
" Kau tahu nak, setelah mengetahui bahwa Bagas bukan putra Mama. Perlakuan Mama sedikit berubah padanya. Mama ingat betul, selama hampir 5 tahun Mama tidak lagi memberikan Bagas kasih sayang serta perhatian yang sebelumnya selalu ia dapatkan."
" Lalu, apa setelah 5 tahun itu Mama mulai menyayangi Bagas kembali?"
" Ya, karena mama sadar. semua yang terjadi ini bukanlah salah Bagas, dan kenapa Mama harus menghukum Bagas atas kesalahan yang tidak dia perbuat. Jadi, Mama kembali mencurahkan kasih sayang mama kepada Bagas, Sampai sekarang."
" Apa Bagas tahu jika Bagas bukan anak kandung dari mama dan papa?"
" Ah sayang, terkadang rahasia biarlah tetap menjadi rahasia."
" Tapi bagaimana jika suatu saat Bagas tahu tentang kebenaran ini."
" Bagas tidak akan pernah tahu sampai kapanpun karena rahasia ini hanya Mama dan Papa yang tahu, dan sekarang kau juga mengetahuinya. Jadi, Mama harap kamu akan tetap menyimpan rasa ini pada dirimu sendiri."
Ayuna berjalan menuju meja, dimana disitu ada beberapa foto keluarga.
" Jadi, Bagas adalah yatim piatu sama sepertiku?. Bedanya Bagas lebih beruntung dan diadopsi oleh keluarga penyayang seperti mama dan papa."
Mama Bagas berjalan mendekati Ayuna.
" Ah sayang, kau juga beruntung karena memiliki suami sebaik Bagas. Aku yakin Bagas bisa membuatmu bahagia. Karena sejauh yang aku tahu Bagas mencintaimu lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Aku tidak pernah melihat Bagas mencintai seseorang begitu dalam seperti sekarang ini."
" Iya Mama benar, aku juga merasakan kasih sayang Bagas kepadaku dan juga Gibran begitu luar biasa. Aku juga sering melihat Bagas menangis setelah kepergian Gibran. Tapi dia tidak pernah menunjukkannya padaku."
Tok
Tok
Tok
" Mama, ohh mama. Mama, apa Mama menculik istriku tercinta."
Tok
Tok
Tok
" Mama... Oh.. mama.. Buka pintu nya..., Bagas mau masuk."
" Mama... Woy mama.."
" Ckckxk, tuh kamu lihatkan kelakuan suami kamu. Ngomong sama mamanya kayak ngomong sama temennya aja."
Ayuna terkekeh, lalu dia melihat Mama Bagas berjalan untuk membukakan pintu.
" Mama..." Teriak Bagas lagi.
" Iya iya sebentar. Duh kamu ini, mama baru membawa Ayuna beberapa menit saja kamu sudah bingung. Nanti mama beneran menculik Ayuna baru tahu rasa." Ucap Mama saat dia sudah selesai membuka.
" Yah, jangan gitu dong nanti Bagas tidur sama siapa."
" Lah, biasanya kamu juga tidur sendiri toh?"
" Itu kan dulu, waktu Bagas masih lajang. Sekarang Bagas udah nggak lajang jadi kalau tidur harus sama Ayuna biar ada yang puk-pukin Bagas, hehe. Iya kan sayang?". Ucap Bagas sambil melihat ke arah Ayuna.
" Dih, yang ada kamu yang ngasih Ayuna pupuk. Bukti nya dia sekarang hamil."
" Ya udah sih, sana Mama keluar Bagas mau menyirami pupuk yang sudah Bagas tabur pada Ayuna." Ucap Bagas dengan bangga sambil bersiap berjalan ke arah Ayuna.
" Eh eh eh..." Bagas merasa telinganya tertarik.
" Dasar kamu ya, masih sore udah mesum aja. biarin Ayuna istirahat di kamar mama, kamu lebih baik sana bantu papa melihat apakah persiapannya semua sudah siap."
" Yah tapi kan Ayuna..."
" Sudah nggak ada tapi tapi sana pergi." Ketus Mama Bagas
" Sayang..." Bagas merengek kepada Ayuna.
__ADS_1
" Ayo pergi." Ajak Mama kepada Bagas.
" Tapi..."
Ayuna justru terlihat melambaikan tangan ke arah Bagas.
" Istirahatlah sayang " Ucap Mama Bagas
" Emm, ma. Ayuna akan istirahat dikamar Gibran." Ucap Ayuna.
Mama melepas tangannya yang sedari tadi menjewer telinga Bagas. Sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum.
Ayuna berjalan melewati Bagas.
" Sayang aku ikut."
" Eh eh mau ikut kemana?, kamu ikut mama." Ucap Mama yang kembali menjewer telinga Bagas
" Ah ha ah.. mama."
" Sudah ayo ikut."
" Tapi Bagas mau menemani Ayuna, kalau dia diculik bagaimana?"
" Kamu kalau bicara jangan ngawur. Nanti diculik beneran baru tau rasa." Ketus Mama.
" Ah tidak tidak. Maafkan Bagas, tadi Bagas salah ngomong."
Ayuna hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Bagas. Lalu dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar tidur Gibran, dan berbaring di atas ranjang.
" Sayang, kau ada disini?" Ucap Ayuna saat dia merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
" Mami tahu, ini pasti dirimu. Maafkan mami ya nak, karena Mami masih belum bisa mengikhlaskan kepergian mu."
Ayuna merasa ada sesuatu yang menyentuh perutnya.
" Iya mami tahu, kau ingin Mami menyayangi kedua adikmu bukan?. Mami akan menyayangi nya seperti Mami menyayangi dirimu." Ucap Ayuna, hingga tidak lama kemudian dia terlelap.
...----------------...
...----------------...
Ayuna mendengar suara anak kecil menangis. Ayuna mencoba mencari asal suara. Lalu dia menemukan seseorang yang sedang menangis sambil duduk di kursi taman.
" Hei, kenapa kau menangis?" Tanya Ayuna.
" Aku sedih, karena aku pikir setelah aku pergi ayah dan ibu ku akan bisa menerima nya. Tapi mereka justru semakin menangis kepergian ku."
Ayuna melihat ke sekelilingnya.
" Dimana orang tua mu, nak?"
" Mereka ada di dunia yang berbeda dengan duniaku. Aku bisa melihat mereka dengan jelas dari sini. Dan aku sangat sakit saat melihat bahwa ayah ibu ku masih terus menangisi kepergian ku."
" Mami..."
Ayuna menoleh.
" Gibran?"
" Mami..."
" Gibran..."
Ayuna berlari dan memeluk Gibran.
" Sayang, mami sangat merindukan Gibran."
" Gibran juga merindukan pelukan mami."
__ADS_1
" Kemarilah, biarkan mami memelukmu erat-erat." Ucap Ayuna sambil menangis.
Gibran memeluk Ayuna, lalu dia melepas pelukannya dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Ayuna.
" Mami, bukannya mami sudah berjanji untuk tidak akan pernah menangisi kepergian Gibran lagi?"
" Maafkan Mami sayang, kehilanganmu sungguh membuat Mami merasa terluka."
" Tapi mami, Gibran akan terlahir kembali menjadi anak mami."
" Ap..a?"
" Ya Mami, Gibran akan menjadi salah satu dari bayi kembar yang sedang dikandung mami. Jadi, jangan lagi bersedih karena kita sudah tidak dapat menemani mami. Karena akan ada kedua adik Gibran yang menemani Mami nanti."
" Tapi nak.."
" Gibran menyayangi mami, dan berjanjilah bahwa Mami tidak akan lagi bersedih karena kepergian Gibran." Ucap Gibran sambil berjalan mundur menjauhi Ayuna
" Gibran, kamu mau kemana nak?" Tanya Ayuna.
" Gibran harus kembali ke alam Gibran sendiri mami, dan Mami harus bangun dari tidur Mami."
" Apa, jadi ini hanya mimpi? ini mimpi atau ilusi?"
" Terlepas dari mimpi ataupun ilusi, yang terpenting sekarang Mami harus bangun dari tidur Mami. Karena disana papi sudah cemas karena Mami tidak kunjung bangun."
Ayuna menoleh ke arah yang ditunjuk Gibran, disana terlihat Bagas sedang khawatir karena ayunan tidak bangun-bangun walau Bagas sudah mencoba membangunkannya dengan segala cara.
" Apa..?. dimana aku sebenarnya?"
" Mami, pergilah dan bangunlah sekarang juga."
" Tidak. jika disini Mami bisa bersamamu maka Mami tidak akan pernah bangun dan Mami akan tetap ada disini."
" Maaf mami, tapi Mami harus pergi."
" Kau mengusir mami?" Ayuna menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca.
Gibran mendekati ayeuna dan kembali memeluknya.
" Hentikan mami, Gibran mohon. Jangan lagi air mata karena Gibran, Gibran sungguh tersiksa jika melihat Mami bersedih. Percayalah mami, Gibran akan terlahir kembali menjadi buah hati."
" Mami menyayangi mu nak."
" Gibran juga menyayangi mami.."
Lalu Ayuna merasa ada kilatan cahaya yang sangat menyilaukan matanya. Lalu dia tersadar jika Gibran sudah tidak ada lagi di dalam pelukannya.
" Gibran?"
" Gibran???"
Ayuna berteriak dan mulai memanggil-manggil nama Gibran...
" GIBRAN...."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komentar...
__ADS_1
...vote ...