
" Gibran?"
Ayuna segera berlari ke arah gibran.
" Bagas apa yang terjadi pada Gibran?" Tanya ayuna.
Tiiii...i....i...itt
" Cepat panggil dokter." Ucap bagas.
Anjas segera menekan tombol darurat.
Tak beberapa lama kemudian, dokter datang bersama beberapa perawat.
Dokter segera melakukan tindakan.
" Siapkan Defibrilator, sekarang." Ucap dokter.
" Baik."
Perawat terlihat cekatan dalam mempersiapkan alat pacu jantung.
" Defibrilator, siap." Ucap perawat
" Dosis 80 Joule."
" Clear."
Jjrrrtttt.....
Jedug .
Tidak ada respon.
" Denyut nadi semakin lemah, detak jantung belum terdeteksi normal."
" Tambah kejutan nya."
" 100 Joule, clear "
Jrrtttt..
Jedug...
" Denyun nadi meningkat, detak jantung masih belum normal, tapi ada respon."
" Tambah dosis menjadi 120j."
" Siap. Defibrilator 120joule siap."
" Clear."
Jjrrrtttt...
Jedug..
Tii..t. tit tit.....
" Detak jantung kembali, tapi lemah."
Ayuna tersenyum lega. Setidaknya masih ada harapan gibran untuk bangun, walau harapan itu sangatlah kecil.
Lalu seorang dokter menghampiri ayuna dan bagas.
" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya." Ucap dokter.
" Tapi, saya mendengar perawat mengatakan jika detak jantung Gibran kembali walaupun lemah?. Bukankah itu adalah sebuah harapan?" Ucap ayuna.
" Maafkan saya, tapi dalam hal medis, putra anda sudah kritis. Mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu sebelum pergi atau dia memberatkan sesuatu sebelum pergi."
" Ap..apa maksud dokter?, pergi kemana anak saya? anak saya tidak boleh pergi kemana-mana. Dia harus sembuh, bukankah dokter berjanji akan menyembuhkan putraku?"
" Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, segala metode penyembuhan sudah kita lakukan. Namun, kanker itu cepat menyebar ke seluruh tubuh Gibran. Sehingga sangat sulit sekali untuk dihilangkan.,"
" Tidak mungkin." Ucap ayuna tidak percaya. Lalu pandangannya beralih menatap Bagas dan Anjas.
" Bagas, katakan kepada dokter itu bahwa Gibran akan sembuh, aku benar kan sebentar lagi Gibran akan bangunkan? dan kita akan bermain bersama lagi."
Bagas hanya terdiam.
" Bagas, kenapa kau hanya diam? Anjas?"
Ayuna memandang Anjas, namun anjas justru memalingkan wajahnya. Anjas memilih menatap putra nya yang sedang terbaring tak berdaya.
" Gibran." Ucap anjas saat melihat tangan Gibran bergerak.
Pandangan ayuna dan bagas langsung tertuju pada gibran.
__ADS_1
" Gibran." Ucap keduanya, dan segera menuju ranjang Gibran.
" Sayang, kau sadar nak?" Ucap ayuna.
Gibran memaksakan senyum, lalu matanya menatap Ayuna, Bagas, dan Anjas, secara bergantian.
" Nak, gibran harus kuat, Gibran tidak boleh meninggalkan mami." Ucap ayuna.
Gibran berusaha mengangkat tangannya, seakan-akan ia ingin memegang pipi sang ibu..
Ayuna yang tau langsung meletakkan tangan gibran di pipi nya. Perlahan gibran menggerakkan ibu jari nya, mengusap air mata yang mengalir di pipi ayuna.
" Gibran tidak ingin mami menangis nak?" Tanya ayuna.
Gibran mengangguk. Ayuna lalu menghapus air mata nya, dan tersenyum.
" Mami sudah tidak menangis sayang." Ucap ayuna sambil tersenyum. Dan terlihat gibran juga tersenyum. Walau senyum itu terasa berat.
" Mami sudah tidak menangis, jadi gibran harus sembuh ya sayang. Mami...mami ingin gibran sembuh. Hiks hiks hiks." Ayuna kembali menangis.
Mata Gibran tertuju pada anjas.
Anjas mendekat kepada gibran.
" Hai boy." Ucap anjas sambil menahan air mata nya.
Gibran tersenyum, dan tangan nya berusaha menyentuh wajah Anjas. Anjas meraih tangan Gibran dan meletakannya di wajahnya.
" Tidak nak, ayah tidak bersedih. Ayah hanya ingin gibran sembuh. Gibran harus lebih kuat dari penyakit yang ada di dalam tubuh Gibran."
Air mata gibran terlihat mengalir. Ayuna mengusap air mata gibran.
"Gibran kenapa menangis sayang?, mami dan papi serta ayah ada disini. Menemani gibran. Gibran jangan takut sayang."
Gibran menggeleng. Sekuat tenaga dia membuka mulutnya, ingin berbicara.
" Ma....mi..." Ucapnya terbata.
" Iya sayang, ada apa?"
" Bssstt...."
Gibran mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar jelas, jadi ayuna mendekatkan telinganya ke mulut Gibran.
" Jan..tung u..ntuk ba..yu..." Ucao gibran dengan sangat pelan dan terbata.
Karena ayuna hanya terdiam, Gibran melirik ke arah Anjas dan juga papinya.
Bagas yang tau langsung berkata,
" Ayuna apa yang gibran bicarakan?. Apa dia meminta sesuatu?, atau menginginkan sesuatu?" Tanya bagas.
" Iya ayuna, apa yang gibran inginkan? dia seperti menunggu sebuah jawaban." Imbuh anjas
Dengan tatapan masih lurus ke depan ayuna menjawab,
" Gibran ingin mendonorkan jantungnya kepada Bayu."
Deg !!
Anjas dan bagas menatap gibran, gibran tersenyum.
" Ap..apa maksud mu nak." Ucap anjas.
Gibran mengangguk. Bagas mendekati gibran.
" Boy, kenapa kau berbicara seperti itu nak. Apa Gibran tidak ingin sembuh?, apa Gibran tidak ingin menjaga adik Gibran yang ada di perut mami?. Bukankah Gibran menginginkan sepasang adik kembar?." Ucap bagas. Gibran tersenyum dan mengangguk.
" Kalau begitu berjuanglah untuk sehat nak."
Gibran menggeleng.
" Jika Gibran tidak berjuang untuk sehat maka Gibran tidak akan sembuh. Lalu siapa yang akan menjaga mami dan adik adik Gibran nanti."
Gibran mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah Bagas.
Bagas menunduk, dia menggenggam dan mencium tangan gibran sambil menangis.
Lalu pandangan Gibran seolah mencari-cari ayuna. Bagas yang tau langsung mengeser posisi nya. Dan memberi kode kepada ayuna, agar mendekat ke arah gibran.
Ayuna hanya memandang gibran.
" Mami tidak mau mendekat, jika Gibran tidak berjuang untuk sembuh."
Gibran berusaha mengangkat tangan, seakan meminta ayuna untuk menggapai tangannya.
Untuk sesaat ayuna mengalihkan pandangannya, sebelum akhirnya dia segera berlari dan memeluk putranya itu.
__ADS_1
" Gibran harus sembuh sayang, mami ingin Gibran sembuh. Gibran adalah kekuatan mami. Jangan pernah tinggalkan mami sayang." Lirih ayuna.
" Gib..ran me...nya..yangi.. ma..mi.., gi..bran.. ba..ha..gia me..mi..li..ki i..bu.. se..per..ti... ma..mi.."
Gibran berusaha keras mengangkat tangan dan memeluk ayuna.
" Haah hah..."
Ayuna mendengar nafas Gibran seperti sedang merasakan sesak yang luar biasa.
" Sayang, Gibran harus kuat nak."
Ayuna melepas pelukannya, tangan Gibran menunjuk ke arah jantungnya.
" Ayuna ingin jantungnya diberikan kepada Bayu. Ijinkah saja, agar gibran bisa pergi dengan tenang." Ucap Anjas.
" Tidak, Gibran tidak akan pergi kemanapun. Dia akan tetap bersamaku dan juga papinya."
" Ayuna aku mohon, jangan terlalu lama lagi menyiksa Gibran, relakan hatimu untuk kepergian Gibran." Ucap bagas sambil memegang bahu ayuna.
Ayuna melihat gibran, gibran tersenyum.
" Gibran ingin memberikan jatuh Gibran kepada Bayu?." Bisik ayuna.
Gibran mengangguk. Ayuna terdiam, memejamkan mata, berusaha menahan tangisannya.
" Baiklah nak, mami izinkan Gibran memberikan jantung gibran kepada bayu." Bisik ayuna.
" I.. Lo...ve.. ma..mi..."
Tiiiiiiiiiiiiittttttttttt....
Bagas dan anjas melihat ke arah monitor.
Anjas segera menekan tombol darurat.
" Gibran?, sayang?"
Ayuna menepuk pipi gibran.
" Nak?, gibran?"
Ayuna juga menggoyangkan tubuhnya.
" Bagas, coba bangunkan gibran." Ucap ayuna, seperti mulai kehilangan akal sehatnya.
" Ayuna, gibran sudah pergi."
" Tidak, dia tadi bangun. Dia bahkan mengatakan i love you kepadaku." Ucap ayuna.
Bagas terdiam, dia menghapus air mata nya, lalu mendekati ayuna.
" Ayuna, Gibran sudah pergi ke surga."
" Tidak bagas, gibran sedang tidur, tolong bangunkan dia."
Ayuna terus memanggil-manggil nama Gibran sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
" Gibran sudah tiada ayuna."
" Tidak bagas, ayuna sedang tidur, lihatlah dia tidur terlalu pulas. bukankah sekarang waktunya dia minum obat?, jadi sekarang bangunkan Gibran."
" GIBRAN SUDAH TIADA AYUNA." Ucap bagas dengan suara keras.
Ayuna Bagas dan tersenyum,
" Kau bercanda lagi ya?" Ucapnya
" Yang dikatakan Bagas benar, putramu sudah tiada ayuna. Dia pergi dengan bahagia saat kau sudah mengizinkan gibran untuk memberikan jantungnya kepada Bayu."
" Tidak. Tidak. Aku tidak mengizinkannya, AKU TIDAK MENGIZINKANNYA....." Teriak ayuna.
" BANGUN GIBRAN, MAMI TIDAK MENGIJINKAN KAMU MENDONORKAN JANTUNG...." Teriak ayuna mulai histeris dan menangis.
Lalu dokter kembali datang, setelah memastikan tidak ada lagi denyut nadi ataupun detak jantung Gibran. Mereka pun mencopot semua alat yang ada di tubuh Gibran.
" Gibran...." Teriak ayuna.
Brug !!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1