
Pagi hari, di kediaman keluarga orang tua Bagas.
" Ayuna, maaf ya karena aku baru bisa datang hari ini." Ucap Sisil yang datang di saat mereka baru saja selesai sarapan pagi.
" Tidak apa apa, Aku tahu kau pasti punya alasan kenapa tidak bisa datang ke acara yang aku buat." Ucap Ayuna.
" Iya benar, aku harus menghadiri acara pertunangan dari adik Andi, aku baru sampai tadi malam lalu aku segera meminta anda untuk mengatakan ku kemari. Namun, karena Andi merasa sudah terlalu malam jadi kami putuskan untuk datang ke sini hari. Tidak apa apa kan?" Tanya Sisil.
" Tidak apa apa, tapi jangan berharap jamuan mewah ya, karena jamuan mewahnya sudah habis." Kekeh Ayuna.
" Hmm kalau begitu bagaimana kalau aku minta traktir di salah satu restoran bintang 5."
" Itu sih maunya kamu, udah yuk kita ke ruang bermain kembar ada disana." Ucap Ayuna.
" Ayo."
Ayuna dan Sisil akhirnya memilih untuk naik ke atas untuk menemui kembar yang sedang bermain bersama dengan Mesya. Sedangkan Andi tengah asyik mengobrol di taman bersama dengan Bagas.
" Apa yang kira-kira di bicarakan oleh para lelaki ya?" Tanya Sisil, saat mereka sudah di lantai atas dan melihat Bagas dan Andi yang sedang berbincang-bincang dari kaca rumah.
" Yaa, palingan soal bisnis. Laki laki seperti Andi dan juga Bagas, apalagi yang menarik untuk dibicarakan selain soal bisnis?"
" Iya, kau benar."
ceklek..
Ayuna dan Sisil masuk ke dalam ruang bermain, dan terlihat si kembar yang mulai aktif berjalan.
" Syukurlah Kakak ada disini." Ucap Mesya.
" Kenapa?"
" Hehe, Aku harus pergi karena aku harus membantu Nasya dan Nisya untuk memilih tempat mereka magang. Jadi, apa aku boleh pergi sekarang?. Aku benar-benar lupa jika aku sudah membuat janji dengan mereka."
" Baiklah, pergi sana. Dan Jangan lupa untuk selalu berhati-hati."
" Tentu."
Setelah cipika-cipiki dengan Ayuna, Mesya akhirnya segera bergegas keluar untuk mendatangi kampus kembar.
Sisil menurunkan putri nya, dan membiarkannya untuk bermain bersama dengan anak kembar Ayuna.
" Ayuna, wajahmu terlihat menyimpan sesuatu yang serius?" Ucap Sisil
" Huft, kau tahu."
" Apa?"
" Aku hamil."
" Oh." Ucap Sisil yang masih loading karena dia tengah menikmati salad buah yang memang sudah di bawa Ayuna sejak tadi.
" satu, dua tiga."
Ayuna menghitung jarinya, lalu...
" APPAAA...... KAMU HAMIL?!"
Sisil berteriak, hal itu tentu saja membuat Ayuna langsung membekap mulut Sisil.
" Tidak bisakah kau mengecilkan suara mu?, lihatlah bahkan anak-anak seolah menatap kita dengan tatapan tajam." Ucap Ayuna sambil menoleh kearah anak-anak yang melihat mereka.
Sisil mengangguk. Lalu Ayuna melepas tangannya yang sedari tadi menutupi mulut Sisil.
" Apa kau serius dengan apa yang kau katakan tadi?" Ucap Sisil. Ayuna mengangguk.
" Apa Bagas sudah tahu?"
" Aku belum memberitahunya, aku sendiri baru mengetahui jika diriku hamil adalah kemarin." Ucap Ayuna dengan raut wajah sedih.
" Hei, kau sedang hamil. Dan kehamilan itu adalah anugerah, seharusnya engkau berbahagia bukannya bersedih." Ucap Sisil sambil memegang tangan Ayuna.
" Aku tahu, hanya saja lihatlah si kembar, mereka baru saja berusia 1 tahun, dan dia sudah akan memiliki seorang adik. Aku.. aku.."
" Sttt, Ayuna dengar kehamilan adalah sebuah hal yang harus disambut dengan kebahagiaan bukan dengan kesedihan. Kau masih bisa memberikan kasih sayang mau kepada si kembar kan."
" Aku tahu, hanya saja.."
" Ayuna, apa lagi yang membuatku merasa bersedih."
__ADS_1
Ayuna berdiri dan menghampiri kedua putra-putrinya.
" Sisil, aku tidak tahu apakah harus bahagia kau bersedih dengan kehamilan ini. Aku hanya merasa tidak siap, jujur luka dalam hati karena kehilangan Gibran masih belum tutupin dengan sempurna. Kau tahu, aku sudah banyak melewati hal menyedihkan dengan Gibran. Dan sekarang ketika kami telah menemukan kehidupan yang jauh lebih baik, Gibran justru tidak lagi bersamaku. Aku terkadang merasa untuk apa kemewahan dia juga kebahagiaan yang aku rasakan. Jika Gibran tidak ada disampingku lagi."
Sisil tersenyum dan menghampiri Ayuna.
" Hei, bukankah kita sudah berjanji bahwa kita tidak akan selalu sedih lagi memikirkan orang yang telah meninggalkan kita?. Apa kau yakin tentang seseorang yang sudah meninggal juga dapat merasakan kesedihan kita?." Tanya Sisil.
Ayuna menatap Sisil, ucapannya membuat Ayuna mengingat kejadian di mana dia bermimpi bertemu dengan Gibran. Dan saat itu Gibran juga mengatakan hal yang sama seperti yang Sisil katakan.
Tanpa terasa Ayuna meneteskan air matanya.
" Hei, jangan menangis. Dengar, apa kau ingin Gibran merasa sedih karena dia mengetahui jika Maminya masih belum bisa merelakan kepergiannya. Dan apa itu artinya selama ini kau hanya berpura-pura bahagia di depan kedua putra-putri mu dan juga Bagas?" Tanya Sisil.
" Aku, Aku tidak tahu. Aku hanya merasa begitu sedih ketika aku tiba-tiba teringat tentang Gibran, bagaimanapun juga Gibran adalah kekuatanku. Dan sekarang kekuatanku telah hilang dariku."
" Ayuna, kita memang telah pergi dari hidupmu, tapi bukan berarti di bank juga membawa kekuatan yang ada dalam hidupmu. Lihatlah, kamu masih punya dua penyemangat yang akan memperkuat kekuatannya. Ditambah lagi ada satu kekuatan yang ada di dalam dirimu. Bayangkan bagaimana perasaannya Jika ternyata kau sedih setelah mengetahui kehadirannya di dalam perutnya. Bayangkan perasaannya saat tahu bahwa maminya sendiri tidak senang dengan kabar keberadaan dirinya."
" Kau benar, Tidak seharusnya aku terlalu terpuruk dalam luka akibat kehilangan Gibran."
" Kau pantas berbahagia Ayuna, jadi sekarang berbahagia lah. Jika kau sedang merindukan Gibran, maka datangi saja makamnya atau ke buat sesuatu untuk Gibran. Seperti acara yang kemarin pagi kau selenggarakan, bukankah acara itu memang khusus ditunjukkan untuk Gibran."
" Ya, kau benar."
" Ayuna, Aku tidak akan pernah bisa membuat orang lain bahagia sebelum dirimu sendiri merasa bahagia. Kau harus ingat, sekarang ada Bagas dan juga kedua anak kembar mu yang menunggu untuk bisa berbahagia bersama mu."
Ayuna dan Sisil tidak tahu, jika Bagas berdiri di balik pintu ruang bermain. Mendengar apa yang Sisil dan Ayuna bicarkan, namun Bagas tidak mendengar perihal kehamilan Ayuna.
" Jadi, selama ini Ayuna masih terluka karena kepergian dari Gibran, aku pikir dia sudah bisa benar-benar merelakannya. Ternyata aku salah. Hmm, sepertinya usahaku untuk menutup lubang bisa dalam hati Ayuna masih kurang." Lirih Bagas.
Bagas lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan dan memilih untuk kembali menemui Andi. Memberikan ruang bagi kedua sahabat itu untuk saling bertukar isi hati.
Rencananya Bagas akan mengajak Ayuna serta Sisil untuk jalan-jalan ke mall, dan mengajak Sisil serta Andi untuk makan makan sebagai ganti acara yang telah mereka lewatkan.
Sementara itu, Tara terbangun karena sinar matahari yang masuk menembus jendela kamar tempat di mana Tara tertidur.
" Ergh.."
Tara menggeliat, dan membuka mata.
" Dimana aku?" Ucap Tara saat dia melihat ke sekeliling.
" Apa yang terjadi padaku?" Tara mencoba bangkit, dan apa terkejutnya dia saat melihat noda merah di atas sprei.
" Awww.." Saat Tara melangkah, Dia merasakan nyeri di bagian intim.
" Apa yang sudah terjadi semalam." Ucap Tara yang mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.
" Aku..., aku merasa sudah tidur dengan Kak Bagas. Apakah itu mungkin?" Ucap Tara.
Tara berjalan ke arah cermin. Memandangi tanda yang terdapat di hampir seluruh tubuhnya.
" Ah,, kau sudah bangun rupanya?" Ucap Doni yang masuk ke kamar dengan membawa makanan serta minuman.
" Ka..kau?"
Doni dengan santai tersenyum dan berjalan mendekati Tara. Meletakkan nampan berisi makanan di meja sebelah tempat tidur.
Doni berjalan mendekati Tara, tapi Tara justru melangkah mundur.
" Jangan mendekat." Ucap Tara.
" Kenapa, apa yang kita lalui bersama selama satu malam. Kau kini menyuruhku untuk tidak mendekatimu."
" Seharusnya aku sudah menduga sejak awal, bahwa ada sesuatu yang kau inginkan sejak penawaran sebagai model internasional." Ucap Tara.
Doni tersenyum.
" Tara, aku memang menginginkan dirimu. Sungguh saat pertama kali kau memperbolehkan ku menyentuhmu di ruang ganti. Aku menjadi sangat candu, aku berharap bisa berbagi kehangatan dengan mu. Tapi bukan berarti aku akan memaksamu untuk tidur denganku. Kau sendirian datang padaku." Ucap Doni.
" Tidak, kau pasti berbohong."
" Untuk apa aku berbohong. Kau datang dan minum di bar milikku. Dan saat aku berniat menyapamu, ternyata kau minum terlalu banyak dan itu membuatmu menjadi mabuk. Banyak mata jahat yang sudah mengincar, jadi aku putuskan untuk membawa mu ke atas agar kau bisa istirahat. Tapi, setelah aku meletakkan mu di tempat tidur yang biasa aku gunakan kau melarangku untuk pergi, kau menarik udan mengatakan bahwa kau ingin berbagi kehangatan denganku. Dan Aku pria normal aku bisa apa saat melihat seorang wanita memohon kepadaku. Kau juga terlihat menikmati permainan kita."
" Tidak mungkin."
Tara terjatuh lemas.
" Tapi, aku merasa sedang bersama Kak Bagas. Aku bisa merasakan suaranya dan juga di saham yang kita lalui bersama. Tapi Kenapa bisa ada kau."
__ADS_1
" Tara, lupakan tentang Bagas. Kau sudah berbagi kenikmatan denganku, kau bahkan telah memberikan mahkota yang selama ini kau jaga kepadaku. Aku akan selalu memuaskan dirimu."
Doni mendekati Tara.
" Aku..aku.."
" Stt, jangan berkata apa-apa lagi."
Doni memeluk Tara.
" Aku telah benar-benar tidak lagi memiliki mahkota?" Isak Tara yang ada dalam pelukan Doni.
" Sttt, kenapa kau harus menyesalinya, semalam kau bahkan memintanya lagi Dan lagi."
" Pria brengsek. Kau memanfaatkan keadaan ku yang sedang tidak sadarkan diri." Ucap Tara yang mendorong tubuh Doni.
" Hei, tenanglah, aku tidak memanfaatkan dirimu. Aku hanya melakukan apa yang kau perintahkan, dan memberikan apa yang kau inginkan."
" Kau tahu kan, jika seseorang yang sedang mabuk itu artinya Dia kehilangan setengah dari kesadarannya. Kenapa kau justru membiarkanku terus larut dalam kenikmatan yang seharusnya tidak kita lakukan."
" Sudahlah Tara, tidak perlu disesali lagi semua sudah terjadi. Kita sudah berbagi kenikmatan, dan kenapa kamu rusak pagi kita yang seharusnya menjadi bahagia. Ayo kemari dan kita makan dulu. Kau pasti sudah lapar kan karena kita bertarung sangat asik tadi malam."
Doni menuntun Tara, lalu mulai menyuapi Tara. Tara awalnya menolak. Namunkarena Doni mengatakan Jika dia akan mengulangi perbuatan semalam jika Tara tidak makan. Akhirnya Tara memakan makanan yang dibawa oleh Doni.
" Aku ingin mandi." Ucap Tara.
" Tentu, kau mau mandi sendiri atau aku mandikan."
Tara menatap tajam Doni kemudian segera berjalan berlalu meninggalkan Doni dan menuju kamar mandi.
Doni hanya tersenyum melihat tingkah laku Tara, Doni mengingat lagi kejadian semalam yang dia lalui bersama dengan Tara.
" Hmm, mengingatnya saja sudah membuatku kembali bergairah." Lirih Doni. Dia memandang pusakanya yang terlihat bangun.
Doni berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar mandi. Dia melihat Tara bermain busa dibawah guyuran air shower.
" Aku akan membantumu menggosok punggungmu." Ucap Doni.
Sontak saja kehadiran Doni yang langsung memegang punggungya itu membuat Tara terkejut.
" Tidak Doni, aku bisa melakukannya sendiri."
" Aku tidak suka penolakan, jika kau menolak maka tindakan mengizinkanmu pergi dari tempat ini."
Tara merinding, sepertinya Tara mulai mengetahui sisi lain dari Doni. Dengan terpaksa Tarahan yang membiarkan Doni mengusap tubuh nya denganmu busa.
Dan lagi-lagi, sentuhan Doni mampu membuat Tara terbuai. Dia hampir saja membiarkan Doni melakukannya lagi. Dengan cepat Tara membilas tubuhnya mengambil handuk dan segera keluar dari kamar mandi.
" Kau sungguh membuatku terhipnotis." Lirih Doni yang segera berjalan menyusul Tara.
Tara yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mencari-cari pakaiannya, namun sialnya walaupun Papa sudah mengobrak-abrik isi kamar namun dia tidak menemukan pakaiannya.
" Mencari ini?" Ucap Doni yang keluar dari kamar mandi dan membawa pakaian serta tas milik Tara.
" Kembalikan." Ucap Tara yang langsung berlari dan berusaha mengambil barang miliknya yang ada di tangan Doni.
" Ets, tidak semudah itu. Bagaimana kalau kita bermain satu ronde saja."
" Jangan ngelantur kamu. Kau sudah merampas mahkotaku, dan sekarang kau menginginkannya lagi."
" Ayolah Tara. Hanya 1 ronde itu aku akan melepaskanmu. Kau pasti tidak akan menolaknya kan?, aku tahu kau sangat menikmati sentuhan dariku, benarkan?" Ucap Doni sambil membelai wajah Tara.
" Nikmati saja, apa yang akan aku lakukan kepadamu."
" Aku ingin pulang tolong lepaskan aku, izinkan aku untuk pulang." Lirih Tara
" Tentu, tapi sebelum itu ke harus menidurkan sesuatu yang terbangun di bawah sana." Ucap Doni yang langsung membuka handuk kimono yang dia kenakan. Dan membawa darah menuju ranjang peraduan. Mereka kembali melakukan apa yang terjadi semalam.
" Sial, kenapa aku jadi terjebak bersama pria ini. Dia lantas mahkota yang seharusnya Aku berikan kepada Kak Bagas. Kenapa aku menjadi sangat sial." Lirih Tara.
Tara, aku akan menjadikanmu tawananku. Aku tidak akan melepaskan. Batin Doni.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1