LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Tidak jadi pergi kan.


__ADS_3

" Jadi, kau adalah calon suami dari Bella?."


Anjas hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ya Tuhan, sungguh kau serius?"


" Restui aku untuk mencintai Bella seumur hidup ku."


" Pppfffttt, kau bercanda?, kau minta restu dariku?. Ayolah yang benar saja aku bukan Papa dari Bella."


" Lalu aku harus meminta restu kepada siapa bukankah Papa Bella sudah lama meninggal."


" Tentu saja kau harus meminta restu dari pak Wirabrata."


Glek....


Anjas menelan ludahnya kasar, pasalnya sejauh yang dia tahu wirabrata adalah orang yang terkenal Dingin.


" Kenapa diam?, tidak berani?" Tanya Bagas.


Bella menatap Anjas. Merasa dilihat oleh sang pujaan hati, Anjas tentunya tidak mau dong jika citranya turun begitu cepat.


" Ehem hem. Siapa bilang aku takut aku hanya diam karena aku sedang merangkai kata apa yang pas untuk aku ucapkan saat bertemu dengan bapak Wirabrata." Ucap Anjas, berusaha tenang walau sebenarnya hatinya sudah tidak karu-karuan.


" Ayo masuk." Ajak Bagas.


Bagas berjalan mendahului mereka.


" Anjas ayo. Aku sudah lapar." Bella akhirnya menarik tangan Anjas dan berjalan tepat di belakang Bagas.


" Hust, Oke."


Dengan tarikan nafas panjang, Anjas akhirnya jalan di belakang aja sehingga mereka tiba di meja makan.


" Hai semua, lihat dan perkenalkan calon suami Bella, Anjas."


" Uhuk." Ayuna langsung tersedak begitu Bagas menyebut nama Anjas.


" Sayang, pelan pelan. Ini minum dulu." Ucap Rini, sambil memberikan gelas berisi air kepada Ayuna.


Bagas langsung mengambil tempat duduk yang ada di sebelah kanan Ayuna.


" Bagas kenapa harus Anjas itu yang menjadi calon suami Bella." Bisik Ayuna.


" Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita introgasi Anjas nanti saja." Bisik Bagas.


" Ehem. Kalian kenapa masih berdiri?, lagi bisulan?" Ucap Papa Bagas.


" Eh enggak kok, Bella duduk. Orang Bella udah laper." Ucap Bella yang langsung duduk, serta mengisi piring kosong nya dengan beberapa makanan yang dia sukai.


" Heh kamu, kenapa cuma berdiri?, duduk." Perintah Papa Bagas kepada Anjas.


Bella langsung mengkode kepada Anjas agar Anjas duduk di sampingnya.


" Iy...ya pak."


" Pak, pak, pak. Memangnya aku ini bapak mu?!" Ketus Papa Bagas.


" Emm, maksud saya..."


" Sudah lah pa, kenapa kamu malah memberi kesan buruk kepada calon menantu kita." Ucap Rini.


Calon menantu?, apakah itu artinya sudah lampu hijau untuk menikahi Bella. Batin Anjas.


" Apa kamu senyum senyum?" Tanya Papa Bagas, saat melihat Anjas yang tidak dapat menahan diri saat mendengar kata calon menantu.


" Ah, enggak. Ini Pipi saya terasa sedikit kram karena itu saya melakukan gerakan tersenyum." Ucap Anjas.


" Hmm, ya sudah makan."

__ADS_1


" Ba..baik."


Bella lalu membantu mengambilkan makanan dan meletakkannya di piring Anjas, sedangkan Bagas dan Ayuna justru menahan tawa melihat tingkah laku Anjas yang terlihat sangat ketakutan.


Setelah sarapan, mama dan papa Bagas menyuruh Bella dan keluarga untuk istirahat sebentar, sebelum akhirnya mereka menuju rumah nenek.


Saat Bagas dan Ayuna, akan mengintrogasi Anjas dan mencari tahu apa yang membuat Anjas bisa menjadi calon suami dari Bella. Tiba tiba Mama dan Papa datang dan mereka sudah siap untuk pergi.


" Sayang kamu dirumah aja ya sama Bagas." Ucap Mama saat mereka semua sudah bersiap untuk pergi.


" Lo tapi kenapa Ma?,


Ayuna juga ingin bertemu dengan nenek?"


" Ah sayang, tentu saja Mama sangat ingin mengajakmu menemui nenek. Tapi, lihatlah kau hamil dan perjalanannya memakan waktu hampir seharian. Mama tidak mau kamu merasa lelah dan mama takut terjadi apa-apa pada mu dan juga bayimu."


" Tapi Ma."


" Ayuna, Mama mohon kali ini dengarkan perintah Mama. Kehilangan cucu pertama sudah membuat Mama sangat sedih, jadi Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada calon cucu mama."


Ayuna sangat terharu karena ternyata Gibran sudah dianggap sebagai cucunya sendiri. Akhirnya dengan berat hati dia menyetujui perintah Mama untuk tetap tinggal dirumah dan menunda untuk bertemu dengan nenek.


" Jaga istrimu baik baik. Jangan terlalu mengunjungi anakmu tidak baik." Ucap Papa.


" Siap."


" Jangan siap-siap aja, tapi dilakukan."


" Iya, aduh Papa bawel sekali sih sudah sana pergi."


" Kamu ngusir Papa?" Ketus Papa Bagas.


" Eh enggak kok. Bagas cuma bilang cepat pergi sama keburu hujan."


" Ah iya, kamu pernah juga cuaca sepertinya juga mendung."


" Nah itu."


" Iya Ma."


Ayuna dan Bagas lalu mengantarkan mereka hingga masuk mobil dan mobil meninggalkan halaman mansion.


Dan saat mobil sudah meninggalkan Mansion, Papa Bagas baru sadar jika dirinya baru saja dikerjai oleh Bagas.


" Sial, bocah gemblung tadi mengerjaiku." Ucap Papa.


" Maksud Papa, Bagas?" Tanya Rini


" Iya."


" Memangnya kenapa lagi dengan dia?"


" Tadi, aku kan berpesan kepada dia supaya jangan terlalu sering mengunjungi anak-anaknya, kasihan kan Ayuna. Eh, dia malah menyuruh Papa untuk cepat pergi katanya nanti takut hujan."


" La bener kan apa yang dikatakan Bagas, kalau tidak segera berangkat ya nanti hujan."


" Mama, hujan atau tidak kita tetap berangkat kita kan naik mobil bukannya jalan kaki."


" Astaga iya ya Pa. Dasar emang Bagas itu bocah gemblung."


Sementara itu di mobil yang ditemani Bella,


" Huft..." Anjar terlihat mengalah nafas panjang.


" Kamu kenapa?" Tanya Bella.


" Tidak apa apa kok."


" Jangan khawatir, Paman Wirabrata itu baik. Kau hanya belum mengenal sisi baiknya. Percayalah, setelah kau dekat dengannya nanti kau akan tahu betapa hangatnya sosok dari Paman Wirabrata."

__ADS_1


Hangat apanya, dia bahkan hampir membuat jantungku lepas dari tempatnya. Batin Anjas.


Dia selalu tersenyum kepada Bella, dan Bella menyandarkan kepalanya di bahu Anjas. Hati Anjas merasa berbunga-bunga. Dia tidak menyangka akan bisa sedekat ini dengan Bella. Tidak bukan stiker ini yang dimaksud Anjas. Tapi, Anjas tidak menyangka jika dia dengan berani melamar Bella. Dan Anjas Hanya tinggal menunggu hari ulang tahun Bella untuk mendapatkan jawabannya.


...


Sepeninggal keluarga, Bagas langsung menggendong tubuh Ayuna.


" Eh. Kita mau ke mana?"


" Aku mau mengantarkan muka kamar agar kau bisa istirahat, seperti apa yang diperintahkan oleh Mama."


Ayuna cemberut.


" Bibirmu kalau begitu ntar aku makan loh." Goda Bagas.


Namun, bukannya berhenti Ayuna justru mempertahankan mimik wajah cemberut nya itu. Bagas lalu menurunkan ayeuna perlahan dan mendudukkannya di kursi.


" Katakan, Kenapa kamu cemburu saat aku akan membawamu ke kamar untuk beristirahat."


" Aku bosan berada di kamar, dan aku sedang tidak lelah."


" Jadi..."


" Bisakah kita jalan-jalan ke mall?, atau nonton bioskop?. Aku mohon.." Ucap Ayuna dengan mata berkaca-kaca.


Bagas terdiam Dia terlihat memikirkan sesuatu.


" Ayolah.."


" Oke. Tapi janji hanya nonton bioskop setelah itu kita pulang dan kau harus istirahat."


" Siap bos."


" Ya udah ayo."


Bagas mencium kening Ayuna, dan menggandeng tangan Ayuna.


Mereka bersama-sama berjalan menuju mobil untuk pergi ke mall.


" Ohya Bagas, tadi kita tidak jadi mengintrogasi Anjas. kita jadi tidak tahu kenapa dia bisa kenal dan menjadi calon suami dari sepupu kamu Bella." Ucap Ayuna saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


" Tenang saja, masih ada beberapa hari untuk mendapatkan jawaban dari Anjas."


" Tapi Aku sungguh penasaran loh."


" Sayang, kau bilang tadi ingin jalan-jalan kan. Jadi ayolah kita nikmati waktu berdua kita. Jangan memikirkan tentang orang lain oke."


" Baiklah baik. Ayo jalan pak bos."


Bukan nya menginjak rem Bagas justru memandang Ayuna.


" Lo kok."


Cup


Tanpa aba aba, Bagas langsung mencium bibir Ayuna. Ayuna tidak menolaknya dia justru menikmati ciuman mereka.


Hingga hujan deras tiba tiba datang, membuat pasangan suami istri itu terus melanjutkan ciuman mereka di dalam mobil.


" Kita masuk lagi ke dalam rumah. Aku kedinginan butuh sesuatu yang panas-panas." Bisik Bagas.


" Dasar kamu ya, pinter menggunakan kesempatan di dalam kesempitan."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


Terima kasih buat yang sudah setia baca novel recehan ini. Maaf ya, kalau minim konflik. Karena dari awal dibuatnya novel ini sudah tidak terpikir untuk menciptakan konflik.


__ADS_2