik karena takut ada seseorang yang mendengarnya.
" Kak Bagas?,jangan gila kau Tara. Dia kan Kakak sepupu mu."
" Aku tahu, tapi entah kenapa aku sangat menginginkannya, aku merasa harus memilikinya walaupun aku tahu Kak Bagas sudah memiliki keluarga.
" Apa?, Kak Bagas sudah memiliki keluarga?. Aku mohon jangan lakukan ini, kau bisa saja membuat banyak pihak terluka. Dan kau bisa membuat hancur hubungan antara orang tuamu dengan orang tua Kak Bagas."
" Aku tahu, hanya saja aku merasa... Ah, kata sendiri kan jika aku tidak akan pernah berhenti sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau."
" Aku tahu, hanya saja pikirkanlah lagi karena ini bukan hanya menyangkut tentang dirimu. Tapi ini tentang seluruh keluarga besarnya."
__ADS_1
" Mia, aku juga tidak tahu kenapa aku sangat terobsesi kepada Kak Bagas, dan aku tidak tahu bagaimana caraku untuk berhenti." Ucap Tara.
" Hanya ada satu cara."
" Apa itu?"
" Kau harus mulai membuka hati dan mencintai orang lain, aku yakin jika kau telah menemukan orang yang benar-benar mencintaimu maka kau akan melupakan obsesimu. Dan aku yakin kau juga akan meninggalkan pekerjaanmu sebagai model majalah pria."
Tara menghela nafas...
" Terimakasih." Ucap Tara saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka berdua.
Mia dan Tara meminum minumannya.
" Mia apa kau tahu jika aku dijodohkan oleh orang tuaku."
" Nah bagus dong. Jadi kau bisa mulai melupakan sedikit demi sedikit obsesimu kepada Kak Bagas juga mengurangi pekerjaan sebagai model majalah pria." Ucap Mia.
" Tapi aku merasa aku tidak bisa membuka hati untuknya."
" Tara, cobalah buka hatimu sedikit saja agar pria itu bisa mengisi ruang dalam hatimu. Beri kesempatan pria itu untuk membuktikan bahwa dia mampu membuatmu bahagia."
" Haruskah?. Tapi bagaimana jika pria itu jujur akan membuatku merasakan sakit yang amat dalam?" Tanya Tara.
" Kau tidak akan tahu jika kau tidak mencobanya." Ucap Mia
" Maaf, aku datang terlambat karena aku terjebak macet karena salah masuk ke jalur yang menuju ke mall." Ucap Yudi.
Tara dan Mia mendongak. Mia terkejut karena senior yang sangat amat dikagumi oleh Mia berada di hadapannya.
" Kak Yudi?" Ucap Mia.
" Mia, kau ada disini?"
" Tunggu, apa Kak Yudi dan Mia saling mengenal?" Tanya Tara.
" Ya, dia adalah senior di rumah sakit tempat aku magang." Ucap Mia.
" Waw." Ucap Tara.
Kenapa Kak Yudi ada di sini dan mendatangi Tara?. Apa Kak Yudi yang akan dijodohkan dengan Tara?. Batin Mia.
Mereka bertiga kemudian kembali duduk.
" Kak Yudi ingin pesan sesuatu?" Tanya Tara.
" Tidak, kebetulan aku sudah makan tadi. Jadi aku ke sini hanya akan menemanimu untuk membeli kado."
" Aku sudah membeli nya." Ucap Tara sambil menunjukkan beberapa paper bag yang ada di lantai.
" Oh, maaf. Sepertinya aku datang begitu terlambat, kalau begitu kau harus berkeliling denganku sekali lagi untuk membantuku memilihkan kado si kembar. Kau kau kan?." Ucap Yudi.
Tara menoleh ke arah Mia, Mia mengangguk. Sepertinya Mia sudah tahu bahwa Yudi lah yang dijodohkan dengan Tara.
" Emm, baiklah."
Sekali lagi Tara menoleh ke arah Mia, dan Mia tersenyum sambil mengacungkan kedua jempol nya.
" Ohya, apakah kalian saling kenal?" Tanya Yudi
" Ya, kami adalah teman saat kuliah dulu." Ucap Mia.
" Ah, jadi begitu."
" Oke, Jangan lupa untuk menelpon ku." Ucap Tara yang berdiri dan memeluk Mia
" Tentu."
Setelah berpamitan kepada Yudi juga akhirnya Mia berlalu meninggalkan dua orang itu.
Tak beberapa lama kemudian Tara mengajak Yudi untuk kembali mencari kado untuk si kembar.
Sementara itu, Ayuna dan Bagas tengah berdebat perihal pesta ulang tahun untuk si kembar.
" Sayang, tidak usah mewah sederhana saja bagaimana jika kita mengundang anggota keluarga saja." Ucap Ayuna.
" Tidak tidak, aku tidak setuju. Ulang tahun kembar haruslah meriah."
" Sayang, mereka baru berumur 1 tahun tidak akan mengerti soal pesta kue dan juga kado. Lebih baik kita merayakan ulang tahun kembar dengan keluargamu saja atau kau boleh mengundang saudaramu yang lain." Ucap Ayuna yang terus berusaha merayu Bagas agar tidak membuat pesta meriah untuk kembar.
" Sayang, anggaplah juga ini sebagai pesta rasa syukur kita karena kita telah membesarkan kembar sampai dia berusia 1 tahun."
" Tapi.."
" Sttt, tidak apa apa, aku juga akan mengundang anak-anak dari panti asuhan."
Ayuna yang tadinya merasa kesal kini memandang Bagas dengan tersenyum.
" Benarkah?"
" Tentu saja, mereka juga harus hadir tanah kita akan berbagi kebahagiaan."
" Baiklah. Kalau hei aku setuju." Ucap Ayuna
" Bagus kalau begitu ayo kita segera berkemas dan menuju rumah mama dan papa. Karena semuanya sudah menunggu di sana. Jadi kita akan melihat sudah berapa persen persiapan dari acara yang akan kita buat."
" Tunggu, apa?. Jadi kau sudah merencanakannya?"
" Ini akan menjadi pesta besar tentu saja aku sudah merencanakannya. Bahkan sudah menyiapkan semuanya."
" Astaga, kau sangat nakal ya.." Ucap Ayuna sambil berlari ke arah Bagas dan memukuli dadanya.
Bagas justru mendekap erat Ayuna.
" Aku mencintaimu." Bisik Bagas.
Ayuna menghentikan tangannya yang terus memukuli Bagas, dan menatap Bagas.
" Aku juga mencintaimu." Bisik Ayuna.
Bagas memegang dagu Ayuna dan mendekatkan wajahnya. Saat bibir mereka hampir menyatu, lagi-lagi suara tangisan dari si kembar yang membuat mereka mengurungkan niatnya.
Oek oek oek..
" Oh Tuhan, itu pasti Lio." ketus Bagas.
Ayuna tersenyum dan segera berjalan menuju tempat tidur kedua anaknya, dan benar saja memang Lio yang menangis.
" Lihat lah." Ucap Ayuna yang menunjukkan Lio tersenyum saat Ayuna menggendongnya.
__ADS_1
" Anak pintar, Jadi kau ingin bersaing dengan papi ya."
Lio menadahkan tangan tanda dirinya ini digendong oleh Bagas.
" Wah lihat, setelah kau tidak terima Papi mencium Mami. Sekarang kau ingin digendong oleh Papi?"
Lio tersenyum. Lalu Bagas menggendong Lio dan membawanya keluar kamar. Sedangkan Ayuna langsung menggendong Lia begitu gadis kecil itu terbangun.
Tin
Tin
" Wah lihat, siapa yang datang?" Ucap Bagas saat melihat mobil sang papa memasuki halaman rumah.
" Halo cucu Oma yang tampan."
Bagas langsung memberikan Lio kepada sang Mama. Lalu mereka memasuki rumah bersama.
" Mama, kapan datang?" Tanya Ayuna yang barusaja turun dari lantai atas.
" Barusan, kamu dan Bagas kok belum siap sih?"
" Siap kemana?" Tanya Ayuna.
" Astaga, hari ini kalian akan kerumah Mama dan Papa kan, karena nanti malam acara untuk si kembar." Ucap Mama.
" Bagas.." Ayuna langsung menatap tajam Bagas.
" Maaf." Bagas tersenyum sambil menjewer telinga nya sendiri.
" Sudah sudah. Sini berikan Lia pada papa, kalian segera bersiap." Ucap Papa yang berjalan mendekat ke arah Ayuna dan mengambil Lia.
Ayuna lalu naik ke atas bersama dengan Bagas.
Sesampainya di kamar, Ayuna mengambil koper dan mulai memasukkan pakaian si kembar dan juga dirinya sebaring mengomel panjang. Bagas yang mendengar menggaruk-garuk kepalanya dan menutup pintu dengan perlahan dan menguncinya.
" Sayang, jangan marah, apa kau tidak tahu jika cuaca sedang panas, bahkan panasnya sampai masuk ke kamar ini." Ucap Bagas yang memeluk Ayuna dari belakang.
" Bodo amat."
" Ck, lihatlah kau bahkan sangat berkeringat. Sini biarkan aku membantu membuka bajunya."
Tangan Bagas langsung membuka kancing baju Ayuna. Ayuna berbalik badan sehingga dirinya berhadapan dengan Bagas.
" Disini tidak panas, pikiranmu yang panas." Ucap Ayuna.
Bagas tersenyum.
" Dengar, aku mungkin bersalah karena merencanakan acara ini sendiri, tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku membuat ini semata-mata untuk memberi kejutan. Aku ingin kau berbahagia juga di hari ulang tahun si kembar. Karena itu aku merencanakan sebuah pesta besar, pesta ini bukan hanya untuk ulang tahun si kembar tapi untuk kita semua. Dan aku mengundang anak yatim dari beberapa Panti asuhan untuk mengingatkan kita kepada Gibran, jadi anggap saja ini juga acara sedekah kita untuk Gibran."
Ayuna menatap Bagas. Dia tidak menyangka bahwa Bagas sudah menyiapkan acara yang begitu besar untuk dirinya dan si kembar terutama untuk Gibran.
Tidak terasa ada sesuatu yang siap mengalir dari mata Ayuna.
" Hei, Kenapa kau menangis. Apa kau tidak suka dengan acara yang aku buat?" Tanya Bagas.
" Tidak, Aku suka bahkan aku sangat menyukainya. Terimakasih aku tidak menyangka kau juga akan membuat acara untuk putra kita Gibran."
" Tentu saja, walaupun diperanin tidak lagi bersama kita tapi dia tetap ada dalam hati dan ingatan kita."
" Iya, kau benar."
" Kalau begitu ayo, aku akan mendinginkan cuaca yang panas."
" Dasar nakal." Ucap Ayuna
Bagas tersenyum dan langsung mengangkat tubuh Ayuna dan meletakkannya di atas kasur. Mereka kemudian melakukan pagelaran budaya dengan penuh bahagia.
" Ma, Kenapa mereka sangat lama apakah mereka akan pindah ke London?"
" Mama juga tidak tahu, sebaiknya Mama akan melihatnya." Ucap Mama.
" Kemari, berikan Lio kepada Papa.x
Mama lalu segera berjalan menaiki tangga dan menuju kamar Bagas dan Ayuna, setelah dia menyerahkan Lio kepada suaminya.
Setelah Mama sampai di depan pintu kamar Bagas dan Ayuna, dan ketika memakan mengetuk pintu untuk memanggil mereka. Samar samar Mama mendengar suara *******.
" Astaga, anak luknut."
Mama kembali turun dengan memasang wajah kesal.
" Lo, Mama kenapa wajahnya kesal begitu, di mana Bagas dan Ayuna."
" Mereka tidak akan turun mungkin kita harus menunggu satu atau dua jam lagi."
" Kenapa begitu?, apakah barang bawaan mereka begitu banyak sehingga memerlukan waktu selama itu untuk berkemas?"
" Mereka tidak sedang berkemas papa."
" Lalu?"
" Mereka sedang ber wik wik."
" Ya Tuhan anak itu, hahaha."
" La papa kenapa ketawa?"
" Haha, ya terus Papa terus ngapain?, apa Papa harus marah-marah?. Ya biarkan saja mereka melakukan peraduan. Apa Mama juga ingin melakukan peraduan sekarang?" Goda Papa
" Tau ah, bapak dan anak sama saja." Ucap Mama yang langsung mengambil Lio dan membawanya ke ruang bermain.
" Lo, ma. Mau kemana?" Tanya Papa.
" Hongkong."
" Yah, papa ikut dong.."
" Tau ah.."
" Ma.."
Papa lalu segera berjalan mengejar Mama.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...