LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Pertunangan


__ADS_3

" Mami..."


Gibran langsung berlari menuju ayuna yang baru saja tiba.


" Anak mami.."


Cup


Cup


Cup


Ayuna mencium wajah gibran, ayuna begitu merindukan gibran. Padahal mereka hanya berpisah selama setengah hari, tapi kerinduan itu terasa mereka berpisah sudah bertahun-tahun.


" Bagaimana apakah kau dan ayah bersenang-senang?, kau tidak lupa minum vitamin bukan?" Tanya ayuna.


" Ya mami, aku dan ayah sangat bersenang-senang. tidak lupa meminum vitamin."


" Anak pintar.."


Ayuna sekali lagi memeluk putranya itu, biasa sangat bahagia karena penyakit yang yang diderita Gibran sudah tidak ada. d6an ayuna berdoa semoga penyakit itu tidak akan pernah kembali lagi


" Papi..." Ucap gibran, saat melihat bagas masuk kedalam villa.


Gibran langsung memeluk Bagas.


" Hay boy, kau merindukan papi?"


" Tentu saja gibran merindukan papi "


" Ooh begitu, jadi hanya papi yang dirindukan Gibran?" Ucap ayuna dengan melipat kedua tangannya.


Bagas dan gibran lalu menghampiri ayuna yang terlihat cemberut, lalu mereka bersama sama memeluk ayuna.


" Tentu saja kami sangat merindukan mami." Ucap bagas.


" Ya karena mami adalah segalanya bagi kami." Ucap gibran.


Akhirnya mereka bertiga kembaali berpelukan.


" Seandainya aku yang berada di posisi itu." Ucap anjas, yang melihat mereka berpelukan.


Anjas selalu memilih masuk ke dalam kamarnya, kamar yang masih dipenuhi foto ayuna.


" Ayuna, Maafkan aku yang tidak berdaya ini. Seandainya dulu Aku berani menentang kedua orang tuaku, pastilah kita masih bersama, dan kita akan membesarkan Gibran bersama-sama. Kita menjadi satu keluarga yang utuh dan bahagia. Tapi sekarang sudah tidak ada gunanya lagi, kau sudah bahagia bersama Bagas. Dan kini, aku akan memiliki anak dari Celine." Ucap anjas sambil memegang foto ayuna.


Tok


tok


tok


Anjas lanjut langsung letakkan kembali foto ayuna ke dalam laci, menghapus sedikit air yang ada di sudut matanya. Lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya..


" Bagas."


" Kau belum tidur kan?"


" Belum, kenapa?" Tanya anjas.


" Bagus, ayuna sedang membuat barbeque bakar, lagu untuk memanggil mu juga. Dan aku juga membeli Wine dalam perjalanan pulang. sepertinya akan sangat dikenal jika dimakan bersama dengan barbeque panas."


" Baiklah, aku akan turun sebentar lagi."


Bagas lalu turun, dan membantu ayuna membakar daging. Sedangkan gibran, memilih duduk diam sambil memandangi mami dan Papi nya.


" Hai boy." Sapa anjas yang barusaja turun.


" Hai ayah."


" Kau tidak mengantuk?"


" Sedikit."

__ADS_1


" Jika Kau mengantuk Kenapa kau tidak tidur?" Tanya anjas.


" Aku masih ingin makan barbekyu buatan mami, Aku sungguh merindukan daging panas buatan mami."


" Uh, Apa kabar bertiup buatan mami sangat lezat?."


" Ya, ayah akan ketagihan jika sudah mencoba nya."


" Ayah sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan mami."


Tak beberapa lama kemudian,


" Hei, makanan sudah siap." Teriak ayuna.


" Hore, makanan sudah siap." Ucap gibran bersemangat.


" Ayo, biar ayah menggendong mu ke sana."


Setelah semuanya duduk dan nikmati barbeque panas,


" Hmm, Gibran benar masakan mami memang yang paling sedap." Ucap anjas.


" Kan sudah aku bilang, tidak ada yang bisa menandingi barbeque panas buatan mami." Ucap gibran.


" Ya, seandainya saya bisa merasakan masakan mami setiap hari." Ucap anjas.


" Uhuk uhuk.."


Ayuna tersedak setelah mendengar kata kata anjas. Bagas menatap tajam Anjas.


" Aku hanya bercanda bung."


" Haha, bercanda mu benar benar seperti sebuah harapan." Kekeh bagas.


" Ayuna.." Panggil anjas.


" Ya?"


Ayuna terdiam, dia menatap anjas.


" Aku mohon, ini adalah kali terakhirnya aku bersama Gibran. Jika kita sudah kembali nanti, Aku tidak yakin akan bisa sering menemui Gibran. Mengingat Bagaimana manjanya Celine saat aku ada di sana."


" Hmm, baiklah." Ucap ayuna.


" Terima kasih ayuna terima kasih."


" Sama-sama, Terima kasih juga karena kau sudah menjaga Gibran selama satu hari ini."


" Tidak masalah, lagi pula aku senang bisa bersama Gibran."


...


Keesokan harinya, Bagas ayuna dan gibran, berpisah dengan Anjas di bandara.


Anjas pulang ke rumahnya dengan mobil nya sendiri.


Sedang bagas dengan kendaraan nya sendiri.


" Kita langsung pulang ke rumah mama dan papa." Ucap bagas.


" Kenapa?."


" karena mulai sekarang kau dan Bagas akan tinggal disana sampai kita menikah nanti." Ucap bagas.


" Kenapa?"


Lagi lagi ayuna mengatakan hal yang sama.


" Dengar, Gibran baru saja sehat. Dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya."


" Ya, tapi Kenapa harus tinggal di rumah mama dan papa?"


"Karena disana ada Meysha dan kembar yang akan membantumu menjaga gibran."

__ADS_1


" Tapi..."


" Tidak ada tapi, besok kita akan melangsungkan pertunangan."


" What? Secepat itu?" Mata ayuna membulat sempurna.


" Ya, Kenapa kau tidak mau bertunangan?, atau kalau ingin langsung menikah saja. Baiklah besok kita akan menikah."


" Wo wo wo, santai men, jangan terburu-buru memangnya kita sedang mengejar kereta?"


" Haha, aku tidak buru-buru. Aku hanya ingin segera bisa tinggal serumah dengan kalian. Aku ingin bisa menjaga kalian setiap hari. Selama 24jam penuh." Ucap Bagas, sambil menatap ayunan dan Gibran secara bergantian.


" Tapi..."


" Aku mohon, jangan ada tapi lagi. Aku tidak ingin menunda-nunda peresmian hubungan kita."


" Baiklah.."


Ayuna akhirnya hanya bisa pasrah.


Dan keesokan harinya, Acara pertunangan benda-benda dilangsungkan di rumah mama dan papa Bagas. Acara yang sangat murah dan meriah.


" Mami, apa setelah ini kita akan tinggal bersama Papi?" Tanya Gibran saat ayuna datang ke kamarnya.


Ayuna memang melarang Gibran untuk keluar, Karena bagaimanapun Gibran baru saja sehat fisiknya tidak boleh lelah.


" Ya sayang, kita akan tinggal dengan Papi."


" Hore, akhirnya Gibran punya keluarga yang sebenarnya." Celoteh gibran.


" Memangnya selama ini kita bukan keluarga yang utuh ya?" Tanya ayuna.


" Kata ibu guru, keluarga yang utuh saat mami dan Papi serta Gibran tinggal di dalam satu rumah. Dan kita tidak pernah tinggal satu rumah dengan Papi, atau ayah. Jadi gibran pikir kita bukan keluarga yang utuh."


Ayuna tersenyum..


" Sayang, mami papi dan ayah, adalah keluarga bagi Gibran. Walaupun kita tidak tinggal bersama, tapi mereka selalu ada dalam hati kita bukan?. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kita adalah satu keluarga yang utuh."


Gibran memeluk ayuna.


" Terima kasih mami karena sudah memberiku seorang ayah yang luar biasa seperti papi Bagas, dan mempertemukan Gibran dengan ayah kandung Gibran. Yaitu ayah anjas."


" Sama sama sayang, apapun yang membuat Gibran bahagia. Mami akan selalu berusaha mewujudkannya."


Cup


Ayuna memeluk gibran, lalu tak lama kemudian bagas datang, dan ikut masuk dalam mode berpelukan.


" Aku menyayangi kalian." Ucap bagas.


Ayuna menatap bagas, Bagas mendekatkan wajahnya ke wajah ayuna, bibir mereka hampir bertemu,


Gibran yang sudah penasaran dengan apa yang akan terjadi antara mami dan Papi nya itu, seketika menjadi cemberut, karena saat Bagas benar-benar mencium bibir ayuna, bagas justru menutup mata gibran dengan tangan nya.


" Papi..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...


...vote...


...hadiah...

__ADS_1


__ADS_2