
" Ayuna..."
Bagas dan anjas segera berlari ke arah ayuna. Dengan sigap bagas mengendong tubuh ayuna dan membawa ke ruang rawat agar dokter dapat memeriksa nya.
Setelah dokter memeriksa keadaan ayuna.
" Saya sudah menyuntikkan obat kepada istri anda, semoga setelah ini, istri anda akan segera tersadar." Ucap dokter obgyn.
" Terima kasih dokter." Ucap Bagas.
" Sama sama, kalau begitu saya permisi. Kalau ada apa apa, segera hubungi saya."
" Baik."
" Kau jaga saja ayuna, aku akan menjaga Gibran." Ucap anjas.
Bagas hanya mengangguk, anjas menepuk pundak bagas.
Anjas memasuki ruangan Gibran, terlihat banyak selang yang tertancap di tubuh nya. Semakin anjas mendekat, hatinya semakin terluka, tanpa sadar air mata nya mengalir.
" Nak, ada apa denganmu? Bukankah baru kemarin Gibran bermain dan bercanda tawa bersama ayah dan oma. Kenapa sekarang Gibran malah terbaring disini?" Ucap anjas sambil memegang tangan Gibran.
" Bangunlah nak, apa kau tau, mami sedang pingsan. Dia sangat terpukul dengan keadaan gibran. Termasuk ayah. Ayah ..., ayah..."
Anjas tidak dapat meneruskan kata kata nya, kesedihannya membuat anjas tidak dapat lagi berbicara, dia menunduk dan menangis sambil memegangi tangan gibran.
Tak lama kemudian ayuna tersadar.
" Gibran..." Ucap ayuna yang langsung bangun.
Bagas yang sedari tadi menunduk, langsung mendongakkan kepalanya.
" Sayang, kau sudah sadar?" Tanya bagas
" Eh, apa yang akan kau lakukan?" Tanya bagas, saat melihat ayuna melepas jarum infus yang ada ditangannya.
" Aku harus menemui Gibran. Aku harus memastikan bahwa dia baik baik saja. Aku bermimpi operasi Gibran tidak berjalan baik. Hal itu membuat gibran menjadi kritis."
Bagas terdiam sesaat.
" Itu bukan mimpi sayang, itu kenyataan."
" Ha?"
Ayuna menghentikan aktivitasnya, yang berusaha membuka jarum infus.
" Bagas, apa yang kau katakan?"
Bagas menghela nafas panjang, inilah yang tidak dia sukai. Mengatakan sesuatu yang menyakitkan kepada ayuna.
" Yang kau katakan tadi bukan mimpi, tapi kenyataan."
" Tidak mungkin. Ini pasti mimpi."
" Ayuna."
" Tidak bagas. Jangan katakan jika ini kenyataan. Ini mimpi bagas."
" Ini kenyataan ayuna. Kita tidak sedang berada di alam mimpi. Kita sedang berada di dunia nyata. Dan kenyataan itu..."
" Stop. Jangan diteruskan lagi."
" Ayuna.."
__ADS_1
" Tidak bagas, Gibran ku baik baik saja. Bahkan kami baru saja bersenang-senang di taman. Bukankah kau juga ada disana bersama kami." Ucap ayuna dengan air mata yang terus mengalir.
" Ayuna, aku mohon tenang lah."
" Gibran.." Ayuna mulai histeris.
" Sayang.."
" Tidak, jangan mendekat. Ini mimpi, ini pasti mimpi, aku harus bangun bagas. Aku harus bangun. Hiks hiks hiks. Aku harus bangun..."
" Ayuna ini bukan mimpi, memang sebelumnya kita berada di taman, lalu tiba-tiba Gibran pingsan dan dari hidungnya mengeluarkan darah. Karena itu Gibran langsung dioperasi dan..., operasinya tidak berjalan lancar." Ucap Bagas dengan nada se tenang mungkin. Walau hatinya begitu teriris.
Bagas melihat air mata ayuna terus mengalir, kini alirannya semakin deras.
" Kau pembohong." Hardik ayuna.
" Ayuna.."
" Kau pembohong Bagas, gibran baik baik saja. Hiks hiks..."
Bagas berniat menghapus air mata ayuna, dan saat tangan bagas akan menyentuh pipi ayuna, tangan ayuna terangkat menandakan agar bagas tidak melakukan nya.
Bagas terdiam dan kembali duduk. Dia memejamkan mata. Mencoba mengatur suasana hati nya yang terluka. Lalu kembali berdiri dan mendekat ke arah ayuna.
Dipegangnya pipi sang istri itu.
" Aku tahu ini menyakitkan, tapi kita tidak sedang berada dalam mimpi. Kita berada di dunia nyata. Dan kenyataan yang terjadi sekarang adalah, putra kita sedang kritis. Dokter sudah tidak bisa melakukan apa apa lagi, hanya keajaiban yang dapat membangunkan gibran."
" Haaaa...., hiks hiks hiks... Tidak mungkin."
Ayuna kembali histeris, bagas segera membawa ayuna ke dalam pelukannya, Bagas mendekap erat tubuh ayuna.
" Katakan ini mimpi bagas."
" Ini mimpi bagas."
" Tidak."
" Ini pasti mimpi, aku yakin. Hiks hiks."
Bagas semakin mendekap tubuh ayuna, sambil sesekali dia mencium rambut ayuna, dan terus mengusap matanya. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan ayuna.
Bagas tidak tahu lagi harus berkata apa, kenyataan ini memang sangat menyakitkan. Apalagi, saat dokter mengatakan sangat kecil kemungkinan bagi Gibran untuk sembuh dari sakit ini.
Setelah cukup lama bagas mendekap tubuh ayuna.
" Aku ingin melihat Gibran." Lirih ayuna.
" Tapi kau harus janji harus kuat."
Ayuna mengangguk. Bagas melepaskan pelukannya. Dan membantu ayuna untuk turun dari ranjang.
Baru melangkah, ayuna sudah hampir terjatuh.
" Lebih baik menggunakan gunakan kursi roda saja, aku akan mendorong mau ke ruangan Gibran."
Bagas lalu mengambil kursi roda, dan membantu ayuna untuk duduk dengan perlahan. Sekali lagi, Bagas menatap ayuna dan mencium kening ayuna, sebelum akhirnya membawa ayuna ke ruangan dimana gibran dirawat.
Ceklek ...
Anjas yang menyadari kedatangan ayuna dan Bagas segera menghapus air matanya. Dia juga tidak ingin terlihat lemah dimata mereka.
Semakin bagas mendorong ayuna mendekati gibran, semakin hati ayuna tidak menentu. Ayuna tidak dapat lagi menahan air mata nya.
__ADS_1
Ayuna langsung berlari memeluk gibran.
" Sayang apa yang terjadi pada nak, kenapa kok jadi begini?. Bukankah Gibran sudah berjanji akan sembuh?. Gibran berjanji akan menjadi kakak yang baik bagi adik adik gibran nanti kan?, jadi ayo bangun nak. Jangan membuat mami bersedih. Mami tau gibran kuat. Gibran pasti bisa melawan kanker itu nak. Ayo bangun gibran.. Hiks hiks hiks... Gibran.."
Bagas dan anjas mengalihkan pandangannya. Mereka tidak tahan melihat pemandangan menyedihkan seperti ini.
" Bangunlah nak, buka mata mu." Ucap ayuna lagi.
" Ayuna, tenang kan dirimu." Ucap anjas.
" Diam kau. Kau tidak akan tau apa yang aku rasakan. Hiks hiks hiks."
Bagas menyeka air mata nya, lalu kembali mendekap ayuna.
" Bagas, kenapa gibran masih saja menutup mata, aku sudah menyuruh nya bangun. Biasanya dia akan membuka mata saat aku menyuruh nya bangun."
" Ayuna.."
" Dia adalah pelita hidupku bagas, dialah satu satu nya alasanku berada didunia ini. Apa lah arti diriku tanpa gibran ku.." Ucap ayuna dengan air mata yang terus mengalir.
" Kau masih punya aku, aku akan menjadi pelita untukmu."
" Tidak. Aku menginginkan Gibran. Tolong buat dia bangun." Ucap ayuna.
Pandangan ayuna lalu beralih kepada anjas. Dia melepas pelukan bagas, dan berjalan ke arah anjas.
" Anjas bukankah kau bilang akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Gibran. Sekarang di branta tidur buatlah dia bangun aku mohon."
Ayuna berlutut dihadapan anjas.
" Ayuna, apa yang kau lakukan?"
" Aku mohon anjas, Buat gibran ku membuka matanya. Hiks hiks..."
Bagas menghampiri ayuna, dan membangunkan nya.
" Ayuna bangunlah."
" Bagas, Anjas tidak mau membuat gibran bangun."
" Ayuna."
" Tolong bangunkan Gibran bagas. Atau buat aku bangun. Aku pasti mimpi."
" Ini bukan mimpi ayuna." Ucap anjas.
" Bagas katakan pada anjas jika ini adalah mimpi." Ucap ayuna.
" Ayuna, bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya. Ini bukan mimpi sayang. Ini kenyataan."
" Tidak mungkin."
Tit Tit tit Tit....
Tiii......i......i....i....**
Semua mata tertuju pada layar monitor.
" Gibran."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...