LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
End


__ADS_3

" Kita pulang?"


" Yuk."


Bagas berjalan sambil memeluk Ayuna.


" Kalau begini, kita seperti sepasang kekasih ya?" Ucap Ayuna.


" Memangnya kita ini apa memangnya kita bukan sepasang kekasih?" Ucap Bagas.


" Haha, masalahnya kita tidak pernah melewati masa seperti pasangan kekasih pada umumnya kan. Seperti jalan jalan di taman, kata sekadar minum teh di cafe."


" Sayang, kau tinggal katakan saja apakah mawan maka aku akan mewujudkan nya."


" Benarkah?" Tanya Ayuna memastikan.


" Apapun untuk mu sayang.."


" Kalau begitu, Aku ingin pergi ke makam Gibran."


Mendengar permintaan dari Ayuna membuat Bagas langsung menghentikan langkahnya dan memandang Ayuna.


" Kau serius?"


Ayuna mengangguk.


" Kita sudah lama kan tidak berkunjung ke sana. Sebentar lagi hari paskah makan Gibran. Bolehkah?" Ucap Ayuna sambil memandang Bagas dengan mata berbinar-binar.


Bagas terdiam sejenak.


" Tapi, kamu sedang hamil?"


" Jangan jadikan kehamilan ini sebagai alasan. Aku mohon."


" Huft.. Akan aku pikirkan nanti." Ucap Bagas sambil mulai kembali berjalan.


" Jangan nanti kau tahu kan hari paskah tinggal beberapa hari lagi Jadi aku harap kamu memikirkannya jangan terlalu lama.," Pinta Ayuna.


Bagas hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Ayuna dan kembali memeluk Ayuna.


Sementara itu, sepanjang perjalanan menuju rumah Tara. Yudi masih terus memikirkan kata apa yang pantas diucapkan saat bertemu dengan Tara. Karena bagaimanapun jika Yudi sudah hampir sepekan tidak bertemu dengan Tara.


" Huft, baiklah." Ucap Yudi saat dirinya baru saja tiba di halaman rumah Tara.


Yudi berjalan mendekati pintu, saat iya sudah bersiap mengetuk pintu tiba-tiba pintu terbuka.


Ceklek..


" Kak Yudi.."


" Tara, hai.."


Antara terkejut dan juga senang karena tak dapat melihat Yudi lagi.


Canggung. Untuk sesaat mereka berdua terdiam sebelum akhirnya Tara kembali membuka pembicaraan. Namun sebelum para mengatakan sesuatu mamanya datang.

__ADS_1


" Tara, Apa kau tidak jadi pergi?" Ucap Mama yang berjalan menuju Tara karena dia merasa heran kenapa dari tadi Tara hanya berdiri di depan pintu.


" Ah ternyata ada nak Yudi. Dan Kenapa kau tidak mempersilahkan tamu kita untuk masuk sayang?" Ucap Mama.


" Itu, iya.. kak Yudi masuk lah." Ucap Tara gugup.


" Emm, tadi bibi mengatakan jika Tara akan pergi apakah benar?"


" Ya, parah tadi meminta izin untuk pergi jalan-jalan sebentar karena dia merasa bosan berada di dalam rumah." Ucap mama.


Tara hanya tersenyum mendengar penuturan dari sang mama, karena sebenarnya Tara keluar bukan ingin jalan-jalan, melainkan ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Yudi karena dirinya sudah lama tidak bertemu dengan Yudi. Dan sekarang laki-laki yang ingin dilihat oleh Tara sedang berdiri di hadapannya.


" Ooh kalau begitu bagaimana jika Yudi saja yang mengantar. Lagipula kedatangan Yudi kesini memang sengaja untuk mengajak Tara jalan-jalan."


" Baiklah."


Tara memandangi mamanya dengan heran karena tidak menyangka mamanya akan mengizinkannya secepat itu untuk pergi bersama dengan Yudi.


" Kami pergi dulu ya bi, Tara ayo.."


" Ah iya ayo." Ucap Tara sedikit gugup.


Sepanjang pejalan Tara dan Yudi sama-sama diam dengan pemikiran masing-masing. Walaupun sesekali Tara mencuri-curi pandangan ke arah Yudi.


" Apa kau sudah makan?" Tanya Yudi.


" Su...dah."


" Hmm, baiklah sekarang katakan tempat mana yang ingin kau kunjungi."


" Bagaimana kalau kita pergi ke taman yang ada di Tangerang aku dengar taman itu sangat indah di tengahnya ada sebuah danau kecil."


" Boleh."


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Mereka akhirnya tiba di taman seperti yang dikatakan Yudi.


" Wah, Kak Yudi benar tamannya sangat indah." Ucap Tara.


Mereka kemudian duduk di salah satu tempat di bawah pohon rindang. Dimana tempat duduk itu berada tepat di depan danau.


" Tara.."


" Kak Yudi."


Ucap mereka secara bersamaan.


" Kau dulu." Ucap Yudi.


" Tidak, Kak Yudi dulu."


Hening...


" Tara, maafkan aku. Karena saat itu setelah kau mengatakan semuanya aku yang seperti dan tidak mengatakan apapun kepadamu. Jujur saat itu aku sangat terkejut dan tidak menyangka atas apa yang kau lakukan hingga semua ini terjadi. Lalu, aku berpikir bahwa kau juga perlu keadilan dan perasaan aman lagi."


Tara terdiam. Dia masih menyimak apa yang akan dikatakan Yudi selanjutnya.

__ADS_1


" Tara, Aku tidak yakin jika ini adalah waktu yang tepat tapi hari ini aku ingin menanyakan jawaban dari pertanyaanku dulu. Apakah kau bersedih Allah membukakan pintu hatinya sehingga aku dapat memasukinya dan mencoba mengenalmu lebih dalam lagi?"


Deg !!


" Kak Yudi tapi aku bukanlah wanita yang pantas untukmu aku sudah ternodai aku tidak suci lagi aku bukanlah wanita yang baik seperti yang kau pikirkan."


" Tara, Aku memilihmu bukan karena paras dan juga rupamu Tapi Aku memilihmu karena memang aku merasa kau yang pantas aku cintai dan Aku begitu sangat ingin melindungimu."


" Aku..aku.." Ucap Tara dengan mata berkaca-kaca.


" Aku mohon Tara, izinkanlah aku mengisi ruang di dalam hatimu. Izinkan aku untuk melindungimu dan membuatmu selalu bahagia."


Yudi berlutut dihadapan Tara.


" Maukah kau menikah dengan ku?, lupakan semua yang telah terjadi Jadi mari kita bersama-sama mengubur masa lalu dan bersama-sama melangkah menuju masa depan yang lebih baik antara kau dan aku."


" Hiks hiks... Ya..., ya.. aku bersedia."


Yudi menyematkan cincin Di jari manis karet di rumahnya mereka berpelukan. Dan beberapa hari kemudian mereka telah resmi melakukan acara lamaran.


" Akhirnya, cara menemukan seseorang yang pantas untuk mendampingi." Ucap Ayuna yang ikut hadir dalam acara lamaran Tara dan juga Yudi.


" Iya, ohya sayang. Aku? punya kejutan untukmu malam ini."


" Apa itu?"


" Kau akan tahu nanti."


Setelah acara selesai. Bagas membawa Ayuna mengendarai mobil menuju sebuah bandara.


" Sayang, kenapa kita berada di bandara?"


" Bukankah kok ingin merayakan hari paskah dimakan Gibran?"


" Apa? Tapi..."


" Masuklah.."


Dengan ragu-ragu Ayuna masuk ke dalam pesawat pribadi yang dulu mereka tumpangi saat pengobatan Gibran. Dan betapa terkejutnya Ayuna saat melihat semua keluarganya sudah ada di sana bersama dengan si kembar.


" Sudah siap untuk pergi?" Tanya Mama.


Mata Ayuna berkaca-kaca, dia langsung berbalik memandang ibagas yang sudah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Ayuna tersenyum dan langsung menyambut pelukan dari Bagas.


" Terima kasih sayang karena sudah mewujudkan keinginan ku. Aku pikir kau tidak akan mewujudkan nya karena selama beberapa hari ini kau tidak menceritakan apapun tentang ini. Dan sekarang kau sudah membawaku ke sini biar kita sudah siap untuk berangkat ke Singapura." ucap Ayuna dalam pelukan Bagas.


" Bukankah sudah kukatakan apapun akan aku lakukan untukmu my Queen."


Ayuna tersenyum. Dan mereka pun saling mencium satu sama lain. Sebelum akhirnya lepas landas dari bandara Indonesia menuju Singapura.


" Gibran, Mami datang bersama dengan kedua adik kembarnya." lirih Ayuna.


...---------------- End ----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2