
Bagas mencari ponsel nya, berniat menelpon cleaning service apartemen agar membersihkan kamarnya.
Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat panggilan tak terjawab dari ayuna
" Astaga aku lupa jika diriku sudah berjanji pada gibran."
Bagas segera menelpon ayuna.
Drrttt drrrtt drrrttt
Ayuna langsung mengangkat panggilan dari bagas.
" Bagas, kau ada di mana sih?, Apa kau tahu Gibran sekarang marah karenamu?"
" Maaf, maafkan aku. Ada sedikit masalah di apartemen, Aku akan segera pulang sebentar lagi." Ucap bagas.
" Ya, sebaiknya kau cepat pulang, sebelum kemarahan gibran sampai dipuncak."
" Di mana dia? bisakah aku bicara dengannya?" Tanya bagas.
" Sebaiknya kau yang datang. Jangan bicara melalui telepon, karena itu akan membuatnya semakin marah padamu."
" Hmm, baiklah. kalau begitu aku tutup teleponnya dan aku akan segera pulang setelah ini."
" Baiklah."
Saat ayuna akan menutup panggilan.
" Ayuna.." Panggil Bagas.
" ya?"
" I love you."
Ayuna tersenyum, mendengar Bagas mengatakan kata itu. Entah Kenapa hatinya begitu bahagia mendengar Bagas mengatakan 3 kata itu.
" Ya, aku juga mencintaimu."
" Aku akan segera pulang."
Tut.
Setelah panggilan berakhir. Bagas menelpon cleaning service apartemen, agar membersihkan pecahan kaca yang ada di kamarnya.
Sementara itu, nina yang selesai memakai pakaian nya, langsung keluar dan menemui bagas.
" Bagas." Panggil nina.
Bagas menoleh.
" Minumlah." Ucap bagas sambil melihat kearah botol air mineral yang ada di atas meja.
Nina duduk, dan mulai meminum air dalam botol Sampai habis.
" Bagaimana perasaanmu apa sudah jauh lebih baik?" Tanya bagas
Nina mengangguk.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya nina.
" Yang harus kau lakukan, pulang dan mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga mu."
" Itu tidak mungkin, mereka pasti akan murka."
" Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima."
Nina kembali terdiam.
" Dengar, lambat laun keluargamu juga akan tahu apa yang terjadi padamu. Jadi sebelum mereka mengetahui nya dari orang lain. Lebih baik kau sendiri yang mereka. Keluargamu akan sangat marah jika mereka mengetahuinya dari orang lain."
Nina terdiam, dia membenarkan perkataan Bagas.
" Aku takut."
" Kau takut menghadapi murka keluarga mu, tapi kau tidak takut saat bersenang-senang dengan kekasihmu." Ucap Bagas.
" Aku...aku..."
Tok
tok
tok
Suara ketukan pintu, membuat nina tidak meneruskan kata-katanya, karena bagas berdiri untuk membuka pintu.
" Cleaning service." Teriak seseorang dari luar pintu.
Ceklek..
Bagas membuka pintu, dan langsung menyuruh petugas kebersihan untuk membersihkan kamar bagas. Setelah petugas masuk kedalam kamar. Nina berdiri dan menghampiri bagas.
" Terima kasih, karena kau menunjukkan jalan yang benar padaku. Aku tau aku salah, dan aku harus menerima konsekuensi nya, apapun itu."
Setelah mengatakan itu, nina tersenyum dan keluar dari apartemen Bagas. Bagas memandang kepergian nina hingga nina masuk ke dalam lift, bagas melihat nina melambaikan tangan ke arah bagas. Bagas hanya membalas dengan senyuman tipis.
Beberapa saat kemudian, petugas kebersihan selesai membersihkan kamar Bagas. Bagas memutuskan pulang.
Didalam perjalanan bagas memikirkan cara untuk membujuk gibran, lalu tiba tiba dia melihat showroom.
" Aku tahu harus membujuk gibran dengan apa." Ucap bagas, yang membelokkan mobilnya ke showroom
..
" Bagas kemana sih?!"
Ayuna juga mulai kesal, karena bagas tidak kunjung datang,
Tin
Tin
Tin
__ADS_1
Ayuna menoleh, dan dia senang karena bagas akhirnya pulang, dan ayuna juga heran karena ada mobil box yang berjalan di belakang mobil Bagas.
Karena penasaran, ayuna segera turun, dan menemui bagas, karena mobil box tadi membawa sebuah kotak berukuran besar.
" Ayuna, dimana gibran?" Tanya Bagas setelah dirinya melihat ayuna sudah ada di depan pintu.
" Dikamar, dan apa itu?"
Ayuna sebuah kotak besar yang diturunkan tepat di depan pintu.
" Kau akan tahu nanti, sekarang aku akan menemui Gibran dulu."
" Baiklah, semoga kau bisa membujuk gibran." Ucap ayuna.
" Aku pasti bisa, aku kan papi Gibran."
" Pede sekali kamu."
" Jelas lah, aku dan Gibran sama-sama laki-laki. Jadi kami punya cara tersendiri, untuk memenangkan hati masing-masing.x
" Haha, kamu ini ngomong apa sih?, nggak jelas banget!" Ketus ayuna.
" Aku sendiri tidak tahu aku bicara apa, hehe. Ya sudah, Aku mau menemui Gibran dulu."
Bagas segera berlari menaiki anak tangga dan menuju kamar ayuna, karena Gibran sedang ada disana.
Tok
Tok
Tok
Ceklek...
Bagas masuk, begitu melihat kedatangan Bagas. Gibran langsung memasang wajah marah, dengan kedua tangan di pinggang.
Bagas mencoba mendekati gibran.
" Stop!!. Papi, Jangan mendekat Papi di sana saja."
" Oke."
Bagas berdiri dan diam.
" Papi jahat."
" Maaf."
" Papi ingkar janji"
" Papi menyesal."
" Gibran benci papi."
" Yah jangan benci dong."
" Kenapa?" Ketus papi.
" Nanti papi sedih, terus frustasi dan menangis, terus papi gantung diri di pohon pisang."
" Ya udah gak jadi benci."
" Pffft..." Bagas menahan tawanya.
" Jangan ketawa."
Bagas menutup mulut.
" Gibran ulangi. Gibran marah sama papi."
" Maafken papi."
" Gibran sakit hati sama papi."
" Sini papi obati."
" Pakek apa?"
" Betadine lah, masak pakai cat."
" Kalau gak sembuh?"
" Ya papi sembuhin sendiri."
" Pakek apa?"
" Mantra.."
" Mantra apa?"
" Mantra ciintaaaaaa...." Ucap Bagas dengan tangan dan badan melenggak-lenggok.
Gibran menahan tawanya.
" Gibran.."
" Apa panggil panggil?" Ketus gibran.
Bagas mencoba mendekat lagi,
" Jangan mendekat!!! Angkat satu kaki."
Bagas melakukannya,
" Tangan pegang kedua telinga."
Bagas melakukan apa yang dikatakan gibran, jadilah bagas berdiri dengan satu kaki dengan kedua tangan menjewer telinga nya.
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Terdengar langkah kaki ayuna.
" Bagas, mama bilang...., pfffttt..."
Ayuna tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat bagas yang berdiri dengan satu kaki dengan kedua tangan menjewer telinga nya sendiri.
" Pergilah, jangan ganggu usaha ku membujuk gibran." Bisik ayuna.
" Okey.."
Ayuna menaikkan satu alisnya. Lalu keluar kamar.
" Gibran.."
" Apa?"
" Papi pegel." Ucap Bagas dengan raut muka sedih.
" Ya udah, sini gibran pijitin."
Dengan senyum mengembang, bagas segera berjalan menuju gibran, Gibran memijat tangan Bagas, gibran melihat luka di tangan bagas.
" Boy, maafkan papi, ada sedikit masalah di apartemen. Dan ponsel papi tertinggal di jas yang papi tinggalkan di ruang tamu."
Gibran menatap bagas.
" Papi sungguh sungguh menyesal. Papi janji tidak akan mengulangi nya lagi."
Untuk beberapa saat gibran terdiam.
" Wahai putra papi, maafkanlah papi mu ini yang sudah ber ingkar janji kepadamu, papi janji tidak akan mengulangi nya lagi." Ucap bagas dengan suara yang dibuat mirip dalang wayang.
Gibran tersenyum.
" Janji tidak akan mengulangi nya lagi?"
" Janji."
Bagas mengangkat jari kelingkingnya, dan gibran menautkan jari kelingkingnya juga.
Cup
Bagas mencium kening gibran.
" Terima kasih boy, sudah memaafkan papi."
"Tapi gibran masih kecewa sama papi."
" Tenang, papi sudah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk gibran."
" Ohya tangan papi kenapa?" Tanya gibran.
" Ya, tadi tidak sengaja terkena pecahan kaca." Ucap bagas.
" Apa itu sakit?"
" Tadinya tidak, tapi kenapa sekarang sakit?" Ucap bagas.
" Gibran akan ambil kotak P3K."
" Tunggu."
Bagas mencengkram lengan gibran, saat gibran akan berjalan mengambil kotak P3K.
" Ada apa?"
" Papi punya Hadiah untuk gibran."
" Apa?"
" Ayo ikut papi.."
Bagas langsung menggendong Gibran.
" Tapi tangan papi..."
" Sudah nanti saja."
Begitu bagas keluar kamar.
" Eh kalian mau kemana?" Tanya ayuna.
Bagas terlihat membisikan sesuatu kepada gibran. Lalu mereka sama sama menjawap.
" RAHASIA..."
Ayuna mendelik kearah Bagas dan gibran.
" Awas kalian ya..."
" LARI.....!!!!"
Bagas segera berlari, sebelum tertangkap oleh ayuna.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Kira kira hadiah nya apa ya?
Lanjut besok, oke. Sekarang waktunya istirahat.
Selamat beristirahat untuk kalian semua βΊοΈβΊοΈππππ
...jangan lupa...
... like...
...komen...
__ADS_1
...vote...
...hadiah...