LUKA DALAM BAHAGIA

LUKA DALAM BAHAGIA
Bersiap pulang


__ADS_3

Tiga hari kemudian, setelah memastikan Ayuna sehat, dan siap untuk pulang. Bagas membantu Ayuna mengemasi barang-barang mereka.


" Bagas, bagaimana menurutmu jika aku memberikan barang milik Gibran kepada Bayu. Apakah Bayu mau menerima nya?" Tanya Ayuna saat dia mengemasi barang-barang Gibran.


" Kau tidak ingin membawa nya pulang?"


" Tidak. Barang barang ini yang selalu dipakai Gibran disini, lebih baik tetap berada di negara ini. Itu mungkin membuat ku tidak terlalu memikirkan Gibran." Ucap Ayuna.


" Hmm, aku rasa Bayu akan menerima nya, bagaimana pun juga mereka adalah teman dekat sebelum nya kan?"


" Iya kau benar. Kalau begitu setelah ini aku akan memberikan barang milik Gibran kepada Bayu."


" Dan aku akan mengurus administrasi, Serta memberi tahu mama dan papa bahwa kita akan keluar dari rumah sakit hari ini." Ucap Bagas.


Ayuna hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu dia mulai membawa barang milik Gibran menuju ruangan Bayu.


Tok


Tok


Tok


Ceklek...


" Ayuna, masuklah."


Ayuna masuk dan duduk di kursi, di meletakkan barang yang dia bawa di atas meja.


" Apa ini?"


" Ini adalah barang milik Gibran selama ada dirumah sakit ini. Ada baju, beberapa buku dan mainan. Mungkin Bayu mau memilikinya."


" Kau tidak akan membawa barang Gibran pulang bersama mu?"


" Tidak. Jika aku membawa nya pulang, itu mungkin akan membuat ku semakin terpuruk dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa Gibran ku telah tiada." Ucap Ayuna dengan senyuman manis.


Mama Bayu lalu berdiri, dia terlihat membuka laci dan kembali ke Ayuna dengan membawa sebuah buku kecil, dan memberikan nya kepada Ayuna.


" Apa ini?"


" Ini adalah catatan milik Gibran."


" Bagaimana bisa ada dengan mu?"


" Bukan denganku, tapi ada pada tatanan buku Bayu, aku rasa catatan inu tertinggal atau tertukar. Dan maaf, aku juga tidak sengaja membaca beberapa isi yang ada di buku itu."


Ayuna membuka sekilas, memang benar ini milik Gibran. Buku itu hadiah dari Ayuna karena Gibran rajin membantu nya.


Ayuna menutup buku itu dan tersenyum.


" Tidak apa apa, jika ini milik Bayu dan ada di buku Gibran, mungkin aku juga akan membuka nya."


" Kau adalah ibu terhebat yang pernah aku temui Ayuna."


Ayuna menatap mama Bayu, seakan tidak mengerti apa yang dia bicarakan.


" Dalam catatan itu, isi nya hampir semua tentang dirimu. Kau lebih dari sekedar ibu bagi Gibran. Bagi Gibran kau adalah segalanya, harta yang paling berharga. Harta yang tidak akan dia temui dimana pun."


Air mata Ayuna hampir terjatuh, dia segera menyeka ujung matanya.


" Bolehkah aku bertemu dengan Bayu?"


" Tentu saja."


Tap


Tap


Tap


Ceklek...


Tak lama kemudian, bayu datang dengan di dorong oleh sang papa.


" Ayuna, sudah lama disini?" Basa basi papa Bayu.


" Tidak. Baru saja."


" Bayu, kemari nak." Ucap Mama Bayu.

__ADS_1


Papa bayu lalu mendorong Bayu mendekati Mama.


" Aku Harus kembali ke apotek, karena aku melupakan obat dan vitamin Bayu."


" Baiklah."


Sepeninggal Papa Bayu, Ayuna memandang Bayu, perlahan dia mendekati Bayu, dan berlutut dihadapan nya. Memegang dada bayu.


Ayuna memejamkan Mata, merasakan detak jantung Gibran yang kini ada di tubuh Bayu.


Ayuna membuka mata.


" Bolehkan aku memeluknya?" Tanya Ayuna pada Mama Bayu.


Mama Bayu mengangguk. Lalu pandangan Ayuna menatap Bayu, seolah juga bertanya 'bolehkan aku memeluk mu?'


Bayu tersenyum dan berkata.


" Kemari dan peluk aku mami."


Ayuna mencium kening, kedua pipi Bayu, kemudian memeluk erat bayu.


Air mata Ayuna membasahi pipi bersamaan dengan dirinya memeluk Bayu.


Mama Bayu tidak kuasa menahan tangisannya. Dia menangis melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Dia sungguh paham apa yang dirasakan Ayuna. Sungguh kehilangan Putra seakan kehilangan separuh nyawa.


" Jadilah anak yang baik. Dab tumbuhlah dewasa, agar kau bisa menggapai impian mu." Ucap Ayuna.


Bayu mengusap air mata di pipi Ayuna.


" Jangam menangis, Gibran bilang dia tidak suka jika melihat mami nya menangis. Dia pernah bilang, jika hstinya begitu sakit saat melihat mami menangis." Ucap Bayu.


Ayuna mencium tangan Bayu yang masih ada dipipi nya.


" Katakan kepada Gibran, bahwa maminya berjanji tidak akan bersedih lagi."


" Janji?"


Bayu mengangkat jari kelingkingnya, dan Ayuna melakukan hal yang sama.


Lalu Ayuna memeluk Mama Bayu dan berpamitan.


" Semoga kau dilimpahkan kebahagiaan setelah ini."


Ayuna pun kembali ke ruangannya. Dan mendapati Bagas sudah ada di sana.


Bagas mendekati Ayuna dan memegang pipinya, diciumnya kening dan kedua mata Ayuna. Lalu memeluk Ayuna, seakan tahu jika Ayuna baru saja menangis karena mengingat Gibran.


Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Walau aku tidak bisa menyembuhkan luka ini, setidaknya aku akan menutup lukamu dengan kebahagiaan. Batin Bagas.


" Kau ingin langsung kembali ke hotel atau ingin jalan-jalan sebentar?" Tanya Bagas setelah dia melepaskan pelukannya.


" Bagaimana kalau kita ke hotel menaruh barang-barang lalu kita jalan-jalan?" Ucap Ayuna.


" Ide bagus."


Bagas lalu membawa barang bawaan, dan berjalan keluar rumah sakit.


Keesokan hari nya, Ayuna mengatakan jika dirinya siap untuk kembali pulang ke Indonesia.


" Bagas bolehkah aku mengunjungi makam Gibran untuk terakhir kalinya?"


" Tentu, kita akan kesana setelah sarapan." Ucap Bagas.


Ayuna tersenyum, memeluk Bagas dan mengucapkan terimakasih.


Seusai janji Bagas, setelah mereka sarapan. Bagas, ayuna serta mama dan papa mengunjungi makam Gibran. Tak lupa mereka membeli banyak bunga dalam perjalanan menuju makam.


Setibanya disana. Terlihat Anjas sedang berada disana.


" Anjas." Bagas menepuk pundak Anjas.


" Hai. Kalian disini?"


" Ya, ayuna ingin mengunjungi Gibran sebelum pulang ke Indonesia."


Anjas bangun dari posisi duduknya, dan memberikan uang kepada keluarga Bagas.


Cukup lama dan mereka ada disana. mama dan papa Bagas memilih untuk pulang lebih dulu dan mengemasi barang-barang mereka. Karena rencananya mereka akan kembali ke Indonesia malam ini.

__ADS_1


" Ayuna, ayo kita pulang." Ucap Bagas.


" Jika kita pulang, Gibran akan sendiri." Ucap Ayuna.


" Gibran tidak akan sendirian, bukankah Gibran sudah ditemani sang kakek?" Ucap Anjas.


" Anjas benar, lihatlah makam mereka berdekatan, aku yakin Gibran sudah bertemu dengan kakeknya. Dia tidak akan kesepian." Imbuh Bagas.


" Tapi..."


" Ayuna, aku akan berjaga di sini jika kau mau. Aku akan tetap disini dan memastikan bahwa Gibran tidak kesepian." Ucap Anjas.


Setelah bujuk rayu Bagas dan Anjas, akhirnya ayeuna mau diajak pulang.


Malam Hari nya, Bagas dan keluarga makan malam sebelum mereka pulang ke Indonesia.


" Sayang, aku akan ke toilet sebentar." Bisik Bagas pada Ayuna di tengah-tengah waktu makan mereka. Ayuna mengangguk.


Bagas berjalan memutar, menghampiri mama dan papa nya yang duduk tepat didepan mereka.


" Ma, pa. Bagas akan ke toilet sebentar tolong awasi Ayuna."


" Tentu." Jawap papa.


" Ma, pa. Ayuna ke kamar dulu, Ayuna ingin memeriksa apakah masih ada barang yang tertinggal."


" Ayo mama temani."


" Tidak usah ma. Ayuna baik baik saja, sungguh."


" Tidak apa apa. Ayo mama temani."


" Mama disini saja. Ayuna bisa pergi sendiri ma. Lagipula Ayuna hanya akan pergi ke kamar."


Mama terdiam.


" Ayuna tau mama khawatir, tapi Ayuna tidak akan berbuat macam-macam. Ayuna sudah benar-benar mengikhlaskan kepergian Gibran."


" Kau yakin ingin ke kamar sendiri?" Tanya mama.


Ayuna tersenyum dan mengangguk.


" Baiklah. Mama akan segera menyusul.


Ayuna berjalan menaiki lift, ditengah perjalanan nya menuju kamar, ayuna melihat seorang anak kecil yang menangis.


Ayuna langsung menghampiri anak itu dan menanyakan kenapa anak itu menangis.


" Aku ditinggalkan oleh mama dan papa, aku merasa kesepian. Hiks hiks hiks."


Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita berlari ke arah Ayuna dan anak kecil itu.


" Sayang.." Panggil wanita uang berlari tadi.


" Mama.."


Anak laki-laki itu menangis dan memeluk mamanya.


" Maafkan mama nak, mama tidak akan meninggalkan mu sendiri lagi."


Ayuna berdiri dan melihat pemandangan itu.


" Gibran?" Lirih Ayuna.


Kemudian Ayuna berbalik arah kembali masuk ke dalam lift.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...Jangan lupa...


...like...


...komen...

__ADS_1


...vote...


...hadiah...


__ADS_2