LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Ayuna dan Mama


__ADS_3

" Mama... Kak Bagas dan kakak ipar sudah datang." Teriak Mesya saat melihat mobil Bagas memasuki halaman rumah.


" Mana mana..." Ucap Nasya.


" Tuh..." Mesya menunjuk dengan dagu nya.


" Wah, aku sangat merindukan kakak ipar."


" lebai." Ketus Mesya sembari meninggalkan Nasya dan masuk ke dalam untuk memberi tahu Orang Tua nya bahwa Bagas dan Ayuna sudah tiba.


" Eh, kakak mau kemana?"


Sreett....


Mesya menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Nasya, dan berjalan mendekati nya.


" Ka..kak mau apa?" Ucap Nasya, saat melihat Mesya berjalan memutari dirinya dengan tatapan tajam.


" Kau Nasya kan?" Tanya Mesya dengan tatapan sinis.


" Iya lah."


Hening..


Namun Mesya masih menatap tajam adiknya itu.


Tuhan, kenapa Kak Mesya jadi seseram ini?, apa dia salah makan?. Apa jangan-jangan dia kesurupan?. Batin Nasya.


Lama Mesya memandangi Nasya,.


" Nasya..." Panggil Mesya.


" Iya?"


" Hahahah, kamu Nasya kan?"


" I...ya.."


" hahaha, hahah... hahaha. Nasya?, Nasya?"


" Ih kakak.."


" Hwaaahahahah. Sejak kapan kamu memanggilku dengan embel-embel kakak?, aku pikir kau Kesambet setan gundul."


Nasya menggaruk-garuk kepalanya. Jadi hanya karena dia memanggil Mesya dengan embel-embel kakak, membuat Mesya jadi seseram ini.


" Hehe, sejak... tadi."


" Hmm, bagus lah. Akhirnya kau menyadari bahwa aku adalah kakak Mesya. Bukan salah satu nama micin yang booming di Indonesia." Ucap nya sambil merangkul pundak Nasya, dan mengajak nya berjalan turun untuk menyambut kedatangan Ayuna dan Bagas.


Ayuna menghela nafas sebentar, sebelum akhirnya dia turun dari mobil. Sedangkan Bagas yang lebih dulu turun, langsung membuka bagasi mobil dan menyuruh pelayan membawa barang bawaan mereka.


Lama Ayuna memandangi mansion mama dan papa Bagas. Hati dan pikiran nya kembali mengingat semua memori tentang Gibran di rumah ini.


" Ayuna.."


Bagas menghampiri Ayuna dan langsung memegang kedua bahunya dari belakang.

__ADS_1


Ayuna tidak ingin lagi menangis, jadi dia tersenyum kepada Bagas.


" Ayo masuk." Ajak Bagas.


Ayuna mengangguk, dan berjalan beriringan dengan Bagas.


Ayuna memasuki rumah yang sudah dihiasi dengan berbagai pernak-pernik Natal.


" Sayang, akhirnya kau datang." Ucap Mama Bagas yang langsung memeluk Ayuna.


" Apa kabar ma?." Ayuna mencoba mengontrol suasana hati nya, dan membalas pelukan Mama Bagas.


Cup


Mama Bagas mencium kening menantu nya itu, lalu mengajaknya masuk ke dalam.


" Bagaimana Ayuna?" Tanya Papa Bagas


" Hmm, Bagas tidak bisa menyimpulkan. Karena hati Ayuna berubah-ubah. Terkadang dia bisa menerima kenyataan. Terkadang dia justru semakin terpuruk."


Papa mengelus lembut bahu Bagas.


" Memang tidak mudah saat kita kehilangan orang yang paling kita sayangi untuk selamanya. Kau harus terus berada disisi Ayuna sampai dia bisa benar-benar mengikhlaskan kepergian Gibran."


" Ya


" Itu pasti akan Bagas lakukan."


Bagas menatap mamanya yang membawa Ayuna naik ke lantai atas.


" Ma, kamar Gibran?" Ucao Ayuna saat mereka melewati kamar yang dulunya ditempati oleh Gibran.


Setelah mendapatkan kunci, Mama membuka pintu.


Ceklek..


" Masuklah." Perintah Mama Bagas."


Dengan hati berdebar Ayuna memasuki kamar yang dulunya ditempati oleh Gibran.


Ayuna mulai berjalan perlahan menelusuri dinding, dimana disana terdapat banyak foto gibran dan segala hiasan khas kamar anak laki-laki, sebelum akhirnya memilih untuk duduk di tempat tidur Gibran. Dielusnya ranjang Gibran.


" Ini Natal pertama ku tanpa Gibran ma. Rasanya seperti...."


Ayuna tidak meneruskan kata-katanya dan menutup Mata.


Mama Bagas berjalan mendekat dan duduk disamping Ayuna. Dipegangnya tangan menantu nya itu yang masih terlihat jelas kesedihan masih menyelimuti seluruh hati nya.


" Nak, Mama tahu kesedihan yang kau rasakan. Mama tahu kau masih belum merelakan kepergian Gibran, tapi kau juga harus tahu bahwa kehidupan setelah kita ditinggalkan seseorang yang kita sayangi harus tetap berjalan."


" Ayuna tahu ma, hanya..."


" Hanya ingin menggantikan posisinya bukan?, kok ingin menukar nyawamu dengan nyawa Gibran bukan? kau berfikir Kenapa bukan kau saja yang pergi."


Ayuna menatap Ibu mertua nya itu.


" Kemari biar ku beri tahu kepada mu, suatu rahasia yang besar."

__ADS_1


Mama Bagas mengajak Ayuna dan mereka memasuki kamar mama Bagas.


Ceklek.


Mama Bagas memutuskan mengunci pintu kamar. Lalu, mama Bagas mengambil sebuah album foto yang ada di atas lemari. Dan duduk di samping Ayuna.


" Ini foto saat mama melahirkan." Ucapnya, saat membuka lembar foto pertama.


Lalu Mama Bagas terlihat mengambil sebuah foto bayi dan disandingkan dengan foto dirinya yang baru saja melahirkan.


" Ini Bagas?" Tunjuk Ayuna pada bayi yang sedang digendong Mama Bagas.


" Tidak. Tapi ini Bagas." Ucap Mama Bagas sambil menunjukkan sebuah foto bayi lain.


Ayuna mengamati dua buah foto yang ditunjukkan oleh Mama Bagas.


" Sama kok, tapi kenapa Mama bilang ini bukan Bagas."


Mama tersenyum dan mengambil 2 foto tersebut dari tangan Ayuna.


" Ini adalah 2 bayi yang berbeda, dengar bayi pertama yang aku gendong mengalami gagal jantung sehingga dia meninggal beberapa jam setelah melahirkan. Karena Papa Bagas tidak bisa melihatku menderita karena kehilangan anak pertama, anak yang begitu lama kami idam-idamkan. Jadilah dia mengadopsi seorang bayi yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan."


Ayuna menatap mertua nya dengan tatapan tidak percaya.


" Kau mungkin terkejut atau bahkan kau mungkin tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi itulah kenyataan yang aku simpan selama bertahun-tahun. Dan kau tahu, Aku tidak tahu jika bayiku meninggal sampai Bagas berusia 15 tahun. Saat itu Bagas mengalami kecelakaan dan dia butuh donor darah, dan kau pasti bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat darah dari kami tidak ada yang cocok." Ucap Mama Bagas sambil membuka album pada lembar berikutnya.


" Kenapa Papa tidak memberi tahu Mama kebenaran nya?" Tanya Ayuna.


" Karena saat itu yang ada di pikiran Papa adalah kebahagiaan Mama. Papa tidak ingin merebut senyum bahagia yang selalu terpancar di wajah mama saat kelahiran buah hati pertama."


" Lalu, saat Mama mengetahui jika Bagas bukan putra kandung Mama apa yang Mama lakukan?"


Mama Bagas tersenyum sambil berkata,


" Lucu sekali kau bertanya begitu, karena tentu saja aku sangat marah terutama kepada Papa Bagas. 15 tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan papa Bagas bisa menyimpan rahasia yang begitu besar selama itu." Ucap Mama yang terlihat memandangi foto Bagas yang mungkin berusia sekitar 5 tahun sedang tersenyum pada kamera karena dia baru saja mendapatkan kan hadiah sepeda di hari ulang tahunnya.


" Ma.." Ayuna memegang tangan ibu mertuanya itu saat melihat air mata yang hendak keluar dari ujung matanya.


" Dengar nak saat kau menyadari kenyataan menyakitkan dan kau memutuskan untuk tetap menyesali kenyataan yang telah terjadi. Maka sampai kapanpun kau akan tetap berada dalam lubang kesedihan. Kau akan melupakan orang-orang yang ada di sekitarmu, yang peduli padamu. Bahkan kau akan melupakan bahwa ada anak lain yang membutuhkan perhatian serta kasih sayang mu. Setelah Mama mengetahui kebenaran tentang Bagas, Mama lebih sering mengunci diri Mama sendiri di dalam kamarku. Mama bahkan tidak mau berbicara kepada Papa. Mengacuhkan panggilan dari Bagas serta adik-adiknya. Kau tau kenapa?"


Ayuna menggeleng.


" Karena saat itu Mama kecewa, telah dibohongi oleh orang yang paling Mama cintai. Mama juga kecewa kenapa Tuhan mengambil buah hati yang selama ini Mama tunggu-tunggu. Lalu Mama menyadari, tidak ada gunanya lagi terlalu larut dalam kesedihan. Karena jika terus saja bersedih pun tidak akan mengembalikan orang yang sudah tiada."


Ayuna terdiam, membenarkan apa yang baru saja Mama Bagas katakan.


" Ayuna juga sudah berusaha keluar dari lembah kesedihan. Tapi, setiap Ayuna melihat tempat ataupun moment yang pernah Ayuna dan Gibran lewati. Itu membuat hati Ayuna sangat sakit."


" Sayang, kau tidak menangkap poin dari apa yang Mama katakan. Dengar, sedih boleh, menangis juga silahkan tapi cukuplah dalam waktu sesaat. Jangan terus berlarut hingga waktu yang lama. Kehidupan harus tetap berjalan. Dan ingatlah selalu orang-orang yang ada disekitar kita yang membutuhkan perhatian ataupun kasih sayang kita. Dan bayangkan juga perasaan seseorang yang telah meninggalkan kita. Seperti contoh nya Gibran. Gibran pastilah bisa melihat keadaan kita, dan mungkin saja kita sedang berada di tengah-tengah kita. Bayangkan? bagaimana perasaannya saat mengetahui bahwa sang ibu masih saja terus bersedih karena kepergiannya. Apa kau yakin Gibran akan bahagia dan tenang berada di alam nya?"


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Lanjut ke part selanjutnya...


__ADS_2