
Setelah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, kini dokter sudah memperbolehkan Ayuna serta kedua bayi kembarnya untuk pulang.
Mereka pulang ke mansion, karena Mama dan Papa sudah membuatkan pesta kejutan untuk menyambut kelahiran bayi Adelia dan Adelio.
" Apa sebuah pesta ini wajib dilakukan?" Tanya Ayuna saat mereka dalam perjalanan pulang, Ayuna duduk dikursi depan menemani Bagas sedangkan Adelia dan Adelio digendong oleh baby sister yang sudah Bagas pilih untuk membantu mengurus mereka.
" Tentu saja, apalagi ini adalah garis keturunan dari keluarga Wirabrata. Jadi semua anggota keluarga yang lain harus tahu. Dan aku juga menyiapkan sedikit kejutan untukmu.'"
" Apa?"
" Rahasia dong."
" Bagas..."
" Ayuna, jika aku beritahu bukankah itu tidak menjadi kejutan lagi bagimu?"
" Ah benar.."
Bagas tersenyum dan mengusap lembut pipi Ayuna. Tak beberapa lama kemudian mobil sudah memasuki halaman Mansion.
Setelah memarkirkan kendaraannya tepat di depan pintu masuk, Bagas segera turun lebih dulu dan membantu Ayuna turun. Lalu Ayuna memberikan kode kepada baby sister agar memberikan salah satu dari bayi kembar mereka.
Baby sister memberikan Adelio kepada Ayuna, sedangkan Bagas menggendong Adelia.
Setelah menyerahkan kedua bayi itu kepada orang tuanya, baby sister langsung kembali ke dalam mobil, mengambil koper dan membawa masuk barang-barang milik si bayi saat di rumah sakit, dengan dibantu pelayan Mansion. Mereka membawa pakaian Ayuna serta milik baby twins masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di kamar Bagas dan Ayuna.
Ceklek
Pelayan membukakan pintu untuk Bagas dan Ayuna.
" Surprise...." Ucap semua orang saat Ayuna dan Bagas memasuki rumah.
Ayuna terkejut sekaligus bahagia, karena jalan pesta kejutan itu tidak hanya ada keluarga Bagas, tapi juga ada Sisil dan keluarga Bu Sinta.
Bu Sinta langsung menghampiri Ayuna.
" Selamat ya sayang.." Ucap Bu Sinta sambil mencium pipi kanan dan kiri Ayuna.
" Terima kasih bu, dan terima kasih juga karena ibu sudah datang kemari."
" Tentu saja ibu datang karena Bagas sendiri yang menjemput Ibu."
Ayuna langsung melihat ke arah Bagas, Bagas tersenyum.
" Jadi ini kejutan kecil yang Bagas maksud?." Gumam Ayuna.
" Bolehkah Ibu menggendong bayi mu?" Tanya Bu Sinta.
" Tentu saja boleh." Ucap Ayuna sambil memberikan Adelio kepada bu Sinta.
" Ya Tuhan sangat manis siapa namanya?"
" Adelio Gibran Sanjaya."
" Nama yang bagus, ada nama Gibran. Apa kau yang memberikannya nama?"
" Bukan, Bagas yang memberikannya untuk kedua bayi kembar kami." Ucap Ayuna sambil melihat kearah Bagas yang tengah memberikan Adelia kepada Sisil.
__ADS_1
" Ayo nak, kau kan baru pulang dari rumah sakit sebaiknya kau duduk jangan terlalu lama berdiri." Ucap Bu Sinta.
" Ah iya."
Dengan sigap, Bagas langsung menggendong Ayuna saat tahu saat Ayuna akan berjalan menuju kursi duduk.
" Bagas apakah hal ini perlu?" Ucap Ayuna saat Bagas meletakkannya dengan hati-hati di kursi.
" Dengar, apa yang dikatakan Bu Sinta benar. Kau baru saja melahirkan dan kau harus banyak istirahat. Aku akan mengambilkan mau makanan dan minuman."
Cup
Bagas mencium kening Ayuna sebelum akhirnya dia pergi untuk mengambil makanan. Ayuna menangkap sosok yang memandangnya sinis dan terlihat tidak suka saat Bagas memperlakukan dirinya sangat istimewa.
" Kakak lihat apa?" Tanya Mesya yang tiba-tiba datang dan mengejutkan Ayuna.
" Melihat serangga." Ucap Ayuna.
Mesya lalu mencari sosok serangga yang dimaksud oleh Ayuna.
" Ah ya, serangga itu. Lihat apa yang dia lakukan Kenapa dia menghampiri kak Bagas?"
" Sudah biarkan saja, untuk saat ini kita cukup mengawasinya. Jika serangga itu mulai beraksi baru kita akan membasminya sampai habis."
" Hmm, aku mencium aroma kejahilan. Dan aku suka itu " Kekeh Mesya.
" Haha, kalau begitu bantu aku mengawasi serangga ini, laporkan padaku jika kau merasa bahwa aktivitas yang akan dilakukan si serangga ini terlihat mencurigakan."
" Siap." Ucap Mesya.
" Dasar serangga. Hmm, lihatlah apa yang akan aku lakukan." Ucap Mesya sambil berjalan kearah meja, dimana disitu terdapat berbagai macam hidangan untuk para tamu.
Dan Ayuna tertawa saat Meisya menerobos masuk diantara Bagas dan Tara. Lalu dengan sengaja menginjak kaki Tara.
" Mesya kamu apa-apaan sih, nggak lihat apa kalau ada Aku disini." Ketus Tara.
" Ups maaf, jelas tidak lihat lah, l. Lagipula siapa suruh kamu nempel nempel kayak prangko ke badan kak Bagas."
" Idih siapa yang nempel-nempel orang aku mengambil makanan yang kebetulan letaknya tidak jauh dari tempat kak Bagas berdiri." Ucap Tara, dan langsung membawa piring yang telah berisi makanan itu pergi dari hadapan Mesya.
Bagas hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku dua orang yang ber sepupuan itu.
" Kak Bagas, Kakak merasa nggak sih kalau tara itu suka dengan kakak?"
" Jangan ngawur ah kamu. Kita kan sepupu, lagipula pak Bagas sudah memiliki istri jadi mana mungkin para menyukai kakak."
" Iya sih, tapi kan Tara bukan anak kandung dari paman dan bibi."
" Mesya, terlepas dari Tara anak kandung atau bukan. Dia tetap sepupu dan keluarga kita kan?"
" Hmm, iya sih."
" Mungkin karena Tara adalah anak satu-satunya yang dimiliki paman dan bibi, dan dia juga tidak memiliki teman ataupun Kakak laki-laki seperti kamu dan kembar yang memiliki kakak laki-laki yang paling tampan dan paling keren seperti kakak. Jadi Dia sedikit manja kepada kakak."
" Idih, PD banget memangnya Kakak itu keren apa?"
" Coba letakkan tanganmu di atas kepala kak Bagas dan katakan jika kak Bagas ini tidak keren." Tantang Bagas.
__ADS_1
" Ckck, iya iya kak Bagas itu keren puas?. Sudah sana anterin makanan dan minumannya kakak ipar sudah menunggu dari tadi."
" Ah iya, kak Bagas sampai lupa."
Dengan setengah berlari Bagas menghampiri Ayuna dan memberikan makanan serta minuman.
" Terima kasih sayang." Ucap Ayuna.
" Sama sama."
Ayuna melihat jika Tara memandangi dirinya dan Bagas.
Hmm, lihatlah wajah yang marah itu. Jadi benar ya kamu menyukai Bagas?. Mari kita lihat apa yang akan kamu lakukan setelah ini. Batin Ayuna.
Setelah kurang lebih setengah jam Ayuna duduk dan menyapa para sanak saudara dari keluarga Bagas. Ayuna meminta izin untuk lebih dulu meninggalkan pesta. Dia juga membawa serta Adelia dan Adelio.
" Sayang, Ibu pamit pulang dulu ya." Ucap Bu Sinta.
" lo kok terburu-buru sekali?"
" Lain kali ibu akan datang lagi bersama dengan Lukman. Ibu dan bapak masih tinggal di rumah Lukman karena istri Lukman juga akan melahirkan."
" Ah ini adalah berita yang sangat menggembirakan."
" Iya, Lukman akan memberi Ibu cucu lagi. Seperti kamu yang sudah memberi Ibu cucu. Cucu kembar lagi."
" Ibu bisa saja." Kekeh Ayuna.
" Kalau begitu Ibu pamit dulu ya "
" Iya, terima kasih sudah datang Bu. Dan Jika masih ada disini sering-seringlah mengunjungi Ayuna. Ayuna senang jika dikunjungi ibu. Dan jika Ayuna sudah diperbolehkan untuk keluar rumah, Ayuna akan mengunjungi Ibu di rumah bang Lukman."
" Iya sayang."
Setelah berpamitan kepada Ayuna, Bu Sinta serta suami lalu berpamitan kepada orang tua Bagas.
" Ayo kita istirahat sayang." Ucap Bagas.
Ayuna mengangguk.
Bagas lalu membantu Ayuna untuk pergi ke kamar. Dan membiarkan bayi kembar mereka dibawa oleh sang baby sister.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like ...
...komen...
...vote...
...Hadiah...
__ADS_1