
" Sisil, gibran kenapa?" Tanya ayuna, saat dirinya telah sampai di hadapan sisil.
" Ya, ada apa dengan gibran.?" Tanya bagas dengan nafas yang tidak beraturan.
" Tadi aku masuk ke kamarnya, hendak membangunkannya untuk sarapan. Semua baik-baik saja sampai Gibran selesai mandi, lalu tiba-tiba hidung gibran mengeluarkan darah, dan sekarang gibran pingsan."
" Apa?"
Ayuna syok, langsung berlari menuju kamar Gibran.
Sesampainya dikamar Gibran,
" Sayang, gibran kenapa?"
Mendengar suara ayuna. Gibran terbangun.
" Mami, kepala gibran sakit."
" Mana yang sakit sayang?"
Gibran menunjuk kepalanya yang sakit dan ayuna mulai memijatnya dengan lembut.
Tak lama kemudian hidung Gibran kembali mengeluarkan darah.
" Astaga gibran"
Ayuna langsung menopang tubuh gibran, agar posisi gibran tidak terlentang.
" Ini tisu.."
Bagas memberikan tisu kepada ayuna, dan membantu membersihkan darah yang terus saja menetes dari hidung gibran.
" Apa sebelum nya gibran pernah mimisan?" Tanya sisil.
" Tidak." Jawab ayuna.
" apa semalam suhu tubuh Gibran panas?" Tanya Bagas.
" Tidak."
" Kau yakin?" Tanya Sisil memastikan.
" Ya, kau tau kan sil, aku sendiri yang mengantar Gibran ke kamar. Dan aku tetap di sana sampai Gibran benar-benar tidur."
" Mami kepala gibran sakit." Rengek gibran.
" Sebaiknya kita membawa Gibran ke rumah sakit." Ucap sisil
" Ya kau benar, Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
Bagas langsung menggendong tubuh Gibran.
" Sisil, kau sedang hamil, sebaiknya kau tetap ada disini. Biar aku dan Bagas yang mengantar gibran ke rumah sakit."
" Baiklah, pakai mobil ku. Ini kunci nya."
Setelah menerima kunci dari sisi lainnya segera berjalan menyusul Bagas dan Gibran.
Ayuna lebih dulu masuk ke dalam mobil, setelah itu bagas memberikan gibran kepada ayuna dengan hati-hati.
" Ayo cepat kita berangkat, jadi sesuatu pada Gibran." Ucap ayuna yang mulai panik.
__ADS_1
" Ya. Semoga tidak terjadi sesuatu yang serius pada gibran." Ucap Bagas
Setelah mengatakan itu bagas segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
" Sial, jalanan sedang padat sekali." Ucap bagas dengan kesal.
Tanpa pikir panjang Bagas segera putar kemudi dan mencari jalur alternatif lain dan tercepat menuju rumah sakit.
Tak beberapa lama kemudian mereka sampai di rumah sakit.
Bagas segera turun, dan meminta bantuan dari para perawat yang ada di sana.
" Sayang, gibran.." Panggil ayuna.
" Mami sakit mami..,"
" Kita sudah dirumah sakit sayang, gibran bertahan ya.."
Langsung membawa Gibran ke ruang IGD.
" Maaf Bu selain dokter dan perawat dilarang masuk. Silakan Anda duduk di sebelah sana." Ucap salah seorang perawat, sambil menunjuk sebuah kursi yang ada di depan ruang IGD.
" Ayo kita duduk.." Ajak gibran.
20 menit berlalu, gibran keluar bersama beberapa dokter dan perawat. Gibran terlihat tidur.
" Gibran.." Panggil ayuna.
" Anak ibu, berada dalam pengaruh obat bius. Kami akan memindahkan nya ke ruang rawat pasien."
" Tolong pindahkan pasien ini ke ruang rawat VIP. Dan ambil ini untuk membayar semua tagihan rumah sakit." Ucap bagas, sambil memberikan sebuah gold card.
Saat ayuna dan bagas akan berjalan di belakang Gibran, dokter memanggil mereka..
" Apa anda orang tua pasien?"
" Ya kami adalah orang tua Gibran." jawab Bagas.
" kalau begitu bisakah Anda berdua ikut ke ruangan saya?, ada yang ingin saya bicarakan. Ini, tentang putra kalian."
Untuk beberapa saat ayunan dan Bagas saling berpandangan, lalu mereka memutuskan untuk ikut dokter itu menuju ruangannya.
Di dalam ruangan dokter...
" Ada apa Dok ?,tidak terjadi hal serius pada putraku kan?" Tanya ayuna.
" Saya takut Anda akan mengatakan hal itu nyonya." Ucap dokter tadi.
" Apa maksud dokter?"
" Begini setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap saudara Gibran, kami menduga saudara gibran mengalami gejala kanker Rhabdomyosarcoma."
" kanker Rhabdomyosarcoma?? Apa itu?" Tanya ayuna.
" Rhabdomyosarkoma atau rabdomiosarkoma adalah jenis kanker yang berkembang di jaringan lunak pada tubuh. Jaringan lunak ini biasanya terdapat di jaringan pendukung atau penghubung tubuh. Apa ada riwayat kanker Rhabdomyosarkoma dalam keluarga ibu atau bapak?"
Bagas memandang ayuna.
" Mendiang ayah mertua saya menderita kanker ini sebelum beliau meninggal." Ucap ayuna.
Bagas sedikit terkejut mendengar penuturan ayuna.
__ADS_1
" Kanker ini, bisa terjadi karena adanya riwayat kanker yang sama dalam keluarga. Atau, berawal dari sel rhabdomyoblast, yaitu sel yang terbentuk di awal masa kehamilan dan berkembang menjadi otot rangka, yang tumbuh tidak terkendali, cepat, dan merusak jaringan sehat yang ada di sekitarnya. Untuk memastikan apakah putra anda mengalami kanker Rhabdomyosarkoma. Saya menyarankan agar bapak dan ibu, melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap saudara gibran."
" Tes apa saja yang nantinya harus dijalani?" Tanya Bagas?
" Pertama tes darah, meliputi tes genetik, hitung darah lengkap, pemeriksaan fungsi hati, dan pemeriksaan kimia darah. Kedua Tes pemindaian, seperti USG, Rontgen, Ct scan, PET scan, MRI, dan bone scan (pemindaian tulang), yang bertujuan untuk mendeteksi lokasi tumor dan apakah tumor tersebut telah menyebar. terakhir biopsi atau pengambilan sampel jaringan pada sumsum tulang, untuk memastikan apakah tumor bersifat kanker, dan menentukan jenis rhabdomyosarcoma."
Ayuna menangis..
" Aku tidak dapat membayangkan jika gibran akan melakukan serangkaian tes yang begitu banyak. Dan terdengar menakutkan."
Bagas mengelus lembut bahu ayuna, seperti menyalurkan kekuatan nya, kepada ayuna.
" Itu hanya saran dari kami, Ya semoga saja, diagnosa saya salah. Dan saudara gibran tidak menderita rhabdomyosarcoma."
" Lakukan tes nya secepat mungkin dok, agar kami tau yang terjadi pada putra kami." Ucap Bagas.
Ayuna menatap bagas, dan berkata ..
" Sudah tidak apa-apa. Gibran kita adalah anak terkuat. Dia pasti bisa menjalani pemeriksaan dengan baik. Jika kita tidak melakukan pemeriksaan lanjut kepada Gibran, kita tidak akan tahu apa yang terjadi pada Gibran. Dan semoga saja gibran tidak menderita kanker yang di ucapkan dokter tadi. Ya Allah semua akan baik-baik saja dan Gibran akan sehat kembali."
Setelah mendengar penjelasan dari Bagas, ayuna akhirnya setuju untuk melakukan pemeriksaan lanjutan kepada Gibran.
" Bolehkah saya menemui putra saya?" tanya ayuna.
" Tentu saja boleh silakan." Ucap sang dokter.
" Kalau begitu kami permisi dan kami mohon lakukan yang terbaik untuk putra kami." Pinta bagas.
" Itu sudah tugas kami sebagai dokter."
Setelah keluar dari ruangan dokter, ayuna dan bagas segera berjalan menuju ruangan di mana Gibran berada.
" Sayang..."
Ayuna mengelus lembut kepala gibran yang masih tertidur.
" Semoga Gibran hanya mengalami mimisan biasa, mami tidak sanggup jika Gibran harus menderita penyakit aneh itu." Lirih nya.
Bagas mendekatkan diri, dan memegang bahu ayuna.
" Gibran akan baik-baik saja." Ucap bagas.
Ayuna menoleh,
" Ya semoga saja kau benar, yang ditakutkan dokter tadi tidak terjadi."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...jangan lupa...
...like ...
...komentar...
...vote...
...hadiah...
__ADS_1