LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Menginap part 3


__ADS_3

Malam harinya di rumah Sisil..


" Bagaimana perasaanmu apa sudah jauh lebih baik?, kau ingin kita jalan-jalan? kita bisa menutup toko untuk beberapa hari." Tawar sisil.


Ayuna menatap Sisil, seolah-olah Dia berat saat Sisil mengatakan akan menutup toko. Karena lewat toko itulah ayeuna dapat menghasilkan uang untuk mencukupi kebutuhannya dan juga Gibran.


" Sudah tidak perlu khawatir hanya tutup beberapa hari tidak akan mungkin mengurangi jumlah pelanggan kita aku janji. Bukankah kau butuh waktu untuk memikirkan tentang ini?"


" ya kok bener.."


" kalau begitu ayo kita bersenang-senang."


" Baiklah.."


Seorang pelayan datang dan memberitahukan kepada sisil, jika ada tamu yang bernama Bagas sedang menunggu di luar terbang.


Sisil menatap ke arah ayuna, seperti meminta izin apakah boleh Bagas masuk


" Aku belum siap." Jawap ayuna.


Lalu sisil menatap pelayan dan mengatakan..


" Biarkan saja, selama dia tidak berbuat onar."


Pelayan itu menunduk kemudian pergi.


" Sayang udah malam sampai kapan kau akan terus bermain?" tanya ayuna, saat Gibran masih melanjutkan main setelah selesai makan malam.


" Tidur yuk.." Ajak ayuna.


" Besok Kita masih ada disini kan."


" iya kita masih akan menginap di sini Jadi besok Gibran bisa main lagi, sekarang kita tidur ya.."


" Baiklah.."


Ayuna mengantar gibran sampai ke kamar tidur yang memang disediakan khusus untuk Gibran. Lalu menudirkan nya.


Setelah memastikan Gibran tidur ayuna keluar dan menutup pintu dengan hati-hati.


" Ayuna.." Panggil sisil.


" Astaga, kau mengejutkan ku." Ucap ayuna.


" Maaf. Itu,... itu.."


" Apa?"


" kemarilah"


Sisil menarik tangan ayuna, lalu Sisil membuka sedikit gorden dan memperlihatkan Bagas masih ada di sana. Duduk di depan pintu gerbang rumah sisil.


" Sedang apa dia di sana?, Kenapa dia tidak pulang?"


" Satpam bilang Bagas tidak akan pulang sebelum kau menemuinya dan mendengarkan penjelasannya." Ucap sisil.


" Ya sudah biarkan saja hari sudah semakin gelap tahu dia kan pulang sebentar lagi." Ucap ayuna.


" baiklah kalau begitu, istirahatlah Sepertinya kau sangat lelah." Ucap sisil.


" Terima kasih Sisil."


Sekali lagi, ayuna menoleh ke arah jendela di mana Bagas mas duduk di sana, dan sesekali Bagas menoleh ke arah pintu. Mungkin dia berharap ayeuna akan datang menemuinya.


Ayuna masuk ke dalam kamar dan mulai berganti pakaian tidur. setelah mencuci muka dia berbaring di atas tempat tidur dan bersiap untuk tidur.


Tak lama setelah dia mematikan lampu, muncul kilatan petir dan suara guntur yang sangat dahsyat.


Jgeerr....


Duurr...


Jgeerrr


Duurr ...


( Anggap suara petir ya author nggak pandai buat efek suara)


Ayuna segera berlari menuju kamar gibran, dia ingin melihat apakah Gibran terbangun dan takut akan suara guntur.


Ceklek...


Perlahan ayuna membuka pintu kamar gibran, dan dilihatnya gibran masih tidur.


" Syukurlah dia tetap tidur." Guman ayuna.


Lalu ayuna mendengar suara hujan hujan yang sangat deras. Pikirkan langsung tertuju pada Bagas,


" Ah, Bagas pasti masuk ke dalam mobilnya dan pulang tidak mungkin dia tetap menunggu." Lirih ayuna.


Saat ayunan hendak masuk ke dalam kamarnya, dia berbalik dan langsung berlari menuju jendela. Ayuna membuka gorden dan betapa terkejutnya dia saat melihat Bagas masih ada di sana.

__ADS_1


" Sedang apa dia di sana? dia tidak tahu jika hujan sudah turun?." Ketus ayuna.


Cukup lama ayuna melihat Bagas dari lantai atas rumah Sisil.


" Pulanglah." Ucap ayuna.


" Dasar bodoh." Umpat ayuna, saat bagas masih saja bertahan di bawah guyuran air hujan.


" Ini.."


Sisil datang pada ayunan dan memberikan dua buah payung.


" apa ini?" Tanya ayuna.


" Ini BOM. Tentu saja ini payung. Kau pikir ini apa." Ketus sisil


" Untuk apa kau memberiku payung memang di rumah ini bocor."


" Untuk dia."


Sisil menunjuk Bagas dengan dagunya.


" Kenapa diberikan kepada aku kenapa tidak kau saja yang memberikannya." Ucap ayuna.


" Kau yakin ingin aku yang memberikannya?"


" Ya."


" Yakin???" Tanya sisil sekali lagi


" Yakin. sudahlah aku mau tidur."


Ayuna lalu pergi berjalan menuju kamar..


" Yakin? ya udah nih aku aku keluar ya aku mau ke Bagas sekarang.."


Saat sisil akan berjalan menuju tangga, ayuna tiba-tiba merampas payung di tangan ayuna.


" Kemari biar aku yang memberikannya. Kau sedang hamil, aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu, bisa-bisa Andi membunuhku." Ucap ayuna, lalu dengan cepat dia menuruni anak tangga.


Sisil tertawa melihat ayuna.


" Cinta kok gengsi." guman sisil


Bagas melihat ke arah pintu rumah Sisil.


" kau benar-benar tidak ingin memberiku kesempatan untuk menjelaskan." Lirih bagas dengan suara terbata menahan dinginnya air hujan yang menusuk tubuhnya.


Bagas mendongak, dan menutup mata, membiarkan wajahnya ditimpa butiran-butiran air hujan.


" Aku mencintaimu ayuna." Teriak bagas.


" Tidak usah teriak-teriak aku sudah dengar!!." ketus ayuna.


Bagas membuka mata dan betapa gembiranya dia saat melihat ayuna ada di hadapannya.


" Ayuna??"


Bagas langsung berdiri dari posisi duduknya.


" Nih."


Ayuna memberikan payung kepada Bagas dengan muka sewot.


Bagas menerimanya namun dia tidak memakainya.


" Kenapa tidak dipakai kok ingin sakit?" Ketus ayuna.


" Jika dengan sakit, kau mau mendengarkan penjelasan ku maka aku rela sakit." Ucap bagas.


Hati ayuna tersentuh, dia tersenyum namun dia tidak memperlihatkannya pada Bagas.


" Pulanglah Bagas.." Perintah ayuna.


" Kau ingin aku pulang dengan apa jalan kaki?"


" Naik mobil lah. mobilmu kan ada disa...." Ketus ayuna, sambil menunjuk ke arah di mana mobil Bagas tadi terparkir.


" loh mobilmu di mana bukannya tadi ada disana? Tanya ayuna, yang baru menyadari jika mobil Bagas sudah tidak ada di sana.


" Aku menyuruh orang untuk membawanya pulang."


" kenapa?"


" Karena aku sudah bertekad akan menunggumu disini."


" Dasar bodoh jika aku tidak kuat selama 3 hari apakah masih tetap disini?" Tanya ayuna, masih dengan nada sewot.


" Ya."


Ayuna melotot tidak percaya.

__ADS_1


" Jika aku tidak akan keluar selama satu minggu? 1 bulan? 1 tahun???"


" Aku akan tetap ada disini menunggumu, sampai aku mati pun aku akan tetap di sini menunggumu sebelum kau mendengarkan penjelasanku."


" Jika aku tidak mau mendengar penjelasan mau kamu apa?"


" Aku akan menangis, dan berguling-guling di sini."


" kau tidak akan melakukannya."


" Aku akan melakukannya."


" Tidak."


" Ya."


" Sungguh?" Tanya ayuna.


" Ya."


" Buktikan." Tantang ayuna.


" Setelah itu kau akan mendengarkan penjelasanku?" Tanya Bagas.


" Tidak."


Bagas mulai memasang mimik wajah cemberut dan hampir menangis...


" Hwaa....hwaa...."


Tanpa ayuna sadari Bagas mulai menangis, dengan posisi duduk sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya. Di jalan depan rumah Sisil. Persis seperti apa yang dilakukan Gibran dulu saat dia merengek meminta sesuatu.


Ayuna ingin ketawa namun sekuat tenaga dia menahan tawanya itu.


" Pffftt,,, hahahahaha..."


Jika ayuna menahan tawanya, tapi dengan Sisil, dia justru tertawa terbahak-bahak yang dilihatnya dari atas.


" Apa yang dikatakan ayuna?, sehingga Bagas melakukan hal bodoh seperti itu." Kekeh Sisil.


" Hentikan bagas." Ucap ayuna.


bukannya berhenti Bagas malah justru semakin kencang berteriak, dan Bagas merebahkan tubuhnya di atas jalan.


" Hwa.... hwa..."


" Pffftt, hahaha.. baiklah baiklah aku akan mendengarkan penjelasanmu." Ucap ayuna, yang tidak dapat lagi menahan tawanya.


Bagas bangun, dan sekarang dia dalam posisi duduk.


" Kau janji akan mendengarkan penjelasan ku?" Tanya Bagas dengan mata berbinar-binar.


" Ya aku janji, Ayo ikut aku masuk ke dalam aku tidak ingin kau sakit."


Bagas tersenyum mendengar ucapan ayuna, lalu dia mengikuti ayuna berjalan masuk ke rumah Sisil.


" Terima kasih." Ucap bagas.


" Untuk apa?"


" karena kau sudah mau mendengarkan penjelasan ku."


" Kau belum menjelaskan apapun, nanti saja terima kasihnya setelah kau selesai menjelaskannya."


Saat ayuna hendak masuk, Bagas memeluknya dari belakang.


" Aku mencintaimu ayuna Aku benar-benar mencintaimu, Aku tidak tahu jika wanita itu ada di dalam apartemenku. Aku pikir dia adalah dirimu. Sungguh aku benar-benar tidak tahu jika wanita itu ada di dalam apartemenku."


Ayuna melonggarkan tangan Bagas dan berbalik. Kini ayuna dan bagas saling berhadapan.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Ayo kira-kira apa yang akan terjadi nih ya...


ikuti terus cerita ini ya kak..


...Jangan lupa untuk selalu ...


...klik tombol like...


...Beri komentar...


...Jika suka beri hadiah ...


...dan vote setiap hari senin....

__ADS_1


jangan lupa follow aku ya kak dan klik favorit cerita ini.


__ADS_2