
Ayuna membatalkan niatnya untuk menaiki anak tangga, dia berbalik dan berjalan menuju Bagas.
Cup
Ayuna mencium pipi Bagas, dan berbisik..
" Aku juga mencintaimu pencuri hatiku."
Setelah mengatakan itu, ayuna berlari menuju anak tangga meninggalkan Bagas yang sedang tersenyum senyum sambil memegangi pipi bekas ciuman ayuna.
" Aku akan tidur nyenyak malam ini." guman Bagas.
Sedangkan ayuna, langsung merebahkan diri di atas kasur sambil tersenyum-senyum memikirkan apa yang baru saja dia lakukan.
Sungguh dia tidak tahu keberanian dari mana yang membuatnya mampu melakukan itu.
Mungkinkah kini ayuna telah benar-benar mencintai Bagas?
Mungkinkah ayuna sudah siap untuk memulai hidup baru bersama Bagas?
Entahlah biarkan waktu yang menjawabnya.
" Apa yang merasukiku sehingga aku begitu berani mencium pipinya, uh.. Aku sangat malu jika bertemu dengan nya esok hari." Ucap ayuna sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.
Ayuna melirik ke arah jam,
" Sudah 12 malam. Sebaiknya aku segera tidur." Ucap ayuna.
Pagi harinya, ayuna yang terbiasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Langsung berjalan menuju dapur.
Saat Ayuna akan mencuci tangan, dan mulai memasak. Sisil menarik tangan Yoona dan bawahnya sedikit menjauh dari dapur.
" Kau sedang apa?" Tanya Sisil.
" Tentu saja aku akan memasak memangnya kau pikir aku mau apa di dapur?"
" Oh my God Ayuna. Kau di sini adalah tamu, jadi tidak perlu repot-repot memasak, sudah ada pelayan yang akan masak."
" Tapi .."
" Sudah jangan tapi tapi, sebaiknya Kau pergilah ke taman sekarang."
" Kenapa harus ke taman?"
" Sudah sana lihat sendiri"
Sisil mendorong tubuh ayuna agar dia segera berjalan menuju taman.
" Eh eh eh ..."
Mau tidak mau, ayuna berjalan hingga dia sampai di taman.
Sesampainya di taman ayeuna terkejut melihat bagas udah ada di sana.
" Maukah kau berjalan-jalan menikmati pagi hari bersamaku?" Ucap bagas, sambil mengulurkan tangannya.
Ayuna menoleh ke arah Sisil. Sisil tersenyum dan mengangguk. Dengan ragu ragu, Ayuna memberikan tangannya kepada Bagas. lalu Bagas segera menggenggam tangan Ayuna dan membawanya jalan-jalan mengelilingi taman.
" Sangat indah ya." Ucap bagas.
" Ya. Andi membangun taman ini sejak tahu bahwa Sisil hamil, dia tidak ingin sisil merasa bosan."
__ADS_1
" Aku akan membuatkanmu taman dua kali lipat besarnya dari taman ini, setelah kita menikah nanti."
Ayuna menatap bagas.
" Aku serius. Aku akan membeli rumah dengan taman di depannya. Kau mau taman di depan rumah atau di belakang rumah?"
" Tapi aku tidak suka rumah yang terlalu besar. Sperti rumah Sisil, menurutku ini terlalu besar. Apalagi hanya ditinggali bertiga."
" Ya kau benar aku juga tidak terlalu suka rumah yang besar. tapi aku suka dimanapun asal itu denganmu."
" Dasar gombal."
" Aku serius. Dan ayuna.."
Bagas berhenti, dan menatap ayuna.
" Ya, ada apa Bagas?"
" Terima kasih karena kau sudah mempercayaiku dan tidak lagi salah paham kepadaku."
" Eh memangnya siapa yang sudah menerima penjelasanmu."
" Tentu saja kau!."
" Tidak aku masih belum bisa mendengar penjelasan mu yang menurutku tidak masuk akal."
" Kau sudah menerima penjelasanku dengan baik."
" Tidak."
" Buktinya semalam kau mencium pipi ku, dan sekarang kau memegang tangan ku dengan erat"
Tersadar kini ayuna lah yang menggenggam tangan Bagas, dia segera melepaskan nya.
" Tidak usah minta maaf aku suka. Pegang saja lagi."
Bagas memberikan tangannya berharap ayuna akan memegangnya lagi.
" Ish, siapa juga yang memegang tanganmu" Ketus ayuna.
Mereka lalu berjalan hingga sampai di tengah tengah. Disitu mereka melihat air mancur yang sangat indah.
" Ayuna, apakah sudah yakin akan memulai hidup baru denganku?"
Ayuna terdiam.
" Aku tidak sengaja pernah mendengar percakapan mu dengan Sisil."
" Percakapan yang mana?" Tanya ayuna.
" Percakapan tentang dirimu yang masih mencintai Anjas. Apa itu benar?"
Ayuna menghela nafas, lalu duduk di kursi yang ada disekitar air mancur yang sangat indah itu.
" Entahlah, aku juga tidak tau." Ucap ayuna, setelah Bagas ikut duduk di samping nya.
" Bagaimana kau bisa tidak tahu tentang perasaanmu sendiri?"
Ayuna terdiam.
" Kau tahu perasaanmu dan mungkin saja kau tidak mau mengakuinya." Ucap Bagas.
__ADS_1
" Sekarang katakan apa yang kurasakan saat kau di dekatku."
Ayuna menatap bagas.
" Katakan saja.."
Ayuna berjalan menuju air mancur.
" Aku tidak tahu pasti apa yang aku rasakan, tapi yang jelas aku merasa nyaman dan merasa terlindungi saat ada di dekatmu. Aku merasa bahagia saat ada bersamamu, apalagi saat melihat kau bercanda tawa bersama dengan Gibran. Juga saat-saat kebersamaan kita bersama keluargamu. Aku merasa seperti dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku."
Bagas mendekati ayuna.
" Apakah kau sudah mencintai ku?"
Ayuna menggeleng.
" Aku tidak tahu, tapi ada perasaan berbeda saat aku hanya berdua dengan mu. Seperti saat ini, aku merasakan nya lagi. Perasaan nyaman dan tenang."
Bagas menyentuh tangan ayuna.
" Itu artinya cinta ku telah mengisi ruang hati mu. Dan aku yakin, sebentar lagi cinta ku, akan mengisi seluruh ruang dalam hati mu."
Ayuna menatap bagas.
" Ayuna, ijin kan cintaku mengisi seluruh ruang dalam hati mu."
Ayuna mengangguk, Bagas mencium tangan ayuna. Ayuna tersenyum, ada rasa menggelitik dalam hati nya.
Mungkinkah dia sudah mencintai bagas?
Momen romantis itu, tidak bertahan lama, karena sisil terus saja berteriak memanggil nama ayuna dan bagas.
" Ayuna, bagas... gibran..dia.. gibran..." Teriak Sisil dari kejauhan.
" Gibran, kenapa dengan gibran?" Ucap bagas.
Untuk sesaat ayuna dan bagas saling berpandangan.
" Ayuna, Bagas cepatlah.."
" Ayuna, Bagas... dimana kalian..."
Suara sisil lagi, membuat ayuna dan bagas segera berlari dan mencari tahu apa yang terjadi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan lupa...
...like...
...komentar...
...vote...
__ADS_1
...hadiah...