LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Menjadi Suami siaga


__ADS_3

" Yes.."


Anjas langsung bersorak gembira, layaknya seorang yang baru saja dinyatakan lulus dalam ujian.


" Aku akan segera kembali."


Cup


Anjas mencium pipi Bella, kemudian bergegas meninggalkan nya.


Dalam perjalanan menuju kamar, Anjas bersiul penuh kebahagiaan.


" Eh eh kamu terlihat sangat bahagia, apa sakit mu sudah sembuh?" Tanya Rini.


" Ya mama, Anjas sudah sembuh."


Anjas langsung memeluk ibunya dan pergi ke kamar. Rini tidak mengerti dengan apa yang terjadi, jadi Dia memutuskan untuk ke ruang dapur menemui Bella dan menanyakan semuanya.


" Ah, jadi karena itu sakit rangers langsung sembuh." Ucap Rini saat Bella sudah menceritakan apa yang terjadi diantara mereka.


" Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Rini.


" Bella tidak tahu, karena saat Bella mengatakan itu Anjas langsung berdiri bersorak gembira kemudian meninggalkan Bella di sini sendirian."


" Ya Tuhan anak itu, kelakuannya masih seperti bocah." Ucap Rini.


Bella hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Rini.


" Ya sudah, Ayo kita cari tahu apa yang akan Anjas lakukan setelah ini." Ucap Rini yang langsung menggandeng tangan Bella.


" Boleh, Bella juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Anjas."


Saat mereka hendak berjalan menuju kamar Anjas, Rini tiba-tiba berhenti dan memandang Bella.


" Kenapa Mama memandangi Bella seperti itu?"


" Kamu, kamu tadi bilang apa?"


" Yang mana?"


" Tadi, perkataan kamu sebelum Anjas terlihat begitu gembira."


" Oh itu, aku cuma bilang kepada Anjas bahwa aku siap menjadi pendamping hidupnya."


Rini menutup mulut dengan kedua tangan. Dia sungguh terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


" Kau, kau serius menerima lamaran Anjas?"


Bella mengangguk.


" Aaaaa, ya Tuhan terima kasih, karena engkau telah menjawab doa doaku. Bella, terima kasih ya karena kamu sudah mau menerima lamaran. Mama sangat bahagia sekali." Ucap Rini sambil memeluk Bella.


" Sama sama ma."


" Semoga kamu adalah takdir bagi Anjas."


Malam itu, Anjas mengajak Bela ke sebuah taman. Dan dengan disaksikan banyak orang Anjas melamar Bella.


Beberapa bulan setelah acara lamaran itu, Anjas dan Bella sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


...----------------...


Sementara itu. Ayuna dan Bagas udah kembali tinggal di rumah mereka. Sesekali Mama, Mesya, atau adik kembar Bagas datang berkunjung untuk menemani Ayuna saat Bagas ke kantor atau pergi.


" Ayuna, kamu kan sedang hamil kembar. Bagaimana kalau melahirkan melalui operasi sesar saja. Sangat resiko jika kamu mencoba untuk melahirkan mereka dengan cara normal." Ucap Mama saat Mama memilih untuk menginap di rumah Bagas.


" Iya, Bagas juga berulang kali mengatakan kepada Ayuna agar melahirkan twins dengan operasi sesar saja. Lagipula dokter juga sudah menyarankan hal itu karena melahirkan bayi kembar dengan normal resikonya sangat tinggi. Jika Ibu tidak kuat bertahan maka itu akan membahayakan nyawa dari ibu itu sendiri dan juga bayi yang masih belum keluar."

__ADS_1


" Nah, benar apa yang dikatakan Bagas."


Ayuna tersenyum.


" Ma, Aku kan belum mencoba, Kenapa harus menyerah begitu saja. Ayuna yakin kok Ayuna pasti bisa."


" Bukan masalah bisa atau tidak sayang, tapi ini demi kebaikanmu dan juga bayimu. Pikirkan lagi nanti, oke." Ucap Mama.


" Baiklah ma." Ucap Ayuna.


" Dan untuk kamu Bagas, kurangi pekerjaanmu dan lebih banyak lah tinggal di rumah kamu harus menjadi suami yang siap siaga. Bulan ini kan seharusnya menjadi bulan kelahiran dari bayi kembar kalian."


" Bagas paham Ma, karena itu mulai besok Bagas bekerja di rumah. Jadi Bagas bisa menjaga Ayuna selama 24 jam penuh."


" Itu Baru anak Mama. Ohya, jika misalnya Ayuna memilih operasi sesar, kapan jadwal nya?" Ucap Mama sambil menyantap makanan.


" Minggu depan." Ucap Ayuna, sesaat setelah dirinya selesai menghabiskan segelas susu.


" Wow."


" Kenapa ma?" Tanya Ayuna saat dia melihat perubahan ekspresi dari mama mertuanya itu.


" Tidak apa apa, mama hanya senang karena sebentar lagi mama akan bertemu cucu cucu mama."


" Ayuna juga sangat senang ma, karena sebentar lagi Ayuna bisa menggendong anak-anak Ayuna."


" Ehem, jadi cuma Ayuna dan Mama saja nih yang senang?. Bagas juga dong. Bagas kan koki nya."


" Iya iya, kamu yang menang banyak."


" Hahaha.."


Mereka bertiga kemudian menikmati makan malam itu dengan penuh canda tawa.


Beberapa hari kemudian, Mama pamit pulang.


" Aduh sayang, Mama pulang cuma beberapa hari saja setelah itu Mama akan ada di sini sampai kamu melahirkan."


" Hmm, baiklah. Apa Mama mau pulang diantar dengan Bagas?"


" Ah tidak usah, biarkan batas ada disini untuk menjagamu. Lagipula Mama sudah menelepon sopir, dan mungkin sebentar lagi sopir itu akan datang."


Tin


Tin


" Nah, baru juga diomongin udah dateng kan?" Ucap Mama


" Iya, yuk Ma, Ayuna antar Mama ke depan."


" Lo, sopirnya ternyata papa toh." Ucap Ayuna terkejut saat melihat yang turun dari mobil adalah Papa Bagas.


" Enak aja bilang Papa supir."


" Lo, Papa kan memang sopir, sopir hatinya mama." Ucap Mama


" Uuwhh, kalau ini sih Papa demen. Ayo ratuku kita pulang." Ucap Papa sambil membukakan pintu untuk mama.


" Mama pulang ya sayang." Ucap Mama sambil memeluk dan ber cipika-cipiki.


" Hati hati ma, pa."


" Tentu, kau juga ya. Segera hubungi mama dan papa chicken kau sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan." Ucap Papa sambil mengelus lembut rambut Ayuna.


" Siap komandan."


Setelah itu, Papa segera masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Ayuna.

__ADS_1


" Bye.."


Ayuna membalas lambaian tangan dari mama dan papa mertuanya itu.


" Sayang, kok lama sekali sih ngantar mama masuk yuk." Ucap Bagas.


" Ih kamu ini kemana aja, Mama mau pulang bukannya nganterin sampai depan pintu kamu malah ngilang." Ketus Ayuna .


" Ya maaf sayang. Habisnya aku terlalu asik merias kamar untuk kedua bayi kita."


" Kamar?, sayang bukankah kita sudah sepakat jika kita tidak akan memisah kamar bayi kita dengan kamar kita kan?"


" Aku tidak memisahnya, aku hanya membuat sedikit pembatas diantara tempat tidur kita dan juga ranjang untuk bayi-bayi kita."


" Seperti itu.."


" Iya, seperti itu. Kau mau melihat nya?"


" Tentu saja."


" Kalau begitu ayo."


Bagas mulai menuntun Ayuna dengan hati-hati. Dan saat mereka bersiap menaiki anak tangga pertama. Ayuna tiba tiba merasakan sakit yang luar biasa. Air ketubannya pecah. Karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada Ayuna dan juga kedua bagi mereka. Bagas segera membawa Ayuna ke rumah sakit.


Bagas segera ajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, tak lupa juga bakal kami orang tuanya.


" Halo ma pa, sepertinya Ayuna akan melahirkan dan sekarang Bagas sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit."


" Kamu bercanda ya, belum ada 10 menit lo Mama yang meninggalkan rumah kamu."


" Iya, sekarang Ayuna kan melahirkan Ma, dan Bagas sedang dalam perjalanan."


" arghhh..."


Mama dan papa Bagas mendengar suara erangan kesakitan dari Ayuna, karena saat itu ponsel Papa dalam mode speaker.


" Ya Tuhan, apakah tadi itu suara dari Ayuna?"


" Iya ma."


" Ya sudah, kita bertemu di rumah sakit. Ingat. Jangan membawa kendaraan dengan cepat."


" Oke."


Setelah meletakkan kembali ponselnya ke sembarang tempat yang ada di mobil. Bagas memandang Ayuna dan memegang tangannya.


Bagas melihat Ayuna sedang menahan sakit.


" Bertahanlah sayang."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...


...hadiah...

__ADS_1


__ADS_2