
" Ya halo ma?"
"---"
" Astaga, Anjas lupa. Baiklah akan segera pulang."
"----"
" Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa jika hari ini adalah malam natal, Aku juga lupa jika tadi aku sudah berjanji kepada Mama akan menemaninya untuk berbelanja keperluan Natal. Ya Tuhan mama pasti akan sangat marah. Sebaiknya aku segera pulang." Ucap Anjas.
Setelah memakai jas dan memasukkan ponselnya, Anjas dengan tergesa-gesa keluar
Brug !!
Karena sama sama terburu buru, Anjas dan Bella saling bertabrakan.
" Maaf." Ucap Bela.
" Bela?"
" Pak kajas, eh maksud ku pak Anjas."
" Apa kamu mau pulang?" Tanya Anjas.
" Iya, kalau bapak?"
" Panggil Anjas saja lagi pula ini sudah di luar jam kantor."
" Hmm, iya."
" Ya sudah, kamu mau pulang kan bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?" Ucap Anjas.
" Tidak perlu pak, eh kajas, eh Anjas. Karena saya sudah memesan Tak..."
" Bella, Ayo aku akan mengantarmu pulang." Ucap Danu yang tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan Bella.
" Terima kasih pak Danu, tapi saya sudah memesan taksi."
" Bella, ini sudah jam pulang kantor taxi tidak akan berhenti. daripada aku tidak mendapatkan taksi lebih baik aku antar pulang saja ayo." Ucap Danu yang langsung menarik tangan Bella.
" Kami duluan ya pak.." Ucap Danu sok sopan kepada Anjas.
" Hei kau.."
" Maafkan saya pak.." Teriak Danu yang sudah menjauh dari Anjas.
" Sial, aku kalah satu langkah didepannya." Ucap Anjas.
Dengan kesal Anjas melangkah meninggalkan kantornya. Lalu pulang, sesampainya di rumah Rini mengkerutkan dahinya saat melihat Anjas pulang dengan muka ditekuk.
" Ada apa dengan wajah mu?" Tanya Anjas.
" Huft."
Anjas melonggarkan dasinya, dan duduk di kursi. Rini datang membawa segelas air untuk Anjas dan meletakkan nya di meja.
" Ma, menurut mama Anjas ini tampan atau tidak?" Tanya Anjas sesaat setelah Dia menghabiskan air yang dibawa oleh Rini.
" Tentu saja kamu tampan memangnya siapa yang mengatakan jika kamu jelek."
" Mama kan."
" Ha?, kapan Mama mengatakan nya?"
" Barusan."
" Dasar anak gemblong. Mama bukan mengatakan kamu jelek, tapi mama bilang siapa yang berani mengatakan anak mama jelek sini biar Mama sikat mulutnya."
" Tidak ada yang mengatai Anjas jelek sih."
" Lalu?"
" Kenapa tidak ada wanita yang menyukai Anjas."
" Pffttt..." Rini hampir menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
" Jadi ini gara-gara seorang wanita. Hmm, sepertinya putraku ini sudah jatuh cinta lagi."
" Ma, kapan Anjas pernah jatuh cinta, Anjas hanya mencintai Ayuna bahkan mungkin sampai sekarang. Tapi, saat melihat gadis itu itu jantung Anjas terasa berdebar sangat kencang. Tubuh Anjas berkeringat. Dia...dia..."
Anjas tidak meneruskan kata-katanya saat dia melihat sang Mama sudah menyimak perkataan Anjas.
" Loh kok berhenti, terusin dong."
" Enggak ah."
" Ih, mama udah terlanjur penasaran nih."
" Kepo mama nih?"
__ADS_1
" Anjas..." Teriak Rini, saat Anjas mulai berjalan meninggalkan dirinya yang terlanjur Kepo.
" Hmm, kira kira wanita mana yang membuat Anjas jatuh hati selain Ayuna....., Aku harus mencari Tahu." Lirih Rini.
Anjas yang selesai mandi langsung menuju tempat tidur. Mencoba memejamkan mata.
" Sial. Kenapa aku masih saja memikirkan tentang Bella. Apa benar Danu mengantar nya pulang. Kalau sampai Danu yang duluan menyatakan perasaannya kepada Bella?. Ah tidak tidak boleh."
Anjas bangun dan memakai kembali kemejanya.
" Tunggu. Untuk apa juga aku memikirkan tentang mereka."
Hening.
Anjas terlihat bingung sendiri.
Tok
Tok
Tok
" Anjas...Anjas, jadi tidak kita ke mall untuk membeli perlengkapan natal.?"
" Sebentar lagi ma."
" Lekas lah. Malam nanti saudara dari papa mu akan datang berkunjung."
" Anjas segera bersiap."
Anjas lalu menemani Mama nya membeli segala pernak pernik yang berhubungan dengan natal.
" Lo, jeng Rini." Sapa salah seorang pengunjung mall.
" Eh Jeng Yuni."
" Sudah berapa lama ada di Singapura?"
" Belum lama sih, tapi kami akan menetap disini."
" Ohya, sungguh?. Itu artinya kita bisa bertemu dan jalan jalan bersama lagi."
" Iya ya.."
" Ya Tuhan. Jika emak emak sudah bertemu. Mereka pasti akan gibah."
Lalu matanya menangkap sosok mirip Bella.
" Bella?"
Anjas melihat ke arah sang mama, mama yang tengah asik berbincang bincang membuat Anjas akhirnya memutuskan untuk mengejar Bella.
" Bella?" Teriak Anjas.
" Seperti ada yang memanggil namaku?"
Saat Bella hendak berbalik arah untuk melihat siapa yang telah memanggil namanya, seorang laki-laki tiba-tiba datang dan langsung mengajak Bella pergi.
Duar !!
Seperti petir disiang hari.
" Siapa laki laki tadi?, apa dia suami Bella?. Tidak tidak, dalam formulir Bella belum menikah. Apa mungkin kekasih Bella?"
Lama Anjas berperang dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya.
" Anjas kamu di sini mama mencarimu kemana-mana."
" Ah Mama, mengagetkanku saja."
" Sudah ayo ikut Mama." Ucap Rini yang langsung menarik tangan Anjas.
" Eh eh. Mau kemana lagi sih ma?, bukankah kita sudah selesai membeli apa yang kita perlukan?"
" Sudah ikut saja. Akan Mama kenalkan ku kepada kawan Mama itu, ternyata dia juga memiliki seorang gadis. Jadi kami berpikir untuk menjodohkan kalian."
" La la, Mama. Enak aja main jodoh jodohan. Anjas gak mau. Bukankah Mama sudah berjanji tidak akan memaksa Anjas untuk hal apapun?"
" Iya Mama tahu. Tapi cobalah untuk mengenal Kristi. Siapa tahu kalian cocok kan?"
" Mama.."
" Nah itu jeng Yuni. Ayo."
Dengan terpaksa Anjas mengikuti langkah mamanya menuju restoran cepat saji yang ada di mall tersebut.
" Hai jeng." Sapa Mama Anjas.
" Eh, ini toh putramu yang kamu ceritakan itu."
__ADS_1
" Iya, bagaimana? walaupun duda tapi dia tetap keren kan?"
" Haha, bisa aja kamu jeng. Tapi bener sih, masih keren. Ganteng lagi."
" Tuh benar kan Mama bilang juga apa kamu itu ganteng nggak ada yang berani bilang kamu tuh jelek." Bisik Mama Rini kepada Anjas.
" Iya iya. Mama menang."
" Memangnya kita main petak umpet, main acara menang segala." Bisik Rini dengan nada sewot.
" Ehem. Kalian ini ngomongin apa sih pakai acara bisik-bisik segala." Tanya Jeng Yuni.
" Biasalah jeng, anakku ini dari dulu selalu tidak pede dengan ketampanannya."
" Hus.., Mama jangan menjatuhkan citra Anjas dong. Mama kan tau Anjas itu adalah pemilik dari DreamLabs. Masak Citra pemilik dari perusahaan terkenal itu itu jatuh di mata emak-emak." Bisik Anjas.
" Haha, iya iya.... Ohya jeng dimana Kristi?."
" Tidak tahu, dia tadi bilang ingin berkeliling sebentar bersama Yoga."
" Yoga?"
" Iya, sepupu Kristi. Masih ingat kan jeng, mereka itu selalu bersama kemanapun mereka pergi bahkan beberapa orang menganggap mereka itu adalah kembar."
" Yoga.. Ya ya, aku ingat."
" Ya sudah, duduk dulu Jeng silakan makan, makanannya Aku sudah."
" Oh tentu. Anjas ayo duduk." Ucap Rini.
" Hmm, spaghetti daging. Lumayan lah daripada lu manyun."
Akhirnya Anjas memilih duduk dan langsung memakan makanan yang ada di hadapannya.
Terlihat Jeng Yani berbicara melalui telepon.
" Anjas, kamu mau kan menikah dengan anak tante Kristi." Tanya Jeng Yuni sesaat setelah dirinya selesai menelepon.
" Uhuk uhuk., Tante kalau bercanda suka bener." Ucap Anjas setelah dia minum.
" Suka benar?, berarti kamu mau dong?" Kata Rini dengan penuh semangat.
" Ya enggak juga sih. Kan kami belum saling mengenal, bagaimana jika salah satu diantara kami merasa tidak cocok."
" Hmm, benar apa yang dikatakan Anjas Jeng, jadi biarkan mereka mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Setelah itu terserah kepada mereka mau dilanjutkan atau hanya sebatas menjadi teman. Yang penting kita tetap menjadi sahabat " Ucap Mama Anjas.
" Iya, tumben kamu ngomongnya bener?"
" Heh memangnya kamu pikir selama ini aku suka ngomong apa?, omong kosong!!" Ketus Mama Anjas
" Ya gitu deh."
" Dasar."
Anjas menutup telinga dari perdebatan kedua emak emak Mama itu, karena pikirannya tertuju pada Bella dan laki-laki yang bersama nya.
" Apa mungkin dia kekasih Bella?"
Setengah jam berlalu. Namun belum ada tanda tanda akan kedatangan putri dari Jeng Yuni, kristi.
" Jeng, sepertinya lain kali saja kita mempertemukan Anjas dengan Kristi."
" Aduh, maaf ya jeng, bukan bermaksud mengecewakan. Tapi, Kristi bilang jika dirinya sudah dalam perjalanan kemari. Dan aku juga tidak tahu apa yang membuatnya lama, apa mungkin di dalam mall bisa terjadi kemacetan juga ya?"
" Haha memangnya mall ini Jakarta pakai ada acara macet segala." Kekeh Mama Anjas.
" Sudah ah, kami pulang dulu. Karena sebentar lagi kami akan kedatangan tamu dari para sanak saudara."
" Ya sudah kalau begitu, semoga lain kali kita bisa mempertemukan Anjas dan Krtisti."
Yes....!!
Dalam hati Anjas sangat merdeka karena dirinya tidak jadi untuk bertemu dengan seseorang yang dijodohkan oleh Mama dan temannya itu. Jadi dia bisa fokus mencari tahu apakah Bella sudah punya kekasih atau belum.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Jangan Lupa...
...Like...
...komen...
...vote...
...Hadiah...
__ADS_1