LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Rumah Tara


__ADS_3

" Pa, itu sepertinya mobil Yudi."


" Iya, mungkin Yudi sudah membawa pulang Tara."


" Ayo kita Lihat Pa."


" Ayo."


Kedua orangtua Tara kemudian segera bergegas keluar rumah, dan benar saja saat mereka keluar Yudi sudah membopong tubuh Tara. Dan tidak lama kemudian orang suruhan Bagas dengan membawa mobil Tara.


" Yudi apa yang terjadi dengan cara Kenapa Tara seperti itu dan Kenapa juga mobil Tara dibawa oleh orang lain. Apa para terlibat dalam kecelakaan?"Tanya Mama Tara.


" Iya, dan Kenapa justru orang-orang ini yang membawa mobil Tara pulang." Imbuh Papa.


" Ma, Pa. Sebaiknya kita bicara di dalam saja setelah aku meletakkan Tara. Dan orang-orang ini adalah orang suruhan Bagas yang memang ditugaskan untuk membawa mobil Tara pulang."


" Ya sudah Ayo."


Yudi langsung menidurkan Tara di kamarnya.


" Jangan pergi." Ucap Tara yang mengigau saat Yudi baru saja meletakkannya di atas kasur.


" Tara bangun lah." Ucap Yudi.


Namun Tara tetap tidak bergeming. Tara setengah sadar karena dirinya juga terpengaruh alkohol. Ya, saat Tara merasakan dirinya terkena reaksi dari obat perangsang Dia segera meminum alkohol dalam perjalanan pulang. Itu yang kemudian membuat Tara oleng dan memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk menyetir. Dan siapa sangka justru Bagas yang menemukannya. Namun sialnya nya Tara yang sudah tidak sadarkan diri justru dibawa pulang oleh Yudi.


Tok


Tok


Tok


Ceklek.


Mama dan Papa Tara masuk.


" Yudi, sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tara?"


" Jadi, saat aku menghubungi ponsel Tara, yang mengangkat adalah Bagas."


" Bagas?, Kenapa Bagas semangka teleponnya apakah cara berada di rumah Bagas lagi?" Tanya Mama.


" Anak ini benar benar keterlaluan, dia pasti membuat ulah di sana." Imbuh Papa.


" Tidak, bukan seperti itu Tara tidak ada di rumah Bagas, justru Bagas lah yang menemukan Tara berada di pinggir jalan dalam keadaan mabuk."


" Apa?, Tara mabuk? benar-benar keterlaluan." Ketus Papa.


" Pa, tolong jangan mengecam Tara sebelum kita tahu alasannya." Ucap Yudi.


" Iya, kau benar. Mungkin juga karena Papa dan Mama terlalu memanjakan Tara. Kami tidak pernah membatasi Tara dalam hal apapun." Ucap Papa.


" Belum terlambat Pa, semoga saja setelah ini kita masih bisa memantau dan mengawasi serta mengarahkan para untuk bisa berpikir lebih dewasa dan lebih tegas lagi." Ucap Yudi.


" Iya, Mama dan Papa sangat berharap kau akan bisa menjadi pendamping Tara. Jadi kami tidak akan khawatir untuk melepas Tara karena kami yakin Tara berada ditangan yang tepat." Ucap Mama.


" Yudi juga berharap begitu tapi semua kembali kepada Tara. Karena Yudi tidak akan pernah memaksa Tara untuk meneruskan perjodohan ini." Ucap Yudi sambil melihat ke arah Tara yang masih terus memegangi tangannya.


Yudi mencoba melepaskan genggaman tangan, Namun Tara justru semakin mendekap erat tangan Yudi. Saat itu, diantara pikir adalah dia menggenggam tangan Bagas.


" Sebaiknya kau di sini sebentar untuk menemani Tara." Ucap Papa yang tahu saat Yudi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Tara.


Mama selalu mengajak Papa untuk keluar dari kamar Tara.


" Ayo Pa, sebaiknya kita memberi ruang bagi Tara dan juga Yudi."


" Hmm,"


Papa mengangguk, Papa juga mengelus bahu Yudi sebelum akhirnya keluar dari kamar Tara.


" Tara, apa yang sebenarnya terjadi padamu?." Lirih Yudi.


" Kak Bagas, sentuh aku. Aku sungguh menginginkan sentuhan hangat darimu." Ucap Tara yang tiba-tiba saja terbangun dang langsung mendekap erat tubuh Yudi.


Bagas?, apa Bagas ada kaitanya dengan apa yang terjadi pada Tara?. Kenapa cara menyebut Bagas. Batin Yudi.


Yudi terkejut saat mengetahui Tara tiba-tiba saja bangun dan duduk di hadapannya, memegang kedua pipi Yudi. Tara mendekatkan wajahnya kepada wajah Yudi.


" Tara apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Yudi.


" Sttt..., biarkan malam ini menjadi saksi penyatuan kita berdua."

__ADS_1


" Penyatuan?, apa maksud perkataan mu. Apa...??"


Yudi tidak meneruskan kata-katanya, lalu dia tersadar bahwa Tara berada dalam pengaruh obat perangsang dengan dosis tinggi. Dan sepertinya para juga mengkonsumsi alkohol itu yang membuat dirinya pingsan. Karena tubuhnya tidak mampu menahan dosis tinggi yang diakibatkan dari perpaduan alkohol dan juga obat perangsang. Dan sekarang pengaruh alkohol dalam tubuh Tara sudah hilang, namun obat perangsang dengan dosis tinggi itu masih belum hilang dari tubuh Tara.


" Tara, tidak. Jangan lakukan ini. Kau sedang tidak sadar dan berada di dalam pengaruh obat." Ucap Yudi, yang mencegah Tara untuk membuka kancing kemejanya.


" Sttt, ijinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku bersedia memberikan tubuh ku untuk memuaskan mu." Ucap Tara yang memaksa membuka kancing baju Yudi.


" Tara, hentikan. Apa yang terjadi padamu?"


" Ayolah, aku hanya ingin kau membebaskan ku dari rasa ini. Sungguh aku sudah tidak dapat lagi menahan nya."


Yudi berusaha keras terlepas dari Tara. Dan saat Yudi sudah berhasil melepaskan diri dari Tara, Yudi segera berjalan menjauh dari tempat tidur Tara.


Tara yang sudah sangat amat menginginkan sebuah penyatuan. Mendekati Yudi sambil meninggalkan semua pakaian nya. Yudi semakin mundur hingga sampai di pintu. Ketika Yudi akan membuka nya, Tara dengan cepat mengambil tangan Yudi, dan meletakkannya di dada Tara.


" Ayolah, apa kau tidak tertarik dengan ini?" Ucapnya.


Yudi memejamkan mata, mencoba menahan nafsu nya. Yudi laki laki normal, tentu saja dia akan sangat tertarik melihat indahnya lekuk tubuh Tara yang hanya dibalut pakaian dalam.


Yudi melepas tangan, dan beralih memegang kedua pipi Tara. Tara memejamkan mata. Menikmati sentuhan tangan Yudi.


" Lakukan." Pinta Tara.


Dengan perlahan, Yudi berjalan hingga membuat Tara melangkah mundur, Yudi terus melakukan itu, hingga Tara terjatuh di atas tempat tidur. Dengan gerakan cepat Tara menarik Yudi hingga jatuh diatas tubuhnya. Sekali lagi, Yudi mengelus wajah Tara. Tara yang sangat tersiksa karena obat perangsang, membuat nya semakin nekat.


Tara mendorong tubuh Yudi, dan kini posisi mereka berbalik. Tara yang ada diatas Yudi.


" Tara dengar, kau sedang dalam pengaruh obat. Jadi jangan sampai kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali nanti."


Tara tidak menggubrisnya. Justru membuat Tara semakin agresif.


" Tara, aku memang mencintai mu, dan menginginkan dirimu menjadi milikku. Tapi aku tidak mau dengan cara seperti ini." Lirih Yudi.


Namun, percuma saja berkata. Karena Tara tidak mendengarkan nya.


Yudi menghela nafas lalu dengan cepat membalikan Tara. Menindih Tara, mendekatkan wajahnya ke wajah Tara. Tara memejamkan mata.


Yudi dengan gesit mengangkat kedua tangan Tara dan mengikat nya. Setelah itu Yudi segera mengikat ke dua kaki Tara. Yudi tidak sengaja melihat sebuah lakban dimeja Tara, dengan gesit Yudi segera membungkam mulut Tara dan menutup mulut Tara dengan lakban sebelum Tara berteriak dan membuat suasana semakin kacau.


" Emm emm emm.."


Tara berusaha memberontak. Yudi menutupi tubuh Tara dengan menggunakan selimut.


Lalu Yudi segera memakaikan kembali pakaian Tara, walau dengan perjuangan yang berat karena Tara terus meronta-ronta, namun akhirnya Yudi dapat membuat Tara memakai kembali pakaiannya.


" Sial. Aku tidak bisa keluar dalam keadaan ini, Mama dan Papa Tara pasti akan curiga." Ucap Yudi saat melihat beberapa pancing dari kemejanya terlepas.


Yudi lalu mencoba membuka lemari Tara dan mencari apakah dia akan menemukan sebuah jarum dan benang.


Lama Yudi mencari, dan akhirnya dia menemukan sekotak yang berisi alat jahit. Tidak ingin menunggu terlalu lama Yudi segera mencari kancing bajunya yang terlepas dan menyatukannya kembali. Dengan sedikit keahlian menjahit yang dia miliki akhirnya kancing kemeja itu dapat terpasang kembali. Lalu Yudi segera mengembalikan kotak jahit itu dan keluar dari kamar.


Dan betapa terkejutnya Yudi saat mengetahui orang tua Tara sudah berada di depan pintu.


" Astaga Mama, Papa. Kalian mengejutkanku."


" Maaf yudi, tadi kami mendengar suara teriakan dari Tara. Jadi kami pikir mungkin kamu membutuhkan bantuan kami untuk mengatasi Tara."


" Tidak tidak, aku dapat mengatasinya aku hanya keluar untuk meminta air kelapa muda dan mungkin obat sakit kepala apakah kalian mempunyai nya?" Ucap Yudi segera sebelum mama Tara memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Bagaimana pun juga, orang tua Tara tidak boleh tahu kondisi Tara yang sebenarnya berada dalam pengaruh obat perangsang. Karena itu akan menjadi masalah setelah Tara tersadar nanti. Biarlah hal ini hanya Yudi yang tahu.


" Ini sudah malam, sekalipun kita mencari kita tidak akan menemukan penjual kelapa. Memangnya apa yang sebenarnya terjadi pada Tara." Ucap Papa.


" Aku rasa ini karena pengaruh dari alkohol yang sudah dia minum, jadi Tara berteriak karena sakit kepala yang dirasakannya. Karena itu aku membutuhkan air kelapa muda atau obat sakit kepala." Ucap Yudi.


" Air kelapa muda akan sangat sulit didapatkan terutama saat malam hari. Tapi sepertinya mama punya obat sakit kepala." Ucap Mama yang langsung pergi dan membuka kotak P3K yang letaknya' tidak jauh dari sana. Lalu kembali dengan membawa obat sakit kepala dan memberikannya kepada Yudi.


" Terima kasih ma, aku akan memberitahukannya kepada Tara. Dan ya, sebaiknya kalian tetap disini jangan masuk dulu sebelum aku keluar. Karena aku takut ntar akan semakin terpukul jika kalian melihat kondisi Tara yang sedang mabuk berat." Ucap Yudi.


" Hmm, ya sudah."


" Baiklah, kalau begitu aku akan masuk dulu dia memberikan obat ini kepada Tara." Ucap Yudi yang langsung masuk dan menutup kembali pintu kamar Tara.


" Huft, semoga saja mereka tidak curiga." Lirih Yudi.


Dengan cepat Yudi memberikan obat itu kepada Tara. Setelah cukup lama para yang awalnya memberontak mulai lemas dan akhirnya tertidur.


Rupanya Yudi mencampur obat sakit kepala dengan obat tidur yang selalu dia bawa kemana saja.


Setelah memastikan Tara benda-benda tidur, dengan perlahan Yudi melepaskan semua ikatan di tangan dan kaki Tara. Yudi menyelimuti tubuh Tara dengan selimut. Lalu berjalan keluar dari kamar ntar.


" Ma, Pa. Tara sepertinya sudah merasa lebih baik dan dia tidur, kalian boleh melihatnya sekarang jika mau." Ucap Yudi saat menemui mereka di ruang santai.

__ADS_1


" Tidak. Biarkan saja Tara istirahat besok saja kita akan berbicara kepadanya." Ucap Papa.


" Kalau begitu, aku izin pamit karena aku harus pulang."


" Iya, terima kasih karena sudah membantu kami merawat Tara." Ucap Mama.


" Tidak masalah, kalau begitu aku akan pulang sekarang." Ucap Yudi sambil mencium kedua tangan dari mama dan papa Tara.


" Hati hati dijalan." Ucap Mama.


" Tentu."


Dalam perjalanan pulang, Yudi terus saja memikirkan tentang Tara yang mengigau memanggil nama Bagas. Dan Yudi bertekad akan mencari tahu apa hubungan Bagas dengan Tara.


Apakah mungkin Tara menyukai Bagas? Tapi itu sungguh tidak mungkin, mereka adalah saudara sepupu dan Bagas sudah memiliki keluarga. Batin Yudi.


Sementara itu, Bagas dan Ayuna yang baru saja menyelesaikan pertempuran panas. Langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Sayang, Kenapa kau begitu sangat mempesona, aku tidak bisa berhenti untuk tidak menggauli. Satu lagi boleh?" Bisik Bagas.


" Ck, kau ini seperti tidak ada hari esok saja. Sudah lah malam ini sebaiknya kita istirahat, aku juga mulai merasa lapar." Ucap Ayuna.


" Kalau begitu segera mandilah lalu aku akan membuatkan makanan untukmu." Ucap Bagas.


Tak lama kemudian, Bagas dan Ayuna sudah duduk di meja makan dengan spaghetti yang baru saja dibuat oleh Bagas.


" Hmm, sayang apa kau merasa ada sesuatu yang aneh pada Tara?" Ucap Bagas di sela-sela makan malam mereka.


" Aneh gimana maksud kamu?" Ucap Ayuna yang pura-pura tidak tahu. Walaupun sebenarnya Ayuna sudah tahu arah pembicaraan dari Bagas. Karena mungkin ini adalah kesempatan yang bagus untuk memberitahu Bagas bahwa sebenarnya Tara menyukai dirinya.


" Ya, aku hanya berpikir aneh saja dengan tingkah laku Tara, sekarang bayangkan Tara adalah pewaris tunggal dari perusahaan yang dibangun paman dan bibi. Tapi dia tidak protes saat aku menempatkan dia sebagai staf kantin, dan ya sebelumnya Tara juga anak yang sangat manja. Tapi saat dia ada di sini dia mau melakukan pekerjaan rumah tangga yang yang sebenarnya sangat ia benci."


" Lalu?" Ucap Ayuna sambil minum gelas yang ada di sampingnya.


" Lalu saat aku hendak memindahkannya ke mobilku, Tara sempat terbangun dan memintaku untuk menyentuhnya. Aku tidak mengerti dengan maksud kata antara aku hanya merasa Tara..."


" Menyukaimu." Ucap Ayuna.


" Apa?" Tanya Bagas.


" Sayang, apa selama ini kau masih belum sadar juga jika semua yang Tara lakukan ini semata-mata untuk mendapatkan perhatian darimu."


" Tapi, kita kan sepupu. Memang dulu saat kami sesama sepupu saling berkumpul dan bercanda tawa, Tara pernah mengatakan jika dia menyukaiku."


" Lalu?"


"Tentu saja aku menganggap Tara bercanda karena saat itu kami sedang bermain putar botol kejujuran."


" Ckckck, sayang sekarang kau harus tahu dan sadar bahwa Tara menyukaimu. Selama beberapa bulan ini, aku dan Mesya sudah mengawasi gerak-gerik Tara. Dan entah kamu mau percaya atau tidak, Tapi saat kau sedang meeting Tara ndak masuk ke ruangan untuk mengantarkan minuman yang telah dicampur obat perangsang."


" Tidak mungkin."


" Itu benar, Mesya sendiri yang melihatnya dan bisa juga yang membuat cara meminum gelas yang seharusnya diminum olehmu. Itulah penyebab kenapa Tara berada di pinggir jalan bersama dengan mobilnya."


" Tapi, kami adalah sepupu tidak mungkin kami dapat bersama. Aku menyayangi Tara sama seperti aku menyayangi adik-adikku."


" Itu kan bagimu, bagi Tara kamu mungkin adalah lelaki impiannya. Lagipula kalian bukan sepupu kandung kan, jadi apa salahnya jika kalian bersama."


" Ya Tuhan, Kenapa aku tidak menyadari hal ini."


Ayuna tersenyum dan memegang tangan Bagas.


" Sekarang kau sudah tahu, jadi Aku harap kau akan sangat berhati-hati bila dekat dengan Tara, ataupun bila dia memberimu sesuatu seperti kue ataupun minuman. Karena pastilah dia sudah mencampur sesuatu ke dalamnya."


" Tapi kenapa?" Tanya Bagas.


" Kerena dia ingin menjerat mu dengan tubuhnya, dan apa kau tahu bahwa Tara bekerja sebagai model majalah dewasa?"


" Tidak mungkin."


Ayuna lalu mengambil piring yang ada di hadapan Bagas, meletakkannya di wastafel dan menggandeng Bagas untuk naik dan kembali ke dalam kamar.


Didalam kamar, Ayuna mengeluarkan sebuah majalah yang dia simpan di lemari pakaiannya, lalu memberikannya kepada Bagas.


" Apa ini?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


Lanjut besok ya..


__ADS_2