LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Panik gak, panik gak?


__ADS_3

" Hmm, kira-kira siapa yang datang bertamu?" Tanya anjas


" Mungkin itu Mama."


" Tidak mungkin, mama biasanya pulang dengan taksi kan. Sebaiknya aku lihat." Ucap anjas.


" Emmm jangan." Cegah selin.


" Kenapa?, bukankah kita kedatangan tamu?, sangat tidak sopan bukan jika tuan rumah tidak keluar untuk menyambut tamu." Ucap Anjas.


" Maksudku, biar aku saja yang melihat siapa yang berkunjung. Kau disini saja." Ucap selin. Karena dia tahu yang datang pasti dion. Selin menemukan kunci apartemen Dion dilantai. Mungkin terjatuh saat Dion akan mengambil kunci mobilnya yang ada di saku celana.


" Tidak perlu, kau sedang hamil sebaiknya kau duduk disini. Diam, biarkan aku yang melihat siapa yang datang."


" Tidak biarkan aku saja."


" Hmm, Sepertinya kau sangat ingin menemui tamu itu ya, Apa kau sudah tahu siapa yang datang?"


Selin gugup.


" Tentu saja aku tidak tahu."


" Kau yakin?, Lalu kenapa kok bersikeras ingin menemui tamu itu. Dan tidak membiarkanku menemuinya?"


" Itu karena..."


Tok


Tok


Tok


" Selin..." Teriak dion.


" Kemana selin?. Kenapa dia lama sekali membukakan pintu, bukankah Anjas belum pulang. Aku bahkan tidak melihat mobilnya."


Dion tidak tahu jika anda sudah ada di dalam rumah, karena Anjas sengaja tidak memakirkan mobilnya di luar rumah. Mobil anjas terparkir jauh beberapa meter dari rumah.


Ceklek...


Dion membuka pintu dalam termasuk,


" Masih sepi, itu artinya mama anjas dan anjas sebelum pulang."


" Selin, kau ada dimana?"


" Lihat, Sepertinya kamu itu sudah masuk ke dalam rumah. Tidak sopan sekali tamu itu langsung masuk ke dalam rumah begitu saja." Ucap anjas, saat mendengar suara yang memanggil nama Selin.


"Mungkin dita, teman lama ku. Dita memang terbiasa langsung masuk jika berkunjung ke rumah ini." Ucap selin dengan sedikit gugup.


" Baiklah, kalau begitu segera temui temanmu sebelum teman itu masuk ke dalam kamar ini." Ucap Anjas.


Selin segera keluar dari kamar, dan segera berjalan menuju ruang tamu untuk menemui dion. Anjas tersenyum kecut saat melihat kepergian selin. Dia kau yang datang adalah Dion, namun Anjas pura-pura tidak tahu dan pura-pura bodoh.


Anjas mengambil ponselnya dan mulai menghubungi orang tua selin.


" Halo ma.."


" Anjas tumben sekali kau menelpon nak ada apa?" Suara mama.


" Bisakah mama datang dengan papa sekarang?, Anjas punya sedikit kejutan untuk kalian."


" Apa itu?"


" Jika Anjas memberitahunya melalui telepon itu bukan kejutan namanya, benarkan?"


" Haha, iya. Kamu ini. Ya sudah mama dan papa akan berangkat ke rumahmu sekarang, kebetulan mama dan papa baru saja pulang dari butik mamamu. Jadi kami akan tiba dalam 5 menit."

__ADS_1


" Waktu yang sangat pas sekali. Ya sudah, kalau begitu anjas tutup teleponnya ya ma pa." Ucap anjas.


" Iya sayang."


Tut


Sambungan dimatikan. Saat anjas akan meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku. Ponselnya berdering


Drttt drrrrtt drrrttt


" Bagas?"


Anjas mengerutkan dahinya, lalu menggeser tombol hijau.


" Ada apa?, tumben menelponku?" Tanya anjas.


" Ini aku ayuna."


" Ah, maaf ayuna. Aku pikir kau adalah Bagas, karena kau menelpon melalui ponselnya."


" Ya, ponselku mati. Jadi aku meminjam ponsel Bagas untuk menghubungimu, dan memberimu kabar tentang Gibran."


" Apa itu. Oh ya, Apa kalian sudah pulang dari Surabaya?"


" Ya, kami sudah pulang beberapa hari yang lalu."


" Oke. Lalu Apa yang ingin kau katakan tentang Gibran?"


" Kami akan membawa Gibran ke Singapura malam ini."


" Apa?" Ucap anjas terkejut.


" Apa ada sesuatu yang terjadi pada Gibran?" Tanya anjas.


" Aku ragu jika kau tidak tahu bahwa penyakit Gibran datang kembali." Ucap ayuna.


" Ya, tadi pagi Gibran merasakan pusing dan hidungnya kembali mimisan. Bagas memberinya obat yang diberikan oleh dokter."


" Lalu, Bagaimana keadaan Gibran sekarang?"


" Dia sedang istirahat, baiklah aku hanya akan mengabari itu padamu."


" Baiklah terima kasih sudah mengabariku, aku ada dalam daftar penumpang pesawat yang akan ke Singapura. Karena aku akan ikut kalian dalam penerbangan malam ini."


" Baiklah. Aku akan mengatakannya pada Bagas nanti."


Anjas meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.


Lalu anjas teringat pesan almarhum papanya, satu hari sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya.


" Nak, kau tahu kan kanker yang diderita papa termasuk dalam golongan kanker yang langka. Dan kanker ini dapat menular pada garis keturunan keluarga kita, papa harap kanker ini tidak akan datang kepadamu, atau kepada anakmu suatu hari nanti. Namun, jika ternyata kelak kau atau anak mu menderita kanker mengerikan ini. Papa harap kamu akan berjuang keras untuk kesembuhan. Kau harus bisa mengalahkan kanker ini. Cukup papa saja yang kalah dengan kanker ini."


Anjas membasuh muka nya.


" Aku berjanji papa, Aku akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan putraku. Aku sudah kehilangan papa, karena kanker mematikan ini. Aku tidak ingin kehilangan putraku juga."


Setelah mencuci muka, anjas segera keluar sama dan berjalan menuju ruang tamu.


" Dion Kenapa kau kemari?" Bisik selin.


" Aku kemari karena aku merindukanmu.," Goda dion.


" Ck, jangan main-main anjas sedang ada di rumah." Ucap selin.


" Tidak mungkin, mobilnya tidak ada di halaman rumah. Sudah jelas Anjas tidak ada di rumah kamu membohongiku ya?" Ucap dion yang memeluk selin.


" Aku tidak berbohong, Anjas ada di dalam kamarku."

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat ke arah mereka. Selin langsung melepaskan pelukan Dion, karena dia tahu langkah kaki itu adalah milik Anjas.


" Jadi siapa yang datang sayang?" Tanya anjas begitu dia sampai di ruang tamu.


" Ah dion. Ternyata yang datang adalah Dion?. Selin bilang yang datang adalah dita." Ucap Anjas yang langsung duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


" Emm ya, awalnya aku pikirkan datang adalah Dita ternyata yang datang adalah Dion." Ucap selin


" Lalu, Kenapa kau tidak menyuruhnya masuk?. Ayo kemari dan duduklah Dion. Selin ambilkan tamu kita ini makanan dan minuman." Perintah anjas pada selin.


Selin berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan dan minuman.


" Anjas?"


" Dion, sedang apa kau kemari?, dan apakah selalu masuk begitu saja saat datang kemari?"


Pertanyaan anjas, sukses membuat wajah diam pucat. Dia menjawab apa sampai terdengar suara ketukan pintu,


Tok


Tok


Tok


Anjas bangun dari duduknya dan langsung berjalan untuk membukakan pintu.


" Mama, papa?" Ucap anjas senang, sementara Dion hanya menunduk. Dalam hati nya mengumpat.


Sial. kenapa harus ada mama dan papa selin di sini?, Apa mungkin Anjas yang menyuruh mereka datang?. Oh tidak. Apa Anjas berniat membongkar perselingkuhan kami hari ini?.Habislah riwayatku jika anda akan membongkar perselingkuhan kami. Batin dion.


" Nak, dimana selin?" Tanya mama.


" Selin sedang di dapur mah, membuatkan makanan dan cemilan untuk tamu."


Mama dan papa selin, duduk berhadapan dengan dion. Mereka tidak tahu jika di on adalah ayah dari bayi yang sedang dikandung selin. Dan mereka hanya mengenal dia sebagai sekretaris anjas.


" Mama?, papa?"


Selin hampir sama terkejutnya seperti Dion saat melihat mama dan papanya ada disini.


Selin duduk setelah meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


" Anjas, katakan, kejutan Apa yang ingin kau beritahu kepada kami?"


Deg !!


Wajah selin dan dion pucat. Anjas tersenyum melihat wajah ketakutan mereka.


" Aku ingin memberi tahu..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa like...


...komen...


...Maafken jika masih banyak typo ya kak ☺️...

__ADS_1


__ADS_2